Dokter Misterius VS Mafia Kejam

Dokter Misterius VS Mafia Kejam
Episode 203


__ADS_3

Nenek Elisabeth Sudah Tiada


“Kau?!” ucap Vitalia dengan membelalakkan matanya terkejut melihat kehadiran Erick yang datang tak diundang.


“Iya, ini aku Erick,” jawab Erick seadanya.


“Erick, untuk apa kau ke sini? Tumben kau ke sini, bahkan setelah sekian lama kau menghilang bakal di telan bumi, kini baru muncul. Heh, atau jangan-jangan kau ..” belum sampai Vitalia menyelesaikan ucapannya, Erick menyahutnya dengan berkata, “Aku ke sini karena aku tau berita mengenai suamimu ..”


“Terus kau ingin bilang jika kau ingin menertawakan aku begitu kan?” tanya Vitalia pada Erick dengan muka datarnya.


“Bukan begitu, Vitalia. Tapi ..” Belum selesai Erick menyelesaikan ucapannya Vitalia memotongnya.


“Cukup Erick! Jangan mentang-mentang kau adalah sahabatku kau seenaknya saja keluar masuk ke rumah ini!”


“Hmm, maaf. Aku ...”


“Lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku marah padamu, Erick! Aku hanya ingin menenangkan diri bersama dengan kedua anakku saja,” ucap Vitalia dingin yang lagi-lagi memotong ucapan Erick.


“Baiklah, kalau itu maumu. Aku pergi dulu!” seru Erick berpamitan. Namun, sayangnya ucapan dari Erick sama sekali tak mendapatkan respon dari Vitalia. Pada akhirnya Vitalia memutuskan untuk membawa kedua buah hatinya untuk masuk ke dalam rumah bersamanya.


Saat ia akan masuk ke dalam rumah, Vitalia dikejutkan dengan sebuah obrolan Mommy Gabby yang sedang berada di dapur, dan ternyata memang benar, Mommy Gabby tampak sedang menghubungi seseorang melalui telepon.


“Apa? Amelia, tenangkan dirimu, Nak. Kau jangan gegabah memutuskan sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Mommy mohon, pleasee!” ucap Mommy Gabby terlihat cemas berbicara melalui telepon.


“Tidak Mom. Apalagi setelah mendengar berita tentang penembakan Nenek, aku tidak akan membiarkan mereka lolos dengan begitu saja. Oh ya, Mommy tenang saja, saat ini aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, Mom. Barusan Amelia mendapatkan telepon juga dari RS.Wijaya, jika kak Erlin sedang membutuhkan aku saat ini,” jawab Amelia yang berada di seberang sana.


“Apaaa?” ucap Vitalia dengan nada keterkejutannya mendengar pernyataan dari Amelia melalui telepon yang di loadspeaker oleh sang Mommy. Sontak saja suara dari Vitalia membuat Mommy Gabby tersentak kaget, ternyata sedari tadi Vitalia sedang menyimak pembicaraannya dengan Amelia.


"Vitalia, kau?!” Ucap Mommy Gabby dengan nada keterkejutannya.


“Mom, aku titip kedua anak-anakku, aku akan pergi ke RS.Wijaya sekarang juga,” ujar Vitalia dingin sambil menyerahkan kedua anaknya menggunakan kereta dorong.


“Tapi, Nak ..”


“Jangan halangi aku, Mom. Pleasee, kali ini saja!” ucap Vitalia dengan mengatupkan kedua tangannya seraya memohon kepada sang Mommy.


“Tapi kamu belum selesai masa nifas, Nak.”


“Memangnya kenapa kalau aku belum selesai masa nifas, Mom? Itu semua tidak ada hubungannya dengan nyawa Nenek, Mom! Setelah kehilangan Mas Chandra, aku tidak akan membiarkan nyawa Nenek juga ikut melayang dengan begitu saja, Mom!” tegas Vitalia menjawab pernyataan sang Mommy.


Sementara anggota keluarga yang sedang berada di ruang tengah mengernyit kebingungan dengan apa yang sudah mereka dengar. ‘Ya, suara tersebut bersumber dari arah dapur yang terdengar sampai ke ruang tengah.’


Melihat Vitalia yang datang dari arah dapur tanpa menghiraukan semua orang yang ada di ruang tengah, Vitalia berjalan cepat menaiki anak tangga.


“Ada apa dengan Vitalia?” Mama Renita bertanya dalam hati, kemudian berdiri dari tempat duduknya segera menyusul Vitalia ke lantai atas.


