
Pengakuan Mama Renita
“Tidak .. itu tidak mungkin!” ucap Vitalia dengan nada meninggi sambil menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang sudah dikatakan Mama Renita barusan.
“Tapi memang ini kenyataannya, Nak! Hiks .. hiks .., Mama lah yang menyuruh Matsugi dan Arnold untuk menculikmu dan membuangmu di tempat sampah waktu itu, Nak.” Sahut Mama Renita berusaha menjelaskan kebenarannya pada Vitalia sambil menangis sesenggukan dengan kepala menunduk.
Sayangnya ungkapan dari Mama Renita tak membuat Vitalia menjawabnya. Ia justru hanya diam menangis tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Namun, setelah sedetik ia terdiam Vitalia kemudian menyahutnya dengan berkata, “Kalau Mama yang telah menyuruh Matsugi, lalu untuk apa Mama melakukan itu semua, Ma? Apa Mama tak memikirkan perasaanku?”
“Hiks .. hiks ... maafin Mama, Nak. Mama me .. me .. melakukan it .. itu semua karena khilaf, dan Mama iri dengan Mommymu yang selalu diperhatikan Daddymu ketika itu hiks ... hiks ..”
“Apa?” ucap Vitalia dengan nada keterkejutannya sambil menggelengkan kepalanya berjalan menghampiri sang Mama dengan air mata bercucuran membasahi pipi.
Dengan berusaha tetap tegar, ia menyambungnya lagi dengan berkata, “Hanya karena khilaf dan iri Mama tega membuangku ke tempat sampah dan memisahkanku dengan keluargaku, bahkan juga dengan saudari kembarku?" tanyanya dengan emosi yang menggebu-gebu.
Ia kemudian menyambungnya lagi dengan berkata, "Heh, apa Mama pikir dengan mengaku di depan para anggota keluarga, Vitalia akan percaya dengan ucapan Mama?” tanyanya dengan tersenyum sinis, ambil mengusap air matanya.
“Tapi Vitalia, memang kebenarannya seperti itu, Nak. Jadi kumohon mengertilah! Kau dengar sendiri bukan, perkataan Nenek tadi? Hiks .. hiks ..” jawab Mama Renita.
“Kalau Mama tetap kekeh jika Mama lah dalang dari semua ini, kenapa Mama tak membunuhku saja, Ma? Kenapa?" balas Vitalia yang lagi-lagi menangis tanpa mengeluarkan suara.
"Sekuat-kuatnya seorang Vitalia, akan rapuh jika sudah berurusan soal orang tua, Ma! Bukankah tadi Mama bilang jika Mama iri dengan Mommy? Lalu kenapa jika iri dengan Mommy harus aku dan Amelia yang terkena imbasnya, Ma?”
“Tidak Nak, itu tidak mungkin jika Mama membunuhmu! Tapi Mama ..” belum sampai Mama Renita menyelesaikan ucapannya, Vitalia menyerobotnya dengan berkata, “Cukup, Ma! Vitalia tak ingin mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Mama!” bentak Vitalia tersulut emosi menatap Mama Renita dengan mata nanar nya.
Dengan menangis sesenggukan Mama Renita menjawabnya dengan berkata, “Tapi Nak, dengarkan Mama dulu! Hiks .. hiks ... Mama tidak mungkin membunuhmu, karena Mama juga masih punya hati nurani, Nak.” Ucap Mama Renita membalas ucapan dari Vitalia.
“Punya hati nurani? Punya hati nurani dari mana, Ma? Kalau Mama punya hati nurani, Mama tak akan mungkin berbuat seperti itu, Ma!" seru Vitalia membalas ucapan dari Mama Renita.
"Aku benar-benar kecewa sama Mama! Tau kan Ma, Vitalia itu sayang banget sama Mama? Tapi kenapa Mama melakukan semua itu?" sambung Vitalia lagi.
"Mama tau, Nak.. hiks .. hiks .." jawab Mama Renita dengan tertunduk lesu sambil menangis sesenggukan.
"Kalau Mama tau kenapa Mama melakukan semua itu, Ma?!" ucap Vitalia dengan nada meninggi dan dengan menangis tertahan.
"Tapi Nak, Mama tak ada niatan jahat sama putri, Mama! Hiks.. hiks.. maafkan Mama, Nak... hiks.. hiks... hiks.. Mama benar-benar menyesal.." sahut Mama Renita menjawab ucapan dari Vitalia.
Mendengar pernyataan sang Mama, Vitalia menyahutnya lagi dengan berkata, "Tak ada niat jahat? Mama yakin, jika nggak ada niat jahat sama sekali? Heh, nggak masuk akal!" ujarnya sambil tersenyum miris meratapi nasibnya.
