Dokter Misterius VS Mafia Kejam

Dokter Misterius VS Mafia Kejam
Episode 146


__ADS_3

Harus Senang Atau Sedih


"Hans, kau!" ucap Vitalia mengarahkan pandangan menatap Hans yang sedang berada di dalam sel tahanan.


Mendengar suara orang yang memanggilnya, sontak saja Hans mengarahkan pandangan menatap kedatangan orang itu. Dilihatnya ternyata Vitalia. Tak disangka justru Hans malah menyunggingkan senyumnya lalu berkata, "Vitalia, akhirnya kau kembali ke sini juga Sayangku," ucapnya dengan nada menggoda.


"Cukup Hans! Jangan membuatku naik darah! Sekarang jawab pertanyaanku! Apakah kau yang menyuruh Jack untuk menghubungi Amelia dengan mengancamnya?"tanya Vitalia dengan menatap Hans dengan tatapan mengintrogasi.


"Kalaupun Aku yang menyuruhnya memangnya kenapa Sayang?" ucap Hans sambil meraih dagu Vitalia dari dalam sel tahanan. Vitalia pun tersentak dengan apa yang dilakukan Hans padanya.


"Cukup Hans! Beraninya kau menyentuhku!" seru Vitalia berusaha melepaskan tangan Hans yang mencengkeram kuat dagunya. Namun sayangnya tangan Vitalia kalah kuat dengan Hans. Sementara para anggota geng tengkorak yang melihat Vitalia diserang oleh Hans pun segera membantu Vitalia untuk melepaskan cengkeraman tangan Hans.


"Hey, lepaskan cengkramanmu! Atau kalau tidak, akan ku potong tanganmu!


Bukannya menurut justru Hans malah semakin menekan cengkramannya. Bahkan sampai membuat Vitalia kehabisan nafas.


"Errghh ..., aakkk .., lepas Hans, Aku tidak bisa bernafas!" ucap Vitalia berusaha menahan rasa sakit.


"Heh, coba saja kalau bisa!" balas Hans. Sementara kedua anggota geng Tengkorak yang mendengar rengekan dari Vitalia pun segera bertindak.


Buk...


Salah seorang anggota geng tengkorak yang bernama Rio menyodok perut Hans dengan menggunakan sebilah kayu, yang pada akhirnya membuat Hans terhenyak dan melepaskan cengkeramannya.


"Arrrghh..." rengek Hans kesakitan. Sementara Vitalia terbatuk-batuk karena ulah Hans.


"Uhuk.. uhukk..."


"Brengsek kau!" umpat Hans yang berada di dalam tahanan sedang tersungkur di atas lantai. Sayangnya umpatan tersebut tak digubris oleh Rio dan Vino yang merupakan dua anggota geng Tengkorak.


"Vitalia, apa kau tidak papa?" tanya kedua anggota geng tengkorak secara bersamaan.


"Tidak Rio .., Vino ... Aku tidak kenapa-kenapa." jawab Vitalia sambil memegangi dahu dan lehernya yang agak sedikit sakit.


Sedangkan Chandra yang mendengar sebuah keributan di penjara bawah tanah pun segera berjalan cepat menuju ke arah sumber suara.


"Ada apa ini?" tanya Chandra yang tiba-tiba muncul.


"Chandra,"


"Mas Chandra," ucap Vitalia dan dua anggota geng Tengkorak secara bersamaan.


"Bee.., dia telah menyuruh Jack untuk mengancam Amelia dengan mengirimkan pesan berantai melalui WhatsApp, Aku benar-benar tak tau kenapa Jack bisa-bisanya mengirimkan pesan seperti itu!"


"Karena Jack tak tau, jika Hans telah berubah jahat, Honey!


"Hahahaha..., kirini Jick tik tiu, jiki Hins tilih biribih jihit, Hiniy! Hahahaha..." sahut Hans menirukan gaya bicara Chandra dengan mengejek. Chandra yang mendengar pun dibuat geram sendiri.


