Dokter Misterius VS Mafia Kejam

Dokter Misterius VS Mafia Kejam
Episode 109


__ADS_3

Chandra Kritis


“Rasakan pembalasanku ... !!" seru Matsugi dengan melayangkan sebuah pisau ke arah Vitalia.


Dan ....


“Vitalia, awas ...” ucap Bella, Frans dan dokter Prita secara bersamaan. Seketika saja Vitalia terperangah karena sang Suami melepaskan pelukannya dengan menggeser tubuhnya.


Jlebbb ...


“Arrrgghhh ...” erang Chandra kesakitan sambil memegangi pisau yang menancap di perutnya.


Darah segar pun mengalir begitu banyak dari perut Chandra, seketika itu pula tubuh Chandra terhuyung ke lantai tepat berada di depan sang Istri.


Bruuukkk ...


Betapa terkejutnya Vitalia ketika melihat sang Suami yang justru terkena tusukan dari Matsugi, Ia sama sekali tak menyangka jika sang Suami ternyata sedang menyelamatkannya.


“Chand .. Mm .. Mas Chandra ... !!” teriak Vitalia dengan tubuh bergetar sambil merengkuh tubuh sang Suami yang tergeletak di lantai dengan perut yang berlumuran darah.


“Mas bangun Mas .., please Mas, ku mohon .., hiks .., hiks .. hiks .., jangan tinggalkan Aku ..” ucap Vitalia dengan menangis sesenggukan sambil menepuk-nepuk pipi sang Suami untuk menyadarkannya. Namun sayangnya


Chandra tak kunjung bangun juga. Sementara Matsugi tertawa penuh kemenangan melihat Chandra tertusuk pisaunya yang masih menancap di perut Chandra.


"Hahahaha ..., itu akibatnya jika Kalian berani berbuat seenaknya sendiri pada Putraku .." ucap Matsugi dengan bangganya,


“Kurang ajar, Kau Matsugi .., beraninya Kau melawanku!” seru Vitalia dengan sorot mata tajamnya menatap Matsugi, lalu terbangun dan segera membalaskan apa yang sudah diperbuat oleh Matsugi, namun aksinya terhenti seketika karena dihentikan oleh Frans.


“Tunggu, Nyonya Muda ..., lebih baik jangan Kau habisi Dia, karena Kau sedang hamil!” seru Frans berusaha memperingatkan Vitalia, namun Vitalia pun justru menggelengkan kepalanya pelan lalu berkata, “Tidak Frans Dia sudah berani membunuh Suamiku, Dia harus mati di tanganku sekarang juga ..!!” tandasnya dengan penuh amarah yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.


Namun ketika Vitalia hendak menyerangnya, Frans pun dengan cepat mengacungkan pistol yang Ia bawa ke arah kaki Matsugi, dengan maksud agar Vitalia tak menyerangnya. Ia tak ingin jika Istri dari Sahabatnya terlibat dalam penembakan, apalagi Ia juga sedang hamil muda.


Doorrr ...


Peluru berhasil menembus kaki dari Matsugi. Matsugi pun meringis kesakitan, “Arrghh ..” Ia lalu terjatuh kelantai dengan Kaki terpincang-pincang.


“Beraninya Kau ikut campur urusanku ...” ucap Matsugi sambil memegangi lututnya. Sementara Vitalia tersenyum tipis melihat Matsugi tertembak. Ia pun lalu membuka suaranya dengan berkata, “Cepat bawa Dia pergi dari sini Frans ..., Aku ingin melihatnya menderita dengan Putranya setelah ini!” perintah Vitalia dengan sorot mata tajamnya menatap Matsugi.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama Frans pun segera menyeret Matsugi keluar dari ruang perawatan Vitalia bersama dengan para pihak keamanan rumah sakit beserta dua bodyguard Chandra yang baru saja datang, menuruti perintah dari Istri Sahabat dan juga atasannya.


