
Terungkapnya sebuah Kebenaran.
Vitalia pun terduduk lesu di atas kursi yang berada di samping tempat tidur sang Suami sambil menggelengkan kepalanya tak percaya. “Tidak, kenapa Jack melakukan semua itu kepadaku? Ucapnya dengan nada lesunya.
“Bukankah aku dan suamimu juga sudah bilang padamu, Vit. Jika tes itu bisa jadi palsu, dan ternyata benar kan, dengan apa yang kami bilang ..” sahut Amelia membalas pernyataan dari Vitalia.
“Betul Vit, kau adalah bagian keluarga kita .. kenapa kau tak mau mengaku saja sih, Vit? Sampai kapan kau akan terus-terusan seperti ini? Apa kau nggak kasihan liat Mommy yang ke sana ke mari mencarimu tapi tak membuahkan hasil?” sahut Risa dengan melontarkan berbagai pertanyaan kepada Vitalia.
Belum sampai Vitalia menjawabnya, Sherlyn mengimbuhinya dengan berkata, “Betul kak, apalagi kakak belum mendengarkan isi rekaman yang akan di kirim kepada kakak nanti ..” imbuhnya menjelaskan.
Vitalia yang mendengar penuturan dari Sherlyn pun mengerutkan keningnya bingung, dan menjawabnya dengan berkata, “Rekaman apa maksudmu, Sher?” tanyanya kebingungan menatap Sherlyn. Namun belum sampai Sherlyn menjawabnya, tiba-tiba Chandra tersadar, dan menyahutnya dengan berkata, “Kau akan tau semuanya setelah Frans sampai di Indonesia, Istriku ..” ujarnya.
Seketika saja Vitalia dan yang lainnya mengarahkan pandangan menatap Chandra yang tiba-tiba sudah sadarkan diri.
“Bee ..” ucap Vitalia dengan nada keterkejutannya menatap sang Suami sambil meneteskan air matanya.
Melihat sang Istri menangis Chandra pun lalu membalasnya dengan berkata, “Iya Honey, kenapa kau menangis, hmmm?” tanyanya heran menatap sang Istri yang tiba-tiba mengeluarkan air matanya menangisinya.
Sambil mengusap air matanya, Vitalia menjawabnya dengan berkata, “Bee, syukurlah kalau kau sudah sadarkan diri, Bee. Kau tau aku sudah sangat merindukanmu ..”
“Oh, iya kah?” tanya Chandra memastikan. Dengan cepat Vitalia pun mengangguk mengiyakan pertanyaan dari sang Suami, lalu memeluk tubuh sang Suami yang sedang terbaring di tempat tidur RS.
“Bee, karena kau sudah sadarkan diri, maka aku akan menepati janjiku untuk melakukan tes DNA ulang, karena tes DNA yang kemarin adalah palsu...” ujar Vitalia masih dengan posisi memeluk sang Suami.
“Apa kau yakin Istriku?” sahut Chandra bertanya pada Vitalia.
“Mungkin kalau ditanya yakin atau tidak aku masih bimbang dengan kebenaran yang ada. Namun apa boleh buat, karena ada sebuah bukti yang membuktikan jika hasil tes itu ternyata ditukar, dan aku baru percaya, Bee. Bahkan, aku sangat kaget ketika mengetahui hal itu, kenapa bisa-bisanya omonganmu dengan omongan Amelia bisa jadi kenyataan ..” jawab Vitalia berkata apa adanya.
Mendengar jawaban dari sang Istri, Chandra pun menyahutnya lagi dengan berkata, “Kami sudah menduga dari awal Istriku, bahkan kau melupakan sesuatu jika dirimu saat ini sedang dikelilingi musuh-musuhmu. Makanya aku menyuruhmu untuk melakukan tes DNA ulang ...” ujarnya,
“Tak akan ada yang namanya tes DNA ulang!” sahut seseorang yang tiba-tiba saja datang dari arah pintu. Sontak saja semua mata mengarahkan pandangan menatap kedatangan seseorang itu.
Betapa terkejutnya mereka semua yang melihat kedatangan Frans dan Mirna yang berada di balik pintu. “Frans, apa yang kau katakan?” tanya Vitalia dengan nada meninggi.
“Sesuai dengan perkataanku Nyonya Muda, tak akan ada yang namanya tes DNA ulang. Dengan dua bukti yang ku bawa saat ini, aku yakin anda akan percaya bahwa dirimu bukanlah bagian keluarga Wijaya namun kau adalah bagian dari keluarga Hirata yang sudah sekian lama menghilang ..”
