
Ingin Menculikmu!
Setelah berhasil menyamai mobil Grandpanya, tanpa berpikir panjang Vitalia lalu mengetuk jendela kaca mobil milik Grandpanya itu, tanpa turun dari sepeda motor. Ia sangat yakin jika di dalam mobil tersebut pasti ada Kakak Sepupunya, mengingat kemarin Mirna mengatakan padanya jika mau menemui Grandpanya.
Tok... Tok.. Tok..
Vitalia mengetuk jendela kaca mobil tersebut dengan keras, hingga membuat seseorang yang berada di dalam mobil tersebut tersentak kaget, dan mengarahkan pandangan menatap seseorang yang sedang mengetuk jendela kaca mobilnya.
Betapa terkejutnya dokter Mirna ketika melihat Adik Sepupunya adalah orang yang mengetuk jendela kaca mobilnya.
"Vitalia? ngapain tuh anak disini?" tanpa menunggu lama, ia pun segera membuka jendela kaca mobilnya.
"Vitalia, ngapain Kau di sini? Astaga Vitalia itu motor siapa lagi sih, Vit?" ucap dokter Mirna dengan melontarkan berbagai pertanyaan pada Vitalia.
"Isshh ck, jangan banyak tanya! ayo buruan ikut denganku!" ajak Vitalia pada Kakak Sepupunya.
"Apaa?? yang benar saja Kau, Vit?"
"Ya iya lah Mbakku Sayang, sudah cepetan turun, keburu lampunya hijau!" titah Vitalia menyuruh Mirna untuk segera turun dari mobilnya.
"Astaga iyaa ... iyaaa ..., galak amat sih jadi orang ..." gerutu Mirna sambil memutar bola matanya malas mendengar perkataan dari Vitalia.
Sebelum menuruni mobil, Mirna pun berpamitan dengan sopir pribadi Grandpanya.
"Pak, maaf sebelumnya. Aku tidak jadi ke apartment milik Grandpa, sampaikan saja padanya jika Aku ada urusan mendadak," ucapnya.
"Baik Nona, nanti Saya akan sampaikan pada Tuan Besar," jawab sopir tersebut.
"Ok, Pak terima kasih." ucap Mirna dengan tersenyum ramah.
Mirna pun lalu membuka kenop pintu mobilnya dan segera turun menuruti perintah dari Adik Sepupunya. Melihat Kakak Sepupunya yang sudah turun dari mobil, Vitalia pun lalu membuka suaranya dengan berkata, "Cepetan Mbak, Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi!" titah Vitalia pada Kakak Sepupunya agar segera naik ke sepeda motor untuk diboncengnya.
Vitalia pun lalu menunduk dan mengarahkan pandangan menatap sopir Grandpanya.
"Pak, Aku culik dulu Mbak Mirna, ya!" seru Vitalia pada sopir pribadi Grandpanya. Tanpa menunggu jawaban dari sopir tersebut, Vitalia langsung menancapkan gasnya karena kebetulan lamb lake lintas sudah menyala hijau. Seketika itu pula, sopir pribadi Tuan Feng pun tercengang, karena ia baru tersadar jika ternyata yang mengajak Mirna adalah Vitalia.
"Astaga, ku kira siapa yang mengajak Nona Muda, eh ternyata Nyonya Muda Vitalia yang mengajak!" ucapnya dengan nada keterkejutannya. Ia pun lalu segera melajukan mobilnya kembali, karena mobil dan kendaraan yang berada di belakangnya sudah mengklaksonnya.
...****************...
Sementara di sisi lain Amelia kini sedang dalam perjalanan menuju ke bandara, tepatnya di sebuah cafe yang bernama cafe sweety yang masih berada dilingkungan bandara.
Saat dirinya sedang disibukkan dengan ponselnya, tiba-tiba saja ada panggilan seseorang masuk. Amelia pun segera menggeser layar ponselnya untuk mengangkatnya.
"Halo ..." ucap Amelia membuka obrolan melalui telepon.
__ADS_1
"Nona Amelia, Aku mengabarkan jika Aku sudah sampai di Sydney Airport," ucap seseorang yang berada di seberang sana.
"Baik Tuan.., Aku masih dalam perjalanan ke sana, kebetulan kondisi jalan sedang macet jadi maaf jika nanti mungkin agak terlambat," balas Amelia ramah.
"Hmmm, baiklah. Aku akan menunggu kedatanganmu," pungkasnya, lalu menutup teleponnya sebelah pihak.
Sementara di lain tempat tampak Hans sedang tersenyum menyeringai. "Aku harus bisa membawa pergi dokter Amelia dari Negara ini,"
"Tunggu pembalasanku, Vitalia! sampai kapan pun Kau tetaplah milikku! Dan Aku berjanji pada Diriku sendiri jika Aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku, dan menjauhkanmu dengan Chandra Zhu! " ucapnya dengan tersenyum menyeringai.
...🥰****************🥰...
Sedangkan Vitalia dan Mirna kini masih menempuh perjalanan menuju ke Bandara atau Sydney Airport dengan kecepatan tinggi. Bahkan Vitalia sampai menerobos banyak lampu lalu lintas hanya demi untuk menyelamatkan Amelia yang sedang dalam bahaya.
"Vitalia, Kau bisa nggak sih mengendarai motor?" tanya Mirna pada Vitalia yang sedang mengendarai sepeda motor.
"Ck, ya bisa lah Mbak," jawab Vitalia lalu mengurangi kecepatannya.
"Kalau bisa jangan kenceng-kenceng dong Vit! begini kan enak!" sahut Mirna.
"Kalau hanya dengan kecepatan segini, mau sampai jam berapa Mbak? lagi pula Kita juga sudah tidak punya banyak waktu lagi," ujar Vitalia sambil mengendarai motor dengan kecepatan sedang.