"Hans!" seru Chandra mengepalkan tangannya geram dengan sorot mata tajam menatap Hans. Sedangkan Vitalia yang merasa sang Suami terpancing emosi pun berusaha meredam amarah sang Suami yang hampir meledak-ledak.

__ADS_1


"Bee, jangan dengerin dia! Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang juga, tak ada gunanya juga kita menanggapinya!"


"Hmmm ..., baik lah, ayooo!!" jawab Chandra lalu meninggalkan sel tahanan dengan mengabaikan Hans yang sedang mengumpatinya. "Dasar b*jing*n kalian!"


"Rio..., Vino, berikan dia pelajaran" titah Vitalia pada kedua anggota geng Tengkorak yang sedang berjaga di sel tahanan bawah tanah.


"Kau tenang saja Vitalia, akan ku pastikan dia babak belur," jawab Rio.


"Benar Vitalia, serahkan semua ke


pada kami!" ucap Vino menimpali. Tanpa menunggu lama Vitalia dan Chandra lalu pergi meninggalkan keduanya menuju ke ruang tengah.


Sherlyn yang melihat kedatangan Vitalia bersama Chandra menuju ruang tengah pun lalu segera menghampirinya.


"Kakak!" seru Sherlyn memanggil Vitalia dan Chandra. Seketika saja keduanya menoleh ke arah sumber suara.


"Sherlyn.."


"Kakak tidak apa-apa kan?" tanya Sherlyn memastikan.


"Tidak, Sher! Kau tenang saja! Ya sudah kita lebih baik pergi dari sini sekarang juga, karena tempat ini tidak aman bagi kita!


"Baik kak, ayokk! Sherlyn juga sudah tak sabar bertemu dengan Mama!


"Loh kak, kok dagu sama leher kakak merah? Kakak beneran nggak kenapa-kenapa kan kak?


"Tidak Sherlyn! Kau tenang saja, ini hanya luka kecil saja!"


"Apaaa?? kenapa kau tiba-tiba menyalahkanku?


"Ehhh sudah-sudah jangan bertengkar lagi! Lebih baik kita segera pergi dari sini!" ucap Vitalia berusaha memisahkan Sherlyn dengan sang Suami.


...****************...


Sementara di lain tempat Amelia masih setia menunggu Mama Tirinya yang terbaring lemah di rumah sakit. Lebih tepatnya di FireField Hospital sebuah rumah sakit ternama di kota Sydney Australia.


"Mel, dimana kakakmu?


"Eh Mama, sudah bangun?


"Iya Sayang, dimana kakakmu?


"Aku tak tau Ma, tapi tadi Vitalia sempat bilang kepadaku jika dia mau menyiapkan kejutan buat Mama,"


"Hiks... hiks..., ternyata Vitalia tidak beda jauh denganmu Mel! Dia benar-benar berhati malaikat! Tapi Aku sangat takut jika dia mengetahui kebenaran itu, dia akan meninggalkan kita dan membenci Mama selamanya, Mel!


"Ma, Mama tau kan Vitalia itu seperti apa? kalaupun kebenaran itu terungkap Aku yakin dia tidak akan marah sama Mama, karena apa? Karena Vitalia sayang sekali sama Mama," ucap Amelia berusaha memberi semangat pada Mama Renita.


"Tapi Mel, apakah kau yakin jika Vitalia tak akan marah?

__ADS_1


" Kalau untuk memastikan Amelia nggak bisa janji Ma! Tapi Mama tenang saja, ada Amelia di sini!"


"Terima kasih ya, Sayang..., kau benar-benar anak Mama, meskipun kau bukan anak kandung Mama, tapi Mama sangat bersyukur memiliki anak sepertimu, yang sangat berbanding terbalik dengan Sherlyn yang selalu jahat kepadamu," balas Mama Renita..


