
Sikap Dingin Vitalia
Mirna pun lalu memutuskan untuk masuk ke dalam ruang perawatan karena memang sudah waktunya untuk tes DNA.
Ehemmmb...
"Permisi, maaf mengganggu sebentar."
Melihat dokter Mirna yang datang, Tuan Hirata pun lalu membuka suaranya dengan bertanya, "Dokter Mirna, ada apa?"
"Om Hirata, maaf sudah waktunya untuk tes DNA, kebetulan Vitalia dan dokter Gabby sudah berada di lab untuk melakukan tesnya" jawab Mirna to the point lalu melangkahkan kakinya pergi dengan begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari Tuan Hirata. Ia pikir jika dirinya berlama-lama di ruangan tersebut, ia pasti akan dihujani banyak pertanyaan.
Namun saat ia akan melangkahkan kakinya pergi, tiba-tiba saja Tuan Hirata memanggilnya, "Dokter Mirna, tunggu!"
Seketika itu pula dokter Mirna Feriska menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. "Iya Om, ada apa?" tanyanya dengan menautkan kedua alisnya menatap Tuan Hirata.
"Kami ikut, dok!" jawab Tuan Hirata dingin dengan menarik tangan sang Istri.
"Baiklah, ayo!" ajak Mirna mempersilahkan Tuan Hirata beserta sang Istri ikut bersamanya. Mereka pun lalu keluar ruang perawatan Vitalia meninggalkan Amelia dan juga Chan Hirata sendirian.
Setelah kepergian kedua orangtuanya, Chan Hirata pun akhirnya membuka suaranya dengan berkata, "Amel, lihat saja nanti! Yang selama ini kau idam idamkan menjadi kakakmu, akan terbukti jika dia bukanlah kakak kandungmu, mengerti!"
Dengan tersenyum sinis Amelia menanggapinya, kemudian berkata, "Seyakin itu? Bahkan kakak lupa jika Mama sudah mengatakan yang sebenarnya. Hanya kau dan Daddy yang tak percaya! Heran saja, namun ternyata perasaanku sama dengan Mommy, dia bisa merasakan kehadiran putrinya saat bertemu dengan Vitalia, karena apa? Karena hati seorang Ibu tak akan dapat dibohongi jika bertemu dengan buah hatinya! Camkan itu, kak!" ujarnya dengan penuh penekanan, kemudian meninggalkan Chan Hirata sendirian di ruangan tersebut.
...****************...
Sementara di sisi lain kini Vitalia sudah berada di ruang lab untuk melakukan tes DNA dengan menggunakan sample darah. 'Ya, Vitalia sendiri memutuskan untuk menggunakan sample darah untuk tes DNA, karena baginya lebih afdol saja daripada sample lainnya, meskipun sebenarnya sama saja.'
Setelah Vitalia selesai melakukan tes DNA, sekarang tiba saatnya giliran dokter Gabby untuk diambil sample darahnya untuk dicocokkan dengan sample darah milik Vitalia.
__ADS_1
Sementara Mirna, Tuan Hirata beserta sang Istri kini sudah sampai di ruang lab. Dan sesampainya mereka di ruang lab, Mirna menyuruh kedua orang paruh baya tersebut untuk menunggunya di ruang tunggu bersama dengan Nenek Bernadeth.
"Om.., Tante.., Nenek.. lebih baik kalian tunggu di sini dulu ya, saya masuk dulu ke dalam menemui Vitalia!"
"Baik, dok..." jawab Tuan Hirata, Mama Renita dan Nenek Bernadeth secara bersamaan.
Di ruang periksa :
"Vitalia, bagaimana? Apa sudah tes?" tanya Mirna yang baru datang dengan nafas yang terengah-engah.
Vitalia pun mengarahkan pandangan menatap kedatangan Mirna, dan menjawabnya dengan berkata, "Sudah Mbak, kita akan mengetahui hasilnya besok! Hanya saja aku agak sedikit ragu apakah hasil itu nanti akan keluar asli atau tidak, mengingat RS ini adalah milik Ibu kandung Amelia."
Sementara dokter Gabby yang mendengarkan perbincangan antara Mirna dan Vitalia pun lalu membuka suaranya dengan berkata, "Rudi, pastikan hasil ini sesuai dengan hasil yang asli tanpa ada pemalsuan sedikit pun, karena aku hanya ingin hasil yang akurat!" titahnya pada seorang analis kesehatan tersebut.
"Baik, dok. Saya akan pastikan jika tes DNA ini tak kan bisa dipalsukan dan dijamin ke asliannya." jawab Rudi seorang analis kesehatan tersebut.
"Bagus! Kalau begitu aku pergi dulu!" balas dokter Gabby dingin.
