
Ancaman Arnold Pada Amelia
"Apa kau pikir dengan kau menemuiku aku akan berubah pikiran?" tanya Aditya yang tiba-tiba saja datang dengan melontarkan sebuah pertanyaan kepada Amelia.
Seketika saja Amelia dan dokter Erlin menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya ternyata Aditya Bramansta Wijaya yang menyahutnya.
"Kau.." ucap Amelia dengan nada keterkejutannya. Begitu pula dengan Erlin yang berucap, "Mas Aditya.."
"Ya, kenapa? Ini aku!" sahut Aditya dingin.
"Tuan Aditya, emmhh saya..." ucap Amelia kebingungan ingin menjelaskannya.
"Kau tak perlu menjelaskan lagi kepadaku, dokter Amelia. Aku sudah mendengar semuanya.." sahut Aditya lagi menjawab pernyataan Amelia yang terlihat kebingungan.
"Mungkin ceritamu itu tadi benar adanya, tapi aku sudah terlanjur marah dengan Vitalia, semudah itukah dia memaafkan Chandra?" tanyanya heran sambil menggelengkan kepalanya tersenyum miris.
"Tapi Tuan, itu semua salah paham!" ucap Amelia menjawab pertanyaan dari Aditya.
Lagi-lagi Aditya yang tak mau kalah dengan begitu saja pun menyahutnya lagi dengan berkata, "Ya kau mungkin benar, dia salah paham, dokter Amelia. Apa kau tak pernah berpikir jika kakakmu itu menikah dengan Chandra dengan cara paksa?"
"Ya, aku tau Tuan, memang sebelumnya Vitalia tak setuju menikah dengan Chandra karena perilakunya. Tapi seiring berjalannya waktu Vitalia memaafkan Chandra dan mau menerima Chandra, Tuan." ujar Amelia menjelaskan.
Dengan tersenyum kecut Aditya membalasnya, "Heh, sangat disayangkan. Biarkan waktu yang menjawab semuanya., kau tak perlu repot-repit menemuiku, karena sesungguhnya aku juga memikirkan adikku.."
"Mulai detik ini, kau jangan memanggilku dengan sebutan Tuan, tapi panggil saya dengan sebutan kakak seperti saudari kembarmu menyebutku dengan sebutan kakak! Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri.." sambungnya meminta Amelia agar menyebut Aditya dengan sebutan kakak.
Seketika itu pula Amelia membelalakkan matanya terkejut. Ia benar-benar tak menyangka jika Aditya akan berkata seperti itu di depannya. "Apa? Tapi kenapa kau berubah baik secepat itu?" tanya Amelia heran.
"Kau tanya kenapa aku berubah baik? Aku sebenarnya tak pantas mengusir Vitalia dari mansion. Tapi apa boleh buat, dia tak mau menuruti perintahku," jawab Aditya menjelaskan.
"Ku harap kau memintaku untuk memanggilmu kakak, bukan ada niatan jahat..." ucap Amelia menatap Aditya dengan tatapan mengintrogasi. Sementara Erlin hanya diam menyimak perdebatan antara mereka berdua.
"Sudah cukup! Jangan berpikir buruk tentang diriku, Amelia! Menurutlah, kakak mungkin tidak merestui hubungan Vitalia dan Chandra, akan tetapi kakak masih sayang, dan peduli sama kakakmu yang super keras kepala itu!" tegas Aditya yang mulai tersulut emosi tapi menyebut dirinya sebagai seorang kakak dari Amelia.
Mendengar pernyataan dari Aditya, tiba-tiba saja Amelia meneteskan air matanya, karena terharu mendengarnya.
"Tapi kenapa kau menganggapku sebagai seorang adik, kak?" tanya Amelia yang memberanikan dirinya untuk memanggil Aditya dengan sebutan kakak. Apalagi ia ingat pesan dari kembarannya yaitu Vitalia, jika dirinya harus memanggil Aditya dengan sebutan kakak.
"Amelia, dengarkan kakak! Kau tau kan kau itu adik dari adikku, sekaligus kembaran dari adikku?" tanya Aditya pada Amelia memastikan.
__ADS_1
"Aku tau kak.." jawab Amelia dengan meneteskan air matanya sambil menunduk.
"Jika kau tau kenapa kau masih bertanya? Kau itu sudah ku anggap adikku sendiri, Amelia. Meskipun kau bukan adik kandungku, tapi kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri!" ujar Aditya dengan penuh penegasan.
Greeppp...
Seketika itu pula Amelia memeluk Aditya dengan menangis sesenggukan.
"Hiks.. hiks.. maafkan aku, kak! Amel melakukan semua ini karena banyak teman sejawat yang bergosip tentang Vitalia dan Kakak.." ucap Amelia sambil menangis terisak dipelukan Aditya.
"Katakan padaku, siapa yang sudah bergosip di RS ini?" tanya Aditya sambil membalas pelukan Amelia.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Aditya, Amelia pun melepas pelukannya kemudian berkata, "Tidak kak, kau tak perlu tau. Lagi pula kakak sudah menyatakan sayangnya sama kembaranku, dan itu sudah membuatku sedikit lega, dan senang."
