
Tak Tega Melihatmu Rapuh
Tak terasa sudah 2 jam berlalu, Nyonya Renita sedang menjalani operasi karena sebuah peluru yang bersarang di tubuhnya, tepatnya berada di sebelah kiri dada Nyonya Renita. Bahkan 2 jam itu pula seluruh keluarga sedang menunggu kabar baik dari tim dokter yang sedang melakukan tindakan operasi.
"Ya Tuhan, ku mohon berikan kelancaran operasi Mama .." ucap Amelia sambil mondar-mondar ke sana ke mari.
"Mel, tenangkan dirimu, Nak ..." ucap Nyonya Dhea berusaha menenangkan Amelia.
"Tapi Tante Amelia nggak bakalan bisa tenang jika operasi belum selesai, apalagi Amelia ingin membuktikan sebuah kebenaran yang belum terungkap Tante," jawab Amelia dengan alasannya.
"Apa maksudmu Mel? jangan katakan jika Vitalia adalah ..." belum sampai Tuan Hirata menyelesaikan ucapannya Amelia pun menyahutnya dengan berkata, "Memangnya kenapa Dad? bukankah Daddy sangat berharap jika saudari kembarku kembali?" tanyanya memastikan.
Bukannya menjawab pertanyaan dari sang Putri, justru Tuan Hirata malah tersulut emosi mendengar pernyataan dari Amelia.
Plaaakkk...
Tamparan keras melayang begitu saja di pipi mulus milik Amelia. Seketika saja seluruh orang yang melihat pun terkejut dibuatnya, termasuk juga dengan Amelia, yang tak menyangka jika sang Daddy akan berbuat kasar kepadanya.
"Cukup Mel, dia bukan Kakakmu, Kakakmu sudah meninggal!" ucap Tuan Hirata memberi sebuah peringatan kepada Amelia.
Namun bukannya membuat Amelia menyerah, justru perkataan sang Daddy membuat Amelia bersemangat untuk mengungkapkan sebuah kebenaran yang ada, "Terserah Daddy mau berkata seperti apa, tapi yang jelas suatu saat akan ketahuan jika Vitalia adalah Kakakku, Saudari kembarku, ingat itu Dad!" balas Amelia dengan penuh penekanan.
"Tuan Hirata, dokter Amelia ku mohon tenangkan diri kalian, ini rumah sakit bukan tempat untuk berdebat, lagi pula daripada kalian berdebat lebih baik berdoalah untuk Nyonya Renita," ucap Chandra berusaha meminimalisir keadaan.
Tanpa disadari oleh semua orang yang sedang menunggu di luar ruang operasi, ternyata ada seseorang yang sedang mendengarkan perdebatan tersebut, bahkan kedatangannya membuat seluruh orang terkejut menatapnya yang muncul dari balik pintu kamar operasi.
"Ada apa ini??" sebuah pertanyaan dilontarkan oleh seseorang itu, yang membuat semua orang terkejut melihat kedatangan Vitalia dengan tiba-tiba. 'Ya seseorang yang datang itu adalah Vitalia.'
"Vitalia ..." ucap semua orang yang berada di situ menatap Vitalia dengan nada keterkejutannya. Vitalia yang merasa ada yang aneh dari gelagat semua orang yang sedang menunggu pun lalu memicingkan matanya, dan berkata, "Kenapa kalian terkejut melihatku??" tanyanya heran menatap semua orang yang berada di situ.
Seketika itu pula pertanyaan dari Vitalia membuat semua orang yang berada di tempat, tak ada yang membuka suaranya sama sekali. Entah apa yang ada di pikiran Mereka sekarang. Dan pada akhirnya Vitalia memutuskan untuk berjalan ke arah Chandra yang sedang bersandar di dinding, "Mas..., kenapa Mas juga ikut terkejut, sih?" tanya Vitalia pada sang Suami dengan menyenggol tubuhnya.