"Bagaimana mungkin, Nyonya!" bentak Vitalia yang entah kenapa ia malah tersulut emosi mendengarnya.
"Vitalia kendalikan dirimu, kau belum sepenuhnya pulih.." ujar dokter Mirna Feriska berusaha menenangkan hati Vitalia.
Dokter Gabby kemudian menimpalinya dengan berkata, "Apa? Nyonya? Saya tidak salah dengar kan, jika kau menyebutku dengan sebutan Nyonya?" tanyanya memastikan.
"Tidak, anda tidak salah mendengarnya. Saya memang memanggilmu dengan sebutan Nyonya," jawab Vitalia dingin.
"Tapi untuk tes DNA ini setelah dipikir-pikir tak akan ada gunanya juga! Karena rumah sakit ini milik anda, jadi aku tak begitu yakin jika hasil yang keluar itu nanti akan valid, dan aku yakin hasil tes DNA itu pasti positif karena kalian sedang menginginkan diriku untuk kau jadikan boneka.." sambung Vitalia menuduh tanpa bukti.
Mendengar pernyataan dari Vitalia, dokter Gabby pun tersentak kaget, ia bahkan menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Vitalia. "Tutup mulutmu dokter Thalia!" bentaknya dengan memelototkan matanya tajam ke arah Vitalia yang tak menampakkan ekspresi wajahnya sedikit pun.
__ADS_1
Mendengar sebuah keributan, dari dalam ruang periksa, Chandra segera masuk ke ruang pemeriksaan, tanpa menghiraukan keluarga Hirata yang sedang duduk di ruang tunggu. "Ada apa ini? Kenapa kau menunjuk-nunjuk istriku?" tanya Chandra yang tiba-tiba datang dari balik pintu.
Dengan cepat dokter Gabby menyahutnya dengan berkata, "Chandra, istrimu keterlaluan, Nak! Bisa-bisanya dia berkata padaku jika hasil tes itu pasti akan positif karena kami menginginkannya.."
Chandra kemudian mengarahkan pandangan menatap sang istri, dan berkata, "Honey, kenapa kau berkata seperti itu?" tanyanya.
"Bee, kenapa kau malah membelanya? Jika kau percaya denganku kenapa kau.." belum sampai Vitalia menyelesaikan ucapannya, Chandra memotongnya, "Ssstt, Honey... kau tak boleh berkata seperti itu! Jangan menuduh orang sembarangan. Kau tenang saja, Mas akan pastikan hasil itu asli tanpa ada pemalsuan sample sedikit pun." ujarnya memberi pengertian kepada sang istri.
"Hmmm, terima kasih, Bee. Kalau begitu antarkan aku ke kamar, aku ingin beristirahat sejenak.." ujar Vitalia menyuruh sang suami agar mengantarkannya kembali ke ruang perawatannya.
"Baiklah, aku akan mengantarkanmu .." pungkasnya, kemudian mendorong sang istri menggunakan kursi roda.
Sementara keluarga Hirata yang melihat Chandra yang keluar ruang pemeriksaan bersama dengan Vitalia pun lalu menghampirinya, "Vitalia bagaimana tesnya, sayang?
"Sudah selesai Nek, dan hasilnya keluar besok. kalau begitu Vitalia dan Mas Chandra permisi dulu.." jawab Vitalia dingin.
"Ayo Mas! Aku sudah capek!" sambungnya lagi menyuruh Chandra agar melanjutkan jalannya lagi.
Amelia yang melihat Vitalia bersikap dingin dihadapan Nenek Bernadeth pun tak terima, kemudian ia membuka suaranya dengan berkata, "Vitalia kau.." belum sampai Amelia menyelesaikan ucapannya, Nenek Bernadeth mengangkat tangannya dan berkata, "Sudah Amelia, tidak apa-apa! Biarkan Vitalia beristirahat sejenak.."
"Lebih baik kita temui Gabby terlebih dahulu..." sambung Nenek Bernadeth lagi.
Sontak saja Vitalia yang sudah di dorong keluar dari ruang tunggu pun membelalakkan matanya terkejut, mendengar pernyataan dari Nenek Bernadeth.
"Stop Mas!" titah Vitalia pada sang Suami untuk menghentikan langkahnya.
Seketika itu pula Chandra menghentikan kursi roda yang ditumpangi oleh sang istri, dan berkata, "Ada apa lagi cintaku sayangku?" tanyanya dengan nada mesranya.
Bukannya menjawab baik-baik Vitalia malah memutar bola matanya malas dan berkata, "Sudahlah Bee, ini bukan waktunya untuk bercanda! Lebih baik kita berputar lagi, karena aku ingin berbicara dengan Nenek!" jawab Vitalia dingin. Setelah mereka memutar badan, ternyata keluarga Hirata sudah tidak ada di tempat.
__ADS_1
***
Bersambung...