Dokter Misterius VS Mafia Kejam

Dokter Misterius VS Mafia Kejam
Episode 201


__ADS_3

Ratih Permata Wijaya


Sementara Amelia bersama dengan Arnold, Mirna, dan Risa tak kunjung menemukan Chandra, begitu pula dengan Tuan Hirata dan Tuan Long Ai yang terjun langsung ke sungai bersama dengan para tim SAR.


“Bagaimana, sudah ada tanda-tanda belum?” tanya Tuan Hirata pada salah seorang tim penyelamat yang menepikan perahu karet yang mereka tumpangi.


“Belum, Tuan. Apalagi hari sudah mulai malam, sebaiknya kita hentikan pencariannya, dan kita mulai lanjutkan pencariannya besok,” ujar salah seorang tim penyelamat tersebut.


“Tapi Pak, apakah tidak bisa kita teruskan sekarang saja? Kasian putri saya yang ada di rumah, sudah menunggu kedatangan suaminya,” ucap Tuan Hirata kekeh dengan pendiriannya yang masih saja ngotot ingin melanjutkan pencarian.


“Tapi Tuan, saya selaku ketua dari tim SAR memutuskan untuk menunda sampai besok pagi pencariannya, mengingat sekarang hari sudah mulai malam dan tampaknya akan turun hujan, takutnya debit air juga semakin meningkat,”


“Hirata, lebih baik menurutlah! Kita teruskan lagi pencariannya besok,” ujar Tuan Long Ai menasehati Tuan Hirata.


“Hmmm, baiklah, tapi bagaimana caraku untuk menjelaskan kepada Vitalia putri kita, Long Ai?” tanya Tuan Hirata pada Tuan Loang Ai.


“Daddy tenang saja, kakak pasti akan mengerti,” ucap Amelia yang tiba-tiba datang menimpali pembicaraan. Mendengar apa kata Tuan Long Ai dan putrinya, Tuan Hirata pun bergegas naik ke tepi, dan mengakhiri pencarian bersama seluruh tim SAR.


Meskipun para tim gabungan dari pihak kepolisian dan tim penyelamat mengakhiri pencarian, tapi Arnold bertekad untuk terus meneruskan pencarian bersama anggota geng kalajengking dan geng tengkorak sampai Chandra diketemukan.


Saat Amelia dan yang lain akan pulang, mereka semua melihat ke arah Arnold yang sedang bersama pihak kepolisian begitu gigihnya menyelidiki penyebab terjadinya kecelakaan, dan mencari tau keberadaan Chandra yang diketahui hilang dan jatuh ke sungai dengan menggunakan peta aliran sungai.


“Mel, lihatlah! Apakah kau sama sekali tidak tertarik dengan Arnold?" tanya Tuan Hirata pada Amelia sambil menunjuk ke arah Arnold yang sedang sibuk dengan salah seorang anggota kepolisian.


“Dad, sudahlah jangan membahas itu lagi!” jawab Amelia malas.


“Ar ..” panggil Amelia pada Arnold dari arah yang lumayan jauh sambil berjalan menghampiri Arnold yang sedang berbicara dengan salah seorang petugas kepolisian.


Seketika saja Arnold menoleh ke arah Amelia dan menjawabnya,


“Ada apa?” tanyanya pada Amelia.


“Lebih baik kita pulang, terima kasih sudah membantu kami, lagi pula hari sudah malam, takut nanti kau kecapekan," ucap Amelia yang tanpa ia sadari sedang mengkhawatirkan seorang Arnold.

__ADS_1


“Aku tidak akan pulang sebelum Chandra diketemukan, Mel. Apalagi aku sudah berjanji pada Nenekmu untuk menjaga keluargamu dengan baik,” ucap Arnold dingin. Apalagi setelah ia mendengar kabar, jika Nenek Elisabeth terkena tembakan misterius, ia justru bertambah semakin dingin.


“Lebih baik kalian pulang saja, aku akan tetap di sini untuk mencari Chandra! Lagi pula semua orang yang ada di rumah sedang membutuhkan kalian semua,” ujar Arnold pada seluruh anggota keluarga yang ikut dalam pencarian.


“Apa maksudmu, Ar?” sahut Mirna bertanya kepada Arnold dengan mengerutkan keningnya bingung.


“Kau akan tau yang sebenarnya, tapi setelah kalian pulang ke rumah, aku tak mau jika memberitahu kepada kalian di sini, pasti kalian akan ..” Belum sampai Arnold menyelesaikan ucapannya, Amelia memotongnya.


“Cukup, Ar! Katakan saja yang sebenarnya, jangan berbelit-belit!” seru Amelia tak terima dengan apa yang diungkapkan oleh Arnold.


“Baiklah kalau itu maumu, pak polisi. Sekarang, tolong katakan kepadanya apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Nenek Elisabeth,” ucap Arnold yang justru malah melemparkan jawabannya kepada pihak kepolisian.


“Siap, Tuan!” jawab salah seorang pihak kepolisian.


