
Jangan Pernah Temui Aku Lagi Jika Kalian Mencariku!
"Pa, Ma, aku akan memaafkan kalian tapi dengan satu syarat.." tukas Vitalia mengajukan sebuah persyaratan kepada kedua orang Tuan yang sudah membesarkannya.
"Apa itu, Nak?" tanya Tuan Wijaya dan Mama Ita secara bersamaan sambil melepas pelukannya.
"Kalian harus merestui hubunganku dengan mas Chandra.., karena tanpa restu dari kalian aku bisa apa? Aku masih membutuhkan restu dari kalian meskipun kalian bukan orang tua kandungku," ucap Vitalia.
"Hiks.. hiks.. hiks.. dibalik sikap aroganmu itu, sudah Mama duga, ternyata kau masih menyayangi kami, Nak. Kau tenang saja, Mama sama Papa sudah merestui hubungan kalian berdua, Nak... hiks... hiks..." jawab Mama Ita menjawab pernyataan dari Vitalia.
"Iya Nak, kami sudah merestui hubungan kalian..." ujar Tuan Wijaya menimpali.
Seketika saja Aditya yang mendengar persetujuan dari sang Mama pun tak terima. Kemudian ia membuka suara lantangnya dengan berkata, "Tidak, Pa.. Ma! Aku tidak akan pernah setuju dengan hubungan kalian..., dan itu artinya kau dan Chandra tidak boleh bersatu!" ujarnya dengan penuh penekanan.
"Mas Aditya, apa yang kau katakan, Mas?" tanya Erlin pada sang suami.
"Erlin kau jangan ikut campur dengan urusanku!" tegas Aditya menjawab pertanyaan dari sang istri.
"Tapi Mas.." Belum sampai Erlin menyelesaikan ucapannya Vitalia pun lalu berdiri kemudian menyahutnya dengan berkata, "Sudah kak, jangan membelaku! Sudah ku duga pasti jawaban dari kak Aditya seperti itu," ucapnya dingin membuat semua orang yang ada di situ semakin tegang.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, Mas. Kita tak layak ada di sini." sambungnya lagi dengan berbicara pada sang suami yang berada di belakangnya.
"Amelia, Mbak Mirna ayo kita pergi dari sini!" ajak Vitalia pada keduanya agar pergi dari kediaman keluarga Wijaya.
"Tunggu dulu Vitalia, kau mau kemana? Jangan pergi dari sini, Nak. Kumohon!" ucap Mama Ita sambil menarik kaki dari Vitalia.
Seketika saja langkah kaki dari Vitalia terhenti karena tertahan oleh kedua tangan Mama Ita yang menarik kakinya agar tak pergi dari kediaman Wijaya.
"Maaf, Ma. Aku tak bisa bertahan lama di sini. Mungkin Vitalia sudah memaafkan kalian perihal siapa aku. Namun, aku tak akan kembali ke sini sebelum Kak Aditya merestui hubunganku dengan Mas Chandra. Ya, walaupun restu dari kak Aditya tak menentukan kebahagiaanku tapi restu dari kak Aditya sangatlah berarti bagiku..." ujarnya kemudian melepas kedua tangan Mama Ita yang melingkar memegangi kakinya.
"Oh ya, satu lagi. Meskipun Vitalia kesal dengan kalian, meskipun Vitalia kecewa dengan kalian, tapi sejujurnya seorang Vitalia kalau di suruh untuk memusuhi kalian itu tak akan pernah sanggup Ma, Pa! Hiks.. hiks.., mungkin tadi emosiku hanya sesaat, tapi kali ini Vitalia mohon undur diri. Vitalia akan kembali setelah kak Aditya merestui hubungan diantara kami!" tegas Vitalia sambil menahan rasa sesaknya di dada.
"Tunggu Nak! Hiks... hiks... kau mau kemana lagi Nak. Jangan pergi tinggalkan Mama sama Papa.. kumohon! Hiks.. hiks...." ujar Mama Ita sambil mengatupkan kedua telapak tangannya seraya memohon di hadapan Vitalia, yang kali ini dengan posisi berdiri.