“Sekarang juga tolong dengarkan rekaman suara ini baik-baik!” sambung Frans meminta agar semua orang yang berada di ruang perawatan Chandra mendengarkan rekaman suara tersebut. Dan semua orang yang berada di situ pun seketika terdiam mendengarkannya baik-baik.
__ADS_1
Rekaman Suara :
“Arnold, pastikan bahwa anak dari Hirata sudah hilang tak diketemukan lagi oleh Keluarga Hirata ... !!” seru seseorang yang berada di seberang sana yang terdengar suara seorang Matsugi.
“Tenang saja Yah, mereka tidak akan dapat menemukannya, apa lagi Amelia, dia tidak mungkin bisa melacak keberadaannya, karena aku dulu telah membuang bayi itu di tempat pembuangan sampah dekat kediaman keluarga Wijaya, kalaupun keluarga Wijaya menemukannya, aku tidak yakin jika mereka akan merawat bayi itu, Yah ..” jawab seseorang yang terdengar seperti suara Arnold.
“Baiklah Ayah percaya denganmu, kalau begitu kau boleh pergi. Ingat jangan sampai kau melepaskan Amelia dengan begitu saja, karena Amelia merupakan aset berharga. Dan mengenai bayi yang kau buang di tempat Wijaya, aku yakin dia sudah dewasa, dan niat kita untuk menyembunyikan salah satu bayi kembar milik Hirata sudah berhasil, Ar. Kuharap kau jangan ceroboh dalam memegang rahasia ini ..” ucap Matsugi membalas pernyataan dari Arnold.
Rekaman suara tersebut berakhir :
Betapa terkejutnya semua orang yang mendengarkan rekaman suara tersebut termasuk dengan Vitalia, Chandra, dan Amelia. Seketika itu pula Vitalia lagi-lagi dibuat terkejut setelah mendengar rekaman tersebut. “Tidak, ini tidak mungkin!” seru Vitalia dengan mengepalkan tangannya geram, sambil menggelengkan kepalanya pelan..
Sementara Chandra benar-benar tak tau mengenai bukti rekaman itu, namun setahu dia adalah bukti rekaman dari Aditya dan Tuan Wijaya, namun siapa sangka rekaman itu justru rekaman yang lain.
“Astaga, kenapa bukti itu berubah hanya itu saja? Lalu dimana rekaman suara lanjutannya? Kenapa hanya sampai di situ saja?” ucap Chandra bertanya-tanya dalam hati. Begitu pula dengan Amelia yang tak kalah terkejutnya mendengar rekaman tersebut. “Ya Tuhan, rekaman itu persis sekali dengan apa yang ku dengar waktu aku masih menjadi kekasih dari Arnold.” Ucap Amelia pelan.
Mendengar ucapan dari Amelia, tak terasa air mata Vitalia lolos dengan befitu saja. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar saat ini.
“Nyonya Muda, saya ingin bertanya padamu, bukankah ini foto masa kecil anda dengan kakak anda Aditya?” tanya Frans sambil menyodorkan sebuah foto yang bergambarkan Vitalia yang masih bayi dengan Aditya yang masih berumur sekitar 3 tahun.
Betapa terkejutnya Vitalia ketika melihat foto tersebut, “Frans, bagaimana kau bisa menemukan foto ini?” tanya Vitalia sambil menerima foto tersebut. Namun belum sampai Frans menjawab pertanyaan dari Vitalia, Amelia tiba-tiba saja merebut foto yang sedang di pegang oleh Vitalia.
Amelia merebut foto tersebut. Sontak saja Vitalia yang melihat Amelia merebut fotonya membelalakkan matanya lebar-lebar menatap Amelia tak terima.
“Amelia, apa yang kau lakukan, ha?” tanyanya dengan berusaha merebut kembali foto tersebut. Namun sayangnya Vitalia tak dapat meraih foto tersebut. Saat Amelia benar-benar mengamatinya dengan baik, betapa terkejutnya Amelia melihat foto tersebut.
Bagaimana tidak, foto tersebut menunjukkan bahwa orang yang sedang bersama Aditya itu adalah kakak kandungnya, alias tidak lain dan tidak bukan adalah kembarannya.
