Dokter Misterius VS Mafia Kejam

Dokter Misterius VS Mafia Kejam
Epiosde 151


__ADS_3

Sebuah Surat Dari Vitalia


Melihat kedatangan seseorang yang datang itu, seketika Chandra dan Amelia terdiam seketika karena mereka benar-benar tak bisa berkata apa-apa.


“Chandra Zhu, katakan kepadaku siapa yang ke Indonesia? Kenapa setelah melihatku kau justru malah terdiam mematung ...” tanya seseorang itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tuan Hirata.


“Dan kau Amelia kenapa kau juga ikut-ikutan diam, Nak?” sambungnya lagi bertanya dengan menatap sang Putri heran. Sementara Sherlyn yang melihat Ayah Tirinya sedang mengintrogasi keduanya pun segera mengalihkan


pandangan dengan menuju ke arah dapur untuk menyiapkan makanan yang sudah masak.


“Amel tak tau Dad, tanya saja sama Chandra ...” ucap Amelia berusaha mengalihkan pembicaraan dengan melemparkan pertanyaan tersebut pada Chandra.


Saking bingungnya menjawab pertanyaan dari Tuan Hirata, Chandra malah mengusap wajahnya secara kasar lalu berkata, “Bukan begitu Dad, tapi ...” ucapan Chandra pun terhenti seketika karena ia mengingat sesuatu. ‘Ya, Chandra sendiri telah memutuskan untuk memanggil Tuan Hirata beserta Nyonya Renita dengan sebutan Daddy dan Mama seperti sang istri memanggil mereka dengan sebutan seperti itu, begitu pula sebaliknya.’


“Yaa Tuhan. Bagaimana ini? Apakah aku harus mengatakan pada Tuan Hirata? Tapi bagaimana jika Nyonya Renita mendengarkan perkataanku?” berbagai pernyataan muncul di dalam benaknya untuk berpikir.


Saat ia sedang diam dalam pemikirannya, Tuan Hirata pun lalu membuka suaranya dengan berkata, “Kenapa diam, Nak Chandra? Jawab saja pertanyaanku kau tidak perlu takut ...” ucap Tuan Hirata sambil berjalan menghampiri Chandra yang saat ini terlihat gusar dan kebingungan.


“Vitalia Dad .., dia pergi dari sini.” Balas Chandra dengan nada melemah. Sementara Tuan Hirata, Amelia dan Sherlyn yang mendengar penuturan dari Chandra pun membelalakkan matanya terkejut mendengarnya.


“Apaa ... ??” ucap semua orang yang berada di situ, termasuk dengan seseorang paruh baya yang datang bersama dengan seorang wanita tua. ‘Ya, mereka adalah Mama Renita dan Neneh Bernadeth si pemilik rumah kontrakan yang lain adalah Nenek Elisabeth.’


“Chandra ..., katakan pada kami, bahwa yang kau katakan itu tidak benar kan?” tanya Mama Renita memastikan. Chandra pun mau tak mau harus menjelaskannya karena baginya masalah ini adalah penting bagi keluarga Hirata. Mengingat ia tahu bahwa keluarga Hirata adalah keluarga kandung sang istri. Akhirnya ia pun menjawabnya dengan berkata, “Mel, berikan surat itu pada Mama, biar Mama melihatnya!” titahnya pada Amelia. Sementara Sherlyn yang baru saja keluar dari dapur pun terkejut dengan perintah Chandra pada Amelia. “Ya Tuhan ..., Mel please, jangan berikan pada Mama ...” ucap Sherlyn dalam hati.


Sedangkan Amelia kini berjalan ke arah Mama Renita untuk memberikan surat tersebut padanya. Bahkan ia tampak terlihat ragu-ragu untuk memberikan surat tersebut pada sang Mama. Setelah memberikan surat itu pada sang Mama, Mama Renita pun segera membaca isi surat tersebut. Betapa terkejutnya Mama Renita melihat isi surat tersebut dengan membungkam mulutnya menatap tak percaya dengan yang ia lihat.


“Tidak ..., ini tidak mungkin! Kenapa kau pergi Nak ... hiks ... hiks ...., padahal kau sudah berjanji tak akan pernah meninggalkan Mama .., tapi mengapa kau justru .... hiks ... hiks ...” ucap Mama Renita dengan menangis histeris.


