
Permintaan maaf Sherlyn
Melihat sang istri hanya diam saja, Chandra kemudian membuka suaranya dengan bertanya, "Honey, kenapa diam?" tanyanya mengerutkan keningnya bingung.
"Sudahlah Bee, mungkin tadi aku salah dengar. Kalau begitu kita kembali saja ke kamar perawatan,"
"Hmm baiklah.."
Kedua pasangan suami istri tersebut pun lalu beranjak pergi kembali ke kamar perawatan setelah melakukan tes DNA.
Saat Vitalia sedang di dorong oleh suaminya menggunakan kursi roda, Vitalia mulai memikirkan sesuatu yang sedang mengganjal dipikirannya.
"Kenapa tadi Nenek menyebut Mommy dengan sebutan Gabby? Lalu sejak kapan mereka saling mengenal? Kenapa aku merasa ada yang aneh?" banyak pertanyaan yang berputar di dalam otaknya.
"Sudah Amelia, tidak apa-apa! Biarkan Vitalia beristirahat sejenak.."
"Lebih baik kita temui Gabby terlebih dahulu..." sambung Nenek Bernadeth lagi.
"Sebenarnya siapa Nenek Bernadeth? Apa jangan-jangan Nenek masih ada hubungan lagi sama Mommy?"
Tanpa Vitalia sadari ia sudah sampai di depan ruang perawatannya bersama dengan sang suami yang mendorongnya menggunakan kursi roda. Sementara Vitalia justru masih terdiam menatap ke depan, dengan tatapan mata kosongnya.
"Honey, yuk masuk yuk! Kita sudah sampai.." ujar Chandra pada sang istri.
Sayangnya ucapannya justru tak mendapatkan jawaban dari Istrinya, Chandra pun menautkan kedua alisnya bingung dengan menyetarakan tubuhnya agar sejajar dengan tubuh sang Istri.
Kemudian ia pun membuka suaranya dengan berkata, "Honey, kenapa kau melamun?" tanya Chandra baik-baik tepat berada di depan sang Istri.
Sontak saja pertanyaan yang dilontarkan oleh Chandra membuat Vitalia tersadar dari lamunannya.
"Eh.. emmh enggak kok Mas...
"Kau yakin?" tanyanya kepada sang Istri. Dengan cepat Vitalia mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Chandra.
Vitalia kemudian bangun dari kursi roda, kemudian berjalan dengan di dampingi sang Suami. "Bee, menurutmu ada yang aneh nggak sih dari Nenek Bernadeth?" tanya Vitalia sambil berjalan dituntun oleh Chandra.
"Astaga, jadi Istriku mencurigai Nenek Elisabeth.." batinnya terperangah mendengar pertanyaan dari sang Istri.
Merasa sang Suami yang diberi pertanyaan hanya diam, Vitalia kembali membuka suaranya dengan bertanya, "Kenapa hanya diam, Bee?" tanya Vitalia sambil mendudukkan pantatnya di atas tempat tidurnya.
"Emmh, tidak. Cuma kadang aku juga berpikir seperti itu juga sih, Honey. Tapi entahlah... aku nggak mau ambil pusing untuk memikirkannya .." balas Chandra sambil menyelimuti tubuh sang Istri.
__ADS_1
Vitalia pun kembali bergumam dalam hati. "Ada yang aneh saja dari Nenek Bernadeth, mengapa dia memanggil Mommy dengan sebutan Gabby? Sejak kapan mereka saling mengenal? Kenapa mereka seperti akrab sekali?" berbagai pertanyaan muncul dengan begitu saja kedalam benaknya.
"Sudah, lebih baik kau beristirahatlah! Mas nggak mau kalau kau sakit lagi hanya memikirkan masalah sepele .." sahut Chandra memberi pengertian.
"Baiklah..." balas Vitalia, lalu membaringkan tubuhnya untuk tidur di atas tempat tidurnya.
...****************...
Sementara di sisi lain, Jack kini sedang berada di sebuah ruangan RS tepatnya di ruang laboratorium, dimana para analis kesehatan menyimpan hasil dari tes DNA.
"Dimana orang itu meletakkan sampel darah milik Vitalia?" tanyanya sambil mencari cairan yang berupa darah, lebih tepatnya mencari cairan yang berasal dari tubuh Vitalia.
Setelah satu jam berlalu, Jack barulah menemukan sebuah sampel yang sedang ia cari yaitu sampel darah milik Vitalia. "Ah, ini dia! Lebih baik ku tukar dengan cairan darah yang ini sekarang juga, aku yakin hasilnya pasti negatif jika ditukar..." gumamnya sambil tersenyum menyeringai. Tanpa mengulur waktu, Jack pun lalu menukar sampel darah Vitalia dengan milik orang lain.
"Maafkan aku Vitalia. Aku terpaksa melakukan semua ini..." ucap Jack pelan, lalu segera pergi dari ruangan tersebut sebelum ketahuan oleh orang lain.
Jack melupakan sesuatu jika ada sebuah kamera pengintai alias CCTV yang sedang mengintainya. Ditambah lagi ada seorang analis yang melihat kejadian itu.
...****************...
Keesokan harinya, waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sebuah kebenaran yang selama ini menjadi teka-teki, akan terungkap saat ini juga.
"Honey, apakah kau sudah siap melihat hasilnya nanti?" tanyanya pada sang Istri.