“Nak, baby twin mana? Kenapa ..” belum sampai Mama Renita menyelesaikan ucapannya, Vitalia menyahutnya dengan berkata, “Dia bersama Mommy, dan mbak Yati di dapur."


"Oh ya, Ma. Vitalia titip anak-anak sebentar, karena aku mau ke RS.Wijaya,” ujarnya dingin sambil membuka almarinya untuk mencari snelinya.


“Tapi Vitalia, kau masih belum selesai nifas,” ucap Mama Renita melarang Vitalia untuk pergi ke RS.

__ADS_1


“Mama tenang saja, lagi pula Vitalia hanya sebentar saja, ini semua demi Nenek. Kumohon Ma, izinkan Vitalia untuk pergi ke RS,” sahut Vitalia menjawab pernyataan sang Mama sambil mengatupkan kedua tangannya seraya memohon pada sang Mama.


“Baiklah, Mama mengizinkanmu. Tapi kau harus diantar oleh Erick," jawab Mama Renita dengan melontarkan sebuah persyaratan.


Dengan menghembuskan nafas kasarnya, Vitalia menjawabnya dengan berkata, “Huuhh, tapi Ma ..”


“Tidak ada tapi-tapian Vitalia, menurutlah atau Mama akan menghubungi Mama mertuamu dan juga Papa mertuamu!” ancam Mama Renita pada putri tirinya.


“Astaga Ma, iya .. iya ..” jawab Vitalia pasrah menuruti perkataan Mama tirinya.


“Nah, itu baru anak Mama!" seru Mama Renita.


“Iya Ma, kalau begitu Vitalia pergi dulu ..” ucap Vitalia sambil memakai snelinya, kemudian bersalaman pada Mama Renita sebelum berangkat ke RS.


"Maafkan Mama, karena Mama tidak mau kalau kau sampai terluka, Vitalia,” ucap Mama Renita dalam hati menatap kepergian putri tirinya.


***


Sementara di sisi lain, Amelia sudah sampai di RS.Wijaya menggunakan Taksi, sedangkan Arnold sedang mengikutinya dari belakang tanpa sepengetahuan dari Amelia.


'Ya, Arnold sendiri setelah dari tempat kejadian perkara, memutuskan untuk ke kediaman Chandra, namun ternyata Amelia tidak ada di rumah, ia justru sudah pergi dari rumah sejak subuh.'


Pada akhirnya Arnold memutuskan untuk menampakkan batang hidungnya di depan Amelia.


“Amelia!” teriak Arnold memanggil Amelia yang hendak masuk ke dalam RS tempat dimana ia bekerja. Sayangnya teriakan dari Arnold tak di dengar oleh Amelia.


“Astaga, dia wanita atau pria sih? Dia benar-benar berubah drastis semenjak kembarannya hadir ke dalam hidupnya. Hmm, benar-benar tuh anak ngajakin berantem,” ucap Arnold menggerutu kesal, karena Amelia mengabaikannya dengan begitu saja.


“Amelia!” teriak Vanya memanggil Amelia, seketika saja Amelia menoleh ke arah sumber suara.


Seketika saja Amelia menoleh ke belakang dan menyahutnya dengan berkata, “Dokter Vanya, ada apa memanggilku?"


“Bagaimana kondisi Vitalia, Mel? Aku begitu mencemaskannya. Apalagi setelah mendengar berita mengenai suaminya yang jatuh ke dalam jurang. Vitalia baik-baik saja kan, Mel?” Vanya menjawabnya dengan sebuah pertanyaan.


“Kakak baik-baik saja, dok. Kalau begitu aku pergi dulu, aku tidak punya waktu untuk membicarakan hal itu, dok. Sekarang yang terpenting adalah nyawa Nenekku,” jawab Amelia dingin, lalu beranjak pergi. Sayangnya langkah kakinya terhenti karena dihentikan oleh Vanya.


“Tapi Mel, tunggu sebentar!” teriak Vanya sambil menarik tangan Amelia.


“Ada apa lagi sih?”


Namun, siapa sangka di sela perdebatan diantara keduanya, Vitalia justru dikejutkan dengan kehadiran Vitalia yang datang dengan berjalan terburu-buru.


“Vitalia ..”


“Kakak ..” ucap vanya dan Amelia secara bersamaan melihat kedatangan dari Vitalia yang memasang muka datarnya.


“Dokter Vitalia, untung anda ke sini dok, saya ingin menyampaikan bahwa Nenek anda saat ini mengalami koma,” ujar salah seorang dokter yang bertugas di RS.Wijaya.


Tanpa ada sahutan dari Vitalia, ia meninggalkan dokter yang berbicara kepadanya tadi dengan begitu saja. Bahkan, sampai-sampai Vitalia tak tau jika ia sudah melewati dua orang yang sangat ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Vanya dan Amelia.