“Ma ..., Mama tenangkan dirimu .., ku mohon Ma!” ucap Amelia dan Sherlyn secara bersamaan mencoba menenangkan sang Mama.


“Ma ..., tak ada salahnya jika Vitalia kembali ke Indonesia, karena sudah saatnya dia mengakui jika dirinya selamat dalam kecelakaan pesawat tersebut,” ucap Tuan Hirata menimpalinya berusaha menenangkan sang istri. Sementara Nenek Bernadeth yang mendengar penuturan dari Tuan Hirata pun menyahutnya dengan berkata, “Benar apa kata suamimu ..., mungkin itu yang terbaik buat Nak Vitalia ..” ucapnya.


Sementara Chandra yang mendengar pernyataan dari Nenek Bernadeth (Nenek Elisabeth) pun terkejut. “Apaa ... ? Mengapa Nenek Elisabeth malah berkata seperti itu? Hah ... tidak Chand, kau tidak boleh kehilangan Vitalia kembali ..., kau harus menyusulnya ...” batin Chandra sedang bergelut dengan pikirannya. Tanpa menunggu lama Chandra pun segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Bahkan tanpa permisi ia pergi dengan begitu saja, dengan menghiraukan dirinya yang masih tampak kusut karena belum sempat untuk membersihkan dirinya.


Sedangkan semua orang yang melihat kepergian Chandra dengan tiba-tiba pun hanya diam menatap kepergiannya.

__ADS_1


“Chandra ...” ucap semua orang yang berada di situ dengan menatap punggung Chandra. Chandra pun lalu segera menancapkan gasnya untuk pergi ke bandara.


Setelah kepergian Chandra, kini Nenek Elisabeth pun lalu membuka suaranya dengan berkata, “Sebentar lagi kalian akan melihat Putri kalian kembali, dan di saat itulah kalian akan di uji kesabaran kalian oleh anak kalian yang baru di ketemukan ...” ujarnya. Tuan Hirata yang mendengarkan ucapan dari Ibundanya pun mengernyit bingung.


“Maksud Ibu apa ... ??” tanya Tuan Hirata pada Nenek Elisabeth. Namun belum sempat Nenek Elisabeth menjawabnya. Amelia menjawabnya dengan berkata, “Maksud Nenek adalah Vitalia adalah Saudari kembar Amelia, Dad!” lantangnya menjawab pertanyaan dari sang Daddy pada Nenek Elisabeth. Lagi-lagi penuturan dari Amelia membuat Tuan Hirata mengepalkan tangannya geram menatap Amelia.


“Cukup Amelia! Jangan pernah membuat emosi Daddy meledak!” seru Tuan Hirata tersulut emosi.


“Terserah Daddy mau percaya atau tidak! Tapi yang jelas kami yakin jika Vitalia adalah saudari kembarku, kecuali Daddy yang sampai kapanpun tak akan percaya jika Vitalia adalah kembaranku,” balas Amelia yang justru menantang sang Daddy.


“Cukup Amelia ..., dia bukan putriku tapi dia adalah putri dari keluarga Wijaya!” serunya dengan menatap tajam Amelia. Sementara Mama Renita kini sudah dibawa pergi oleh Sherlyn untuk beristirahat di dalam kamar. Sherman terpaksa membawa sang Mama ke kamar karena ia tak mau Mama Renita ngedrop lagi gegara kakak tirinya ribut dengan Daddynya.


Di kamar


“Sher ..., kakak tirimu pergi ..., hiks ... hiks ..., dia berbohong pada Mama ...” ucap Mama Renita pada Sherlyn yang sedang mendudukkan sang Mama di atas ranjang.


“Ma ..., sudah Ma ..., Mama jangan bersedih lagi kenapa sih Ma! Ini kan hari ulang tahun Mama, masa’ Mama bersedih sih ...” ucap Sherlyn berusaha menenangkan hati sang Mama. Namun bukannya menjawab dengan baik Mama Renita justru malah mengeraskan volumenya membentak Sherlyn.


“Tak ada yang namanya pesta, Sherlyn!” bentak sang Mama. Sherlyn yang merasa dirinya di bentak pun hanya menggerutu kesal. "Isshh Mama nggak seru!" celetuknya sambil memanyunkan bibirnya.


