
Mama Pelaku Yang Sebenarnya.
Setelah melewati berbagai rangkaian acara akhirnya seluruh anggota keluarga memutuskan untuk melakukan diskusi setelah Vitalia memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Thalia Hirata.
“Vitalia, emmh maksud Daddy, Thalia. Ya Thalia, Daddy ingin tanya kepadamu, Nak.” Ucap Tuan Hirata pada Vitalia. Dengan mengerutkan keningnya bingung karena sang Daddy terlihat gugup, Vitalia kemudian menjawabnya dengan berkata, “Memangnya mau tanya apa, Dad?” tanyanya dengan tatapan menyelidik.
“Daddy hanya mau tanya, apa kau yakin ingin mengganti namamu menjadi Thalia Hirata?” tanya Tuan Hirata memastikan kebenarannya yang telah disampaikan oleh putrinya waktu membuat pengumuman di depan para tamu dan para anggota keluarga.
“Daddy dengar sendiri bukan, jika tadi saya sudah mengumumkan di depan para tamu undangan?" Sahut Vitalia dengan berbalik tanya lagi.
Sementara Tuan Hirata yang mendengar pertanyaan dari putrinya pun kemudian menjawabnya lagi dengan berkata, “Iya, Nak. Daddy tau itu, tapi apakah kau tak ingin berpikir dua kali lagi, jika kau akan mengubah nama aslimu?” jawabnya dengan melontarkan sebuah pertanyaan kepada Vitalia.
“Bukankah ini nama asliku, Dad?” lagi-lagi Vitalia justru malah berbnalik tanya.
“Kau benar, Nak. Thalia adalah nama panggilanmu, dan Keluarga Wijaya tak tau dalam hal ini ..” jawab Tuan Hirata. Mendengar jawaban dari sang Daddy, Vitalia tersenyum sinis kemudian membuka suaranya.
“Heh, itulah akibatnya jika mereka berbohong kepadaku selama ini!” seru Vitalia dengan nada sinisnya.
Di sisi lain Mirna Feriska yang mendengar pernyataan dari Vitalia pun tak terima. Ia kemudian membuka suaranya dengan berkata, “Tutup mulutmu, Vitalia!” bentak Mirna.
“Mbak Mirna, kau ..” gumam Vitalia pelan tapi masih terdengar oleh semua anggota keluarga yang saat ini sedang berada di ruang keluarga.
“Ya, kenapa denganku? Lagi pula tak ada salahnya kan jika aku membela keluargaku!” balas Mirna ketus.
“Tapi Mbak, bukan seperti itu maksudku! Aku ...” Belum sampai Vitalia menyelesaikan ucapannya, Mirna menyahutnya dengan berkata, “Cukup Vitalia, aku tak mau mendengarkan penjelasanmu lagi! Mbak kecewa denganmu, Vit. Apa kau tak memikirkan keluargamu yang sudah membesarkanmu, Vitalia? Apa kau lupa, ha?” jawabnya dengan tensi tinggi.
Sementara Vitalia yang merasa dirinya sedang dicecar berbagai pertanyaan oleh kakak sepupunya pun hanya diam tak menjawabnya. Namun, setelah sekian detik Vitalia tak mengeluarkan suara, akhirnya Mirna kembali membuka suaranya.
“Kenapa kau hanya diam, Vitalia? Ayo, jawab!” pintanya pada Vitalia, agar mau menjawab pertanyaannya. Tiba-tiba saja Vitalia yang mendapat pertanyaan dari Mirna pun meneteskan air matanya. Ia lalu menjawabnya dengan berkata, “Aku tidak lupa ..” jawabnya dengan nada lesu.
Mendengar jawaban dari Vitalia yang tampak lesu, Mirna tersenyum getir, dan berkata, “Heh, kalau kau tidak lupa, mengapa kau tidak berpikir dua kali lagi untuk merubah namamu? Kau sadar nggak sih, Vit. Jika dirimu telah melukai hati keluarga Wijaya?” ujar Mirna dengan melontarkan berbagai pertanyaan kepada Vitalia.
Bukannya menjawab Vitalia justru hanya diam tak bisa berkata apa-apa. Sementara Mirna yang melihat Vitalia hanya diam pun kemudian angkat bicara lagi, “Kau sadar nggak, ha?”
