
Kedekatan Vitalia dan Mama Renita
“Setelah lama kau tak mengetahui akhirnya kau mengetahui juga jika kau adalah putri dari Daddymu, Nak! Mama sangat terharu melihatnya, dan tanpa kalian sadari aku begitu iri melihat kalian seperti itu ..” batin Mama Renita menatap sendu Vitalia yang sedang berpelukan dengan keluarganya.
Sementara Vitalia yang sedang asyik berpelukan pun kemudian melepas pelukan tersebut dan beralih mengarahkan pandangannya menatap seseorang yang berada dari kejauhan sedang mematung di tempat, menatapnya.
“Mama Renita ..” ujar Vitalia pelan sambil menghapus air matanya, namun ucapannya masih terdengar dengan yang lainnya. Betapa terkejutnya semua orang yang mendengar Vitalia menyebut nama ‘Mama Renita’ seketika saja semua orang menoleh ke arah seseorang yang disebut oleh Vitalia. Sedangkan Vitalia berlari kecil menghampiri Mama Renita, tanpa menghiraukan yang lainnya.
Greeeppp ...
Vitalia memeluk Mama Renita dengan tangis yang pecah seketika.
“Hiks ... hiks .. Mama maafkan Vitalia, Ma ..hiks ... hiks ...” ucapnya dengan menangis sesenggukan memeluk Mama Renita. Sedangkan Mama Renita hanya diam mematung di tempat sambil menangis tanpa mengeluarkan suara karena mendengar peryataan dari Vitalia yang malah meminta maaf kepadanya.
Dengan perlahan Mama Renita kemudian membalas pelukan Vitalia yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri sambil berkata, “Ini semua bukan salahmu, Nak. Kenapa kau malah meminta maaf sama Mama?” tanyanya kepada Vitalia.
“Tidak Ma, ini semua salahku. Maafkan aku jika suami atau adikku sudah menuduh Mama yang bukan-bukan, Hiks .. hiks .. Mama tau tidak ternyata dugaan kalian selama ini benar adanya, aku adalah putri dari keluarga Hirata, Ma ... hiks .. hiks ... Aku tak tau harus senang atau sedih setelah mengetahui kebenaran ini ..” ucap Vitalia mengungkapkan keluh kesahnya yang ada dalam hatinya saat ini berada di pelukan Mama Renita.
“Sudah Nak, jangan menangis lagi!” ucap Mama Renita menenangkan Vitalia. “Maafkan Mama, Nak. Ini semua salah Mama. Mama tidak layak hidup, Mama sangat kejam, Mama adalah dalang di balik penculikan itu. Maafkan Mama ...”batin Mama Renita menangis memeluk Vitalia yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
Sementara semua orang yang melihat adegan dari Vitalia dan Mama Renita pun tersentuh hatinya. Tuan Hirata dan Chan Hirata pun kemudian menghampiri Vitalia dan Mama Renita yang sedang asyik berpelukan. Berbeda dengan Amelia yang diam memikirkan kebenaran tentang penculikan itu.
Begitu pula dengan dokter Gabby yang kini berada di samping sang suami yaitu Tuan Long Ai yang baru saja datang menatap adegan tersebut penuh haru.
“Ayah, bagaimana ini? Lihatlah, Yah! Sepertinya Thalia sangat sayang sekali dengan Renita, aku tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi Thalia ketika mengetahui dalang di balik penculikan itu adalah Renita, Mommy tak mau melihat Thalia bersedih lagi, Yah” ujarnya pada sang suami pelan.
“Hukum akan terus berlanjut, Mom! Bagaimanapun juga Renita telah melakukan tindakan kejahatan. Apalagi dulu kau begitu terpukul sekali saat kehilangan putrimu,” ucap Tuan Long Ai menjawab pertanyaan sang istri sambil menggenggam tangan sang istri.
“Tapi Yah, apa Ayah tak memikirkan perasaan Vitalia?” tanya dokter Gabby pada sang suami. Namun siapa sangka ucapan mereka berdua terdengar di telinga Chandra dan yang lainnya termasuk Tuan Hirata.
