Dokter Misterius VS Mafia Kejam

Dokter Misterius VS Mafia Kejam
Episode 163


__ADS_3

Kram Perut


Sementara mama Renita yang baru saja keluar dari hotel bersama dengan Sherlyn, celingak-celinguk seperti orang kebingungan.


"Ma, memangnya kita mau kemana sih ma? Mama tau kan ini hari sudah mulai tengah malam? Apa mama nggak mikir jika nanti terjadi apa-apa sama aku dan mama gimana?" celoteh Sherlyn mengungkapkan kekesalannya terhadap sang mama.


"Jangan berisik! Mama pusing tau nggak!" balas mama Renita membentak Sherlyn sambil memegangi pelipisnya yang terasa pusing.


Namun siapa sangka, obrolan dari mereka justru terdengar di telinga sepasang suami istri yang sedang duduk di taman hotel. Seketika saja mereka mengarahkan pandangan menatap ke arah mama Renita dan Sherlyn yang seperti sedang menunggu taxi.


"Bee, bukan kah itu mama sama Sherlyn?" tanya Vitalia pada sang Suami memastikan kebenaran, apa yang telah ia lihat.


"Iya Honey, kau benar. Mereka mau pergi kemana?" sahut Chandra dengan berbalik tanya pada sang istri. Bukannya menjawab pertanyaan dari suaminya, Vitalia justru dengan berdiri dari tempat duduknya, kemudian berlari kecil menghampiri mereka dengan langkahnya tertatih-tatih.


Chandra lalu memanggilnya, "Honey, kau mau kemana?" tanya Chandra dengan berteriak.


Saat mama Renita akan masuk ke dalam taxi, Vitalia pun berteriak. "Tunggu!"


Sontak saja mama Renita dan Sherlyn yang hendak masuk ke dalam mobil menghentikan langkahnya melihat Vitalia yang berlari kecil ke arah mereka dengan langkah tertatih-tatih memegangi perutnya yang agak sedikit kram.


"Nak, kau kenapa?" tanya mama Renita dengan berjalan menghampiri Vitalia. Sementara Chandra yang ada di belakang sang istri pun menimpalinya dengan berkata, "Honey, kau tidak apa kan?" tanya Chandra pada sang istri.


Sayangnya pertanyaan dari Chandra justru tak digubris oleh Vitalia yang justru malah mengarahkan pandangan tetap menatap mama Renita.


Vitalia pun menggelengkan kepalanya pelan lalu berkata, "Jangan mengalihkan pembicaraan, ma!Tolong jawab pertanyaanku! Mama mau kemana?" ucapnya berbalik tanya pada sang mama dengan tatapan dingin.


"Bukannya mama mau mengalihkan pembicaraan, Nak! Tapi kondisimu..." belum sampai mama Renita menyelesaikan jawabannya, Vitalia memotongnya.


"Jangan hiraukan kondisiku, ma! Kenapa mama mau pergi?" tanya Vitalia dengan nada meninggi.


"Mama mau pergi saja! Hiks... hiks .., habisnya tak ada yang mau mendengar kan ucapan mama!" lantang mama Renita dengan menangis sesenggukan.


"Tapi ma, bagaimana dengan Vitalia jika mama pergi?" sergah Vitalia melarang mama Renita untuk pergi.


"Ma, kita bisa bicarakan baik-baik, ma! Kumohon.." sambung Vitalia lagi seraya memohon kepada mama Renita dengan menggenggam erat tangannya.


Vitalia yang sudah tak kuat menahan rasa sakitnya, ia pun merintih kesakitan.


"Awwsshh..."


Chandra pun dengan sigap menangkap tubuh Vitalia yang hampir terhuyung ke belakang.


"Honey!"


"Sayang!"


"Kakak!" teriak Chandra, mama Renita dan Sherlyn secara bersamaan terlihat panik.


"Kau tidak apa kan Sayang? Hiks.. hiks... maafkan mama!"


"Vitalia tidak akan kenapa-kenapa, jika mama tetap bersama Vitalia, ma! Meskipun kita tak sedarah, tapi Vitalia sudah menganggap mama seperti mama Vitalia sendiri. Jadi kumohon mama jangan pergi dari sini, kebetulan Vitalia sudah pesankan tempat untuk kalian menginap .." ujar Vitalia sambil menutupi rasa sakitnya dengan meneteskan air matanya.


