
Rencana Perjodohan Amelia.
Mendengar pernyataan sang Nenek Vitalia dan Chandra hanya diam, dan saling pandang. Sementara Tuan Long Ai yang melihat ada sebuah ketegangan pun mulai angkat bicara.
"Sudah, jangan kalian perdebatkan lagi! Lagi pula itu semua cuma tebakan Nenek saja." tukasnya.
"Iya kan Nek?" sambungnya lagi bertanya ada Nenek Elisabeth.
"Iya, kau benar Long Ai, tapi kalian jangan lupa pesan Nenek, kalian harus berhati-hati dengan siapapun itu!" ucap Nenek Elisabeth kembali memberi peringatan kepada Vitalia dan Chandra.
"Baik Nek.." jawab Vitalia dan Chandra secara bersamaan. Di saat itu juga Mama Renita kemudian membuka suaranya dengan berkata, " Vitalia, lebih baik kau pergi ke kamar anakmu! Kasihan mereka harus capek mendengar perdebatan diantara kalian," ujarnya
Dengan tersenyum manis Vitalia membalasnya, "Mama bisa saja. Ya sudah kalau begitu Vitalia ke atas dulu sama Mas Chandra.." balasnya lalu segera mengajak sangat suami untuk naik ke lantai atas.
Baru saja Vitalia dan Chandra akan naik ke anak tangga, tiba-tiba saja Amelia datang dengan berlari, dan dengan nafas terengah-engah diikuti oleh Sherlyn di belakangnya.
Tak.. Tak.. Tak..
"Kakak, gawat kak! Huh... huh..."
"Iya gawat, tapi sayangnya kak Amel kagak mau cerita sih sama aku.." ucap Sherlyn menimpali sambil memanyunkan bibirnya kesal terhadap sikap kakak tirinya.
Melihat Amelia dan juga Sherlyn masuk ke dalam rumah dengan keadaan yang tak biasa, seluruh anggota keluarga mengerutkan keningnya bingung menatap Amelia dan Sherlyn secara bergantian.
Chandra kemudian membuka suaranya dengan berkata, "Maksud kalian itu apa? Kenapa kalian datang-datang ribut?" tanyanya bibgung.
"Kak Chandra, Arnold kak, dia kabur dari tahanan, dan dia...
"Kau tak perlu khawatir Mel, kakak yakin dia tak akan mampu masuk ke negara ini, karena anggota geng kalajengking dan tengkorak sedang bersatu.
"Bukankah begitu Bee?" Vitalia berbalik bertanya kepada Chandra suaminya.
"Hmmm, kau benar istriku! Sudah kau tak perlu khawatir, lagi pula dia.."
"Apa? Tidak perlu khawatir gimana sih? Astaga ini tuh bukan hanya Arnold kak, tapi Hans juga bebas!" tegas Amelia dengan pemikirannya.
Ia berpikir kalau kedua kakaknya tak akan bisa menyelesaikannya. Mengingat Vitalia sendiri sekarang sudah mempunyai anak. Berbeda dengan dulu yang masih belum punya anak, masih mempunyai tenaga yang full seperti dulu melawan suaminya sendiri.
"Kau tau dari mana, kalau Hans bebas?" tanya Vitalia dengan tatapan menyelidik.
"Dari Frans kak. Dia mengabariku jika Hans telah bebas, dan dia akan ke Indonesia untuk menghabis kalian semua di pesan terakhirnya.." ujar Amelia memberitahu Chandra dan Vitalia.
"Maksudmu?" tanya Vitalia dan Chandra penasaran.
"Dia telah meninggalkan sepucuk surat waktu dia kabur dari tahanan, dan di sana tertera jika kau dan kak Chandra yang menjadi targetnya..."
"Apa?!"
"Kalian tak perlu khawatir, bukankah Nenek bilang kalian hanya perlu berhati-hati?"
__ADS_1
"Tapi Nek, apakah ini tak berbahaya buat kita? Apa mungkin ini hanya perasaanku saja?"
Belum sampai sangat Nenek menjawab, Chandra menjawabnya dengan berkata, "Honey, sudahlah kau tak perlu cemas begitu, lagi pula kita punya banyak anggota yang berjaga, untuk apa kita khawatir?
"Tapi Bee..," ucap Vitalia terpotong.
"Sudah, percayalah padaku! Setelah ini Mas janji jika Mas akan menyelesaikan Hans secepatnya..." ujar Chandra berusaha menenangkan hati sang istri.
Seketika itu pula tiba-tiba baby Sean yang sedang di bawa oleh Mommy Gabby ke lantai atas pun menangis.
Oeekkk.. oeekkk...
Suara tangisan baby girl terdengar sangat kencang di seluruh penjuru ruangan.
"Tuh, kalian ribut saja terus, kasian Baby girl! Sudah sana beri dia asi dulu, jangan berpikir yang aneh-aneh!" ujar Mama Renita memerintahkan Vitalia agar naik ke lantai atas.
"Iya, Ma.." jawab Vitalia.
Tanpa menunggu lama Vitalia pun segera menuju ke lantai atas dengan menggendong baby Dean dengan diikuti sang suami dari belakang. Namun, saat sampai di atas anak tangga, Nenek Elisabeth menghentikan langkah mereka.
"Tunggu Cucuku! Tolong sekalian panggilkan Mommy dan Risa untuk turun ke bawah terlebih dahulu.."
"Baik Nek.."
Sepasang suami-istri itu pun kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti menuju ke kamar mereka.