"Sudah Ma, yang lalu biarlah berlalu, sekarang Mama tak perlu berpikir yang tidak-tidak! Karena kami akan selalu ada buat Mama," ucap Amelia dengan tersenyum manis ke arah Mama Renita. Seketika itu pula Mama Renita mengangguk mengiyakan perkataan Amelia.


Setengah jam kemudian, saat Amelia sedang asik menghibur Mama Renita tiba-tiba saja.


Ceklekkk ...


"Mama..." teriak seseorang yang berada di balik pintu. Sontak saja Mama Renita dan juga Amelia mengarahkan pandangan menatap seseorang yang berdiri tegak di depan pintu. Ia takut dengan sang Mama, karena ia pergi meninggalkan rumah hanya karena ambisinya.


"Sherlyn!" ucap Mama Renita dan juga Amelia secara bersamaan.


"Sherlyn, cepat masuklah! Peluklah Mama!" titah Vitalia yang berdiri di belakang Sherlyn bersama dengan Chandra. Tanpa berpikir panjang Sherlyn pun lalu masuk ke dalam ruang perawatan Mama Renita dengan berlari lalu memeluk Mama Renita dengan erat-erat.


"Hiks... hiks... maafkan Sherlyn Ma.., Sherlyn menyesal dengan apa yang telah Sherlyn lakukan, hiks... hiks..." ucap Sherlyn masih dengan posisi memeluk Mama Renita.


Sementara Mama Renita yang di peluk pun hanya diam tak bisa berkata-kata, bahkan tanpa ia sadari air matanya lolos dengan begitu saja. Amelia pun lalu melepas pelukannya dan berkata,


"Ma, kenapa Mama hanya diam? Apa Mama marah sama Sherlyn?" tanyanya.


Sherlyn pun lalu beralih menatap Amelia yang berdiri dari tempat duduknya. "Mel, maafkan Aku Mel... Aku ... ak.. akuuu...." ucapan Sherlyn terbata karena ia sendiri sebenarnya bingung mau berkata apa. Melihat Sherlyn yang gugup Amelia pun segera memeluknya.


Greeeppp....


"Sherlyn .." ucap Amelia dengan memeluk Sherlyn.


"Kakak... hiks... hikss... maafkan Akuuu..." ucap Sherlyn sambil menerima pelukan dari Amelia dengan menangis sesenggukan.


"Kakak..." ucap Sherlyn sambil merenggangkan pelukannya. Dan Amelia oun menjawab, "Iyaa..."


"Bolehkah Aku memanggilmu dengan sebutan kakak?" tanya Sherman memastikan. Dan disaat itu pula Amelia mengangguk mengiyakan permintaan Sherlyn, lalu kembali memeluknya.


"Boleh Sherlyn, dengan senang hati... hiks... hiks..." ucap Amelia dengan menangis haru. Mama Renita yang seeing terbaring lemah pun ikut terharu melihatnya.


Sementara Vitalia Dan Chandra yang sedang di ambang pintu tak kalah terharu melihat kehangatan keluarga Hirata yang sebenarnya.


"Ya Tuhan, terima kasih kau telah menyatukan Mereka kembali! Aku tak tau harus senang atau sedih, karena setelah ini Aku memutuskan kembali ke Indonesia untuk membongkar identitasku sendiri," ucap Vitalia dalam hati. Tak terasa air matanya pun jatuh dengan begitu saja membasahi pipi.


"Honey, sudah jangan menangis, lihatlah, Mereka terlihat sangat bahagia!" ucap Chandra berusaha menenangkan sang istri yang menangis haru.


**


Bersambung....


...****************...


...----------------...

__ADS_1


Maafkan Author agak sedikit telat up nya...


Jangan lupa tinggalkan jejak Vote, Like, Komen dan Favorite Ya.... Terima kasih 🥰🥰🙏🙏


__ADS_2