Sementara Chandra yang melihat gelagat sang istri yang mulai tak seperti biasa pun lalu membuka suaranya dengan berkata, "Honey, sebaiknya kita ke RS sekarang, kau terlihat begitu pucat,"

__ADS_1


"Tapi Bee, ini Sudan hampir tengah malam, aku tidak apa-apa kok..." jawab Vitalia dengan nada melemah.


"Tidak sayang, benar apa kata suamimu.., jangan menolak!" sahut mama Renita yang kini terlihat panik.


"Chandra, cepat bawa istrimu ke RS! mama ikut!" titah mama Renita pada Chandra.


"Ya sudah. Ayo..." Tanpa menunggu lama, Chandra pun lalu membopong sang istri untuk dimasukkan ke dalam mobil, dengan di ikuti mama Renita dan Sherlyn.


Saat baru selangkah Chandra melangkahkan kakinya membopong sang istri. Vitalia membuka suaranya dengan berkata, "Bee, tapi aku.." belum sampai Vitalia menyelesaikan ucapannya, Chandra pun menyahutnya, "Honey, mengertilah! Kondisimu seperti ini. Apa kau tak memikirkan anak kita?" ucap Chandra berusaha menasehati sang istri yang saat ini berada di dalam bopongannya.


Seketika itu pula Vitalia terdiam tak bisa berkata apa-apa selain pasrah menuruti perintah dari sang Suami, karena memang perkataan sang suami benar adanya.


...****************...


Sementara di tempat lain, dokter Gabby tampak sedang melakukan meeting dadakan dengan para dokter di RS.Cahaya untuk membicarakan kepengurusan baru.


"Bagaimana dok, apakah dokter setuju jika dokter Thalia kita jadikan direktur utama di RS ini? Hanya dokter Thalia lah kandidat terkuat untuk menggantikan posisi pak Andika!"


Bukannya menjawab pertanyaan dari rekan sejawatnya, dokter Gabby malah bertanya kepada sang suami dan putrinya yang menemaninya meeting.


"Ayah, Sa.., bagaimana? Apa Ayah sama Risa setuju?" tanya dokter Gabby pada sang suami Dan putrinya untuk meminta persetujuan.


"Risa sih setuju saja, Mom! Dia itu jenius loh..." sahut Risa menyetujui.


"Bagaimana Yah?" ucap dokter Gabby berbalik tanya pada sang suami.


"Setuju, karena Ayah sangat yakin jika dokter Thalia adalah putri tiriku yang lama menghilang. Meskipun kalian belum melakukan tes DNA, tapi Ayah sudah mencari tau, jika ternyata selama ini kita telah dibohongi oleh dokter Thalia yang sedang menyamar sebagai Amelia, karena waktu itu dokter Thalia mengalami hilang ingatan..." jelas tuan Long Ai menjelaskan.


Alangkah terkejutnya dokter Gabby, Risa dan para dokter yang sedang mengikuti meeting di ruangan tersebut.


Bahkan seketika itu pula, para dokter yang mengikuti meeting menjadi gaduh dan saling pandang.


Dokter Gabby yang merasa tak enak pun lalu membuka suaranya dengan berkata, "Mohon maaf rekan-rekan, kami butuh waktu untuk berdiskusi lagi...


"Baik dok..." jawab salah seorang dokter yang merupakan mantan direktur utama RS tersebut.


"Ayah, sebentar, darimana Ayah tau semua itu?" tanya Risa pada sang ayah dengan suara lirih.


Dengan cepat tuan Long Ai menjawabnya dengan berkata, "Ayah tau dari salah satu teman Ayah, tapi dia tak mengetahui detailnya seperti apa,"


"Astagaa..., jadi selama ini yang menolong kita ..." belum sampai Risa menyelesaikan ucapannya Risa menyambungnya lagi dengan bergantian menatap sang mommy.


"Sudah ku duga Mom, dia adalah Vitalia saingan Risa di sekolah! Risa akui kami saling bermusuhan, tapi tidak dengan sekarang. Vitalia itu berwatak keras Mom! Semua orang yang di kelas takut dengannya" celoteh Risa panjang lebar dan bersemangat.


Bahkan ucapan dari Risa terdengar menggema di dalam ruangan tersebut, sampai membuat para dokter yang mendengarnya pun penasaran.


Di saat itu juga ada seorang dokter yang memotong pembicaraan diantara mereka.


"Dokter Gabby, bagaimana? Apakah kita bisa lanjutkan meetingnya?"


