
Tak akan pernah menyetujui perjodohan Amelia dan Arnold!
Saat itu juga Vitalia beralih mengarahkan pandangan ke seluruh anggota keluarga yang lain.
"Kenapa kalian hanya diam saja, ha? Apa yang kalian pikirkan?"
"Mommy, Daddy, dan juga Ayah sama Mama semua, kalian kenapa hanya diam?" tanya Vitalia dengan tatapan heran.
"Kami menyetujui perkataan Nenekmu, Nak. Apalagi ini semua demi kebaikan Amelia!" ujar Tuan Hirata menjawab pertanyaan dari Vitalia.
Vitalia yang mendengar pernyataan dari sang Daddy pun menggeleng cepat, dan berkata, " Apa kata Daddy? Daddy menyetujuinya? Heh, semudah itu Daddy menyetujui permintaan Nenek," ucapnya dengan tersenyum miris.
"Cucuku, kau akan mengerti setelah mereka menikah. Nenek hanya takut jika kejadian seperti dirimu dan suamimu terulang lagi pada Amelia. Jadi, Nenek mohon pikirkan baik-baik perkataan Nenek karena Nenek tau siapa Arnold sebenarnya .."
"Tapi Nek, bagaimana mungkin Amelia menikah dengannya? Sedangkan Arnold sudah mengkhianatinya. Nenek begitu mudahnya memaafkan kesalahan orang, ya! Aku tak terima Nek, itu terlalu baik untuk mereka. Lagi pula Arnold juga sudah mempunyai seorang kekasih, bukan kah begitu Sherlyn?" ucap Vitalia yang berbalik tanya pada Sherlyn adik tirinya.
"Benar kak, dia kan selain seorang mafia yang sangat kejam, dia adalah pemain wanita," jawab Sherlyn.
"Nenek, dengarkan apa kata Cucu Nenek? Ini sangat bahaya, apalagi kita tak mengetahui ke depannya nanti seperti apa .."
"Terserah apa katamu, Cu. Nenek akan tetap menjodohkan Amelia dengan Arnold bagaimanapun caranya. Nenek yakin jika Arnold menikah dengan Amelia, dia juga akan berubah tak seperti dulu. Apalagi dia berjanji sama Nenek, jika dia ..."
"Cukup, Nek! Nenek tidak perlu menjelaskannya lagi. Sampai kapanpun aku tak akan pernah menyetujui perjodohan Amelia dan Arnold!" ujar Vitalia kemudian pergi kembali masuk ke dalam rumah mengingat anak-anak sedang sendirian bersama suaminya di kamar.
Setelah kepergian Vitalia, Mommy Gabby mulai angkat bicara, "Mama, saya justru setuju dengan pendapat Nak Vitalia, meskipun itu terlalu beresiko, tapi setidaknya Mama memikirkan masa kelam Amelia waktu itu, karena Gabby nggak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan putriku seperti dulu lagi. Jika keputusan Mama salah, Gabby tidak akan pernah memaafkan Mama," ucapnya pada Nenek Elisabeth atau mantan Mama mertuanya.
"Betul Ma, Renita tak ingin Amelia depresi seperti dulu. Tolong Mama pikirkan baik-baik, Ma!"
Berbeda dengan Tuan Hirata dan Tuan Long Ai yang hanya diam dengan menatap Nenek Elisabeth. Ia tau benar maksud dari Elisabeth, karena mereka yakin jika cara itu adalah cara yang tepat untuk membuat Arnold berubah menjadi lebih baik.
Meskipun nantinya akan sulit untuk dilewati oleh Amelia. Namun, mereka yakin Amelia dan Arnold adalah jodoh yang sangat tepat untuk kedamaian antar mafia.
"Percuma saja kalian mendesakku! Ini semua untuk kebaikan semua, jika Arnold menikah dengan Amelia makan dunia ini akan baik-baik saja tanpa adanya perlawanan dari pihak manapun.."
"Tapi Ma, ini bukan cara yang tepat untuk mendamaikan mereka? Mama tau kan Ma, Amelia dan Vitalia dipisah karena Arnold dan keluarganya.