"Ma, jangan seperti itu Ma! Aku tak bisa berlama-lama di sini," jawab Vitalia sambil memegangi kedua telapak tangan sang Mama.
"Tapi kami sudah merestuimu, Nak. Jangan hiraukan kakakmu!" pinta Tuan Wijaya pada Vitalia agar tak menggubris pernyataan dari Aditya.
Dengan menggelengkan kepalanya pelan, Vitalia menjawabnya dengan berkata, "Mungkin kita berpisah saat ini. Namun, kita tak akan bisa berpisah selamanya Pa, Ma. karena Vitalia masih menyayangi kalian seperti dulu..." jawabnya dengan nada melemah.
"Ya sudah, kalau mau pergi, ya pergi saja! Tak usah mengulur waktumu, Vitalia! Lagi pula kau bukan anak kandung Mama sama Papa, kau tak perlu meminta restu dariku dan juga Mama sama Papa!" ucap Aditya menimpalinya dengan tersenyum sinis
Sontak saja penuturan dari Aditya membuat hati Vitalia tercabik-cabik, bahkan Vitalia sampai menetaskan air mata tiada henti. "Hmmm, kau benar kak, aku memang tak perlu meminta restu darimu, karena percuma saja akau meminta restu darimu, aku juga bukan siapa-siapanya kakak lagi, ingat itu!" ujar Vitalia dengan penuh penekanan sambil menahan amarah, kekecewaan, dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.
"Kita lihat saja nanti, sampai kapan hubungan kalian akan bertahan lama atau tidak!" balas Aditya dengan tersenyum remeh.
"Ok, kakak menantangku? Aku yakin kakak menantangku seperti ini pasti kakak merencanakan sesuatu untuk menghancurkan hubunganku dengan Chandra!" sahut Vitalia dengan dugaannya.
"Heh, apa kau bilang? Menghancurkan hubungan kalian? Itu sudah tidak ada gunanya Vitalia, karena kau bukan adik kandungku!" ucap Aditya dengan penuh penekanan sambil menahan air matanya agar tak keluar dari pelupuk matanya.
Seketika saja Vitalia yang mendengarkan pernyataan dari Aditya pun terkejut dibuatnya. Begitu pula dengan yang lainnya tak kalah terkejutnya dengan penuturan dari Aditya termasuk Mama Ita yang tiba-tiba saja memegangi dada kirinya.
"Hmmm, bagus kalau kakak tak menghancurkannya! Yang ku sesalkan selama ini adalah ternyata aku salah ada di keluarga ini, aku salah mempunyai kakak yang tak tau terima kasih pada seseorang yang sudah membantu menyelesaikan permasalahan." ujar Vitalia dingin dengan meneteskan air matanya lalu berjalan keluar.
"Tunggu dulu, Nak! Awwshhh..."
Langkah kaki Vitalia terhenti seketika karena mendengar rintihan dari Mama Ita.
"Mama..."
"Mama..." ucap semua orang berteriak termasuk Vitalia.
__ADS_1
"Sayang kumohon jangan pergi lagi, Nak.." ucap Mama Ita di atas pangkuan Vitalia.
"Mama, kumohon bertahanlah, Ma! Maafkan aku..." sahut Vitalia meminta maaf dengan sang Mama.
"Ini semua gara-gara kau Vitalia!" ucap Aditya menimpali dengan menatap tajam Vitalia.
"Cukup Mas, bukan saatnya untuk berdebat! Cepat bawa Mama ke rumah sakit!" sahut Erlin berusaha memecah keributan antara Vitalia dan suaminya.
"Chandra, cepat bantu Mama!" titah Erlin pada Chandra.
...****************...
Sementara di kediaman keluarga Long Ai, tampak mulai panik memikirkan Vitalia, Chandra, Amelia dan juga Mirna yang tak kunjung memberi kabar. Hingga akhirnya ponsel milik Risa pun berbunyi.
Dreett.. Dreett..
"Thalia.." ujar Risa menatap ke arah layar ponselnya yang tertera nama Thalia. Seketika saja membuat semua orang yang berada di kediaman Long Ai mengarahkan pandangan menatap Risa.
Dengan cepat Risa kemudian menggeser layar ponsel miliknya untuk mengangkatnya.