"Dan teruntuk kalian semua yang ada di sini, kenapa kalian hanya diam saja ketika pelaku ada di depan mata kalian, ha? Apa kalian buta dan tuli sehingga kalian...." belum sampai Vitalia menyelesaikan ucapannya, Amelia memotongnya.
"Cukup Vitalia! Jangan menghina Mama di depan para anggota keluarga!" bela Amelia yang tiba-tiba saja memotong pembicaraan Vitalia.
Amelia pun lalu menyambungnya lagi dengan berkata, "Andai saja kau tau Vitalia, Mama Renita melakukan semua itu karena kau dan aku selalu saja mendapatkan kasih sayang dari Daddy, Vitalia! Sedangkan Sherlyn, dia tak pernah mendapatkan kasih sayang yang lebih dari, Daddy!"
__ADS_1
"Sudah Nak, jangan membelaku!" cegah Mama Renita pada Amelia agar tak membelanya. Namun, ucapannya justru mendapatkan bantahan dari Amelia.
"Aku tidak membela Mama, tapi Amel ingin memberitahu pada kakak, jika Mama tak sepenuhnya bersalah, Ma! Mengapa Mama mengaku pada Amel jika Mama yang menyuruh Matsugi untuk membuang ke tempat sampah dekat kediaman Wijaya?"
Seketika saja pertanyaan dari Amelia membuat Vitalia dan Tuan Hirata membelalakkan matanya terkejut.
Tuan Hirata pun kemudian menyahutnya dengan berkata, "Mama, jadi Mama..." belum sampai Tuan Hirata menyelesaikan ucapannya Mama Renita menyahutnya.
"Iya, Dad. Sekarang Daddy tau kan kebenarannya bagaimana? Walaupun Daddy sudah memaafkan Mama, tapi Mama tak bisa memaafkan diri Mama sendiri, Dad. Hiks.. hiks..." ucap Mama Renita sambil menangis sesenggukan, terduduk lemah di atas sofa ruang keluarga dengan berusaha ditenangkan Mirna.
Vitalia pun kemudian mengarahkan pandangan menatap sang Mama, dan berkata, "Mama, maksud Mama apa dengan membuangku di tempat sampah itu?" tanyanya dengan tatapan menginterogasi sambil berjalan mendekat ke arah sang Mama lagi.
Namun usahanya usaha Vitalia yang mendekati sang Mama pun sia-sia, karena sang Mama malah berdiri menghampirinya, kemudian berkata, "Karena Mama ingin tetap memantaumu dari kejauhan, Nak."
"Mama hanya ingin dirimu dirawat keluarga itu dengan baik. Mama pikir dengan dirimu dirawat di sana, Mama yakin kau akan tumbuh menjadi orang yang sukses dan terpandang, karena Mama tujuannya hanya menjauhkanmu dengan keluarga Hirata bukan menghancurkan hidupmu, Nak!
Mendengar pernyataan Mama Renita, Vitalia seketika tertegun, dan meneteskan air matanya. Begitu pula dengan anggota keluarga yang lain yang tak kalah terkejutnya dengan pengakuan Mama Renita.
Mama Renita pun kemudian menyambungnya lagi dengan berkata, "Selain itu Mama juga berpikir jika suatu saat kebenaran tentang dirimu terungkap, yang pasti persahabatan antara Daddy dan Papamu itu hancur seketika, Nak ..."
Duaaarrr...
Bagai petir menyambar disiang hari Vitalia dan Tuan Hirata serta keluarga yang lainnya membelalakkan matanya terkejut mendengar alasan yang diutarakan oleh Mama Renita.
Hamparan keras melayang dengan begitu saja di pipi mulus milik Mama Renita. Seketika saja tamparan tersebut berhasil membuat seluruh orang yang berada di situ terkejut melihatnya, termasuk dengan Vitalia.
"Dasar Istri tak tau diri!" umpat Tuan Hirata pada Mama Renita yang sedang meringis menahan rasa sakitnya.
"Daddy, cukup! Apa yang Daddy lakukan?" ucap Vitalia dengan nada meninggi karena tak tega melihat Mama Renita ditampar dengan begitu saja tepat berada di depannya.
"Vitalia, kau tau kan, Nak. Mamamu itu tak tau diri! Dia telah membuangmu ...
"Cukup Dad! Jangan pernah Daddy berkata seperti itu lagi!
"Tapi sayang ...
