
Ingin Bertemu Vitalia
Setelah satu jam berlalu, Amelia masih setia menunggu Mama Tirinya di FireField Hospital tepatnya di ruang NICU dengan ditemani Suster Oca yang juga masih setia menemani Amelia, karena ia mendapatkan amanah dari Mirna untuk menemaninya.
"Dokter Amelia, apakah anda yakin ramuan yang anda berikan itu tadi akan berhasil?" tanya Suster Oca pada Amelia yang sedang memainkan pulpennya dengan tatapan kosong menatap Mama Tirinya yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur pasien.
"Aku sangat yakin, Sus! Karena ramuan itu yang membuat bukan hanya Aku saja, tapi Vitalia dan juga dokter Bella yang ikut membuat ramuan itu, hanya saja Aku tak tau reaksi obatnya di dalam tubuh seperti apa, Aku lupa menanyakannya pada Vitalia," ujar Amelia menjawab pertanyaan dari Suster Oca.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan, kalau memang kalian yang buat! So .., Aku percaya jika Mama mu tak lama lagi akan sembuh," sahut Suster Oca dengan tersenyum manis ke arah Amelia, untuk menyemangatinya.
"Aamiin ..., thanks Sus .." balas Amelia berusaha tersenyum lebar di hadapan Suster Oca.
Ditengah perbincangan diantara Mereka, tanpa disadari oleh Amelia dan Suster Oca beserta tenaga medis yang lainnya, Nyonya Renita tampak menggerakkan jemarinya. Setelah sekian menit berlalu Nyonya Renita pun mencoba mengerjap-ngerjapkan matanya lalu berteriak.
"Aa .. Aa .. Aiirr ..."
Sontak saja seluruh yang berjaga di ruang NICU mengarahkan pandangan menatap Nyonya Renita, termasuk dengan Amelia yang sedang asyik mengobrol.
"Mama..." ucap Amelia lalu berjalan dengan cepat menuju ke brankar sang Mama.
"A .. aa .. ir ..." ucap Mama Renita dengan terbata. Seketika saja Amelia pun segera mengambilkan air putih yang sudah disiapkan di atas meja pasien.
"Ini Ma ..." ucap Amelia sambil menyodorkan sebuah gelas berisikan air. Melihat sang Mama kesulitan untuk meminumnya Amelia pun lalu meminta Suster Oca untuk menaikkan bednya.
"Sus, tolong tempat tidurnya agak di naikin dong! Mama kesulitan minumnya!" pinta Amelia pada Suster Oca.
"Baik dok..." jawab Suster Oca menuruti perintah dari Amelia. Dan setelah suster Oca menaikkan bednya, akhirnya Mama Renita bisa meminumnya sekali tegukan.
"Mama, apa yang Mama rasa kan sekarang? Amelia kangen banget sama Mama, hiks... hiks.. hiks..." ucap Amelia dengan menangis sesenggukan di samping tempat tidur Mama Renita.
Mama Renita begitu trenyuh melihat Putri Tirinya ternyata sangat sayang padanya. Ia tak menyangka jika Amelia sebegitu khawatirnya dengan kondisinya saat ini. Tak terasa air mata Mama Renita pun menetes dengan begitu saja karena mendengar ucapan Putri Tirinya.
"Mel ..." ucap Mama Renita dengan perlahan mencoba menggenggam tangan Putri Tirinya yang kini sedang memegangnya.
"Iya Ma.., Amel disini!" jawab Amelia sambil mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi, lalu beralih menghapus air mata Mama Renita.
"Mmm .. Mel .., Vi .. vi .. talia, ada .. dd.. dd.. dimana??" tanya Mama Renita pada Amelia dengan terbata dan dengan mulut bergetar.
"Vitalia? dia.... " ucapan Amelia terhenti seketika karena mengingat sesuatu. "Yaa Tuhan, bagaimana Aku menjelaskan pada Mama, sedangkan Vitalia saja kini sedang sakit karena kecapekan merawat Mama," batin Amelia.