Chandra pun menyahutnya dengan berkata, “Benar yang dikatakan Ayah Long Ai, Mom. Sepandai-pandainya kita menyembunyikan rahasia, lambat laun pasti akan ketahuan juga. Namun aku tak dapat membayangkan bagaimana dengan perasaan istriku ketika mengetahui kebenaran di balik penculikan tersebut.”
Sementara Amelia, Mirna dan juga Sherlyn yang mendengar pernyataan dari Chandra pun berkata, “Dasar, mafia bodoh!” ujarnya sambil menepuk jidat mereka masing-masing merutuki kebodohan Chandra. Karena tanpa Chandra sadari jika Vitalia sudah berada di belakangnya.
“Apa maksudmu, Bee? Bukankah sudah ku katakan jangan suka berpikir yang aneh-aneh lagi?”
__ADS_1
Sontak saja Chandra membelalakkan matanya terkejut mendengar suara seseorang yang sangat familier itu. Ia pun kemudian membalikkan badannya, dan benar saja dugaannya ternyata sang Istri sudah ada tepat di belakangnya bersama dengan Mama Renita, Tuan Hirata dan juga Chan Hirata.
“Honey, kau ...” ucap Chandra dengan nada keterkejutannya menatap sang Istri. “Astaga bagaimana ini? Bodoh kau, Chand! Kenapa kau bisa-bisanya sebodoh itu mengatakan semuanya di hadapan istrimu?” ujar Chandra merutuki kebodohannya dalam hati.
“Apa? Kenapa kau terkejut melihatku, Bee?” tanya Vitalia heran menatap sang suami. Kemudian Vitalia pun beralih mengarahkan pandangan menatap dokter Gabby dan Tuan Long Ai, dan dilihatnya mereka mengendikkan bahunya tak tahu.
Sementara Chandra menjawabnya dengan berkata, “Ehh .. emmmh maksudku ..” jawabnya salah tingkah sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Mendengar jawaban dari sang suami yang terlihat salah tingkah, Vitalia berusaha menahan tawanya dengan berkata, “Ck, sudahlah Bee! Daripada kau menahan sakit kek gitu, mending Mas balik saja deh ke ruang perawatan!” tukasnya pada sang suami. Sedangkan Amelia, Mirna, Risa dan Sherlyn bernafas lega karena mereka pikir Vitalia tak mendengar ucapan dari Chandra. “Huh, hampir saja ketahuan ..” gumam mereka pelan secara bersamaan.
Vitalia yang melihat Chandra yang hanya diam tersenyum menatapnya pun menjadi salah tingkah. “Kenapa kau malah senyum-senyum sendiri sih, Bee? Bukankah sudah ku bilang ...” belum sampai ia menyelesaikan ucapannya
Chandra menyahutnya.
“Jadi kau mengusirku, Istriku?” tanya Chandra menatap manik mata Vitalia. Bukannya membalas pertanyaan dari sang suami, Vitalia justru malah mengalihkan pandangan menatap ke arah lain, dengan menarik tangan sang suami untuk duduk di kursi roda.
Sreegghhh ...
“Sudah jangan banyak drama, ayok duduk!” balas Vitalia memerintah sang suami untuk duduk di atas kursi roda.
“Tunggu dulu! Sebenarnya ada apa denganmu, Honey? Kenapa kau berubah menjadi menakutkan begitu sih?” tanya Chandra pada Vitalia.
“Memangnya hanya kau saja yang bisa menakut-nakuti orang?” ujar Vitalia dengan berbalik tanya. Seketika saja semua orang yang berada di situ berusaha menahan tawanya yang hampir saja pecah. Bahkan, suasana yang tadinya tegang kini berubah menjadi cair karena perdebatan diantara sepasang suami-istri tersebut.
“Sudah nggak usah dimanyun-manyunin begitu, mafia kok manja!” celetuk Vitalia sambil berusaha menahan tawanya menggoda sang suami. Sementara Chandra yang tak terima dengan ucapan sang Istri pun kemudian membalasnya, “Apa kau bilang?” tanya Chandra memastikan dengan apa yang ia dengar tadi.
Namun bukannya menjawab Vitalia malah mengalihkan pandangan menatap ke arah lain dengan memerintah salah seorang perawat untuk membawa sang suami ke ruang perawatan. “Sus, tolong bantu suami saya ya, sus!” titahnya pada salah seoranag suster yang kebetulan melintas di tempat parkir.