"Astaga, Vitalia! memangnya Kita mau ke mana sih? heran deh, sampai ngebut segala!" ucap Mirna.
"Amelia itu sekarang dalam bahaya Mbak, Kita harus segera menolongnya!" jawab Vitalia menjelaskan.
"Apaa?? Ya Tuhan Vitalia kenapa nggak bilang dari tadi sih! kalau begitu tambah kecepatannya lagi!" titah Mirna pada Vitalia yang kini berbalik setuju untuk menambah kecepatan.
"Ck, tadi katanya nggak boleh ngebut, gimana sih??" balas Vitalia dengan memutar bolanya jengah mendengar keputusan Mirna yang berubah dengan seketika.
"Ishhh ck, itu kan tadi, sekarang cepat Vit..!!" seru Mirna.
"Huh, iyaaa iyaaa! kalau begitu Mbak berpegangan yang kuat, karena Aku akan menambah kecepatannya lagi," ujar Vitalia men jawab perintah dari Kakak Sepupunya.
Tanpa berpikir panjang, Vitalia lalu menancapkan gasnya dengan menambah kecepatan sepeda motornya. Sementara Mirna kini berpegangan kuat-kuat dengan memeluk Mirna erat-erat dengan memeluk Vitalia erat-erat, seperti sepang kekasih yang sedang berboncengan.
Meskipun Vitalia sebenarnya merasa risih, namun apa boleh buat. Jika dirinya tidak menambah kecepatan, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Amelia. Bahkan ia sampai melupakan jika dirinya sedang hamil muda.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu lama, karena padatnya kendaraan di kota. Kini akhirnya Vitalia dan Mirna sudah sampai di tempat tujuan.
Vitalia pun segera memarkirkan sepeda motor milik Sahabatnya di tempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak bandara. Mirna yang menoleh ke kanan dan ke kiri pun bingung, ia pun lalu membuka suaranya dengan bertanya, "Vitalia, kok ke sini sih?? tanyanya bingung dengan menoleh ke sana ke mari.
"Sudah pokoknya Mbak jangan banyak tanya lagi, karena Kita sudah tidak ada waktu lagi untuk berbicara!" pinta Vitalia pada Kakak Sepupunya agar tidak banyak tanya. Karena ia pikir dengan banyak berbicara, hanya akan membuat waktu terbuang dengan begitu saja.
Setelah Vitalia mematikan mesin sepeda motornya, Mirna pun lalu segera turun dari sepeda motor tersebut, begitu pula dengan Vitalia.
__ADS_1
Tanpa mengulur waktu, Vitalia dan juga Mirna langsung berlari menuju ke sebuah tempat, dimana tempat tersebut merupakan deretan cafe yang berada di halaman sekitar bandara.
"Vitalia, mana Amelia??" tanya Mirna pada Vitalia yang sedang menoleh ke sana ke mari mencari seseorang yang ia cari.
"Entahlah Mbak, Aku juga tidak tau," ucap Vitalia dengan menggelengkan kepalanya pelan sambil meletakkan kedua tangannya di atas pinggang.
"Eh..., Vitalia, lihatlah itu! bukankah itu Amelia??" tanya Mirna pada Vitalia sambil menunjuk ke arah seorang wanita cantik yang ia duga adalah Amelia.
"Astagaa, iya Mbak, Kau benar. Dia Amelia!" seru Vitalia. Ia pun lalu segera melangkahkan kakinya dengan berjalan cepat, menuju ke arah Amelia yang terlihat sedang memasuki sebuah cafe. Bahkan Vitalia tak menghiraukan Kakak Sepupunya yang justru ia tinggalkan dengan begitu saja. Mirna yang melihat Adik Sepupunya yang malah meninggalkannya dengan begitu saja pun segera menyusulnya.
Sementara di sisi lain Amelia kini sudah berada di sebuah cafe dan tampak sedang berjabat tangan dengan seseorang yang ia temui.
"Tuan Hans, sebenarnya ada perlu apa, hingga Kau ingin menemuiku di sini?" tanya Amelia pada Hans ramah.
Hans pun lalu tersenyum dan menjawabnya dengan berkata, "Aku hanya ingin..." ucapnya terhenti seketika karena memang dirinya sengaja menghentikan perkataannya.
"Ingin???" tanya Amelia dengan mengernyit bingung.
"Menculikmu!" lantang Hans menjawabnya.
Sontak saja membuat Amelia membelalakkan matanya lebar-lebar dan terbangun dari tempat duduknya.
Bersambung...
...****************...
...----------------...
Tahan dulu bestie... heheheeee...
Sambil menunggu up dari Author, yukkk mampir ke novel Bestie Aku kak AdindaRa.
Berikut Cuplikannya :
COMPLICATED MISSION
(AdindaRa)
BrigPol Rychelle Olyvia harus menjalankan misi khusus yang memang dipersiapkan bersama kakaknya selama 6 tahun yang lalu saat ia kehilangan ayahnya (Iptu Ryan One). Ayahnya menghilang saat hendak menguak perjudian dan perdagangan narkoba terbesar di Kota Metropolitan.
Kini ia memutuskan untuk mengubah identitasnya agar dapat masuk di Kantor Besar Bank One Point yang mana dulunya adalah gedung tua yang digunakan sebagai tempat untuk berjudi dan perdagangan narkoba.
__ADS_1
Misinya kali ini membuat Rychelle harus berhadapan dengan CEO Bank One Point, Alarick Berwyn yang dikenal berdarah dingin dan kejam. Rychelle juga harus berhadapan dengan Molly, tunangan Alarick yang juga menjabat sebagai Chief Financial Officer (CFO) Bank One Point.