"Waktu itu Arnold masih remaja, ia ikut andil dengan pembuangan bayi itu, tapi kan dia masih remaja, dia hanya menuruti perintah Ayahnya.."
"Heh, tidak Ma. Itu sangat beresiko. Takdir dunia permafiaan ini tidak ditentukan oleh perjodohan mereka berdua saja, Ma. Gabby bahkan memikirkan rumah tangga Vitalia dan Chandra yang entah mengapa perasaan Gabby tidak tenang. Gabby rasa tunda dulu rencana Mama untuk menjodohkan Amelia dengan Arnold, biarkan Amelia berpikir terlebih dahulu,"
"Baiklah, Mama akan memberi waktu untuk cucuku Amelia." ujar Nenek Elisabeth, lalu pergi masuk ke dalam rumah tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun.
...****************...
Di dalam kamar :
"Mommy, kenapa lama sekali? Baby girl dari tadi nangis dia sepertinya kehausan..
"Maaf Dad, ada sedikit keributan tadi." jawab Vitalia sambil mengambil alih babby Sean yang sedang berada di gendongan Chandra suaminya. 'Ya, mereka berdua memutuskan untuk memanggil Mommy dan Daddy agar kelak anak mereka terbiasa memanggilnya dengan sebutan itu juga.'
"Keributan?" tanya Chandra dengan mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
Sambil duduk di tepi ranjang dan memberikan asi pada putrinya, Vitalia menjawabnya dengan berkata, "Nenek menjodohkan Amelia dengan Arnold, Mas."
"Apa? Tapi mana mungkin Nenek memutuskan seperti itu?
" Entahlah, aku benar-benar pusing memikirkan masalah satu dengan yang lainnya secara bergantian...
"Mommy, tak perlu berpikir keras! Kasihan putra dan putri kita kalau Mommy nya stress air asinya tidak keluar bagaimana hayo?" tanya Chandra dengan tatapan menggoda sang istri.
"Heh, Daddy nya baby twins bisa saja. Selalu tau apa yang Mommy rasakan..." ucap Vitalia tak merasa jika dirinya sedang di goda sang istri.
"Tau dong, apalagi jika asi Mommy tidak keluar bagaimana dengan diriku dan anak-anak?" Chandra lagi-lagi melontarkan sebuah pertanyaan yang menggoda.
Dengan membelalakkan matanya lebar, Vitalia menjawabnya dengan berkata, "Dasar suami mesum!" sarkasnya.
"Hahaha, memang begitu kenyataannya, Mom. Memang nggak boleh ya jika..." belum sampai Chandra menyelesaikan ucapannya, Vitalia menyahutnya dengan berkata, "Jika apa lagi? Sudahlah jangan bercanda, kasihan anak-anak lah Dad. Jangan membahas itu lagi!" pintanya.
"Bilang aja istri Daddy yang cantik ini kalau sedang malu, tuh lihat tuh, pipi Mommy berubah seperti tomat," ucap Chandra karena melihat pipi sang istri memerah.
Seketika Vitalia yang mendapat cibiran dari sang suami pun tak terima. Ia mencoba meraba pipinya dengan tangan kanan yang katanya merah seperti tomat.
"Hahahaha, kau itu lucu sekali istriku.."
Cup...
"Apa kau tak mau melakukan lebih?"
"Sudah Dad, berhenti menggodaku, aku sedang memberi asi baby girl!"
Sedangkan Vitalia terdiam mencemaskan dirinya yang sedang dalam bahaya. Ia tau setelah ini suaminya akan melakukan apa.
"Astaga, ku harap Mas Chandra tidak meminta jatah, apalagi ini masih masa nifas,"
Setelah selesai meletakkan baby girl di atas ranjangnya bersama dengan baby boy yang tertidur pulas, Chandra segera melangkahkan kakinya mendekat ke arah sang istri yang ada di tepian ranjang sambil membenarkan kancing bajunya.
"Kenapa di tutup, Mom?" tanya Chandra pada sang istri, sambil duduk di samping Vitalia. Seketika saja Vitalia yang tau maksud dari sang suami, segera menghindar dengan berdiri dari tepian ranjang menuju meja rias.