“Saya selaku kepala kepolisian kota S, telah menerima kabar dari anggota lainnya bahwa, Nyonya Elisabeth terkena tembakan misterius,”


Sontak saja Amelia, Mirna, Risa, serta Tuan Hirata, dan Tuan Long Ai membelalakkan matanya terkejut mendengarnya.


“Apa?!” ucap mereka semua secara bersamaan dengan nada keterkejutannya.


“Apa? Tidak ini tidak boleh dibiarkan terjadi!” seru Amelia lalu pergi dengan begitu saja meninggalkan semua orang yang sedang berada di situ.


Melihat Amelia pergi, semua oun berteriak memanggilnya.


“Amelia!” teriak seluruh anggota keluarga meneriaki Amelia. Namun, bukannya berhenti Amelia justru terus melangkahkan kakinya pergi.


“Nak Arnold, bagaimana ini, Nak? Dia pasti akan main kebut-kebutan setelah tau berita ini,” tanya Tuan Hirata pada Arnold dengan penuh rasa cemas.


“Daddy tenang saja, aku akan mengejarnya,” balas Arnold, lalu pergi untuk menyusul Amelia yang pergi entah kemana.


...****************...


Di lain tempat tampak Hans tampak tertawa terbahak-bahak setelah mengetahui Nenek Elisabeth terkena tembakan misterius.

__ADS_1


“Hahaha, rasakan akibatnya! Belum juga bertindak, sudah ada musuh lagi yang bertindak, hahaha ..” ucapnya dengan diikuti gelak tawanya.


“Sekarang waktunya aku menampakkan diri dihadapan Vitalia untuk berpura-pura menjadi seorang pahlawan,” ujarnya sambil tersenyum penuh arti setelah melihat berita yang tersiar di berita televisi.


“Mungkin kalian kira aku sedang bergerak sendiri, tapi tanpa kalian sadari aku sedang bergerak dengan seorang ketua geng Serigala,” ucap Hans dengan penuh percaya diri.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang datang, dan menyahutnya, “Tutup mulutmu, Hans! Kau sudah sungguh keterlaluan, beraninya kau bersenang-senang atas penderitaan yang di alami Wanitaku!” seru orang tersebut dengan nada tak suka.


“Kau?!" ucap Hans terkejut melihat kedatangan Erick. 'Ya, orang tersebut adalah Erick.'


“Hmm, ya. Ini Aku, kenapa? Apa kau terkejut melihatku di sini? Mungkin rencana kita untuk membunuh Chandra sudah berhasil, tapi tidak akan pernah ku biarkan keluarga wanitaku menderita sedikit pun, itu! Bukankah aku berbicara sesuai perjanjian kita? Apa jangan-jangan kau melupakannya?” jawab Erick dengan melontarkan berbagai pertanyaan kepada Hans.


“Aku tidak pernah melupakan perjanjian itu, Erick!” tegas Hans dengan muka datarnya.


“Heh, jika kau tak melupakan perjanjian itu, lantas kenapa kau menyebut nama ketua geng Serigala?" jawab Erick lagi-lagi melontarkan sebuah pertanyaan.


"Oh ya, untuk kalian anak buahku, lebih baik kita semua pergi dari ini, karena setelah ini aku akan bertemu dengan seseorang yang sangatlah spesial bagiku,” sambung Erick sengaja memanas-manasi Hans.


“Kau!” ucap Hans sambil mengepalkan tangannya geram dan mengeraskan rahangnya setelah mendengar pernyataan dari Erick.


“Kau apa, haa ..? Kau pikir dengan rencanamu selanjutnya untuk bertemu dengan Vitalia akan berhasil? Tidak, Hans! Aku berani menjamin jika kau tak akan pernah diterima lagi oleh wanitaku, mengerti!” ucap Erick dengan penuh percaya diri.


“Brengsek kau, Erick!” umpat Hans. Sayangnya umpatan Hans tak digubris oleh Erick yang berjalan meninggalkan tempat yang digunakan untuk besembunyi, dengan diikuti para anak buahnya.


...****************...


Sementara di tempat lain tampak seorang pemuda tampan yang sedang terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur. ‘Ya, siapa lagi kalau bukan Chandra Zhu, yang Ratih pikir adalah suaminya yang sudah sekian lama menghilang.’


“Mas, kenapa kau tak bangun-bangun sih? Aku rindu Mas. Oh ya, Nenek pasti senang ketika melihat kau sudah kembali, tapi tolong sadarlah, Mas!” pinta Ratih sambil mengecup tangan Chandra yang ia pikir adalah suaminya yang bernama Revan.


Ratih Permata Wijaya, dia adalah seorang wanita cantik nan lugu, yang ditinggal suaminya pergi bertahun-tahun lamanya. Bahkan ia sudah mempunyai seorang anak berusia dua tahun yang bernama Dama. Ia juga tinggal bersama seorang Nenek yang bernama Nenek Daren yang diketahui sebagai mantan Mafia berdarah dingin yang menguasai kota S. Bahkan Ratih juga tak menyangka punya seorang Nenek yang begitu tangguh dan kuat.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2