“Astaga, demi apa ini? Dengan kondisi yang hancur, dia masih kuat untuk ke sini. Ya Tuhan benar-benar wanita tangguh,” ucap Vanya tanpa sadar.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari dokter Vanya, Amelia segera meninggalkan Vanya dengan begitu saja. Ia benar-benar tak punya banyak waktu lagi selain mengejar kembarannya yang sedang menuju ke ruang NICU tempat di mana Neneknya di rawat.


Sesampainya di ruang NICU, Tuan Zhu beserta sang istri, dan juga Chan Hirata, serta Aditya dikejutkan dengan kedatangan Vitalia yang datang ke RS.


“Vitalia ..” ucap semuanya kompak memanggil dirinya. Namun, belum sampai Vitalia menjawab panggilan tersebut, ada seorang dokter yang keluar dari ruang NICU, “Keluarga dokter Vitalia,”


“Aku di sini, Er.” Sahut Vitalia dingin.


“Vitalia, kau?!”


“Hmmm, iya ini aku. Katakan kepadaku, bagaimana perkembangan Nenek Elisabeth, Er?” tanya Vitalia pada Erlin dengan sikapnya yang dingin.


“Sebelumnya maaf, aku ingin menyampaikan padamu Vitalia, bahwa ..” Belum juga Erlin menyelesaikan pembicaraannya, Vitalia menyerobotnya.


“Bahwa apa, Er? Cepat katakan kepadaku!” ujar Vitalia sambil menarik kerah sneli yang digunakan oleh dokter Erlin (Istri dari Aditya).


“Vitalia, Mama mohon kendalikan dirimu, Nak!” ujar Mama Dhea yang berdiri dari tempat duduknya menghampiri Vitalia.


“Dengan berat hati aku ingin menyampaikan bahwa, Nenek Elisabeth sudah tiada, Vitalia,” ujar Erlin menjelaskan pada semua orang yang berada di situ.


Bagai disambar petir di pagi hari, semua orang yang berada di situ membelalakkan matanya terkejut, setelah mendengar berita tersebut.


“Apa?!” ucap semua orang yang berada di situ dengan nada keterkejutannya.


“Tidak, ini tidak mungkin kan Er? Katakan kepadaku, Erlin! Hiks .. Hiks ..” ucap Vitalia engan menangis sesenggukan.


“Ada apa ini?” sahut Amelia yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang Vitalia.


Seketika saja Vitalia mengarahkan pandangan menatap kedatangan Amelia dan berkata, “Mel, katakan kepadaku Mel, apakah Nenek masih hidup? Hiks .. Hiks ..” Bukannya menjawab Amelia justru malah berbalik tanya.


“Apa yang kau katakan kak?” tanya Amelia bingung menatap sang kakak lalu bergantian menatap Chan Hirata dan yang lainnya secara bergantian.


“Tapi Vit, aku hanya menyampaikan apa adanya, bahwa Nenek Elisabeth telah dinyatakan meninggal dunia, tepat di pukul 12.00 WIB."


Seketika itu pula Amelia tercengang mendengar kabar tersebut. “Nenek, nggak Nek, kau nggak boleh pergi, Nek! Hiks hiks ..” ujar Amelia menangis histeris, lalu masuk ke dalam ruang NICU. Sementara Vitalia hanya diam seribu bahasa dengan berjalan gontai ke arah dinding, kemudian menjatuhkan dirinya di atas lantai.


"Ya Tuhan, apa salahku sehingga kau memberi ujian seberat ini kepadaku," ujar Vitalia dengan bercucuran air mata, tanpa mengeluarkan suara. Hanya satu kata untuk Vitalia saat ini, 'Rapuh'.


***


Vitalia POV :


Dua, ya, aku telah kehilangan dua orang sekaligus. Bahkan, mereka adalah orang sangat aku cintai. 'Rapuh' ya, aku begitu rapuh setelah kehilangan mereka. Aku tak tau harus bagaimana setelah ini? Apakah aku harus bunuh diri? Apakah aku harus seperti ini terus menerus tanpa adanya mereka?


Terutama kau suamiku, bagaimana kabarmu? Aku yakin kau pasti baik-baik saja. Aku berpikir, ini sudah suratan cinta diantara kau dan aku harus berpisah. Bahkan, kita seakan dipisahkan oleh ruang dan waktu, tapi aku yakin suatu saat nanti kita pasti akan bertemu di kehidupan selanjutnya. Ternyata benar cinta itu tak selamanya indah.


Bersambung ...


...****************...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2