
Terungkapnya Identitas Asli Nenek Bernadeth di hadapan Dokter Mirna Feriska.
Setelah mendengar ucapan sang Mommy, Amelia pun begitu tersentuh, sehingga ia pun lalu memeluk tubuh sang Mommy, berusaha untuk ditenangkan nya. Mengingat saat ini banyak mata yang memandang ke arahnya dan juga Mommy Gabby (dokter Gabby).
“Sudah Mom, pokoknya Mommy tenang saja, ya! Bukankah hari ini kita melakukan tes DNA itu?” tanya Amelia memastikan, dan seketika itu pula mendapatkan anggukan kepala dari sang Mommy.
“Iya, Nak. Terima kasih, ya ...” ucap sang Mommy berterimakasih pada putrinya. Amelia pun menanggapinya dengan mengangguk pelan dan berkata, "Sama-sama, Mom .." jawabnya tersenyum manis di hadapan sang Mommy.
“Eh tapi tunggu dulu. Bagaimana dengan Daddymu, Mel?” sambungnya lagi dengan bertanya.
Dengan tersenyum manis, Amelia menjawabnya. “Mommy tenang saja, kebetulan hari ini Daddy rencananya mau datang ke Indonesia, karena Amelia sudah menyampaikan kepadanya, jika hari ini kita akan melakukan tes DNA dengan Vitalia ..” terangnya menjawab pertanyaan dari sang Mommy.
Seusai antara Ibu dan Anak itu berdebat, Amelia memutuskan untuk pergi ke ruangan Vitalia, sementara dokter Gabby pergi ke ruangannya untuk memeriksa pasien. Mengingat saat ini pasiennya begitu banyak yang sudah mengantri sejak subuh.
...****************...
Seiring berjalannya waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 wib. Kini tiba saatnya untuk melakukan tes DNA, dan disaat itu pula tampak tuan Hirata sudah datang setelah melakukan perjalanan yang cukup lama, karena ia harus mampir dulu ke Australia.
Tok... tok... tok..
Seketika saja semua mata mengarahkan pandangan ke arah pintu, dilihatnya Tuan Hirata yang datang bersama dengan Chan Hirata.
"Dad.." panggil Vitalia menatap kedatangan Tuan Hirata dan Chan Hirata. Begitu pula dengan Chandra, Amelia dan Mama Renita yang berada di ruangan tersebut.
Dengan berjalan mendekat, Tuan Hirata menjawabnya dengan berkata, "Iya ini Daddy. Bagaimana perkembanganmu? baik bukan?" tanya
"Baik Dad.., kebetulan hari ini juga Vitalia surah diperbolehkan pulang. Mungkin Vitalia terlalu kebanyakan pikiran jadi begini,"
"Eh iya, tapi darimana Daddy tau aku di rawat disini?" sambung Vitalia lagi dengan bertanya kepada Tuan Hirata.
Tuan Hirata pun lalu duduk di samping kiri tempat tidur Vitalia, lalu merangkul Vitalia yang sedang duduk bersandar."Dari Amelia, dan Mama, mereka yang memberitahu Daddy jika kau sedang di rawat, makanya Daddy buru-buru kesini. Oh ya, kebetulan Daddy membawa seseorang yang spesial untukmu.."
Vitalia yang mendengar jawaban dari Tuan Hirata menautkan kedua alisnya bingung, dan berkata, "Maksud Daddy?"
"Lihatlah, ada siapa di sana?" tanya Tuan Hirata pada Vitalia sambil menunjuk ke arah pintu. Sontak saja Vitalia mengarahkan pandangan menatap ke arah pintu, begitu pula dengan yang lainnya.
"Nenek ..." panggil Vitalia pada seorang wanita tua yang berada di balik pintu.
"Astaga Nek, nenek ikut?" sambungnya lagi dengan bertanya pada sang Nenek.
"Iya dong sayang, kau itu juga cucuku! Apalagi Nenek dengar kabar bahwa kau sedang sakit..." ujar Nenek Bernadeth.
"Nek, Vitalia nggak sakit kok, hanya saja Vitalia sedikit kelelahan.." balas Vitalia dengan tersenyum ramah.
