Dokter Misterius VS Mafia Kejam

Dokter Misterius VS Mafia Kejam
Episode 193


__ADS_3

Kembalinya Hans dan Arnold.


Setelah mematikan telepon tersebut, Amelia hanya diam dengan bergetar ketakutan. Ia benar-benar takut jika Arnold berbuat ulah lagi seperti dulu.


"Amelia, kenapa kau begitu ketakutan?" tanya Aditya pada Amelia. Bukannya menjawab, Amelia malah pergi dengan berlari meninggalkan Aditya dan Erlin dengan begitu saja.


"Mas, kenapa Amelia begitu ketakutan?" tanya Erlin pada Aditya bingung menatap kepergian Amelia.


Aditya pun menjawabnya dengan berkata, "Entahlah, sepertinya ada yang tidak beres. Lebih baik kita cari tau, sebenarnya ada apa dengan Amelia? Biar bagaimanapun dia adalah adik dari Vitalia yang sudah ku anggap seperti adikku sendiri."


"Iya, Mas."


***


Sementara di lain tempat tampak Vitalia dan juga Chandra sudah bersiap untuk pulang, karena dokter sudah mengizinkan Vitalia untuk pulang pasca melahirkan. Vitalia dan Chandra sendiri memutuskan untuk pulang ke rumah baru yang Chandra beli sebelum sang istri melahirkan dua buah hatinya.


Di dalam mobil.


Bersama dengan Tuan Hirata dan Mama Renita, Vitalia dan Chandra pulang ditemani oleh keduanya dalam satu mobil. Sementara Mommy Gabby bersama keluarga Long Ai berada di mobil milik Risa.


"Chandra, karena istrimu sudah melahirkan anak-anakmu, besok Daddy minta agar kau hadir di pertemuan RS.Cahaya seperti yang diperintahkan ayah Long Ai padamu.."


"Baik, Dad."


"Mas, apa mas tidak sebaiknya mencari tahu dulu tentang keberadaan Hans?"


"Memangnya kenapa, Honey? Kau tak perlu mengkhawatirkan aku!"


"Bukan itu masalahnya! Entah mengapa perasaanku mendadak tak enak saja."


"Honey, dengarkan aku! Itu mungkin cuma perasaanmu saja, lagi pula mana bisa dia ke negara ini dengan mudah. Dia pasti sedang mencari cara supaya dia bisa ke sini."


"Tapi Bee, kau masih ingat 'kan pesan Nenek, apa?"


"Iya aku ingat, tapi kan..." belum sampai Chandra menyelesaikan ucapannya, Tuan Hirata yang berada duduk di belakang kemudi menyahutnya dengan berkata, "Sudah, kalian itu bisanya ribut melulu. Sudah diam! Kasian tuh anak-anak kalian yang mendengar perdebatan diantara kalian."


"Lihatlah, Baby girl terbangun dari tidur kalian, karena kalian ribut!" ujar Mama Renita yang sedang menggendong putri dari Vitalia dan juga Chandra. Sementara Baby boy digendong oleh Vitalia yang berada di sebelah kemudi.


Vitalia dan Chandra pun kemudian diam, dan saling tatap. Chandra pun kemudian meraih tangan kanan Vitalia, dan berkata, "Honey, mengertilah!" ucapnya sambil menggenggam tangan Vitalia. Seketika itu pula Vitalia mengangguk sambil tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, mobil mereka pun sampai di sebuah rumah mewah yang di beli oleh Chandra. Seketika saja, Vitalia yang melihat rumah sebesar rumahnya yang ada di Jepang pun kebingungan.


"Loh, Bee, ini...?"


"Honey, ini adalah rumah kita. Ayo kita turun!" ajak sang suami pada Vitalia agar segera turun.


Saat rombongan dua mobil sekaligus turun dari mobil yang mereka tumpangi. Seluruh keluarga yang ikut serta dalam menghantarkan Vitalia dan baby kembar di buat kagum oleh kemegahan rumah tersebut.


"Ya Tuhan, Bee.. ini semua...


"Ini adalah rumah baru kita, Honey. Mas sengaja beli untukmu dan untuk anak-anak kita.."