"Daddy, sekarang Vitalia tanya sama Daddy. Jika Daddy masih mencintai Mama, kenapa Daddy berkata seperti itu, Dad?
"Daddy cinta sama Mama, Nak. Tapi bukan berarti...
"Bukan berarti apa lagi sih, Dad? Bukanlah Daddy sudah memaafkan Mama atas kejadian itu, tanpa sepengetahuan dariku? Termasuk dengan Amelia dan kak Chan juga kan?
"Vitalia, kau .." ujar Tuan Hirata, Amelia, dan Chan Hirata secara bersamaan.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kalian terkejut? Aku sudah mengetahuinya! Dan kalian tak perlu mengetahui darimana aku mengetahui!" ujar Vitalia dengan penuh penekanan.
"Jikalau Daddy benar-benar cinta sama Mama, seharusnya Daddy tak berkata seperti itu! Mungkin memang Mama dalang dibalik semua ini, tapi Vitalia yakin jika Mama menghancurkan persahabatan antara Daddy dan Papa itu bukan kehendaknya sendiri," tebak Vitalia menjawab pertanyaan dari sang Daddy dengan muka tanpa ekspresi sama sekali.
"Bukankah begitu, Ma?" sambungnya lagi dengan mengalihkan pandangan menatap Mama Renita, dengan melontarkan pertanyaan padanya.
Bukannya menjawab, Mama Renita justru hanya diam tak berani menjawabnya di depan Vitalia. Ia takut jika Vitalia putri tirinya tak mempercayainya lagi.
Sementara Vitalia yang melihat Mama Renita hanya terdiam pun, kemudian membuka suaranya dengan berkata, "Tolong jawab jujur, Ma. Please!" pinta Vitalia pada Mama Renita agar menjawab pertanyaan darinya.
"Aku yang bersalah dalam hal ini, Nak." jawab Mama Renita dengan air mata yang bercucuran membasahi pipi.
Vitalia yang melihat sang Mama tampak menangis dengan berlinang air mata pun kemudian menghapusnya, dan berkata, "Tidak Ma. katakan dengan jujur Ma, kumohon.." ucapnya lalu mengguncang tubuh sangat Mama.
Namun, belum sampai Mama Renita menjawabnya Nenek Elisabeth menimpalinya dengan berkata, "Benar tebakanmu, Nak. Mamamu memang tak sengaja menghancurkan persahabatan antara Daddy dan Papamu.. tapi ia terpaksa melakukan semua itu karena ia sudah terlanjur melakukan perjanjian pada Matsugi.."
"Perjanjian? Maksud Nenek perjanjian penculikan itu?
"Tepat sekali! Kau memang cucu jeniusku! Nenek berharap kau tidak membalaskan dendammu dengan Mamamu.."
Dengan menggelengkan kepalanya, Vitalia membuka suaranya dengan berkata, "Tidak Nek, Vitalia tak akan pernah memaafkan Mama, dan Vitalia akan menjadikan Mama Renita seorang ratu sama halnya seperti Mommy Gabby..."
Seketika saja seluruh orang yang ada di ruangan tersebut meneteskan air matanya karena terharu mendengar pernyataan dari Vitalia, termasuk dengan Mama Renita yang tak kalah terharu mendengarnya.
Dengan menangis di hadapan putri tirinya Mama Renita benar-benar kebingungan tak tau ingin berkata apa pada putrinya yang sedang tersenyum kepadanya. Mereka bahkan tak menyangka jika Vitalia akan berbalik tak marah dengan Mama Renita, padahal jelas-jelas pada awalnya Vitalia sangat kecewa dengan Mama Renita.
Namun, setelah dijelaskan oleh Mama Renita, dan Nenek Elisabeth, hati Vitalia mulai tersentuh, ia tak menyangka bahwa dirinya di buang di pembuangan sampah dekat kediaman Wijaya itu ada alasannya. Dan alasan itulah membuatnya tersentuh dan begitu heran dengan sikap sang Mama kepadanya.
Tiba-tiba saja Mama Renita menjatuhkan dirinya ke lantai tepat di hadapan Vitalia.
Bruukkk..
Seketika saja mata Vitalia terbelalak melihatnya begitu pula dengan yang lainnya.
"Maafkan Mama, Nak... hiks... hiks.."
***
Chandra POV :
Begitu rumitnya kehidupan istriku. Aku sangat berharap setelah ini tak akan ada masalah lagi dalam kehidupan diantara kami. Tuhan, kumohon padamu agar aku bisa membahagiakan istri dan anak-anakku kelak. Aku tak ingin membuat mereka kecewa.
Bersambung.....
__ADS_1