“Oh, baiklah dok ..” jawab suster tersebut.
“Ayo Sus, temani aku, abaikan Istriku!” Mendengar perintah Chandra pada perawat tersebut, Vitalia membelalakkan matanya lebar-lebar, dan menyahutnya dengan berkata, “Oh, jadi begitu?” tanya Vitalia memastikan. Chandra pun lalu menarik tangan Vitalia agar berjongkok di hadapannya.
Sreegghhh ...
Dengan mendekatkan dirinya ke arah kuping sang istri Chandra berkata, “Lihat saja nanti akan ku balaskan dendamku padamu di atas ranjang!” serunya masih terdengar oleh semua orang yang masih berada di situ.
Seketika itu pula Vitalia terbelalak mendengarnya. Dan
__ADS_1
Ckiitttt ...
Vitalia mencubit perut sang suami yang masih sakit.
“Bee ... !” teriak Vitalia dengan pipi berubah bersemu merah karena malu .
“Aduhh, Honey. Sakit ..” ucap Chandra mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya. Seketika saja Mama Renita dan Mommy Gabby yang melihat pun menyahutnya secara bersamaan, “Sayang, apa yang kau lakukan?” Bukannya menjawab pertanyaan dari keduanya, Vitalia malah berkata, “Rasain tuh, makanya kalau ngomong itu jangan sembarangan dong, Bee!” serunya.
“Thalia nggak boleh begitu dong, Nak! Kasian suamimu ..” ujar Tuan Hirata. “Iya Nak, kasian suamimu ..” ucap Mommy Gabby menimpali.
“Ya habisnya, Mas Chandra nyebelin sih ..” jawab Vitalia sambil memutar bola matanya malas lalu berdiri dari hadapan sang suami yang berada di atas kursi roda.
“Hehehe iya istriku sayang, maaf sudah menggodamu. Ya sudah kalau begitu bawa keluargamu untuk bersenang-senang!” jawab Chandra kemudian mencium tangan milik sang istri.
“Hmm, baiklah. Jaga diri baik-baik, Bee! Karena aku ingin mengajak mereka ke apartemen milikku yang ada di kota ini.” ujar Vitalia meminta ijin kepada sang suami.
“Iya istriku ..” jawab Chandra dengan lembut dan penuh kasih sayang. Vitalia pun lalu memerintah perawat tersebut untuk membawa sang suami kembali ke ruang perawatan. “Emmh Sus, kalau begitu bawa suamiku ke ruang perawatan ya! Nanti jika ada apa-apa bilang sama saya ya, sus ...”
“Baik dok ...”
Vitalia pun kemudian pergi bersama yang seluruh keluarganya, terkecuali Chandra yang masih menatap kepergian istri dan keluarganya. “Ya Tuhan, syukurlah jika Istriku tak mendengar ucapanku tadi. Lebih baik begini saja, daripada harus berkata jujur di hadapan istriku, dia pasti tak akan pernah percaya, dan yang pasti dia akan membenciku nanti” batin Chandra sambil melihat kepergian sang istri dan keluarganya. Setelah tak terlihat Chandra pun baru masuk ke dalam RS dengan di dorong menggunakan kursi roda..
Sementara Vitalia yang sudah bdrada di dalam mobil bersama keluarga kandungnya pun berbicara dalam hati. “Sebenarnya aku sudah mendengar semua ucapanmu, Bee. Tapi maaf, aku tetap tak akan pernah percaya jika Mama Renita telah membuangku seperti yang kalian tuduhkan, apalagi jelas-jelas kalian sudah membawa bukti jika Matsugi dan Arnold lah yang bersalah, bukan Mama!” batinnya dengan pemikirannya.
Bersambung ...
***
...****************...
...----------------...
Nah makin seru kan ceritanya. Tetap simak terus ya ceritanya ... jangan lupa tinggalkan jejak Vote, Like, Komen dan Favorite.
Oh ya, sambil menunggu up terbaru dari Author, yuk mampir ke novel temenku.
__ADS_1
Berikut cuplikannya :