"Tapi Mas, ini terlalu mewah! Bahkan, ini lebih mewah dari rumah yang ada di Jepang!" ujar Vitalia dengan di dampingi Chandra berjalan untuk masuk ke dalam rumah.


Namun seketika itu pula langkah Chandra terhenti, dan berkata, "Hmm, begitu? Honey tak suka, ya?"


Melihat Chandra menghentikan langkahnya, Vitalia pun menoleh ke arah belakang, dan berkata, "Bee, kok berhenti? Bukan begitu, maksudku, tapi ini kebesaran Bee! Setidaknya kita bisa menabung nya buat masa depan anak-anak.." ujarnya.


Werrrr...


Seketika itu pula Chandra tersentak kaget karena tiba-tiba saja Tuan Zhu datang menjewernya dari arah tak terduga. "Aduhh Pa.."


"Sampai kapan kalian harus ribut terus, ha?" tanya Tuan Zhu pada Chandra. Bukannya menjawab Chandra justru malah berbalik tanya. "Loh, kok Papa ada di sini?"

__ADS_1


"Bukankah kau yang menyuruh Papa dan Mama untuk datang kemari, anak kurang ajar?" tanya Tuan Zhu pada putranya memastikan.


Seketika saja Vitalia terkikik geli melihat ekspresi dari sang suami yang terkejut akan kedatangan Papa mertuanya. Begitu pula dengan anggota keluarga yang lain ikut tertawa melihatnya.


"Hahahahaha.."


"Ya sudah, lebih baik kalian masuklah! Jangan hiraukan mereka ribut, mereka memang seperti itu..


"Nenek..." teriak Vitalia dan Chandra secara bersamaan.


"Eh, ini siapa ini, uluh-uluh cucu eyang cantik dan ganteng..." ucap Mama Dhea melihat kedua cucunya sedang digendong oleh Ibundanya dan besannya.


"Eh, kenapa kalian berhenti? Ayo silahkan masuk!" titah Nenek Elisabeth menyuruh semua anggota keluarga untuk masuk ke dalam rumah baru milik cucunya.


"Loh, Vitalia. Dimana adik-adikmu? Kok nggak ikut?" tanya Mama Dhea pada Vitalia sambil menggendong cucu perempuannya.


"Mama tenang saja, Amelia dan Sherlyn pasti datang kok ke sini. Mereka masih sibuk bekerja.." ujar Vitalia menjawab pertanyaan dari Mama mertuanya.


"Oh, ya sudah. Mama pikir kalian bertengkar."


"Enggak kok Ma. Kita mana mungkin bertengkar .." balas Vitalia dengan tersenyum manis ke arah Mama mertuanya.


"Iya, Mama percaya. Ya sudah, buruan masuk ke dalam, kasihan Babymu! Kebetulan di dalam ada adik iparmu yang sudah menunggumu.."


"Iya Ma... "


***


Sementara di sisi lain, Amelia yang begitu panik setelah mendengar penuturan dari Arnold melalui telepon pun segera ke RS.Cahaya untuk memberitahu secepatnya kepada kembarannya.


Namun, siapa sangka ketika ia akan menancapkan gasnya menuju RS, Cahaya tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya dari samping.


Tuk.. Tuk...


"Sherlyn.." ucap Amelia melihat seseorang yang ternyata adalah adik tirinya.


"Kakak, kenapa kakak buru-buru sih? Kak Vitalia sudah pulang dari RS.Cahaya dia sekarang sedang di rumah baru..." ucap Sherlyn ngomel-ngomel tak jelas.


"Iyaa, sudah jangan bawel, buruan masuk!"


Tanpa banyak bicara, Amelia pun segera menancapkan gasnya menuju ke rumah baru yang dimaksud oleh adik tirinya.


Di dalam perjalanan, hati Amelia begitu tak tenang Sherlyn yang merasa aneh melihat kakak tirinya begitu berbeda dari biasanya pun kemudian membuka suaranya dengan berkata, "Kak, kakak kenapa begitu cemas, sih?


"Tidak ada Sher, kakak cuma cemas saja..." ucap Amelia membalas pertanyaan dari adik tirinya. Di tengah mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba saja ada sebuah telepon masuk melalui ponsel milik Amelia.


Ting.. Tring ... Ting...