"Hanya menebak saja Honey, jangan salah paham," sahut Chandra beralasan.
"Maafkan aku istriku tapi memang pada kenyataannya kau adalah anak dari Tuan Hirata.." batin Chandra.
"Oh begitu, jadi hanya menebak dan salah paham katamu? Terus apa dong kemarin kita ribut?" lagi-lagi Vitalia melontarkan berbagai pertanyaan pada sang suami. Namun sayangnya ucapannya tidak mendapatkan tanggapan dari Chandra yang hanya diam.
Melihat sang suami hanya terdiam, Vitalia pun kemudian menyambungnya lagi dengan berkata, "Baiklah kita lihat saja bagaimana nanti hasilnya. Dan setelah menerima hasilnya aku terbukti bukan putri Daddy Hirata, maka aku akan kembali seperti Vitalia yang dulu ke kediaman Wijaya, karena memang mereka keluargaku.."
"Sudah Honey jangan membahas itu lagi! Dan ya Honey, apa kau tidak memikirkan keselamatanmu? Kau tau sendiri bukan jika keluargamu sangat membenciku, setelah mereka tau aku berusaha mendekatimu untuk membalaskan dendamku yang ternyata..." belum sampai Chandra menyelesaikan ucapannya Vitalia membungkam mulut sang suami.
"Ssstt..., lupakan itu semua, Bee! Mereka tak tau tentang kita. Hanya kita yang tau, bahkan banyak juga saksinya, jika kau hanya salah paham mengenai pembunuhan kakekmu." ucapnya masih dengan posisi tangan membungkam sang suami.
Sedetik kemudian Vitalia pun lalu melepas bungkaman tangannya, kemudian berkata, "Bee, kau tenang saja, kita tidak akan terpisahkan. Berjanjilah padaku Bee, kita akan terus bersama selamanya, meskipun kedepannya nanti kita akan melewati banyak ujian. Apalagi Papa sama Mama belum tau kalau kita menikah. Jangankan tau kita menikah, aku masih hidup saja mereka tak tau.." sambungnya.
"Iya Honey, aku berjanji kepadamu, kita harus selalu bersama. Honey harus tegar menghadapi semua ini, demi bayi kita.." ujar Chandra menyemangati sang Istri.
"Emmmbb... iya Bee.., thank you so much My Husband.." sahut Vitalia membalasnya, sambil memeluk tubuh kekar sang suami.
__ADS_1
Dengan senang hati, Chandra membalas pelukan sang istri, dan berkata, "You are welcome My Wife..."
Cup...
Chandra mengecup bib*r sang istri misteriusnya. Yang pada akhirnya kecupan itu berubah menjadi lum*tan. Mereka pun akhirnya berciuman mesra. Tanpa menghiraukan sekarang berada dimana.
Namun di tengah mereka sedang asyik berciuman, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang tanpa mengetuk pintu.
Cekleekkk...
Sontak saja Vitalia dan Chandra menghentikan aktifitasnya, dengan mengarahkan pandangan menatap seseorang yang datang dari balik pintu.
Merasa dirinya ditatap Sherlyn menjadi salah tingkah. 'Ya, seseorang yang datang itu adalah Sherlyn.'
"Eh emmmh, kakak maafkan aku.." ujar Sherlyn meminta maaf pada Vitalia dengan menundukkan kepala karena malu melihat pemandangan sepasang suami istri yang sedang bermesraan.
"Sherlyn, kau?" ucap Vitalia dengan nada keterkejutannya.
"Eh, kalau begitu aku pergi dulu deh kak, nggak jadi.." ujar Sherlyn merasa tak enak hati, karena dirinya merasa sudah mengganggu.
Namun saat Sherlyn akan melangkahkan kakinya pergi, Vitalia berteriak bermaksud untuk menghentikannya, "Eh tunggu Sher, nggak apa-apa masuk saja!" titahnya pada Sherlyn.
"Bener nih, nggak papa?" tanya Sherlyn memastikan.
"Iya, beneran nggak papa...
"Kak, maafin Sherlyn ya jika selama ini Sherlyn salah sama kakak. Jika nanti kakak terbukti anak dari keluarga Hirata, lebih baik Sherlyn dan Mama pergi saja, karena ini salah kami kak...
"Ssstt..., Sherlyn, kenapa kau berbicara seperti itu? Lagi pula semua bukti belum lengkap..." ujar Vitalia.
"Tapi kan sebentar lagi akan terungkap kebenarannya kak.." balas Sherlyn.
"Iya aku tau, tapi belum tentu aku anak dari Daddy Hirata, aku berharap itu hanya dugaan semata" ucap Vitalia berubah menjadi dingin.
"Dan kau Sherlyn, bagaimanapun hasilnya, kau tetap menjadi adikku, dan Mama tetap akan menjadi Mamaku," sambung Vitalia lagi lalu beralih memeluk tubuh Sherlyn. Dengan senang hati Sherlyn pun membalasnya sambil menangis sesenggukan.
"Terima kasih kak, hiks... hiks.. " ucap Sherlyn berterimakasih pada Vitalia. Ia bahkan menganggap Vitalia seperti kakak sendiri. Berbeda dengan Amelia, jika dengannya pasti berdebat.
"Iya sama-sama. Sudah jangan menangis lagi.." ujar Vitalia sambil merenggangkan pelukannya berusaha menenangkan Sherlyn.
***
__ADS_1
Bersambung....