__ADS_1
Namun saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja ada seorang suster yang datang dengan dengan terburu-buru.
"Suster, ada apa? Kenapa buru-buru?" tanya Vitalia membuka suaranya dengan bertanya kepada perawat yang baru datang tersebut.
"Emmh... tidak kok dok, saya hanya ingin menyampaikan perintah dari dokter Gabby. Bahwa anda di suruh ke ruang lab untuk melakukan tes DNA."
Vitalia yang mendengarkan penjelasan salah seorang perawat tersebut mengerutkan keningnya bingung karena tingkah perawat tersebut tidak seperti biasanya. Ia pun lalu berbalik menatap sang suami yang juga menatapnya.
"Emhh.., hanya itu?" tanya Vitalia pada seorang perawat tersebut.
"Iy... iya.. dok. Kalau begitu saya permisi..."
"Aku merasa ada yang aneh dari suster tersebut. tapi kenapa dia gelagapan seperti orang ketakutan?" ucap Vitalia bertanya-tanya dalam hati. Begitu pula dengan Chandra. "Sepertinya ada sesuatu yang menimpa suster itu. Aku harus mencari tau semuanya...." batin Chandra.
Chandra yang akan berniat pergi meninggalkan ruangan pun dicegah oleh sang istri yang mencegahnya dengan menarik tangannya.
Sreegghhh...
"Bee, jangan hiraukan dia!" pinta Vitalia pada sang Suami.
Chandra pun lalu menjawabnya dengan berkata, "Tapi Honey, ada yang aneh dari suster tersebut.."
"Biarkan saja, mungkin dia sedang ada masalah. Lebih baik hantarkan aku ke lab untuk tes DNA!" titahnya pada Chandra.
Sementara Tuan Hirata yang mendengarkan pun terkejut. "Apa tes DNA? Kenapa kau melakukan tes DNA, Nak?" tanyanya menimpali obrolan di antara sepasang suami istri tersebut.
"Apaa? Jadi Daddy disuruh kesini hanya untuk tes DNA?" tanya Tuan Hirata dengan nada keterkejutannya menatap Vitalia dan yang lainnya secara bergantian.
"Amelia, kenapa kau tidak memberitahu Daddy dalam masalah ini?" sambungnya lagi.
"Kalau Amelia memberitahu Daddy apakah Daddy mau mendengarkan aku?" ujar Amelia berbalik tanya. Sementara Vitalia tidak ingin berdebat panjang. Ia justru tetap melangkahkan kakinya pergi bersama Chandra menuju lab, menghiraukan para keluarga yang sedang berseteru.
Chandra pun lalu mengambil kursi roda yang berada di samping pintu. Kemudian Vitalia dengan begitu saja menaiki kursi roda tersebut tanpa ada aba-aba dari sang suami.
"Selalu saja berdebat.., sungguh membosankan!" gerutu Vitalia sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing, berada di atas kursi roda yang di dorong oleh Chandra.
Sementara Chandra yang mendengarkan ocehan dari Vitalia menyahutnya dengan berkata, "Apa? Kenapa bosan? Bosan dengan siapa?" berbagai pertanyaan keluar dari mulut Chandra.
"Astaga Bee, masih saja tanya. Sudah deh ya, jangan banyak tanya! Dorong saja kenapa?" ujar Vitalia sambil memutar bola matanya malas.
"Siap istriku yang sok cantik dan sok dingin..." sahut Chandra mencubit pipi sang istri dari belakang, sambil mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh istrinya dengan terkekeh geli. Karena sebenarnya ia sedang menggoda istrinya yang sedang kesal.
...****************...
__ADS_1
Sementara di ruang perawatan Vitalia masih bersitegang, mengingat Amelia tidak mau memberitahu sang Daddy mengenai tes DNA.
"Apa maksud kalian? Kenapa kalian melakukan semua itu? Apa kalian pikir dengan melakukan tes DNA, Vitalia akan menerima kenyataan? Ya, itu pun kalai terbukti dia anakku. Kalau tidak? Apa kalian tidak malu?" ujar Tuan Hirata dengan nada meninggi memarahi Amelia dan Mama Renita.