Seketika itu pula Amelia mengarahkan pandangan ke arah ponsel miliknya yang ia letakkan di dalam tasnya, yang kini dipangku oleh Sherlyn.


"Sherlyn, berikan ponselnya padaku!" titah Amelia sambil menepikan mobilnya. Sherlyn pun kemudian memberikan ponsel yang diminta oleh kakak tirinya.


"Halo...


"Halo, Mel. Kau kemana saja sih? semua sudah menunggumu?


"Vitalia, eh emhh maksudku, kak. Aduh, sumpah aku benar-benar tak tenang, bahkan aku mau menjelaskan pada Sherlyn saja bingung, apa lagi sama kakak..." ujar Amelia sambil menatap Sherlyn kebingungan. Sementara Sherlyn mengerutkan keningnya bingung mendengar penuturan dari kakak tirinya melalui ponsel.


"Amel, tolong tenangkan dirimu! Memangnya kenapa, sampai kau tak bisa menjelaskan padaku dan Sherlyn?


"Kak, Arnold kak..


"Arnold kenapa? Arnold itu sudah dipenjara oleh Exsel!

__ADS_1


"Kata siapa kak? Dia barusan menghubungiku, dan dia mengancam ku akan membawaku kabur!


Duaaarrrr...


Bagai di sambar petir di siang hari Vitalia yang berada di seberang sana membelalakkan matanya terkejut mendengar berita itu, melalui telepon. Begitu pula Sherlyn yang tak kalah terkejutnya mendengar ucapan dari kakak tirinya.


"Apa?!" ucap Vitalia dengan nada keterkejutannya.


"Kakak, kenapa kau tak bercerita kepadaku sih? Aduh, gawat!" ucap Sherlyn dengan menepuk jidatnya sambil menggelengkan kepalanya heran dengan kakak tirinya yang berada di sebelahnya.


Sementara Vitalia yang berada di seberang sana kemudian membuka suaranya dengan bertanya, "Amelia, kau sekarang dimana?"


"Aku sedang di jalan kak, bersama dengan Sherlyn..


"Berikan lokasinya kepadaku, biar anak buahku yang menjemputmu"


"Tak perlu kak, sebentar lagi sudah mau sampai kok...


" Hmm, baiklah. Kalau begitu hati-hati di jalan."


Tut...


Sambungan telepon pun terputus dengan begitu saja.


Sedangkan Vitalia yang baru saja menerima telepon dari saudari kembarnya pun terlihat cemas.


"Aduh, bagaimana ini? Kenapa Arnold bisa bebas dari penjara?


Melihat Vitalia yang tampak gusar sambil menggendong Baby boy, Chandra segera menghampiri istrinya.


"Honey, kenapa kau tampak begitu gusar setelah menelepon Amelia?" tanya Chandra menatap heran sang istri.


"Bee, gawat!" ucap Vitalia cemas.


"Gawat bagaimana? Honey, please. Tenangkan dirimu!"


"Arnold, Bee.. dia lepas dari sel tahanan..


Duaarr...


Betapa terkejutnya Chandra mendengar berita tersebut melalui istrinya.


" Apa? Tapi Honey, bagaimana bisa?


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu sama, Mas. Kenapa dia bisa bebas, Bee? Kau tau kan Bee, dua orang yang sangat berbahaya bebas dengan begitu saja?" ujar Vitalia sambil memberikan Baby boynya kepada salah seorang baby sister yang dibawa sang Nenek dari Jepang.


Nenek Elisabeth pun tiba-tiba menyahutnya dengan berkata, "Tenangkan dirimu, cucuku! Kau mungkin benar dua orang sekaligus bebas dengan begitu saja namun Nenek yakin kalian akan bisa melewati badai ini .."


"Nenek tau darimana jika mereka berdua telah bebas?" tanya Vitalia pada Nenek Elisabeth.


"Tak perlu kau bertanya, seharusnya kau tau cucuku..." jawab Nenek Elisabeth dengan teka-tekinya.


**


Vitalia POV :


Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Kenapa perasaanku begitu tak enak setelah mendengar Hans dan Arnold bebas? Ah, sudahlah. Aku harap ini hanya perasaanku saja.


Bersambung....


...****************...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2