
Pengakuan Vitalia Jika Dirinya Bagian Dari Keluarga Hirata
Seketika saja dokter Gabby yang mendengar ucapan Vitaia yang menyebutnya dengan sebutan mommy pun segera berjalan menghampirinya.
“Putriku .. apakah benar kau adalah putriku?” tanyanya dengan tatapan penuh arti sambil memegangi pipi mulus milik Vitalia. Namun sayangnya pertanyaan dari dokter Gabby tak mendapatkan jawaban dari Vitalia yang justru malah memandang suaminya.
Karena merasa Vitalia hanya diam tak menjawab pertanyaannya, dokter Gabby pun membuka suaranya dengan bertanya, “Kenapa kau hanya diam saja menatap suamimu? Bukankah benar dengan apa yang saya dengar tadi?” tanyanya memastikan.
Chandra pun seketika mengangguk memberikan instruksi pada sang Istri agar mengangguk mengatakan kebenarannya pada dokter Gabby. Siapa sangka Vitalia segera menarik tangan dokter Gabby untuk di genggamnya, sambil berkata, “Mom, ternyata benar dugaan mommy dan yang lainnya, jika aku ini adalah putri Mommy yang 30 tahun menghilang ..” ucapnya pelan.
Sontak saja ucapan dari Vitalia membuat dokter Gabby terkejut dan memeluk putri kandungnya yang saat ini berada di depannya.
Greeppp ...
Dokter Gabby memeluk Vitalia dengan menangis sesenggukan karena terharu mengingat putrinya yang lama menghilang kini akhirnya kembali lagi.
“Putriku, hiks .. hiks ... akhirnya kau mengaku juga, Nak. Jika kau adalah putriku. Hiks .. hiks ...” ucap dokter Gabby sambil menangis sesenggukan memeluk Vitalia. Sementara Vitalia yang melihat sang Mommy menangis di dalam pelukannya pun perlahan membalas pelukan tersebut dengan meneteskan air matanya.
“Maafkan aku, Mom! Hiks ... hiks ... Aku benar-benar tak tau jika aku ternyata putri dari keluarga Hirata. Hiks ... hiks ... bahkan untuk saat ini aku bingung harus bagaimana menghadapi semua kenyataan ini, hiks ... hiks ...” ucapnya sambil menangis sesenggukan menerima pelukan sang Mommy,
“Sayang, Mommy sangat tau perasaanmu saat ini. Nak, dengarkan mommy lakukanlah yang terbaik jika itu membuatmu baik ..” ujar dokter Gabby pada Vitalia.
Vitalia pun kemudian membalasnya dengan berkata, “Tapi Mom, keluarga Wijaya telah membohongiku! Mereka telah berbohong kepadaku, Mom! Hiks .. hiks ... hiks ...” ucapnya dengan menangis tertahan menahan sesaknya di dada.
“Bahkan aku tak tau dengan apa yang harus aku lakukan saat ini, Mom! Hiks ... hiks .. hiks ... bagaimana caraku menghadapi Daddy dan Kakak? Mommy tau sendiri kan jika mereka sedang marah semenjak mengetahui hasil tes DNA itu?” sambungnya lagi dengan menghapus air matanya.
“Kau tenang saja, Nak. Biarkan Mommy yang menjelaskan pada mereka ...” ujar dokter Gabby berusaha menenangkan hati putrinya. Chandra pun kemudian menyahutnya dengan berkata, “Benar Honey, apa kau lupa jika kita sudah mempunyai bukti untuk menjelaskan kepada mereka?”
“Kau benar Bee, aku hampir melupakannya. Tapi apakah kau yakin dengan bukti itu, Daddy sama Kakak akan mempercayainya dan akan menerimaku sebagai bagian dari keluarga Hirata?” jawab Vitalia dengan berbalik melontarkan sebuah pertanyaan pada Chandra.
Siapa sangka ada sebuah suara bariton yang menyahutnya dengan berkata, “Benar apa yang dikatakan Chandra putriku.” Sahut seseorang tersebut, sontak saja membuat semua mata mengarahkan pandangan menatap ke arah sumber suara yang ternyata adalah Tuan Hirata.