Seketika saja pertanyaan yang dilontarkan oleh Vitalia pada Chandra berhasil membuyarkan lamunan dari Chandra, maupun semua orang yang berada di situ.
"Eh, Sayang .., emmh maaf tadi Akuuu ..." ucap Chandra salah tingkah sendiri karena tak tau harus mengatakan apa pada sang Istri.
"Hmmm ..., sudahlah tak apa," ucap Vitalia dengan mendengus pelan.
"Dad, Alhamdulillah, operasi Mama berjalan dengan lancar, dan sekarang Mama baru tahap observasi, karena Mama kehabisan banyak darah," sambungnya menjelaskan.
"Huh .. Syukurlah ..." ucap Tuan Hirata bernafas lega, begitu pula dengan yang lainnya.
"Dan kau Mel, jagalah Mama dengan baik, kau tenang saja, Aku sudah menganggap Mama Renita seperti Mama ku sendiri. Meskipun begitu, ku harap kau jangan pernah mengatakan jika Aku ini adalah Saudari kembar mu, karena Aku tak akan pernah percaya dengan ucapanmu tadi!" balas Vitalia dingin dengan nada penuh penekanan.
__ADS_1
"Astagaaa, jadi Vitalia mendengarnya? baguslah kalau dia mendengarnya, setidaknya dia tau kebenaran yang ada," batin Amelia terdiam menatap ke arah Vitalia.
Bahkan tanpa banyak bicara, Amelia justru malah melangkahkan kakinya pergi ke ruang operasi tanpa menghiraukan ucapan Vitalia.
"Amelia ..." ucap semua orang yang berada di situ.
"Maaf Nona anda tidak diijinkan masuk ke dalam," ucap salah seorang perawat yang menghadang Amelia di depan pintu kamar operasi.
"Tapi Sus, Aku ingin melihat keadaan Mama ku.. hiks .. hiks.. hiks.." balas Amelia kekeh dengan pendiriannya.
"Tapi Nona, ini sudah ketentuan yang ditetapkan rumah sakit, jika keluarga pasien dilarang masuk .." jawab Suster Oca berusaha menjelaskan pada Amelia.
"Amelia, kau tidak boleh seperti itu, Nak!" sahut Tuan Hirata menimpali perdebatan di antara keduanya.
"Tapi Dad, Aku ingin melihat Mama!" tegas Amelia.
Mendengar perdebatan antara Amelia, Tuan Hirata dan Suster Oca, Vitalia pun lalu membuka suaranya dengan berkata, "Biarkan dia masuk!" serunya.
Seketika saja Amelia dan Tuan Hirata mengarahkan pandangan menatap Vitalia. Namun bukannya berterimakasih pada Vitalia, Amelia justru kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar operasi dengan cuek. Berbeda dengan Tuan Hirata yang justru malah menghampiri Vitalia dengan memeluknya.
Greepp....
"Terima kasih, Nak.., hiks .. hiks .., terima kasih kau sudah menyelamatkan nyawa Istriku," ucap Tuan Hirata sambil memeluk Vitalia dengan menangis sesenggukan.
"Mengapa saat Aku mendengar ucapan Daddy yang begitu terlihat rapuh, Aku sangat tak tega...?? apa karena Aku ini pernah menjadi bagian keluarganya? atau..., karena apa? entah mengapa Aku sangat takut, jika ucapan Amelia tadi benar adanya," batin Vitalia dengan berbagai pertanyaan yang berputar dalam otaknya.
Setelah sekian menit berpelukan, akhirnya Tuan Hirata pun melepaskan pelukan Vitalia.
Vitalia pun lalu membuka suaranya dengan berkata,
"Hmmm, Dad sudah, pokoknya Dady tenang saja, Aku yang akan merawat Mama sampai pulih, kalau begitu Aku permisi dulu, Dad, Mas, Ma, Pa," ucap Vitalia sambil tersenyum berpamitan pada semua orang yang sedang berada di situ.