Vitalia pun lalu mengalihkan pandangan menatap sang Suami yang tak sadarkan diri dengan tatapan mata kosong, “Cepat ambil tandu kemari La!” titah Vitalia pada Bella dengan menjatuhkan dirinya tepat di hadapan tubuh sang Suami yang tak sadarkan diri.


“Iya Li .., Kau tenangkan Dirimu, Aku sudah menyuruh perawat untuk mengambilkan tandu untuk Suamimu ..” sahut  Bella menjawab perintah dari Sahabatnya. Tak berselang lama akhirnya dua perawat pria pun tiba dengan membawa bed dorong untuk Chandra.


Dengan bergerak cepat kedua perawat Pria tersebut menaikkan atasannya ke atas bed dorong. “Mas ..., please ku mohon bangunlah Mas ..., hiks .. hiks .., maafkan Aku ..” ucap Vitalia dengan menangis sesenggukan sambil menciumi tangan sang Suami.


Melihat Vitalia yang sangatlah rapuh, Bella pun lalu membuka suaranya dengan berkata, “Li, lebih baik Kita segera membawa Suamimu ke ruang operasi, karena Suamimu sudah kehabisan banyak darah ..” ucap Bella menasehati Vitalia. Tanpa banyak bicara Vitalia pun menyuruh kedua perawat pria tersebut agar segera membawanya ke ruang operasi.


“Mas .., cepat bawa Suamiku ke ruang operasi, Aku akan segera menyusul ke sana!” perintah Vitalia. Dan Mereka pun menganggukkan kepalanya mengiyakan perintah dari Istri atasannya, lalu segera membawa Chandra ke ruang operasi.


Sementara Bella yang mendengar pernyataan dari Vitalia pun membuka suaranya dengan berkata, “Li ..., kondisimu masih belum stabil, serahkan padaku biarkan Aku yang menangani Suamimu,” Bella berusaha memberi masukan pada Vitalia yang berjalan dengan terburu-buru keluar dari ruangan perawatannya menuju ke ruang para tenaga medis. Sayangnya Vitalia hanya diam tak menggubris perkataan dari Sahabatnya


“Dokter Lia, benar apa kata dokter Bella,  kondisimu masih belum pulih, ada baiknya Anda beristirahat di kamar” ucap dokter Prita menimpali perkataan Bella dengan mengikuti Vitalia di belakangnya bersama dengan Bella.


Mendengar ucapan dari dokter kandung tersebut, baru ‘lah Vitalia menghentikan langkahnya dan membuka suaranya dengan berkata, “Tapi dok, jika seperti ini Aku tidak akan bisa tenang .., Kau tahu sendiri ‘kan dok, Mas Chandra itu Suamiku ..., Aku tak bisa berdiam diri melihat Suamiku terluka,” sahut Vitalia berusaha meyakinkan dokter Prita.


Dokter Prita seketika saja menggelengkan kepalanya pelan. “Iya dok, Saya tahu itu, tapi Saya tidak mau ambil resiko, karena Tuan Chandra menyuruh Saya untuk menjaga dan merawatmu sampai kondisimu benar-benar pulih,” ucap dokter Prita berusaha memberi pengertian pada Vitalia.


Sedangkan dokter Prita yang melihat Vitalia mengatupkan kedua telapak tangannya pun lalu membuka suaranya dengan berkata, “Jangan seperti itu dokter Vitalia, Saya akan mengijinkan Anda, tapi dengan satu syarat,”


Vitalia pun lalu mengerutkan dahinya dan berkata, “Apa itu dok .. ??” tanyanya.


“Anda boleh menemani Suami Anda namun Anda tidak boleh ikut andil dalam melakukan tindakan operasi tersebut, dokter Lia ..” balas dokter Prita menjelaskan.


“Hmm ..., baiklah,” ucap Vitalia pasrah mendengarkan pernyataan dari dokter Prita. Karena biar bagaimanapun Ia tetap harus menjaga kondisi tubuhnya agar tetap vit. Mengingat jika Dirinya juga sedang hamil. Bahkan Ia sama sekali tak menyangka dengan sikap sang Suami yang ternyata sangat perhatian padanya, dengan menitipkannya pada dokter Prita.