Sementara Mama Renita yang melihat gelagat aneh dari Amelia pun mengerutkan keningnya bingung, lalu berkata, "Mmm, Mel..., ke.. napa.. diam?" tanyanya.
"Emmhh, Ma! Vitalia dia sudah pulang ke rumah sama Suaminya, apalagi dia sekarang sedang kecapekan karena sibuk merawat Mama," ucap Amelia berkata jujur pada Mama Renita. Seketika saja ucapan dari Amelia membuat Mama Renita menangis haru.
"Hiks.. hiks.. hiks.., Anakku hiks... hiks.., hanya kalian lah yang Mama punya, bahkan anak kandungku tak mengerti denganku hiks.. hiks.." ucap Mama Renita lirih dengan nangis tertahan.
__ADS_1
Mendengar ungkapan isi hati dari Mama Renita, Amelia pun lalu menyahutnya dengan berkata, "Mama sudah, jangan terlalu dipikirkan si Sherlyn, dia memang seperti itu Ma!" tandasnya. Dan seketika itu pula ucapan dari Amelia mendapatkan anggukan dari Mama Renita yang berarti setuju dengan pendapatnya.
"Mel, Mama ingin bertemu dengan Vitalia, karena Mama ingin membicarakan sesuatu padanya," ucap Mama Renita lirih.
"Mama, memangnya Mama mau bicara apa sama Vitalia? Ma, ingat Ma, kita tidak boleh gegabah untuk mengungkapkan kebenaran itu, bahkan Mama sendiri kan yang bilang begitu?" tanya Amelia memastikan.
"Amelia Sayang, kau tenang saja, Nak! Mama tidak ingin mengatakan kebenaran itu sekarang juga, karena kebenaran itu akan terungkap dengan sendirinya,"
"Hmmm iya Ma, Aku mengerti, tapi nggak harus sekarang kan bertemu dengan Vitalia nya? karena Vitalia dia tidak memungkinkan untuk ke sini!" ujar Amelia mencoba memberi pengertian pada Mama Tirinya.
"Iya Sayang, Mama mengerti! Hanya saja Mama mengkhawatirkan kondisinya saat ini," ucap Mama Renita masih dengan nada lirihnya. Mengingat kondisinya saat ini belum sepenuhnya pulih.
"Hmm, ya sudah kalau begitu Mama beristirahatlah, setelah ini!"
"Aku akan menyuruh tenaga medis yang lain untuk memindahkan Mama ke dalam ruangan, dan juga Aku akan bilang sama Daddy jika Mama sudah sadarkan diri," ucap Amelia panjang lebar.
"Baik Nak .." jawab Mama Renita menuruti perintah dari Putri Tirinya.
"Suster Oca, bilang sama dokter Tama yang sok kegantengan itu, jika Aku mau bertemu dengannya besok pagi!" titahnya pada Suster Oca.
"Baik dok .." ucap Suster Oca. Sementara Amelia berjalan cepat keluar dari ruangan NICU untuk memberitahu sang Daddy jika Mama Renita sudah sadarkan diri.
"Issshhh benar-benar menyebalkan sih tuh anak! Mentang-mentang adik dari Lia, terus dia seenak jidatnya nyuruh-nyuruh orang.., apalagi Aku yang Sahabat dari Lia saja tidak pernah tuh disuruh-suruh begitu sama dia." ucap Suster Oca berdecak kesal karena ulah Amelia yang baginya sangat menyebalkan.
"Sudahlah Sus, turuti saja dia! Lagi pula dia cuma sebentar kan disini?"
"Terus ngapain tadi kau mengeluh seperti itu??"
"Hanya mengeluh, bukan membenci! Okeeyy .." sahut Suster Oca dengan penuh penekanan.
"Ya... ya... ya..., terserah deh..."
Sementara Mama Renita yang mendengarkan perdebatan antara suster dan dokter tersebut pun hanya bisa mengulum senyum sambil menggelengkan kepalanya pelan..
...****************...