"Sebentar dok, beri kita waktu lagi untuk berdiskusi terlebih dahulu, dan kalian boleh untuk beristirahat sejenak sembari menunggu keputusan kami" jawab dokter Gabby menjawab pertanyaan dari salah satu seorang dokter yang mengikuti meeting. Ia bernama dokter Tina.


"Baiklah, dengan senang hati kami akan menunggunya," jawab dokter Tina.

__ADS_1


Dokter Gabby pun lalu kembali berdiskusi dengan suami dan putrinya. Namun saat dokter Gabby akan angkat bicara untuk berdiskusi dengan sang suami, tuan Long Ai justru memotongnya.


"Mommy ingat tidak kita dulu di sekap oleh Aditya gegara kita ingin merebut perusahaan Wijaya group dengan menjadikan Risa sebagai umpan, lalu Chandra datang bersama dengan Amelia?"


"Ingat Yah..." jawab dokter Gabby yang tak kalah lirih. Mengingat mereka sedang berada di ruang meeting.


"Jika mama mengingatnya, itu bukan Amelia tapi dokter Thalia.." jelas tuan Long Ai kepada sang istri.


Betapa terkejutnya dokter Gabby ketika mendengarkan penjelasan sang suami. "Ya Tuhan, jadi selama ini.." belum sampai dokter Gabby Herawati menyelesaikan ucapan lirihnya, ada seorang suster yang berteriak dari arah pintu.


Ceklek...


"Dokter Tina!" teriaknya.


"Eh emmh, mohon maaf jika saya mengganggu meetingnya! Hosshh... hosshh ... hossh.." ucap perawat itu lagi dengan terengah-engah berada di balik pintu.


"Dokter Tina, cepat ke ruang IGD dokter Thalia membutuhkan bantuanmu!" lantang suster tersebut memberitahu.


Seketika saja semua orang yang sedang melakukan meeting dibuat terperangah mendengarnya. "Apaa?"


"Dokter Thalia kenapa Sus?" tanya dokter Tina pada suster tersebut cemas.


"Dia emmh, dia kram perut, saya takut jika berimbas pada kehamilannya..." jawab perawat tersebut menjelaskan.


"Baiklah, aku akan segera ke sana..." ujar dokter Tina yang merupakan dokter spesialis kandungan di RS tersebut.


"Astaga, Thalia!" seru dokter Gabby dengan nada keterkejutannya.


"Tunggu dok! Aku ikut!" sahut dokter Gabby menghentikan langkah dokter Tina.


"Baik, dok. Mari silahkan..." balas dokter Tina menghentikan langkahnya dengan mempersilahkan dokter Gabby untuk ikut. Dengan cepat dokter Gabby pun menarik suaminya yang sedang duduk di kursi.


"Ayah, cepat kita ke sana!" serunya sambil menarik baju tuan Long Ai.


Sementara Risa pun segera menutupnya meetingnya. "Mohon maaf rekan-rekan dokter, meeting di tunda, dan kami memutuskan untuk menunda pemilihan direktur utama RS ini, sebelum dokter Thalia menyetujui keputusan kita untuk menjadikannya direktur di RS ini .." ujar Risa menutup meeting.


"Baik, Nona..." sahut seluruh dokter yang menghadiri meeting tersebut. Mereka pun lalu membubarkan diri masing-masing. Bahkan diantara mereka ada yang membicarakan masalah yang terjadi pada pemilik RS.Cahaya. Namun Risa gak menggubrisnya ia memilih menyusul mommy dan ayahnya ke ruang IGD.


Sementara di luar ruang meeting tampak Maya bersembunyi di balik pintu. Bahkan ketika mereka semua keluar ruang meeting tak ada yang mengetahuinya.


"Huh... selamat.. selamat, untung saja nggak ketahuan. Yang membuatku penasaran mereka tadi diskusi apa ya? Percuma dong aku nguping tapi nggak kedengaran sama sekali.." gerutu Maya.


"Ahhh, astaga Vitalia! Aku baru mengingatnya..." sambungnya lagi dengan menepuk jidatnya baru mengingat ucapan suster tadi. Ia pun segera berlari kecil menuju ke IGD.


***


^^^Dokter Gabby POV :^^^


...Setelah mendengarkan penjelasan dari suamiku, aku begitu yakin, jika dokter Thalia adalah putriku yang selama ini menghilang sewaktu masih bayi....


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2