Dokter Misterius VS Mafia Kejam

Dokter Misterius VS Mafia Kejam
Episode 199


__ADS_3

Kisah Yang Tragis


Setelah menerima kabat dari pihak kepolisian, seluruh anggota keluarga dikumpulkan menjadi satu. Baik dari keluarga Chandra maupun Vitalia. Sampai-sampai keluarga Wijaya yang tadinya acuh tak acuh dengan pernikahan Vitalia dan Chandra. Kini mulai ambil suara.


"Mas, bagaimana dengan Vitalia? Aku yakin, Mas. Dia pasti hancur setelah mendengar berita ini." ucap dokter Erlin.


"Sayang, tenangkan dirimu, setelah ini kita ke kediaman Chandra Zhu, bersama dengan yang lain," balas Aditya.


"Apa Mas yakin?" tanya Erlin memastikan.


"Iya sayang, Mas sangat yakin! Maafkan Mas yang selalu mementingkan ego, daripada kebahagiaan Vitalia," ucap Aditya meminta maaf kepada sang istri karena dirinya telah egois tanpa memikirkan kebahagiaan Vitalia.


"Iya Mas, masalah itu kita bicarakan nanti saja, yang terpenting sekarang adalah Vitalia Mas, kita harus secepatnya ke sana sekarang juga," ujar Erlin membalas pernyataan dari sang suami.


"Iyaaa, ya sudah kalau begitu kau bersiaplah, Mas mau bilang sama Papa dan Mama dulu," ucap Aditya kemudian melangkahkan kakinya naik ke lantai atas.


"Iya Mas,"


...****************...


Sementara di kediaman Chandra Zhu terlihat Vitalia terdiam, termenung menatap dua buah hatinya yang sedang tertidur di atas ranjang kecilnya.


"Hiks hiks hiks .. Ya Tuhan, kenapa masalah bertubi-tubi menimpaku? Apa salahku? Hiks.. hiks.." ucap Vitalia dalam hati.


"Mas Chandra, aku yakin kau belum meninggal. Aku yakin kau masih hidup Mas, bertahanlah, Mas please!" gumam Vitalia dengan meneteskan air matanya tanpa mengeluarkan suara.


Melihat Vitalia yang murung semenjak mendengar berita mengenai Chandra, Mama Renita membuka suaranya dengan berkata, "Sayang, jangan seperti ini! Kasihan baby twins melihatmu bersedih," ucap Mama Renita berjalan mendekat ke arah Vitalia yang sedang berada di dekat ranjang mungil putra-putrinya.


"Mama, hiks .. hiks .." panggil Vitalia lalu memeluk Mama Renita, dan dengan senang hati Mama Renita pun membalasnya.


"Sudah, Nak. Berdoalah, Chandra pasti diketemukan dengan selamat!" ucap sang Mama memberi saran. Dan Vitalia pun mengangguk pelan mengiyakan perintah dari sang Mama.


Sementara kedua orang tua Chandra, begitu terpukul atas kejadian yang menimpa putra mereka. Bahkan di saat rumah tangga putra mereka sedang dalam bahagia, tanpa ada suatu masalah, kini datang lagi permasalahan yang membuat hati mereka hancur berkeping-keping.


"Sayang, sudah tenangkan dirimu," ucap Tuan Zhu mencoba menenangkan sang istri.


"Pa, tapi Chandra bagaimana kondisinya? Bahkan Amelia saja belum mengabari ke kita," balas Mama Dhea yang sedang berada di kursi lain sedang ditenangkan sang suami.


Melihat kedua mertuanya begitu rapuh, Vitalia pun berniat untuk menghampiri mereka berdua. Saat ia sampai di depan kedua mertuanya, Vitalia membuka suaranya dengan berkata, "Ma, Pa. Kalian jangan bersedih lagi, Vitalia janji sama Mama dan Papa, Mas Chandra tidak akan kenapa-napa," ucapnya berusaha setegar mungkin berbicara di hadapan kedua orang tua suaminya.


"Nak, hiks.. hiks.." ucap Mama Dhea sambil memeluk menantunya.


"Ya Tuhan, ujian apakah ini, di saat kami sudah mempunyai dua buah hati, kami Engkau uji dengan ujian seberat ini, apakah aku bisa melewati hari ini dengan baik? Apakah aku akan sanggup mendengarkan kabar selanjutnya dari Mas Chandra, benar-benar kisah yang tragis di mataku," batin Vitalia membalas memeluk Mama mertuanya.


"Kau kuat, Vit. Kau kuat! Sekeras apapun cobaan kehidupan di dunia ini, tak ada yang lebih berat di banding dengan kehidupan setelah kematian," batinnya lagi masih dengan posisi memeluk Mama mertuanya.


...****************...


Sementara di sisi lain Amelia dan Jack sudah meluncur ke olah TKP, bahkan mereka ke sana tidak hanya berdua saja. Namun, mereka ke olah TKP bersama dengan dokter Mirna Feriska dan juga Risa.


