Dokter Misterius VS Mafia Kejam

Dokter Misterius VS Mafia Kejam
Episode 195


__ADS_3

Jangan salahkan aku kalau Amelia akan bertindak nekat!


Sementara di lain tempat, nampak Hans dan Jack masih berseteru satu sama lain dengan saling pukul dan adu kekuatan, dan pada akhirnya mereka menyudahi pertengkaran mereka ketika menyadari bahwa mereka sedang di lihat oleh salah seorang pihak intel dari kepolisian kota Sydney, Australia.


Dor...


Tembakan dilepaskan ke udara oleh salah seorang pihak keamanan negara kota Sydney yang baru saja datang memergoki pertemuan rahasia antara Hans dan Jack.


Seketika saja Hans dan Jack yang sedang berkelahi, tersentak kaget mendapati tembakan yang dilepaskan oleh seseorang dari arah lain.


"Angkat tangan kalian atau kalian akan mati sekarang juga!" perintah salah seorang intel pada Hans dan Jack. Seketika saja Hans dan Jack mengangkat tangan mereka, karena mereka berdua mengetahui jika seseorang itu adalah pihak intel kepolisian Sydney.


"Cepat ikut denganku!"


"Tapi pak.. kami hanya latihan saja,"


"Iya kan bro?" tanya Hans pada Jack. Sayangnya Jack tak menanggapi pertanyaan dari Hans, yang justru malah ditanggapi oleh pihak intel tersebut.


"Heh, apa kalian yakin?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.


"Ya.. yakin pak..." jawab Hans dan Jack secara bersamaan dengan menganggukkan kepala.


"Baiklah, mungkin kalian lolos saat ini. Namun, jika kalian ingin berbuat gaduh di negara ini, maka pergilah dari sini secepatnya! Tapi, jika kalian ingin menetap di negara ini, jangan berbuat ulah untuk mencemarkan nama baik negara ini, mengerti!


"Baik, Pak. Secepatnya kami akan segera pergi meninggalkan kota dan negara ini..."


"Hmm, itu benar, Pak. Apalagi kami sebenarnya juga bukan berasal dari negara ini...


"Bagus, lebih cepat lebih baik! Bahkan, negara ini akan damai tanpa adanya kalian!" seru pihak intel kepolisian tersebut. Sementara Hans menanggapinya dengan tersenyum kecut dengan lagak yang sok tidak terjadi apa-apa, sedangkan Jack sedari tadi hanya diam sambil mencoba merogoh ponsel yang ada di saku celananya untuk menghubungi seseorang.


"Aku harus pergi dari sini secepatnya sebelum terjadi sesuatu pada Vitalia, aku tak mau jika dia sampai kenapa-napa hanya gara-gara si kep*rat Hans!" batinnya sambil memikirkan cara untuk kabur.


"Kalau begitu cepat pergi dari sini atau..." belum sampai seorang intel tersebut menyelesaikan ucapannya, Hans memotongnya dengan berkata, "Ok Pak polisi, kami akan pergi sekarang juga tapi dengan satu syarat!" ujarnya dengan sebuah persyaratan.


"Syarat apa itu?" tanya pihak intel tersebut pada Hans.


Hans menjawabnya dengan berkata, "Kau harus mengawal kami sampai ke Indonesia, dan kau harus bersedia untuk menjadi budakku!" pintanya.

__ADS_1


"Apa kau bilang? Budakmu?"


Hans pun kemudian berjalan mendekat ke arah salah seorang intelejen kepolisian tersebut sambil membawa sebuah pisau, kemudian menjawabnya, "Kalau kau tak mau menuruti keinginanku, aku tidak akan pergi dari sini!" serunya sambil menodongkan sebuah pisau ke arah seorang intelejen kepolisian tersebut.


Seketika saja pihak intelejen tersebut membelalakkan matanya terkejut, sementara Jack sudah pergi dari gudang kosong tersebut, semenjak pihak intelejen kepolisian memintanya pergi secepatnya.


"Kau mengancamku?" tanya intel tersebut dengan nada meninggi.


Seketika saja pertanyaan dari pihak intelejen kepolisian tersebut membuat Hans murka, dan..


Sreegghhh... Sreegghhh...


Hans menarik tangan seorang intelejen kepolisian tersebut dengan membalikkan badannya, kemudian menodongkan sebuah pisau dari arah belakang


"Heh, masih tanya? Ingat pak polisi, anda hanya polisi, bukan pejabat di negara ini! Jika kau tak menuruti keinginanku, kota ini akan hancur berantakan, ingat itu!" ancam Hans, dengan semakin mendekatkan pisau ke arah leher seorang intelejen kepolisian tersebut.


Saking ketakutannya, pihak intel kepolisian pun mengangguk menyetujui. Sementara rombongan kepolisian yang lain tak berkutik karena mereka tak mau ambil resiko jika mereka memberontak.