"Tapi kami semua tak tau mengenai rencana tes DNA itu Dad!" bantah Amelia.
"Jangan berbohong, Amelia!" bentak Tuan Hirata tak percaya dengan pernyataan putrinya.
"Aku tidak pernah berbohong Dad! Amelia bilang apa adanya, bukan ada apanya!" Sergah Amelia dengan nada yang tak kalah tingginya dengan bentakan Tuan Hirata terhadapnya.
"Rencana tes DNA itu berawal dari Kakak dan Mommy yang menantang Vitalia!" sambung Amelia lagi dengan sorot mata tajam mengarah ke arah Chan Hirata yang hanya terdiam di tempat tak menghiraukan ucapan sang adik.
"Apa?" ucap Tuan Hirata dan Nenek Bernadeth atau lebih tepatnya Nenek Elisabeth secara bersamaan.
"Sungguh keterlaluan kau, Chan!" seru Tuan Hirata tak terima jika harus melakukan tes DNA.
Chan Hirata yang sejak tadi terdiam pun akhirnya membuka suaranya dengan jawaban tak kalah serunya. "Apa kata Daddy? Aku keterlaluan? Seharusnya Daddy bersyukur jika aku melakukan ini semua demi kita semua, Dad! Kita butuh bukti untuk mengungkap kebenaran tersebut!"
Belum sampai Tuan Hirata menjawab pernyataan dari putranya, Nenek Bernadeth (Nenek Elisabeth) menyerobotnya dengan melontarkan sebuah pertanyaan, "Kebenaran apa yang kau maksud, Cucuku? Bukankah Nenek sudah berkali-kali bilang pada kalian semua, bahwa Vitalia itu memang bagian keluarga Hirata yang itu artinya anak dari Hirata?" ucapnya.
Seketika saja semua pernyataan yang dilontarkan oleh Nenek Elisabeth membuat Tuan Hirata membuka suaranya.
"Cukup Ma! Sudah berapa kali ku bilang, itu tidak mungkin, Ma! Lagi pula dia adalah putri dari sahabat lamaku, mana mungkin dia anakku?" jawab Tuan Hirata yang lagi-lagi tak mempercayai perkataan sang Mama.
"Kau saja yang tak mau menerima kenyataannya. Namun sepertinya keputusan yang di ambil mantan istri pertamamu dan juga putramu itu tepat sekali..."
"Dan satu lagi, aku heran kenapa yang hanya mempercayai ucapanku hanyalah Amelia dan Renita? Meskipun mereka belum yakin seratus persen, tapi setidaknya dalam diri mereka ada keyakinan jika ada kemungkinan Vitalia adalah cucuku." sambung Nenek Bernadeth (Nenek Elisabeth)
Seketika saja penuturan dari Nenek Elisabeth membuat seluruh anggota keluarga Hirata yang berada di situ terdiam.
Bersamaan dengan itu, Mirna yang baru datang pun terkejut melihat Tuan Hirata bersama Nenek Bernadeth yang berada di kamar perawatan Vitalia.
Bukan itu saja, ia juga tersentak kaget mendengar percakapan dari keluarga Hirata yang sedang berkumpul di dalam kamar perawatan Vitalia.
Ia pikir Tuan Hirata datang sendiri namun kenyataannya Tuan Hirata justru datang ke Indonesia membawa Nenek Bernadeth. 'Ya, Nenek Bernadeth masih menyembunyikan identitasnya di depan orang lain, terkecuali keluarganya sendiri, yang tak lain adalah keluarga Hirata.'
"Ya Tuhan! Jadi Nenek Bernadeth adalah Ibu dari Om Hirata? Tapi.., bagaimana bisa? Siapa sebenarnya Nenek Bernadeth? Bukankah dia tinggal di Australia? Lalu Vitalia? Astaga... aku harus memberi tau Vitalia dalam hal ini, eh tapi... tunggu dulu! Jangan Mirna, jangan gegabah untuk memberitahu adik sepupumu..." gumam Mirna dalam hati, berperang dengan pemikirannya sendiri.
**
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan Vote, Like, Komen dan Subscribe.. Terima kasih 🥰🥰🙏🙏
__ADS_1
...****************...
...----------------...