Sementara Tuan Hirata dan Tuan Long Ai ternyata sudah ada di olah TKP semenjak tersiarnya kabar mengenai Chandra yang mengalami kecelakaan.


"Loh kalian kemari? Bagaimana dengan Vitalia setelah mengetahui berita ini? Apa dia tidak apa-apa?" tanya Tuan Hirata pada Amelia, Risa, Mirna, dan Jack.


"Tidak ada yang baik, Dad. Dia begitu hancur, bahkan Amelia saja tak mampu melihat dia bersedih terus menerus," jawab Amelia.


"Kau tenang saja putriku, saudari kembarmu pasti kuat menghadapinya," ucap Tuan Long Ai menimpali.


"Kuat bagaimana, Yah? Aku begitu tak tega melihat kakak begitu hancur dan rapuh, setelah semua permasalahan selesai, ini datang lagi permasalahan," balas Amelia.


"Itu artinya Tuhan memang sayang sama kakakmu, lagi pula kau tau sendiri kan, Vitalia itu siapa dan bagaimana? Dia tahan banting, Mel!" sahut Mirna Feriska.


"Tahan banting sih tahan banting, tapi kalau sudah menyangkut masalah suami mah laen kali, mbak," ujar Amelia menjawab pernyataan dari Mirna Feriska.

__ADS_1


Namun saat mereka sedang asyik mengobrol tiba-tiba ada seseorang yang datang, dan menyahutnya.


"Kau tak perlu khawatir Amelia," ucap seseorang yang tiba-tiba datang di tengah obrolan mereka.


Betapa terkejitnya Amelia yang mendengar suara yang begitu familier di telinganya, "Arnold, kau?"


'Ya, ternyata Arnold lah yang datang.' Arnold sendiri setelah bebas ia memutuskan untuk ke Indonesia, apalagi setelah mendengar kabar Chandra kecelakaan ia segera bergegas menuju ke lokasi kejadian.


"Hmm ya, ini aku. Kenapa? Apa kau terkejut melihat kedatanganku?"


"Untuk apa kau ke sini? Jangan mentang-mentang kau dijodohkan denganku lalu kau bisa berbuat seenaknya sendiri,"


"Amelia, jaga ucapannu, Nak! Dia bahkan datang ke amri ingin membantu mencari kakak iparmu,"


"Heh, memangnya dia bisa mencarinya, Dad? Sok ingin di puji!


"Apa katamu?" ucap Arnold tak Terima dengan apa yang sudah diucapkan Amelia.


"Heh, sudah sudah .. kenapa kalian malah jadi ribut sih? Daripada kalian ribut, tuh liat bantuin tuh tim SAR yang sedang mencari Chandra!" ucap Tuan Hirata berusaha menengahi pertengkaran di antara putrinya dengan Arnold.


"Benar apa kata Tuan Hirata, sebaiknya kita ikut turun tangan dalam pencarian." ucap Arnold.


"Baiklah.." ucap semuanya menyetujui perkataan dari Arnold.


Namun saat mereka semua akan menuruni jalan setapak untuk mencari Chandra, Risa membuka suaranya dengan berkata, "Mel, elo yakin kagak mau sama si Arnold?" tanyanya.


"Yakin seratus persen!" jawab Amelia penuh semangat.


"Tapi Mel, kakak mohon pertimbangkan lagi jika tidak ingin dokter misterius vs mafia kejam jilid dua muncul lagi.."


"Mana ada dokter misterius kayak gue?"


"Tanya aja sama dirimu sendiri!"


"Heh kalian, kenapa berisik sekali sih? Ayo buruan bantuin cari, jangan ribut terus bisanya!" ujar Mirna Feriska yang risih mendengar keributan antara Amelia dan Risa.


"Iya mbak .." jawab Amelia dan juga Risa secara bersamaan.


Namun siapa sangka di tengah pencarian mereka bersama dengan tim SAR, dokter Mirna Feriska menemukan sebuah jas yang tersangkut di sebuah pepohonan yang berada di tepian sungai.


"Eh, lihatlah itu bukannya jas milik Chandra?" ucap Mirna sambil menunjuk jas yang tersangkut di pepohonan. Seketika saja semua anggota keluarga yang ikut dalam pencarian mengarahkan pandangan ke arah barang yang di tunjuk oleh Mirna.


"Astaga, iya mbak, itu jas milik kakak ipar, biarkan aku yang mengambilnya," ucap Amelia.


"Tunggu dulu, biar aku saja yang mengambilnya, itu terlalu bahaya untukmu!" seru Arnold mencegah Amelia untuk mengambil sebuah jas yang diketahui milik dari Chandra.


Amelia yang mendengar teguran dari Arnold pun tak langsung bisa menerima pendapat dari Arnold. Ia kemudian membuka suaranya dengan berkata, "Jangan cari muka di depanku, Ar!" ucapnya kesal.


"Cari muka katamu? Lagian siapa yang ingin cari muka? Kau itu ya sudah di bantu masih saja cerewet!" seru Arnold tak terima.


"Heh, astaga, sudah-sudah! Kenapa kalian malah ribut lagi? Ini bukan waktunya untuk berdebat!" ujar Mirna Feriska memisah pertengkaran antara elia dan Arnold.