"Tunggu Nak Vitalia!" ucap Tuan Hirata berhasil menghentikan langkah Vitalia untuk pergi. Seketika itu pula Vitalia pun menoleh.
"Nak Vitalia, tolong maafkan Amelia, dia..." ucapan Tuan Hirata terhenti seketika karena dipotong oleh Vitalia.
"Dad, Daddy tak perlu minta maaf denganku, karena kalian sudah ku anggap seperti keluarga kandungku sendiri," ucap Vitalia dingin. Entah mengapa Ia benar-benar marah bercampur sedih ketika dirinya mengingat ucapan Amelia tadi.
"Terima kasih, Nak! kau memang berhati malaikat," ucap Tuan Hirata terharu dengan kebaikan Vitalia.
"Iya Dad, sama-sama, jangan memujiku terlalu tinggi Dad, Aku tak mau itu," balas Vitalia dengan tersenyum yang dipaksakan karena ia sudah mendengar perdebatan Amelia dan Tuan Hirata.
Melihat sang Istri terlihat dingin, Chandra pun lalu menyelanya dengan berkata, "Hmmm, karena operasi sudah selesai, lebih baik kau ikut bersamaku Istriku," ucapnya.
__ADS_1
Seketika saja pernyataan dari Chandra membuat Vitalia membelalakkan matanya terkejut. Ia pun lalu membuka suaranya dengan berkata, "Apaaa?? ehh, tapi Mas .." ucap Vitalia bingung.
"Please come on, jangan menolak ku, Honey .." balas Chandra.
"Bee ..." ucapan Vitalia terhenti seketika karena tangannya di tarik oleh Suami Mafianya. Siapa lagi kalau bukan Chandra Zhu.
Chandra pun lalu segera membawa Vitalia pergi untuk menenangkan hati sang Istri. Ia tau jika saat suasana hati Vitalia (sang Istri) sedang tidak baik.
"Maafkan Aku Vitalia, Aku harus membawamu menjauh dari Mereka, karena Aku tak tega melihatmu rapuh. Ya, Aku tau kalau hatimu sedang rapuh ketika mendengar pernyataan dari Amelia tadi," batin Chandra sambil menarik Vitalia ke dalam rangkulannya sambil berjalan menyurusi lorong rumah sakit.
Melihat kemesraan di antara keduanya, suasana yang tadi ya tegang kini berubah menjadi bahagia.
"Dasar, anak muda!" ucap Tuan Zhu dan Mama Dhea dengan menggelengkan kepalanya melihat keduanya yang kini sudah melangkahkan kakinya pergi.
"Nak Vitalia, mengapa jika kau sedang marah sedikit mengingatkanku tentang Istri Pertamaku .." gumam Tuan Hirata pelan dengan menatap kepergian Vitalia dan Chandra dengan tatapan kosong. Bahkan ucapannya masih terdengar oleh Tuan Zhu beserta sang Istri dan juga terdengar pula oleh Mirna dan juga Frans. Seketika saja semua orang yang berada di situ dibuat kaget dengan pernyataan Tuan Hirata tersebut.
Bersambung....
...****************...
...----------------...
Waahhhh... makin seru dan makin tegang kan yaaa....
Sambil menunggu up dari Author, yuk cuz mampir ke novel kak Tika Permata di jamin seruuu!!
Berikut cuplikannya :
LELAKIKU
(Tika Permata)
Perempuan mana yang tak menginginkan sosok lelaki yg bertanggung jawab dihidupnya. Yah, sebuah perjalanan kisah cinta yg panjang untuk Annara.
Cinta pertamanya gagal karena Tomy memilih tuk berselingkuh dari Annara. Begitu banyak lelaki mencoba mendekati dirinya saat ia memilih untuk sendiri. Tanpa ia sadari dirinya telah menaklukkan begitu banyak hati lelaki.
Akankah dia mendapatkan seorang lelaki yang diinginkannya?
__ADS_1