“Kk... kk .. kakak ...” ucap Amelia lolos begitu saja dari mulutnya. Seketika itu pula Vitalia menghentikan aksinya untuk merebut foto yang berada di tangan Amelia, dengan tertegun menatap Amelia.
“Amelia, apa yang kau katakan?” tanya Vitalia dengan nada melemah.
“Jika ini memang benar fotomu, itu berarti kau adalah kakakku, Vitalia! Hiks ... hiks .. sampai kapan kau tak akan percaya dengan semua bukti ini, ha? Sampai kapan Vitalia? Jawab aku!” lantang Amelia bertanya pada Vitalia dengan mengguncang-guncang tubuh Vitalia. Sementara Vitalia hanya terdiam sambil menangis tanpa mengeluarkan suara, karena masih tak percaya dengan apa yang sudah terjadi.
“Satu lagi Vitalia, jika kau masih tak percaya, bukankah kau sudah melihat foto yang ada di kamarku? Lihatlah foto yang ku bawa ini, apakah foto bayi ini sama dengan foto bayi yang bersama dengan anak laki-laki ini? Perhatikan baik-baik Vitalia! Please ... hiks .. hiks ...” ujar Amelia sambil menyodorkan sebuah foto yang ia bawa kemana pun ia berada.
Tanpa menerimanya Vitalia sudah tau jika foto itu memang foto dirinya saat masih bayi. Ia bahkan menyadari kenyataan yang harus ia terima saat ini, bahwa dirinya ternyata bukanlah putri dari keluarga Wijaya, namun dirinya adalah putri dari keluarga Hirata.
__ADS_1
“Maafkan aku, aku harus pergi dari sini sekarang juga ...” ujar Vitalia sekuat tenaga melawan rasa sesaknya di dada setelah mengetahui kenyataan yang begitu pahit. Tanpa menunggu jawaban dari semua orang yang berada di ruangan tersebut, Vitalia melangkahkan kakinya keluar dengan langkah gontainya tak menggubris semua orang yang berada di situ termasuk dengan Chandra Suaminya.
“Honey ..., tunggu!” seru Chandra namun tak digubris oleh Vitalia yang tetap melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tempat ia di rawat. Mirna yang melihat Vitalia pergi pun segera mengejarnya.
Saat Chandra sedang berusaha melepas infusnya, Amelia membuka suaranya dengan berkata, “Chandra, mau kemana kau?"
“Bukan urusanmu, Amelia! Kau tau kan hati istriku pasti begitu rapuh setelah mendengar kebenaran ini ...” jawab Chandra lalu turun dari tempat tidurnya untuk mengejar Vitalia.
Amelia yang melihat Chandra berniat mengejar Vitalia pun berusaha mencegahnya. “Hentikan langkahmu, Chandra! Apakah kau ingin membuat kakakku menangis, ha?” tanya Amelia dengan nada meninggi. Ia benar-benar geram dengan sikap Chandra yang sama keras kepalanya dengan Vitalia. Seketika itu pula Chandra menghentikan langkahnya.
Vitalia POV :
Dunia itu kejam, ya! Mengapa semua ini harus terjadi pada diriku? Sangat menyedihkan, orang yang selama ini ku anggap sebagai keluargaku, ternyata mereka adalah pengkhianat!
Bersambung ....
...****************...
...----------------...
Oh, ya ... sambil menunggu up dari Author di bab selanjutnya, yuk jangan lupa mampir di novel temanku yang satu ini. Dijamin seru ....
Berikut Cuplikannya :
Blurb :
Seorang istri bernama Suci Permata Sari berusia 24 tahun, yang telah di diagnosa oleh seorang dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.
Akibat tekanan yang cukup besar dari orang tua suaminya, akhirnya Suci berdoa dan berserah diri kepada Pencipta-Nya. Hingga akhirnya Suci mendapatkan pencerahan dan memiliki solusinya sendiri.
Suci menyuruh sang suami yaitu Dimas Hartawan berusia 26 tahun, untuk mencari wanita lain agar mereka bisa secepatnya memiliki keturunan dengan syarat wanita itu bisa membagi Haknya dengan adil bersama Suci.
Suci sudah berusaha ikhlas untuk merelakan sang suami tercinta supaya mencari pendamping baru untuk segera memberikan cucu kepada keluarga Dimas yang selalu menuntut anak dari Suci.
Apakah Dimas berhasil menemukan pengganti Suci dengan syarat tersebut?
__ADS_1
Dan apakah Suci dan madunya bisa hidup akur serta saling membagi haknya?