****


Saat Vitalia kembali ke ruang perawatannya bersama dokter Prita dan dokter Bella, ada seorang perawat yang datang dengan terburu-buru mencari dokter Bella.


Ceklek ...


Seketika saja seluruh mata tertuju ke arah pintu. Dilihatnya ternyata salah seorang Perawat yang datang.


Tanpa mengulur waktu Perawat tersebut pun akhirnya membuka suaranya dengan berkata, “Dokter Bella, Anda ditunggu oleh dokter yang lain di ruang operasi sekarang juga, dok, karena pasien mengalami kritis!” ucap Perawat tersebut menyampaikan kabar.

__ADS_1


Duaaarrr ...


Bagai petir menyambar di siang hari, Vitalia membelalakkan matanya terkejut mendengar penuturan dari salah satu Perawat yang datang ke kamarnya.


“Mas Chandra? La ..., Mas Chandra La .., hiks .. hiks .., tolong Dia .., hiks .. hiks ..” ucap Vitalia sambil menangis sesenggukan.


“Iya Lia tenangkan Dirimu, Aku akan segera ke sana sekarang juga, okey ..” balas Bella dengan tersenyum manis berusaha menenangkan Vitalia, sambil memeluknya. Vitalia pun membalas pelukan tersebut dengan menggelengkan kepalanya pelan lalu berkata, “Tidak La, Aku harus ke sana!” serunya membantah perkataan dari Sahabatnya.


“Tidak Lia, Kau tidak boleh ke sana!” ucap Bella menolak pernyataan dari Vitalia. Dengan cepat Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Vitalia tanpa menghiraukan Vitalia yang sedang menangis sesenggukan.


“Ayo Sus ..., Kita ke sana sekarang juga!” ajak dokter Bella pada Perawat tersebut.


“Dok ..., Aku pergi dulu ..” sambung Bella berpamitan.


“Iya dok ..” balas dokter Prita.


Tanpa mengulur waktu Bella pun segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Vitalia menuju ke ruang operasi.


Sedangkan Vitalia yang tadinya menangis sesenggukan, sekarang hanya diam dengan meneteskan air matanya. “Maafkan Aku, Mas, hiks ... hiks .., ini semua salahku ..” ucap Vitalia pelan dengan penuh penyesalan, masih terdengar di telinga dokter Prita.


Dokter Prita yang merasa iba melihat Vitalia seperti itu pun lalu membuka suaranya dengan berkata, “Dokter Vitalia, apa dokter ingin ke sana? Jika dokter ingin ke sana, akan Saya antar dengan menggunakan kursi roda,” ucapnya bermaksud menawarkan diri.


Seketika saja membuat Vitalia menoleh ke arah  dokter Prita, lalu berkata, “Dokter Prita, serius?” tanya Vitalia memastikan.


“Serius, sudah mari, dok ..” balas dokter Prita. Ia lalu segera memapah Vitalia untuk duduk di atas kursi roda. dok ..., karena tadi ‘kan Saya sudah berjanji dengan Anda, jika Anda boleh ke sana tapi tidak untuk mengikuti tindakan operasi,” jawab dokter Prita tersenyum ramah ke arah Vitalia.


“Terima kasih, dok ..., kalau begitu, cepat antarkan Aku ke sana, dok .., karena sejujurnya aku tak tenang jika harus berdiam diri seperti ini ..” balas Vitalia dengan tersenyum senang karena mendapatkan ijin dari dokter Prita untuk melihat kondisi sang Suami.


“Ya dok sama-sama, mari Saya antar ..” balas dokter Prita ramah. Ia pun segera membantu memapah Vitalia untuk duduk di atas kursi roda.


*****


Hey Guys ... gimana? makin seru 'kan ceritanya??


Jangan lupa tinggalkan jejak Vote, Like, dan Komen Ya ...


Terima Kasih🥰🥰🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2