"Halo..."
"Kak, cepat bawakan ramuan alami yang ku buat kemarin di lab!"
"Apa? Tapi Thalia kau sekarang ada dimana?"
"Aku dalam perjalanan ke RS.Wijaya kak, Mama Ita emm maksudku Mama Wijaya dia terkena serangan jantung!"
"Ya sudah, cepat bawa beliau ke RS! Aku akan segera membawakan ramuan itu untukmu!"
"Baik kak..."
Tut..
...****************...
Sesampainya di RS.Wijaya, Vitalia sangat suami, dan juga Aditya beserta sang istri segera membawa Mama Ita ke ruang IGD untuk mendapatkan perawatan intensif.
Di saat itu pula, banyak tenaga medis yang tercengang melihat kedatangan Vitalia dengan tiba-tiba.
"Dokter Vitalia..." panggil seluruh tenaga medis yang ada di ruang IGD, karena kebetulan ruang IGD sedang sepi.
Seketika saja Vitalia yang merasa dipanggil namanya mendongakkan kepala menatap para tenaga medis yang sedang bertugas di ruang IGD.
"Ya, ini aku... cepat lakukan pemeriksaan dengan pasien, pasien membutuhkan pemeriksaan EKG!" jawabnya dengan memerintah beberapa tenaga medis untuk menyiapkan peralatan untuk memeriksa sang Mama.
"Baik dok!" jawab salah satu tenaga medis.
Kemudian Vitalia mengalihkan pandangan menatap Mama Ita yang terbaring lemah di atas bed RS.
"Ma, kumohon sadarlah Ma... Maafkan Vitalia Ma.."
"Ini semua gara-gara kau Vitalia!" ucap Aditya.
"Mas, sudah kubilang cukup! Jangan membuat kegaduhan lagi!" ujar Erlin berusaha membujuk sang suami agar tak berbuat keributan.
Di saat itu pula bertepatan dengan kehadiran Risa yang datang dengan menggunakan sepeda motor bersama Chan Hirata.
"Thalia, ini ramuan yang kau minta!" serunya dengan nafas terengah-engah.
"Astaga kak, secepat itu?" tanya Vitalia heran bisa-bisanya Risa datang secepat kilat.
__ADS_1
"Sudah jangan banyak tanya, cepat berikan ramuan itu pada Mamamu!" jawab Risa memerintah Vitalia agar segera memberikan ramuannya pada Mama Ita.
"Baik kak..." jawab Vitalia.
Vitalia pun segera membantu salah satu perawat untuk memasang alat bantu pernafasan kemudian, memasukkan obat penenang bersamaan dengan ramuan yang telah Vitalia buat selama ia berada di Indonesia.
Sementara Aditya dan juga sang istri hanya diam dan saling tatap karena bingung melihat kedatangan Risa Long Ai yang merupakan musuh bebuyutan mereka dulu. Ditambah lagi mereka juga heran dengan Vitalia yang begitu akrab dengan Risa yang menyebutnya dengan sebutan kakak.
"Ada hubungan apa Vitalia dan Risa? Kenapa mereka menjadi akrab?" tanya Erlin berbicara dalam hati.
"Kenapa Vitalia menyebut Risa dengan sebutan kakak? Sebenarnya ada hubungan apa antara mereka berdua? Bukankah dulu mereka musuh?" Aditya bertanya-tanya dalam hati.
Sementara Risa yang mengetahui Aditya dan juga Erlin berada di ruangan tersebut pun membuka suaranya dengan berkata, "Eh, kalian. Bagaimana kabar kalian?" tanya Risa ramah sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Erlin pun mengernyit bingung dengan sikap Risa yang berubah 180° setelah bermusuhan dengannya karena berusaha merusak rumah tangganya
"Hmm, baik..." jawab Erlin seadanya sambil membalas uluran tangan tersebut untuk bersalaman.
"Oh ya maaf, mungkin kedatanganku ke sini membuat kalian terkejut, karena sebetulnya Vitalia adalah adik tiriku, mohon maaf bila sebelumnya aku ada salah sama kalian..." ujar Risa dengan tersenyum manis.
