
Video Tentang Vitalia.
Sementara Maya pun lalu berusaha menenangkan Vitalia yang menangis sesenggukan berada di dalam pelukannya.
"Sudah Vitalia, tenangkan dirimu..." ucap Maya pada Vitalia sambil membelai rambut Vitalia yang terurai indah.
"Bagaimana aku bisa tenang, May? Sementara Mommy Gabby mengatakan kepadaku bahwa aku ini adalah putrinya! Hiks .. hiks.. hiks ..." ucap Vitalia dengan penuh penekanan sambil menangis sesenggukan.
"Tapi bagaimana bisa ketahuan, Vit?" sahut Maya bertanya.
"Dia melihatku dan dia lalu mencari informasi tentang identitas ku. Yang ternyata nama yang ku gunakan untuk menyamar adalah nama dari kembaran Amelia ... hiks... hiks..." jawab Vitalia menjelaskan sambil menangis tertahan.
"Whaaattt?" ucap Maya dengan nada keterkejutannya melotot tak tak percaya.
"Dan kau tau tidak, yang membuatku lebih tak percaya lagi adalah hiks... hiks..., apa yang dikatakan Mommy kepadaku. Mommy bilang kepadaku jika aku memakai cincin ini, hiks ... hiks... itu berarti aku adalah putrinya, May. Hiks ... hikss..." sambung Vitalia lagi masih dengan menangis sesenggukan.
"Sssttt, sudah Vitalia jangan menangis lagi!" pinta Maya pada Vitalia, sambil mengusap air mata Vitalia yang jatuh membasahi pipinya.
"Memangnya kau percaya dengan begitu saja dengan apa yang dibilang Mommynya Amelia itu?" tanya Maya memastikan.
"Bukan begitu, May. Tapi aku sudah menjelaskan kepadanya bahwa cincin ini pemberian dari Suamiku, tapi kenapa Mommy justru malah semakin menangis dan semakin kekeh kalau cincin ini bukti bahwa aku ini putrinya?" berbagai pertanyaan muncul dalam otak Vitalia.
Sementara Maya yang mendengar pertanyaan dari Vitalia pun lalu menyahutnya dengan berkata, "Sudah Vit, jangan berpikir yang tidak-tidak! Ingat Vitalia, kau sedang mengandung, dan kau tidak boleh banyak pikiran!" tegasnya memperingatkan Vitalia.
"Iya May, aku tau itu. Tapi entah mengapa aku merasa ada yang disembunyikan mas Chandra dariku. Lalu apa hubungan cincin yang kupakai ini dengan mas Chandra, kenapa Mommy sampai bilang jika aku mengenakan cincin ini, itu berarti aku adalah anak kandungnya?" tanya Vitalia mengernyit bingung.
"Dan perlu kau ketahui, May. Cincin ajaib ini adalah pemberian dari ketua geng mafia tertua di dunia ..." sambung Vitalia lagi.
Sementara Maya yang mendengarkan penjelasan dari Vitalia pun hanya diam tak bisa berkata apa-apa selain menelan ludahnya sendiri.
"Ya Tuhan, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini..." batin Maya menatap Vitalia yang berjalan mondar-mandir di depannya.
"Vitalia, apa kau yakin jika kita menyamarkan identitas kita sampai di sini?" tanya Maya memastikan.
Vitalia pun lalu menjawabnya dengan berkata, "Iya, May. Aku yakin! Dan kita akan melakukan penyamaran di lain tempat kecuali di RS ini, May." balasnya.
...🥰****************🥰...
Setelah berdebat sengit dengan seorang dokter muda yang bernama Thalia, dokter Gabby pun lalu berjalan cepat menuju ke ruangannya dengan menangis tersedu-sedu.
Setelah sampai di ruangannya "Hiks... hiks.. hiks..., kenapa aku merasa yakin jika dia adalah putriku yang selama ini menghilang..." gumam dokter Gabby pelan sambil mendudukkan pantatnya di atas sofa sibuk dengan pemikirannya.
Saat ia sedang melamun, tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk melalui ponsel miliknya. Seketika saja dokter Gabby membuyarkan lamunannya.
"Halo..." ucap seseorang yang berada di seberang sana membuka obrolan.
"Sa, datanglah ke RS.Cahaya sekarang juga, karena Mommy membutuhkanmu dan juga Ayahmu... " pinta dokter Gabby pada Risa. 'Ya, orang yang dihubungi dokter Gabby adalah Risa anak tirinya.'
"Baik Mom, eh tapi tunggu dulu, Mommy kenapa menangis?" sahut Risa yang berada di seberang sana bertanya.