Alangkah terkejutnya mereka semua yang melihat kedatangan Tuan Hirata. Begitu pula dengan Vitalia yang menatap Tuan Hirata dengan tercengang.
Tuan Hirata yang melihat semua orang terkejut melihatnya pun kemudian membuka suaranya dengan berkata, “Kenapa kalian terkejut melihatku?” tanyanya menatap dokter Gabby, Vitalia, dan Chandra secara bergantian.
Ia pun lalu menjatuhkan pandangan pada Vitalia kemudian berkata, “Kau putriku bukan? Jika kau putriku kenapa kau terkejut melihatku, Nak?” tanyanya pada Vitalia dengan tatapan penuh arti.
“Dad ...” ucap Vitalia memanggil Tuan Hirata dengan meneteskan air matanya, karena ia benar-benar tak percaya dengan yang ia dengar barusan. Sementara Tuan Hirata yang melihat Vitalia hanya diam meneteskan air matanya dengan menatapnya pun kini membuka suaranya.
“Kenapa kau hanya diam menangis menatapku, Nak? Apakah kau tidak mau memelukku, putriku?” tanyanya pada Vitalia. Seketika saja pertanyaan dari Tuan Hirata membuat Vitalia tergerak hatinya untuk memeluk sang Daddy.
__ADS_1
Greeppp ...
Vitalia dengan cepat memeluk Tuan Hirata dengan begitu saja, tanpa menghiraukan semua mata yang memandang ke arahnya.
“Maafkan aku Dad ... hiks .. hiks ...” ucapnya sambil menangis di pelukan sang Daddy.
“Putriku, aku sudah tau semuanya tentang dirimu,” ujar Tuan Hirata membalas pelukan Vitalia yang masih menangis sesenggukan. Tuan Hirata pun kemudian menyambungnya lagi dengan berkata, “Perlu kau ketahui, mereka lah yang telah menunjukkan bukti kepada Daddy jika kau adalah putriku, Nak!” menunjuk ke arah Amelia, Risa dan Sherlyn yang tampak tersenyum manis menatap Vitalia. Seketika saja Vitalia juga ikut menoleh ke arah orang yang ditunjuk oleh Tuan Hirata.
“Kalian ..” gumam Vitalia pelan masih terdengar oleh semua orang yang ada di situ. Amelia pun kemudian berlari kecil menghampiri Vitalia dan kedua orang tuanya yang sedang melepas kerinduan.
Greeeppp ....
Seketika saja Amelia memeluk Vitalia dengan menangis haru, dan Vitalia pun lalu membalas pelukan tersebut.
“Hiks .. hiks ... kakak ...” ucapnya sambil menangis sesenggukan memeluk Vitalia.
“Mel .., maafkan aku karena selama ini aku tak mempercayai ucapanmu, hiks .. hiks ..” sahut Vitalia membalas ucapan dari Amelia dengan menangis sesenggukan.
Mendengar ucapan dari Vitalia, Amelia pun melepas pelukan Vitalia dan berkata, “Ssstt, jangan berkata seperti itu lagi, Kak. Kumohon!” pinta Amelia pada Vitalia sambil membungkam mulut Vitalia. Kemudian Amelia menyambungnya lagi dengan berkata, “Sekarang Amel mau tanya sama Kakak. Apakah boleh aku memanggilmu dengan sebutan Kakak?” tanyanya meminta kepastian.
Seketika itu pula Vitalia mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Amelia, yang berarti menandakan jika Vitalia mau dipanggil dengan sebutan Kakak oleh Amelia.
Greeppp ....
“Terima kasih, Kak. Kau sudah mau ku panggil dengan sebutan Kakak ...” ucap Amelia pada Vitalia.
Dengan melepas pelukan Amelia, Vitalia pun tersenyum, dan membalasnya, “Tidak perlu berterimakasih kepadaku, Mel. Lagi pula kau adalah adikku. Jadi tak ada salahnya kau memanggilku dengan sebutan kakak ...”