"Baiklah kalau kau tak mau mengatakan kepadaku, maka aku akan mengadakan meeting dadakan bersama istriku..." ujar Aditya.
"Hmm, benar Mas. Kita harus melakukan meeting secepatnya untuk membenarkan permasalahanmu dengan Vitalia." ucap dokter Erlin menimpali.
"Ya sudah, lebih baik kembalilah bekerja, Mel! Kau tak perlu memikirkanku dan Vitalia."
"Tapi kak, apakah kakak tak mau menemui kak Vitalia sebentar saja? Dia punya anak kembar loh?
"Iya, Mel. Kakak tau dari berita. Dan kakak turut bahagia mendengar berita itu, tapi sayangnya kakak kecewa dengan keputusan Vitalia yang telah memaafkan perbuatan Chandra yang sangat biadab itu!"
"Hmm, meskipun itu sangat mustahil! Akan tetapi, Kakak harap kau tidak menceritakan semua pada kembaranmu.." balas Aditya.
"Ok, tapi kakak harus berjanji jika kakak akan menemui Vitalia secepatnya!" ucap Amelia dengan menjulurkan jari kelingkingnya tepat di depan Aditya.
Aditya kemudian menjawabnya dengan berkata, "Hmmm baiklah..., akan aku atur waktu terlebih dahulu" sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Amelia. Seketika itu pula Amelia dan Erlin pun tersenyum senang karena Aditya sudah mau berjanji.
"Kalau begitu aku dan istriku pergi dulu.." ucap Aditya lagi berpamktan pada Amelia.
"Baik kak thanks, sudah mendengarkanku berbicara.." ucap Amelia. Aditya dan Erlin pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan terima kasih dari Amelia.
Namun saat mereka sudah membubarkan diri masing-masing. Tiba-tiba saja Amelia mendapatkan sebuah telepon dari seseorang.
Dreett... dreett...
"Halo..." ujar Amelia membuka obrolan melalui telepon.
__ADS_1
"Dokter Amelia, bagaimana kabarmu? Apa kau sudah siap dengan kejutan dariku?" tanya seseorang yang berada di seberang sana.
Amelia yang begitu familier dengan suara tersebut pun tersentak kaget.
"Apa? Kau... kau siapa, kau?" tanya Amelia panik. Seketika saja Erlin dan Aditya yang hendak masuk ke dalam ruangannya pun menghentikan langkahnya sejenak karena mendengar percakapan Amelia melalui telepon yang terlihat panik.
"Mel, ada apa?" tanya Aditya dan Erlin secara bersamaan. Bukannya menjawab Amelia malah bertanya pada si penelpon.
"Dokter Amelia, dokter Amelia. Apa kau lupa siapa aku?" orang yang berada di seberang sana berbalik tanya.
Deg...
Jantung Amelia seakan berhenti berdetak, ia seakan tak percaya dengan siapa yang ia dengat barusan.
"Ar.. Arnold.." ucap Amelia dengan nada bergetar ketakutan. Sementara Aditya dan dokter Erlin segera menghampiri Amelia yang tampak begitu ketakutan.
"Kau benar mantan kekasihku yang paling cantik!" jawab seseorang yang berada di seberang sana yang ternyata Arnold-lah yang menghubunginya
"Ad ... ada apa kau menghubungiku? Kau... kau, jangan coba-coba untuk mengancam dan menggangguku lagi!" balas Amelia terlihat begitu panik.
Dengan tertawa terbahak-bahak, Arnold yang berada di seberang sana membalasnya. "Hahahaha..., kenapa kau begitu ketakutan Ameliaku Sayang? Kau pikir aku akan mencelakaimu? Tidak, Amelia. Aku hanya ingin merebut tubuhmu untuk ku jadikan barang taruhan. Mungkin kembaranmu dulu menang dan bisa lolos dariku, tapi kali ini tidak akan ku biarkan kau menang seperti kakakmu!" tegas Arnold yang berada di seberang sana, masih terdengar oleh Aditya dan dokter Erlin yang kini berada di sebelah Amelia.
"Apa?" ucap Amelia dengan nada keterkejutannya. Begitu pula Aditya dan Erlin hanya saling pandang.
Dengan tersenyum penuh kemenanagan, Arnold yang berada di seberang sana menyahutnya lagi dengan bertanya, "Kau pasti terkejut, kenapa aku bisa mengetahui tentang kembalinya kembaranmu?"
"Aku tak perduli kau tau atau tidak, Arnold! Sekarang katakan kepadaku, apa maumu?" sahut Amelia berbalik tanya.
"Aku mau dirimu!" tegas Arnold dengan penuh penekanan. Tanpa menjawab pertanyaan dari Arnold, Amelia pun menggelengkan kepalanya ketakutan, kemudian mematikan ponselnya sebelah pihak.
Tut...
***
Amelia POV :
Di saat situasi sudah mulai aman, kenapa dia harus datang lagi untuk menggangguku? Aku tidak akan membiarkannya dengan begitu bebasnya mengusik keluargaku! Arnold, sebenarnya apa maumu? Belum puaskah kau menyakiti hatiku?
Bersambung....
__ADS_1
...****************...
...----------------...