"Hmmm, maaf,"


"Ya sudah, Ar. Ambillah jas itu kemudian berikan kepada pihak kepolisian biar mereka bisa menyelidiki semuanya!" titah Mirna pada Arnold. Dan Arnold oun menurutinya.


"Baik Mbak.."


"Apa katamu, mbak?" tanya dokter Mirna Feriska dengan nada keterkejutannya mendengar Arnold memanggilnya dengan sebutan 'Mbak'.


"Hehehe, iya dong, aku harus belajar memanggilmu dengan sebutan mbak seperti Amelia dan Vitalia memanggilmu," ujar Arnold.


"Terserah apa katamu! Ya sudah buruan sana ambil jasnya! Biar aku dan yang lain menyusul Daddy dan Ayah," jawab Mirna memutar bola matanya jengah sambil menggelengkan kepalanya mendengar pernyataan dari Arnold.

__ADS_1


"Hmmm.."


"Hey kau mau ke mana tuan putri? Tetaplah di situ atau .." belum sampai Arnold menyelesaikan ucapannya Amelia menyahutnya dengan berkata, "Iya iyaa, bawel amat sih!" ucap Amelia memutar bola matanya jengah.


...****************...


Sementara di lain tempat, Aditya dan juga Erlin beserta seluruh keluarganya sudah sampai di kediaman Chandra Zhu. Saat ia akan mengetuk pintu, mereka dikejutkan dengan Vitalia yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu.


"Untuk apa kalian ke sini?" tanya Vitalia dingin menatap Erlin, Aditya dan kedua orang tua yang dulu telah membesarkannya secara bergantian.


Belum sampai semua menjawab pertanyaan dari Vitalia, Mama Renita muncul dari belakang Vitalia.


"Siapa, Nak? Kenapa kau tak menyuruhnya masuk?" tanya Mama Renita pada Vitalia. Namun, saat Vitalia akan menjawabnya, Mama Renita mengalihkan pandangan melihat ke arah tamu yang sudah datang,


Ia kemudian menyambungnya lagi dengan bertanya kepada siapa yang ia lihat saat ini. "Loh, kalian? Mari silahkan masuk!"


"Tidak Ma, mereka tidak boleh masuk!"


"Tapi Vitalia kami hanya ingin ..." belum sampai Aditya menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja,


Greepp...


Tak di sangka oleh semua orang yang berada di situ, Vitalia memeluk Aditya dengan tiba-tiba.


"Kak, Mas Chandra, hiks .. hiks .." ucap Vitalia sambil menangis sesenggukan di dalam pelukan kakak angkatnya yang masih ia anggap seperti kakaknya sendiri.


Saking rapuhnya, Vitalia yang tadinya begitu membenci keluarga yang membesarkannya, kini akhirnya bersatu kembali karena sebuah musibah yang di alami oleh Chandra.


Ia sadar, bahwa sesungguhnya ia tidak akan bisa hidup tanpa keluarga yang membesarkannya, apalagi mereka sudah sangat nyaman bagi seorang Vitalia.


"Vitalia, sudah jangan menangis lagi," ucar Aditya menenangkan sang Adik.


"Tapi kak, Mas Chandra dia kecelakaan ak.. aku tak tau ingin berkata apa-apa, hiks.. hiks.." ujar Vitalia sambil menangis sesenggukan di dalam pelukan Aditya.


"Benar-benar kisah yang tragis," ucap Vitalia sambil melepas pelukan sang kakak.


"Hey, Vitalia jangan berkata seperti itu!" seru Aditya melarang sang Adik untuk berkata yang tidak-tidak.


"Tapi kak, memang kenyataan seperti itu! Hiks.. hiks.. dari aku terpisah dari keluargaku, sampai aku bertemu dengannya dengan keadaan bermusuhan karena kesalahpahaman, lalu setelah semuanya selesai, kini datang lagi masalah baru, hiks.. hiks.. salahku ini apa kak, salahku apa? Hiks.. hiks.." ujar Vitalia.


"Vitalia, jangan seperti itu, Nak! Maafkan kami.."


"Ehemmb, maaf, sebaiknya kita masuk ke dalam saja, takutnya para wartawan menyimak obrolan kalian di sini." ucap Mama Renita mencairkan suasana.


"Baik, Ma."


"Sudah dik jangan menangis lagi, ok. Kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan suamimu,"


"Terima kasih kak,"


Mereka pun kemudian masuk ke dalam rumah mewah untuk menunggu kabar terbaru dari pihak kepolisian, maupun dari pihak anggota keluarga yang terjun langsung ke lokasi bersama tim penyelamatan (tim SAR).


***


Chandra POV :


Cinta kita tak akan pernah berakhir sampai di sini, aku mencintaimu istriku. Namun aku tak tau, apakah takdir akan mempertemukan kita kembali? Jika takdir membawa kita untuk bertemu lagi, itu artinya bahwa memang Tuhan telah menakdirkan kita untuk bersatu kembali.


Bersambung...


...****************...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2