...🥰****************🥰...


Sesampainya di bandara Vitalia pun lalu segera menghubungi seseorang melalui telepon.


“Halo ...” ucap Vitalia membuka obrolan melalui ponsel miliknya.


“Vitalia .. kau??” tanya Vanya dengan nada keterkejutannya mendengar suara yang tak asing baginya. 'Ya, seseorang yang dihubungi oleh Vitalia adalah sahabatnya Vanya yang berada di Indonesia.


“Iya Van ..., ini aku! Aku mau minta tolong dong!” pinta Vitalia pada Vanya yang berada di seberang sana.


“Minta tolong apa sih Vit?” lagi-lagi  Vanya yang sedang berada di seberang sana bertanya.


“Van ..., samarkan identitasku! Karena saat ini aku sudah sampai di Indonesia, dan aku akan muncul di Indonesia dengan wajah yang berbeda." ucap Vitalia dingin.” ucap Vitalia to the poin dan yang pastinya dengan raut muka datarnya.


“Whaattt ? Jadi kau mau menyamar lagi begitu? Aduh Vit ... sudahlah jangan memperkeruh suasana lagi ..." tegur Vanya pada Vitalia bermaksud mengingatkan Sahabatnya.

__ADS_1


Mendengar penuturan dari Sahabatnya Vitalia pun lalu menjawab ya dengan berada, “Hmmm, kau tenang saja Vanya! Aku melakukan sebuah penyamaran karena aku ingin tau tentang diriku ..." balas Vitalia menjawab teguran dari Vanya. Sementara Vanya yang berada di seberang sana pun mengerutkan keningnya bingung, lalu bertanya, "Maksudmu?" tanyanya. Namun bukannya menjawab, Vitalia justru malah mematikan teleponnya teleponnya sebelah pihak.


Tut...


"Ya Tuhan, hampir saja aku keceplosan..." baton Vitalia sambil mengelus dadanya. Sementara Vanya yang berada di seberang sana pun heran dengan Sahabatnya yang tiba-tiba menutup teleponnya.


"Astagaa, nih anak kenapa sih? Ditanya malah dimatiin ..." ucap Vanya heran.


...🥰****************🥰...


Sementara di negeri sakura kini terlihat Mommy Gabby Herawati dan juga Suaminya telah bersiap untuk menyiapkan sebuah kejutan untuk Amelia.


“Ayah ..., aku sangat berharap ketika kita berada di Indonesia nanti, kita dapat menemukan Putri kita yang sudah bertahun-tahun menghilang.” Ucap Mommy Gabby pada Long Ai.


“Iyaaa Ma ..., kau tenang saja. Kau tak usah memikirkannya! Nanti kita juga bakalan ketemu ...” jawab Tuan Long Ai yang memberi sebuah masukan.


“Hmmm ..., tapi kira-kira Amelia marah nggak ya juka kita ke sana menyusulnya diam-diam?"


"Itu tidak mungkin Mom! Kau tau sendiri kan Amelia itu seperti apa?"


"Iya sih Yah! Ya sudah deh, lebih baik kita segera pergi ke bandara. Mommy sudah kangen banget nih sama Amelia ..” ucap Mommy Gabby Herawati pada sang Suami.


"Iya Mom... kalau begitu ayo! Kebetulan Risa juga sudah menyiapkan tiket untuk kita..." Jawab Tuan Long Ai bersemangat. Tuan Long Ai dan Mommy Gabby pun lalu keluar rumah karena Risa sudah menunggunya di dalam mobil. 'Ya, Tuan Long Ai semenjak di tangkap oleh Chandra dan Aditya kakak dari Vitalia kini sudah berubah, karena ia takut dengan ancaman dari Chandra. Selain itu ia berubah juga karena Vitalia yang sangat perhatian pada keluarganya, tentunya Vitalia merubahnya sewaktu ia masih menggunakan nama Amelia sewaktu dirinya masih mengalami amnesia.


...****************...


...----------------...


Bersambung .....***


***


...Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen, dan favorite ya Guys .......


^^^Oh ya sambil menunggu Author up lagi, yuk mampir ke novel bestie author kece badai Kak Weny Hida.^^^

__ADS_1


berikut cuplikannya :



__ADS_2