Namun, niatnya terhenti seketika karena Chandra berhasil menarik tangan Vitalia. Dan..
Greeppp...
Seketika saja Vitalia jatuh di pelukan sang suami, yang saat ini tepat berada di depannya.
"Kenapa kau menghindar dariku, istriku?"
"Daddy, hentikan! Aku masih dalam masa nifas,"
"Memangnya kenapa kalau sedang dalam masa nifas? Apakah aku tidak diperbolehkan untuk menyentuh istriku?"
"Bukan begitu, Dad. Tapi .." belum sampai Vitalia menyelesaikan ucapannya, tanpa diduga Chandra menyambar bibir ranum milik sang istri dengan lembut.
Cup...
__ADS_1
Seketika Vitalia tersentak atas perlakuan suaminya. Namun, ia justru tak ingin membuat kecewa suaminya dengan membalas ciuman lembut dari Chandra.
Cup..
L*matan-l*matan pun terjadi, bahkan mereka melakukannya tanpa ada rasa canggung sedikit pun.
"Thanks, Mommy. Sangat manis." ucap Chandra melepas p*gutannya setelah lama berci*man.
"Kau malu? Kenapa, hmm?" tanya Chandra dengan mendekatkan wajahnya lagi ke wajah sang istri.
"Ak... aku..." ucap Vitalia gelagapan menatap Chandra.
Cup...
Lagi-lagi Chandra ******* bibir ranum milik istrinya, dan Vitalia pun membalasnya. Namun siapa sangka, ketika mereka sedang asyik berciuman, tanpa mereka sadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya.
"Upsss, astaga kalian!" ucap Mama Renita yang muncul di balik pintu sambil menutup matanya. Seketika saja Vitalia dan Chandra terhenyak dan melepaskan pag*tan di antara mereka.
"Ya ampun, Mama. Kenapa nggak ketuk pintu dulu sih?" ucap Vitalia salah tingkah melihat kedatangan Mama Renita.
"Astagaaa, kalian itu bagaimana sih? Seharusnya yang betanya itu Mama. kenapa kalian tidak menutup pintu sebelum kalian melakukan.."
Vitalia dan Chandra yang mendapatkan pertanyaan dari sang Mama pun lagi-lagi salah tingkah dengan menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal.
"Emhh..." ucap Vitalia dan Chandra secara bersamaan.
"Am.. Em.. Am.. Em.. sudah Mama mau lihat cucu-cucu Mama dulu!" seru Mama Renita dengan berjalan masuk ke dalam kamar.
"Mereka sedang tidur Ma.." ucap Vitalia sambil mengekori sang Mama yang berjalan menghampiri ranjang baby twins.
Dilihatnya memang benar bahwa baby twins sedang tertidur pulas di atas ranjang kecil.
"Oh, iya ternyata, mereka sedang tidur. Hmm, baiklah kalau begitu, Mama keluar saja, takut mengganggu kalian," ucap Mama Renita pada Vitalia dan Chandra.
Namun, sebelum melangkahkan kakinya pergi, Mama Renita membuka suaranya dengan berkata, "Hmm ya, Chandra kau jangan memaksa istrimu untuk melakukan hubungan?"
"Apa? Eh, maksudku enggak lah Ma, mana mungkin Chandra melakukannya, istriku saja masih nifas.." ucap Chandra salah tingkah sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Seketika saja Vitalia melotot ke arah sang suami,
"Mas Chandra, apaan sih?!" ucapnya sambil memukul lengan sang suami.
"Hahahaha..." Chandra dan Mama Renita seketika tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dari Vitalia.
"Ssstt, jangan berisik, kasian anak-anak Mas, Ma!" seru Vitalia tak terima karena suara suami dan Mamanya mengganggu tidur baby twins.
"Iyaa, iyaaa. Ya sudah, kalian lanjutkan saja! Mama mau ke bawah dulu .." ujar Mama Renita.
"Oh ya, besok jangan lupa pesan dari Ayah dan Daddy untuk mengurus rumah sakit Cahaya, karena mereka mau memperkenalkanmu sebagai direktur utama." sambungnya lagi mengingatkan pada menantu mafianya.
"Baik Ma." jawab Chandra.
__ADS_1