"Ba.. baik.." jawab intelejen tersebut dengan terbata, bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin. Dengan tersenyum penuh kemenangan Hans pun melepas jeratannya.


...****************...


Sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, Jack berpikir untuk segera menghubungi seseorang.


Tut....


Sambungan telepon pun terhubung dengan seseorang yang berada di seberang sana.


"Halo..." ucap seseorang yang berada di seberang sana.


"Vitalia, emh, maksudku Nyonya Vitalia, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu," ujar Jack.


Sementara Vitalia yang berada di seberang sana sedang menenangkan adiknya pun terkejut dibuatnya. la kemudian membuka suaranya.


"Jack, untuk apa kau menghubungiku?" tanyanya pada Jack.


"Ya, kau benar Nyonya. Ini aku!" jawab Jack apa adanya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memberitahumu bahwa, Hans sudah bebas dan cepat atau lambat dia pasti akan hadir di dalam kehidupanmu. Aku minta padamu mulai sekarang juga kau berhati-hati, Nyonya. Aku di sini mengkhawatirkan dirimu,"


"Apa? Mengkhawatirkan diriku? Heh.." tanya Vitalia tersenyum kecut mendengarnya. Namun, sayangnya sambungan telepon terputus dengan begitu saja karena tidak ada sinyal.


"Ck, sial! Tak ada sinyal.." ucap Jack yang berada di seberang sana sambil mengendarai mobil. "Huh, setidaknya aku sudah mendengar suaranya yang indah itu .."


Sementara Vitalia terdiam seketika setelah menerima telepon tersebut.


Melihat kembarannya yang terdiam setelah mengangkat telepon, Amelia pun menghentikan tangisannya dan membuka suaranya dengan berkata, "Kak, ada apa? Kenapa kakak diam setelah menerima telepon?


"Hmm, tak apa. Kau tak perlu mengkhawatirkan aku Amelia. lebih baik kau pikirkan baik-baik tentang perjodohan itu. Aku yakin Nenek melakukan semua itu demi kebaikanmu..." jawab Vitalia dingin.


"Kebaikanku bagaimana? Heh, secepat itukah kakak menyetujui pendapat dari Nenek? Bukankah tadinya kakak membelaku?!" sahut Amelia bertanya dengan nada meninggi.


"Bukan begitu, Mel." ucapan Vitalia terhenti seketika karena dipotong oleh Amelia.


"Alah sudahlah, tak ada gunanya juga kau menjelaskan kepadaku! Nyatanya kau justru malah berbalik membela Nenek. Hiks.. Hiks.. hiks.." ucap Amelia sambil menangis sesenggukan dengan emosi menggebu-gebu karena mendengar pernyataan dari sang kakak.


Tanpa menghiraukan Vitalia yang diam di tempat, Amelia segera melangkahkan kakinya pergi menuju sebuah kamar yang sudah disediakan oleh sang kakak untuk dirinya.


"Mel ...!" seru Vitalia memanggil Amelia. Namun, sayangnya panggilannya tak digubris kembarannya itu. Bukannya mengejar Amelia, Vitalia justru malah menuju ke teras belakang rumah untuk memastikan kebenarannya, dengan apa yang sudah dikatakan oleh saudari kembarnya.


"Nenek!" seru Vitalia memanggil sang Nenek yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan seluruh anggota keluarga.


Seketika saja panggilan dari Vitalia membuat seluruh anggota keluarga mengarahkan pandangan ke arah seseorang yang memanggil Nenek Elisabeth.


"Nenek, apa alasanmu dengan menjodohkan kembaranku dengan Arnold? Kenapa Nenek tega? Apa ini semua gara-gara Vitalia?" tanya Vitalia memastikan.


"Ini semua bukan salahmu! Namun, ini sudah menjadi ketetapan Nenek, karena Nenek tak mau kalau cucuku Amelia malah menderita jika tidak menikahi Arnold."


"Ya Tuhan, Nenek! Kenapa Nenek bisa berpikir seperti itu? Aku tidak akan mengizinkan Amelia untuk menikah dengan siapapun itu, kecuali jika dia sudah minta doa restu kepada kedua orang tua!" seru Vitalia menjawab pertanyaannya sang Nenek.


Dengan menggelengkan kepalanya pelan, menyambungnya lagi dengan berkata, "Ini semua tidak benar, Nek! Nenek tau tidak, jika Amelia dipaksa menikah lagi, jangan salahkan aku kalau Amelia akan bertindak nekat setelah ini!" serunya lagi mengingatkan. Seketika saja semua anggota keluarga terdiam tak ada yang berani membuka suaranya.


Vitalia POV :


Tuhan, kumohon padamu agar perjodohan ini tak akan pernah terjadi! Aku bahkan tidak ingin kejadian itu terulang kembali pada kembaranku.

__ADS_1


...****************...


...----------------...


__ADS_2