"Tapi kenapa, Ma?"
"Sudah, kau nanti akan tau setelah ini, dan kalian harus patuh dengan perintah ku, terutama kau Mel!
"Aku?" tanya Amelia sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Hmmm..." jawab Nenek Elisabeth hanya dengan deheman saja.
Sementara Nenek Elisabeth kemudian pergi ke belakang rumah dengan diikuti Mama Renita dan para anggota keluarga lainnya diantaranya Tuan Hirata dan juga Tuan Long Ai.
Amelia dan Sherlyn hanya diam dan saling pandang satu sama lain.
"Kak, sebenarnya ada apa ya? Kok Nenek menyuruh kita untuk berkumpul di belakang rumah?" tanya Sherlyn, dan Amelia menjawabnya dengan mengendikkan bahunya tak mengerti.
Ternyata pembicaraan mereka dipotong oleh seseorang yang datang dari arah belakang. "Kalian akan mengetahuinya setelah ini." ucap Mirna dingin lalu pergi dengan begitu saja melewati Amelia dan juga Sherlyn menuju ke arah belakang rumah.
"Astaga, Mbak Mirna dia kenapa sih? Heran deh gue!
"Sudah, nggak usah kaget gitu! Dia memang orangnya kek gitu..." ujar Amelia, kemudian mereka berdua menyusul Mirna Feriska dari belakang diikuti lagi oleh Mommy Gabby yang sedang menuruni tangga yang diam-diam sudah mendengar obrolan antara Amelia, Mirna, dan juga Sherlyn.
"Sebenarnya apa yang mau Mama omongin sama kami? Kenapa seluruh orang disuruh berkumpul di belakang rumah? Bahkan, Vitalia dan Chandra hanya bilang di suruh ke bawah tanpa mengetahui kalau Nenek mengumpulkan kami. Ada apa sebenarnya?" batin Mommy Gabby dengan berjalan cepat menuju ke halaman belakang rumah.
***
__ADS_1
Setelah semuanya sudah berkumpul di teras belakang rumah baru milik Chandra. Nenek mulai membuka suaranya dengan berkata, "Karena kebetulan kalian sudah berkumpul, Nenek memutuskan untuk menjodohkanmu dengan Arnold Amelia!
" Apa? Maksud Nenek apa? Kenapa Nenek tiba-tiba menjodohkan ku dengan Arnold?
"Ini salah satu cara agar dia tak mengganggu keluarga kita, Cucuku!
" Tidak Nek, Amelia tak akan pernah mau menikah dengan pria baj*ngan seperti Arnold!
"Mama, apa yang Mama lakukan? Mama tau kan itu sangat berbahaya buat Amelia?
"Hmm, baiklah. Kalau kau tak mau menikah dengan Arnold, menikahlah dengan siapapun itu, tapi Nenek tak mau ambil resiko jika terjadi sesuatu denganmu, Cucuku! Nenek menjodohkanmu dengan Arnold karena Nenek ingin melindungimu.."
"Tidak Nek. Sampai kapanpun Amelia tidak akan pernah mau menikah dengan si b*jing*n itu! Aku benci sama Nenek!
Sementara Amelia pun kemudian masuk ke dalam rumah dengan berlari dan menangis sesenggukan. " Nenek jahat! Hiks.. hiks.."
Sementara Vitalia yang berada di dapur untuk meletakkan susu di dalam kulkas pun tersentak kaget melihat Amelia naik ke anak tangga dengan menangis sesenggukan.
"Amelia..." panggil Vitalia pada Amelia. Seketika itu pula Amelia menoleh ke arah sumber suara dan berlari menghampiri kembarannya yang memanggilnya.
"Kakak! Hiks .. hiks .."
Greeeppp....
Amelia memeluk Vitalia dengan menangis sesenggukan.
"Kakak, Nenek jahat, kak! Aku nggak mau dijodohkan dengan Arnold, kak. Hiks.. hiks.. aku nggak mau! Hiks... hiks..."ucap Amelia mengadu pada Vitalia dengan menangis sesenggukan.
Mendengar pernyataan dari Amelia, seketika saja Vitalia tersentak mendengarnya, ia yang tak percaya kemudian membalas pelukan dari Amelia sambil berkata, "Ya Tuhan, Amel! Apa yang kau katakan, ha? Katakan padaku dengan benar!" pintanya.
"Kak, aku disuruh menikahi Arnold hanya karena Nenek tak ingin melindungi ku dari dia kak.. hiks.. hiks.., tapi aku nggak mau.. hiks .. hiks.." ucap Amelia menangis sesenggukan di pelukan Vitalia.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Vitalia dengan nada keterkejutannya sambil melepas pelukannya.
"Kakak, tapi aku nggak mau kak! Hiks.. hiks.. aku tidak mau menikah dengan penjahat seperti Arnold.." ujar Amelia dengan menggelengkan kepalanya.
"Sudah, jangan menangis lagi! Kakak janji setelah ini kakak akan berbicara dengan Nenek.." ucap Vitalia berusaha menenangkan kembarannya tanpa mengeluarkan ekspresi sama sekali.
***
Vitalia POV :
Apa lagi ini? Keputusan yang diambil oleh Nenek menang begitu mengejutkan, tapi kenapa Nenek melakukan semua itu? Di saat aku sudah punya anak-anak, masalah datang dengan bertubi-tubi di keluarga ini.
Bersambung ....
...****************...
...----------------...
__ADS_1