__ADS_1
“Vitalia dengarkan aku kali ini saja Vitalia! Kumohon pikirkan baik-baik keputusanmu untuk merubah namamu menjadi Thalia Hirata. Karena keluarga Wijaya juga berhak menyetujui keputusanmu itu, Vitalia!” balasnya panjang lebar.
Dengan menampakkan wajah tanpa ekspresi, Vitalia menjawabnya, “Tidak mbak, ini sudah menjadi keputusanku! Dan perlu kalian ketahui keputusanku kali ini tidak ada yang bisa mengganggu gugat!” serunya lalu pergi dengan begitu saja meninggalkan seluruh anggota keluarga yang melakukan diskusi di ruang keluarga.
Namun, saat Vitalia akan melangkahkan kakinya keluar, tiba-tiba saja tangan kanan milik Vitalia dicekal oleh seseorang.
Sreeggghhh ...
Seseorang itu menarik tangan Vitalia.
“Bee, kenapa kau menghentikan langkahku sih? Minggir, aku mau pergi!” seru Vitalia sambil menghempaskan tangan sang suami yang mencoba menghentikan langkahnya. Sayangnya, tangan Chandra lebih kuat dibanding dengan Vitalia. ‘Ya, seseorang yang mencekal tangan kanan milik Vitalia adalah Chandra Zhu.’
“Selesaikan masalahnya dulu, baru kau boleh pergi, Honey!” pinta Chandra pada sang istri agar menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu. Namun bukannya mendapatkan tanggapan baik oleh sang istri, Vitalia menjawabnya dengan berkata “Ck, tapi Mas...”
Belum sampai Vitalia menyelesaikan ucapannya, Mirna menyerobotnya dengan berkata, “Biarkan saja istrimu pergi, Chandra! Kau tau kan jika istrimu itu hanya ingin menyakiti hati keluarga Wijaya saja?” ujar Mirna menatap Vitalia sinis. Sementara Vitalia yang merasa dirinya dipojokkan oleh kakak sepupunya pun mulai angkat bicara.
“Cukup mbak Mirna! Sahut Vitalia dengan nada meninggi karena tersulut emosi. Vitalia kemudian menyambungnya lagi dengan berkata, “Aku sama sekali tak ingin menyakiti hati mereka. Tapi aku ingin tau bagaimana reaksi mereka jika aku merubah namaku menjadi Thalia Hirata. Sakit, ya mungkin sakit bagi mereka. Tapi mungkin tak sebanding dengan hancurnya perasaanku ketika mengetahui kebenaran ini, mbak Mirna!” serunya sambil menunjuk ke arah dirinya.
“Kau benar, merekalah yang membesarkanku sampai aku tumbuh menjadi seorang dokter. Tapi apakah mereka berpikir bagaimana perasaan putrinya jika suatu saat mengetahui kebenaran ini? Tidak mbak, mereka sama sekali tak memikirkan perasaanku!” sambungnya, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
Kemudian Mirna menyambungnya lagi dengan melontarkan sebuah pertanyaan kepada Mommy Gabby. “Benarkah begitu, tante Gabby?” tanyanya memastikan. Bahkan, pertanyaan yang dilontarkan oleh MIrna pada Mommy Gabby, membuat seluruh anggota keluarga yang berada di situ tersentak kaget mendengarnya.
Namun, sayangnya pertanyaan dari Mirna membuat Mommy Gabby bingung, lalu berkata, “Liontin apa maksudmu? Aku tak mengerti dokter Mirna ..” belum sampai Mirna kembali menjawab pertanyaan dari Mommy Gabby.
Dengan tersenyum kecut Vitalia menyahutnya, “Heh, Mommy saja tak mengerti, mbak. Bagaimana mau menjelaskannya?”
“Vitalia, apa kau lupa jika kau mempunyai liontin perak? Mungkin untuk saat ini liontinmu telah hilang ketika kau kecelakaan pesawat. Tapi tidak dengan ingatanmu yang sudah pulih, Vitalia!” jawab Mirna dengan penuh penegasan.
“Hmmm, aku mengingatnya, karena kupikir mereka membuat sandiwara di depanku agar aku memakai liontin itu dari kecil hingga dewasa. Bukankah tadi Mommy tak mengerti?” balas Vitalia dengan muka datarnya.
“Berhenti menuduh keluarga Wijaya, Vitalia! Mungkin tante Gabby tak mengetahui hal ini, karena liontin itu pemberian Nenek Elisabeth ..” ucap Mirna tak terima sambil memandang ke arah Nenek Elisabeth.