Sementara di lain tempat, Vitalia tampak sudah tertidur lelap di atas tempat tidur dengan ditemani oleh sang Suami yang masih disibukkan dengan pekerjaannya.
"Yaa Tuhan, baru kali ini pekerjaanku menumpuk sebanyak ini," eluh Chandra.
Namun seiring berjalannya waktu Chandra pun memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang bersebelahan dengan sang Istri, karena ia sendiri juga sudah mulai kelelahan. Namun ketika ia akan membaringkan tubuhnya di samping sang Istri, tiba-tiba saja ponsel milik Vitalia yang berada tepat di bantal sang Istri pun berbunyi.
Dreett... dreett.. dreett...
Sontak saja membuat Chandra mengarahkan pandangan ke arah ponsel tersebut. Begitu pula dengan Vitalia yang tadinya tertidur lelap kini terbangun dari tidurnya hanya gegara sebuah telepon dari seseorang.
__ADS_1
Vitalia pun dengan cepat menggeser layar ponsel ya, karena ia yakin jika orang yang menghubunginya adalah dari pihak FireField Hospital.
"Halo ..." ucap Vitalia memulai obrolan.
"Halo dokter Lia, maaf jika mengganggumu malam-malam," ucap seseorang yang telah menghubungi Vitalia. 'Dia adalah dokter Rara.'
"Tidak apa-apa dok, memangnya ada apa dok?"
"Dok, Saya ingin mengabarkan jika Mama Anda sudah sadarkan diri, dan kini kondisinya sudah mulai membaik," ucap dokter Rara menyampaikan kabar.
"Alhamdulillah, terima kasih Yaa Tuhan, Kau telah memberikan mukjizat kepada Mama," ucap Vitalia dengan penuh rasa syukurnya sambil terbangun dari tempat tidurnya.
"Oh iya dok, saat ini dokter Amelia sedang mengurusnya untuk memindahkannya ke ruang perawatan," sambung dokter Rara melalui sambungan telepon.
"Baik dok, terima kasih atas informasinya dok..., kalau begitu aku akan segera ke sana sekarang juga ..." balas Vitalia.
"Eh dok, Anda tidak perlu ke sini!" cegah dokter Rara yang ada diseberang sana.
"Loh dok memangnya kenapa?" tanya Vitalia heran dengan sikap dokter Rara yang entah mengapa melarangnya untuk ke FireField Hospital.
"Ini sudah malam, dok! Lagi pula dokter Lia kan juga baru sakit. Dan tadi dokter Amelia berpesan agar dokter Lia jangan pergi ke rumah sakit terlebih dahulu," sahut dokter Rara mencoba memberi pengertian pada Vitalia.
"Huhhh, ya sudah deh dok kalau begitu. Oh ya dok, Aku titip Mama pada kalian, ya!" Titan Vitalia pada dokter Rara yang berada di seberang telepon.
"Baik dok .."
Tanpa menunggu lama Vitalia pun mengakhiri telepon dengan menutupnya sebelah pihak. Chandra pun yang dari tadi diam menyimak obrolan tersebut, kini mulai membuka suaranya dengan berkata, "Honey, ada apa??
"Mama sudah sadarkan diri, Bee! Bahkan Mama kondisinya juga sudah semakin membaik ..." ujar Vitalia.
"Syukurlah kalau begitu...
"Akhirnya Aku bisa tidurnya nyenyak malam ini Bee! Tidak seperti tadi terlihat tidur tapi sebenarnya pikiranku kemana-mana...
"Ya sudah..., mending Honey tidur gih.., karena malam ini Mas tidak jadi meminta jatah malam ini... " balas Chandra dengan raut muka lelahnya menatap sang Istri.
"Haaa ..., astaga, bahkan Aku sampai melupakannya..." batin Vitalia.
***
^^^Maafkan Aku Suamiku, saat ini Aku tidak bisa membahagiakanmu, karena Aku terlalu sibuk mengurusi urusanku... (Vitalia Pov)^^^
Bersambung....
...****************...
__ADS_1
...----------------...