"Sudah Risa, jangan banyak tanya! Cepat datang kesini bersama Ayahmu!" titah dokter Gabby pada Risa anak tirinya dengan suara seraknya. Dokter Gabby pun lalu mematikan teleponnya sebelah pihak.
...🥰****************🥰...
Di lain tempat, tepatnya berada di negeri sakura Jepang, tampak Amelia dan Sherlyn sedang menunggu sang Mama yang tertidur di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Kak, apa kak Amelia tak ada niatan untuk menghubungi kak Vitalia?" tanya Sherlyn pada Amelia.
"Bukan begitu Sherlyn, tapi memang ponsel milik kak Vitalia tak dapat dihubungi. Tapi kau tenang saja, Chandra sudah bilang kepadaku jika dia menemukan kakak, dia akan mengabari kita..." jawab Amelia menjelaskan.
"Hufftt.., syukurlah kalau begitu... " balas Sherlyn.
Tiba-tiba saja jam tangan milik Amelia yang melingkar di tangannya pun berbunyi.
Ting.. Tring.. Ting.. Ting.. Tring..Ting..
Betapa terkejutnya Amelia ketika jam tangan miliknya berbunyi.
"Vitalia.." gumam Amelia pelan sambil mengarahkan pandangan menatap ke arah jam tangan miliknya. Kemudian Sherlyn yang melihat kakak tirinya terkejut pun menatap sang kakak heran.
"Kak, ada apa?" tanya Sherlyn pada sang kakak. Belum sampai Amelia menjawabnya jam tangan milik Amelia berbunyi, "Cepat susul dia... cepat susul dia ..."
"Apa maksudmu jam tangan?" tanya Amelia pada jam tangan tersebut. Sementara Sherlyn yang penasaran pun lalu mendekat ke arah Amelia.
Sedangkan jam tangan tersebut pun secara otomatis memperlihatkan video Vitalia yang sedang bertemu dengan Mommy Gabby Herawati.
"Mereka bertemu itu sudah biasa jam tangan? Mengapa perlu khawatir?" tanya Amelia pada jam tangan tersebut.
"Hubungi Mommymu.. hubungi Mommymu..." sahut jam tangan tersebut berbunyi.
Sherlyn pun lalu menyahutnya dengan berkata, "Coba deh kak lihatlah baik-baik! Sepertinya ada masalah antara Mommy sama kak Vitalia.." ucapnya.
Amelia pun lalu kembali mencermati video tersebut secara baik-baik. Ternyata apa yang dibilang Sherlyn memang benar adanya jika gerak-gerik mereka seperti sedang ada masalah.
"Ada apa ini?" gumam Amelia pelan dengan mengerutkan keningnya bingung.
"Tidak Sher, dia tidak akan mengangkat telepon dariku, karena aku sudah menelponnya tadi..." jawab Amelia.
Dreett... Dreett... Dreett..
Tiba-tiba saja ponsel milik Amelia berbunyi. Amelia pun lalu mengangkat ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
"Halo..." ucap Amelia membuka obrolan melalui telepon.
"Halo Mel, cepat bersiaplah bersama dengan keluargamu! Aku akan membawa kalian pergi ke Indonesia karena dia butuh bantuan kalian.." sahut orang yang berada di seberang sana.
"Apa? Tapi mbak, Mama belum sepenuhnya sembuh," jawab Amelia. 'Ya, orang yang menghubungi Amelia adalah Mirna Feriska.'
"Mamamu akan baik-baik saja, Mel. Karena kita akan memakai jet pribadi milik Vitalia..." ucap Mirna Feriska berusaha meyakinkan Amelia.
"Baiklah kalau begitu..." sahut Amelia.
Amelia pun lalu menyambungnya lagi dengan bertanya, "Tunggu dulu Mbak! Sebenarnya ada apa? Kok jam tangan pemberian Vitalia berbunyi?"
"Apaa?" ucap Mirna Feriska yang ada di seberang sana dengan nada keterkejutannya.
"Iyaa, aku serius! Di situ ada video rekaman jika Vitalia saat ini sedang bertemu dengan Mommy..." sahut Amelia lagi.
"Maksudmu Mommymu?" tanya Mirna memastikan.
"Iya Mbak, dan anehnya di video itu seperti ada yang tidak beres di antara keduanya..."
__ADS_1
"Tidak beres bagaimana?" lagi-lagi Mirna bingung dengan apa yang maksud Amelia.