Mendengar obrolan dari mereka bertiga, Vitalia kemudian menghentikan aktifitasnya memeriksa sangat Mama, dengan berjalan menuju ke arah Risa yang sedang mengobrol dengan Aditya dan Erlin.
"Apa adik tiri? Ini kenapa menjadi lebih rumit lagi sih? tanya Erlin kebingungan dalam hati. Begitu pula dengan Aditya yang juga mengernyit bingung. "Sejak kapan kau mengaku-ngaku sebagai kakak tiri dari adikku?" tanyanya menatap Risa dingin.
"Aditya, dia memang adik tiriku yang sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Bukan sepertimu yang sudah tak menganggap Vitalia ..."
Mendengar pernyataan dari Risa, Vitalia menyahutnya dengan berkata, "Cukup, kak! Biarkan saja dia menganggapku atau tidak, yang terpenting aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tetap menjaga silaturahim diantara kita. Namun, apa boleh buat, kak Aditya tak ingin Vitalia ada di bagian keluarga Wijaya."
"Vitalia, apa yang kau katakan?" sahut Erlin bertanya pada Vitalia.
"Kak Erlin mungkin sayang sama Vitalia, tapi tidak dengan Kak Aditya!" ucap Vitalia dengan penuh penekanan.
Mendengar pernyataan dari Vitalia, Aditya pun menjawabnya dengan berkata, "Kau benar Vitalia, kau memang tak pantas menjadi adikku. Pergi dari sini, sekarang juga!"
"Oh, jadi kakak mengusir ku dari RS ini? Baiklah aku akan pergi sekarang juga.., jangan pernah temui aku lagi jika kalian mencariku, Ingat itu!" tegas Vitalia membalas pernyataan keras dari sang kakak dengan meneteskan air matanya.
"Ayo kak, kita pergi, tugas kita sudah selesai! Kau juga Bee, lebih baik kita pergi saja dari sini, kita sudah tak dibutuhkan lagi dengan orang yang tak tau berterima kasih kepada kita!" ujar Vitalia dengan kalimat menohok sambil menatap tajam ke arah Aditya.
"Jangan mencoba menyindirku!" ucap Aditya sambil menunjuk ke muka Vitalia.
"Aku tidak pernah menyindirmu, kak! Tapi aku bilang apa adanya, tadi kau meminta maaf denganku sekarang kau justru mengusirku, ok baiklah kalau itu mau kakak, aku akan menuruti keinginan kakak." jawab Vitalia yang tak takut dengan ucapan sang kakak.
"Vitalia tunggu, bagaimana dengan Mama apa kau tak memikirkannya, ha? Apalagi Papa, jika nanti Papa bertanya kepadaku bagaimana aku mau menjawabnya Vitalia? Hiks.. hiks..." balas Erlin dengan menangis sesenggukan.
"Tidak kak, kumohon! Please, mengertilah! Aku harus pergi dari sini, karena aku tak mau membuat kericuhan di tempat umum..." ujar Vitalia lalu pergi dengan menarik sang suami dan juga kakak tirinya, meninggalkan Erlin dan Aditya yang menatap ke arahnya.
Ia bahkan tak peduli dengan kondisi sang Mama yang masih terbaring lemah, karena ia sudah terlanjur marah dengan apa yang sudah diucapkan dengan Aditya.
Setelah kepergian Vitalia Erlin begitu geram dengan sikap sang suami yang begitu arogan dengan adiknya.
"Ini semua gara-gara Mas, aku benci sama Mas!" seru Erlin lalu meninggalkan Aditya dengan begitu saja.
"Erlin, tunggu sayang... maafkan Mas ..." ucap Aditya menjawab pernyataan dari sang istri.
**
Vitalia POV :
Disaat hati mulai memaafkan, tapi seseorang yang sudah ku anggap sebagai kakakku tak mau menerimaku lagi, hanya karena aku menikah dengan seorang Chandra Zhu. Bodohnya aku kenapa tak bisa menjelaskannya kepada mereka jika Mas Chandra salah paham dalam hal pembunuhan itu. Huh, entahlah.. aku tak tau. Biarkan takdir yang menjawab semua cerita ini.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...
...----------------...