Vitalia yang tak mau kalah pun, kemudian menjawabnya, “Lalu apa yang harus kulakukan, mbak! Kau tau tidak, hati ini sakit mbak, sakit sekali ..! Hiks .. hiks .. Dan kau bilang apa tadi, liontin itu pemberian Nenek ? Tidak, itu tidak mungkin, mbak! Kau berbohong kepadaku!” tukasnya.
__ADS_1
“Tapi itu liontin asli sejak pertama kali kau diketemukan di tempat sampah, Vitalia! Kalau kau ingin percaya tanyakan saja sama Nenek secara langsung!” lantang Mirna membalas jawaban dari Vitalia.
Namun, siapa sangka Nenek Elisabeth yang sedari tadi diam, kini mulai angkat bicara. “Benar apa kata dokter Mirna cucuku! Aku lah yang memberikan kalung liontin itu, dan kau tau nama Vitalia adalah nama yang sesuai untuk dirimu. Nama aslimu sebenarnya bukan Thalia Hirata melainkan Vitalia Hirata. Sedangkan Mommymu memutuskan untuk memanggilmu dengan nama Thalia. Nenek bahkan tak menyangka setelah nenek memberikan liontin itu kepadamu yang masih bayi, ternyata kau menghilang bagai di telan bumi karena diculik oleh orang terdekatmu.” Ucapnya menjelaskan panjang lebar.
Vitalia yang mendengar penjelasan dari sang Nenek pun mengerutkan keningnya bingung. “Orang terdekatku?”
“Mungkin kau tak akan percaya jika Nenek akan mengatakannya sekarang, cucuku. Namun, percuma saja jika aku menyembunyikan darimu. Karena apa? Karena lambat laun kau pasti akan mengetahuinya.” Jawab Nenek Elisabeth dengan teka-tekinya.
“Apa maksud Nenek? Kenapa Nenek begitu berbelit-belit mengatakan semua itu?” sahut Vitalia dengan melontarkan sebuah pertanyaan kepada sang Nenek.
Belum sampai sang Nenek membalasnya, Mommy Gabby menyahutnya dengan berkata, “Yang dikatakan Nenek adalah benar putriku. Kau bernama asli Vitalia Hirata, bukan Thalia Hirata. Cuma kesalahan di sini adalah Mommy yang memanggilmu dengan sebutan Thalia. Dan mengenai nenek akan mengatakan apa. Aku tak berani ikut campur, tapi yang jelas Mommy dengan anggota keluarga lainnya sudah memaafkan orang yang sudah menculikmu, hingga kau dibuang ditempat sampah dekat kediaman keluarga Wijaya ..” ujarnya.
“Stop, Mom. Kenapa urusannya jadi melebar kemana-mana? Jangan membuatku pusing!” balas Vitalia sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing. Di lain sisi Mama Renita tampak berpikir setelah mendengar pernyataan Mommy Gabby. “Mungkin sudah saatnya Vitalia putriku mengetahui kebenaran tentang penculikan dan pembuangan bayi itu ..” batinnya dengan pemikirannya.
“Nak Vitalia, Mommymu tak membuatmu pusing, Nak. Akulah yang membuatmu pusing, karena apa? Karena Mama lah dalang dibalik penculikan dan pembuangan bayi itu ... hiks hiks .. dan itu artinya Mama pelaku yang sebenarnya bahwa Mama yang telah menyuruh Matsugi dan Arnold agar membuangmu ke tempat sampah, Nak. Hiks .. hiks ...” ujar Mama Renita dengan menangis sesenggukan.
Duaarrr ...
Bagai petir menyambar di siang hari Vitalia tersentak kaget mendengar pernyataan dari Mama Renita. Bahkan ia sama sekali tak percaya dengan apa yang sudah dikatakan sang Mama.
“Tidak .. itu tidak mungkin!”
***
Chandra POV :
Maafkan aku istriku, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin ini jalan terbaik, karena jika aku yang mengatakan semua kebenaran kepadamu, aku takut kau akan membenciku sselamanya.
Bersambung ....
...****************...
...----------------...
__ADS_1
Wahhh.. semakin seru dan semakin menegangkan, bukan? Jangan lupa Vote, Like, dan Komennya ya ... biar Author semangat upnya. Terima kasih ... ^-^