"Aku tidak tau, karena video tersebut tak ada suaranya hanya gambarnya saja," jawab Amelia yang juga sebenarnya tak tau dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya mencurigai ada gelagat aneh dari Vitalia dan Mommynya ketika melihat cuplikan video tersebut.
"Ya sudah lebih baik cepat bersiap, beritahu Daddymu, biarkan kakakmu Chan yang menyelesaikan tugas kantornya!" Titah Mirna pada Amelia.
"Astagaaa, tapi kenapa?"
"Sudah menurutlah! Vitalia membutuhkan kalian." Seketika itu pula Mirna menutup teleponnya sebelah pihak. 'Ya, orang yang menelpon Amelia tadi adalah Mirna Feriska.'
"Ishhh ck, dimatikan lagi..." ucap Amelia berdecak kesal karena Mirna Feriska mematikan teleponnya sebelah pihak.
"Ada apa kak?" tanya Sherlyn bertanya pada Amelia.
"Sherlyn kita harus bersiap-siap..., kita akan ke Indonesia hari ini juga..." ujar Amelia sambil merapikan obat-obatan yang tergeletak di atas nakas untuk di masukkan ke dalam kotak obat.
"Whaatt?" sahut Sherlyn dengan nada keterkejutannya. Sementara Mama Renita yang mendengarnya pun lalu menyahutnya dengan bertanya, "Siapa yang ke Indonesia, Nak?" tanya Mama Renita yang sudah membuka matanya.
"Mama.., Mama sudah bangun...?" tanya Amelia dan Sherlyn secara bersamaan.
Mama Renita pun lalu membenarkan dirinya until duduk. Ia pun lalu berkata, "Iya, Mama sudah bangun. Amelia cepat katakan pada Mama, siapa yang mau ke Indonesia?" tanya Mama Renita penasaran karena diam-diam ia mendengarkan obrolan dari kedua putrinya.
"Kita akan ke Indonesia Ma.., Mbak Mirna menelponku jika kita di suruh bersiap-siap sekarang juga," ucap Amelia menjelaskan.
"Apaa? Yang benar Nak?" tanya Mama Renita memastikan, dengan nada bersemangat.
"Iyaa Ma..., Mama senang bukan?" tanya Amelia memastikan. Dan seketika itu pula Mama Renita mengangguk semangat.
"Tak akan ada yang pergi ke Indonesia!" seru seseorang itu yang muncul dengan tiba-tiba di balik pintu. Seketika saja semua mata mengarahkan pandangan menatap kedatangan seseorang itu.
"Kak Chan..., tapi kak ini lebih penting dari segalanya..." protes Amelia pada sang kakak. 'Ya, seseorang yang datang itu adalah Chan Hirata kakak kandung dari Amelia.'
"Mel kau tau bukan, dunia itu kejam? Jangan sampai kau terpengaruh oleh dunia luar hanya karena ada seseorang yang mirip denganmu!" tegas Chan Hirata menasehati sang adik.
"Tapi dia kembaranku kak..., itu adik kak Chan juga!" seru Amelia tak mau kalah.
"Apaa? Omong kosong apa ini?!" ucap Chan Hirata denganmu nada meninggi.
"Maka dari itu kak, tolong izinkan kami pergi ke sana untuk mengungkap kebenaran itu!" sahut Amelia berusaha meyakinkan sang kakak.
"Kalian boleh pergi ke Indonesia tapi tidak dengan Daddy! Karena Daddy ada tugas penting yang harus diselesaikan saat ini juga, Mel." ucap Chan Hirata memberitahu.
"Tapi kak..." Belum sampai Amelia menyelesaikan ucapannya Chan pun lalu menyahutnya dengan berkata, "Kakak yang akan menemani kalian di sana, Mel! Karena Daddy berpesan kepadaku seperti itu!" seru Chan Hirata.
Chan Hirata pun lalu berganti mengarahkan pandangan menatap ke arah Mama Renita dan Sherlyn. Ia pun lalu berkata, "Dan untuk kalian, jangan berbuat yang tidak-tidak di sana atau aku akan..." belum selesai Chan Hirata menyelesaikan ucapannya Amelia menyahutnya.
"Kakak, cukup! Mama sama Sherlyn tidak seburuk yang kau kira kak!" bentak Amelia pada sang kakak.
"Jadi please ku mohon jangan pernah mengusik Mama dan Adik lagi!" sambungnya lagi dengan nada meninggi. Sementara Chan tersenyum sinis mendengar penuturan dari Amelia. "Baiklah, terserah kau saja, dik." ucapnya sambil memutar bola matanya malas.
Bersambung....
...****************...
...----------------...
__ADS_1