Lagi-lagi sepasang kakak beradik tersebut pun saling berpelukan, bahkan Tuan Hirata dan dokter Gabby kali ini ikut berpelukan seperti teletubbies. Namun, saat mereka berempat sedang asyik berpelukan, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang dengan berdehem.
Ehem ... ehemmm ...
“Jadi ceritanya aku nggak diajak nih?” tanya seseorang itu dengan melipat kedua tangannya, bersedekap dada. Seketika saja si kembar dan kedua orang tuanya melepaskan pelukan mereka kemudian mengarahkan pandangan menatap ke arah sumber suara.
“Kakak ...” ucap Vitalia dan Amelia secara bersamaan Begitu pula dengan Tuan Hirata dan dokter Gabby yang tak kalah terkejutnya melihat kedatangan Chan Hirata.
“Chan ...” uap mereka secara bersamaan.
“Kenapa kalian malah menatapku seperti itu?” tanya Chan Hirata menatap kedua orang tuanya dan kedua adik kembarnya heran. Vitalia pun kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Chan Hirata dan..
Greeppp ....
__ADS_1
Vitalia tiba-tiba memeluk Chan Hirata, dan dengan senang hati Chan pun membalasnya.
“Maafkan Vitalia, Kak. Hiks ... hiks ... hiks ...” ucapnya sambil menangis sesenggukan memeluk sang Kakak.
“Sudah Vitalia, ini semua bukan salahmu. Seharusnya Kakak dan Daddy ‘lah yang meminta maaf kepadamu karena kami tak percaya bahwa kau adalah bagian dari keluarga Hirata ...” balas Chan Hirata membalas permintaan maaf dari Vitalia. Di saat itulah keluarga Hirata kini kembali saling berpelukan seperti teletubbies.
Bahkan saat mereka saling berpelukan, Chandra, Mirna, Risa dan Sherlyn mereka menangis haru melihat keluarga yang tadinya lama tak utuh kini kembali menjadi utuh.
“Ya Tuhan, terima kasih Engkau telah mempertemukan kembali Istriku dengan keluarga kandungnya ..” gumam Chandra dalam hati.
“Thank you so much oh God .. Engkau telah menyatukan kembali Vitalia dengan keluarga kandungnya ...” batin Mirna.
“Ya Tuhan, senangnya hatiku ketika melihat Mommy bahagia bertemu dengan adik tiriku ...” batin Risa.
“Ku harap setelah ini tak ada drama-drama lagi. Tapi aku sangat takut ketika Kak Vitalia mengetahui dalang dibalik penculikan itu ..” batin Sherlyn dengan pemikirannya.
Namun siapa sangka, di tengah kebahagiaan tersebut ada seorang paruh baya yang sedang turun dari mobilnya melihat dari kejauhan. Seketika saja ia tertegun melihat semua yang terjadi.
Tak terasa air matanya pun menetes dengan begitu saja.
Tes ... Tes ... Tes ...
***Amelia POV : ***
Pada akhirnya kami berjumpa kembali, namun yang ku takutkan saat ini adalah bagaimana jika Vitalia mengetahui dalang penculikan bayi itu yang sesungguhnya? Aku benar-benar tak dapat membayangkan jika semua ketakutanku itu terjadi.
Bersambung ....
...****************...
...----------------...
Oh ya sambil menunggu novel Author Update, yuk mampir ke novel Author.
Berikut Cuplikannya :
Pernikahan karena perjodohan antara Nala dan Reigha sedang terkoyak. Hubungan tanpa cinta itu terombang-ambing ketika Reigha kembali bertemu dengan masalalu yang cintanya sempat terhalang restu.
Nala merasa, usahanya selama ini berakhir sia-sia. Reigha sering berbohong dan diam-diam masih menemui Sandra, sesuatu yang harusnya tidak boleh dilakukan oleh Reigha yang sudah menjadi suami dari Nala.
Mampukah Nala membawa kapal rumah tangganya berlayar di dermaga?
__ADS_1
Atau justru kapal rumah tangganya harus tenggelam karena kalah dalam berperang?