Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 100 Terong nya besar


__ADS_3

Pas selesai menata masakan di meja, beserta dengan piring dan gelas di sana. Terdengar suara derap langkah dari arah pintu, manik mata Rasya menunggu kedatangan orang tersebut.


Dia adalah Samudra dan Ubai yang berjalan memasuki unit tersebut. Keduanya berjalan gontai dan tampak lelah.


"Siang Nona? Kenapa kau belum siap?" Ubai menatap intens penampilan Rasya yang masih seperti pagi.


"Ooh iya, aku baru selesai masak. Sebentar aku mandi dulu," ucap Rasya hendak ngeloyor ke kamarnya, namun di cegah oleh Samudra.


"Sebentar? siapkan dulu pakaian ganti dan lainnya, Saya mau mandi," jelas Samudra sambil menunjuk kamar pribadinya.


Langkah Rasya terhenti dan berbalik, berjalan ke kamar Samudra untuk menyiapkan seperti yang Samudra pinta.


Lantas Samudra mengikuti Rasya yang sudah memasuki kamarnya, sementara Ubai. Dia duduk manis di atas sofa depan televisi yang lantas ia nyalakan.


Rasya berjalan mendekati lemari, mengambil pakaian Samudra komplit semuanya ada.


"Siapkan air buatku mandi?" pinta Samudra kembali.


"Emangnya mau berendam air hangat? jam segini, siang bolong gini?" Rasya malah bertanya.


"Ya terserah aku dong, mau berendam atau tidak? ya suka-suka aku lah," balas Samudra sambil membuka pakaian yang melekat di tubuhnya dan seperti biasa berceceran di lantai.


"Baiklah, Tuan muda ..." sambil melengos ke kamar mandi. "Apapun harus ku yang kerjakan? nggak bisa sendiri apa?" gerutu Rasya.


Di kamar mandi, lantas Rasya mengisi bathub dengan air dingin dan tidak lupa menaburkan aroma terapi kesukaan Samudra.


Samudra masuk, ketikan Rasya masih ada di dalam kamar mandi tersebut. Ketika Rasya berbalik mau keluar, tidak sengaja dia melihat ada yang menonjol dibalik ****** ***** Samudra.


Hampir saja rasa menjerit! untung dia segera tersadar dan langsung menutup mulutnya, dan menundukkan pandangan ke bawah.


Rasya memejamkan kedua manik matanya yang indah.


"Terongnya besar, eh bukan.


Timun! bukan, itu pisang!" suara yang keluar dari mulutnya pelan. Namun tetap membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangan.


Sementara Samudra menyunggingkan bibirnya tersenyum puas, dengan melihat ekspresi wajah Rasya seperti itu. Dia pun sadar kalau juniornya mendadak bangun sehingga terlihat besar.


Rasya buru-buru keluar dan tidak lupa menutup pintunya. Berdiri di depan pintu sambil memejamkan kedua matanya.


"Waduh, gila. lagi-lagi mataku ternodai melihat bentuk seperti itu, iih amit-amit, amit-amit," gumamnya pelan sembari mengetuk jarinya ke kening.


Setelah itu Rasya keluar dari kamar Samudra sambil bergidik, memasuki kamarnya untuk segera mandi.

__ADS_1


Karena setelah makan siang, dia akan pergi belanja dengan Ubai, dan Samudra sendiri


katanya ada urusan dengan sang kekasih. Karin.


Kini mereka sudah berada di meja makan untuk makan siang bersama.


Samudra yang duduk di hadapan Rasya, tentu melihat yang ada di Rasya saat ini, yaitu kalung permata biru yang bergantung di lehernya.


"Kau memakai kalung punya siapa?" tanya Samudra heran.


"Ooh, Ini pemberian dari Om Fathir dan tante Viona tadi, tadi mereka ke sini untuk berpamitan pada aku." Balas Rasya.


"Oya? ngasih hadiah itu padamu?" Samudra mengerutkan keningnya.


"Iya mereka memberikannya ini padaku." Rasya mengangguk.


Ubai menoleh pada keduanya bergantian. "Sebuah liontin yang indah. Pasti mahal tuh, secara nggak mungkin lah yang murah-murah."


Rasya dan samudra terdiam sembari menoleh ke arah Ubai yang menatap ke arah mereka berdua.


"Seharusnya kalung itu dari dari dirimu Bos, bukan dari orang lain! sudah sewajarnya loh, kau memberikannya pada istrimu ini, ya ... setidaknya sebagai terima kasih karena setiap hari sudah mengurus mu di sini." Imbuhnya Ubai.


Samudra hanya terdiam dan menikmati makan siangnya itu.


Rasya mengangguk. "Iya, Tuan Ubai, aku bersyukur sudah bertemu orang-orang yang baik termasuk kalian berdua." Lirihnya Rasya sambil memasukkan sendok ke mulutnya.


"Aku juga berterima kasih, pada Tuan muda yang sudah mau menampung ku Di sini." Rasya menunduk dengan raut wajah yang sendu.


Ubai menangkap raut wajah yang sedih dari Rasya.


"Hi ... jangan bermuka sedih begitu, bagaimanapun tuan mu ini, sekarang suamimu yang berkewajiban membahagiakanmu, menafkahi mu, mau rumah. Pakaian, makanan! pokoknya sandang, papan dan pangan itu kewajiban tuang muda sekarang," ujar Ubai kembali.


Samudra menatap datar ke arah Ubai. dia bingung harus berkata apa. "Kau itu nggak perlu lah mengungkit-ungkit di istriku! aku suaminya, yang penting dia di sini hidup senang, titik." Pada akhirnya Samudra bersuara juga.


"Tapi, kan itu kenyataannya Bos?" Ubai menatap serius Samudra.


"Iya-iya-iya ... saya tahu itu, tapi nggak usah dibahas! oke? malas," ketus Samudra sambil meneguk minumnya.


"Kalian kenapa sih? kalau ngomong itu selalu ... aja terdengar debat, bisa nggak sih nggak debat gitu? panas telinga aku!" Rasya menggelengkan kepalanya seraya menirukan ucapan Samudra.


Ubai mengangguk sambil tersenyum, lalu melanjutkan makannya. Menikmati sampai piringnya tandas.


"Aku, yang lebih panas telinga mendengar suaramu, aku nggak bisa dengar kau ngoceh Mulu." Samudra dengan ada dingin.

__ADS_1


"Aihs ... orang aku gak ngomong apa-apa! ditanya? ya ngomong! suka ada aja alasan kayak gitu." Kini Rasya yang malah mengomel.


"Gak perlu ngomel! makan aja habiskan?" ketus lagi Samudra.


Tangan Samudra bergerak mengambil tisu, lantas mengarah ke sudut bibirnya Rasya yang ada nasinya di sana.


"Kalau makan itu, jangan belepotan! malu kalau di depan orang," suara Samudra datar sambil menyimpan tisu.


Ubai yang melihat bahasa tubuh Samudra terhadap Rasya, menjadi serba salah, lalu dia menyembunyikan perasaannya itu dengan meneguk air mineral yang ada dihadapannya itu.


"He he he ... kan nggak tahu kalau ada yang nempel," kata Rasya sambil mengusap lagi sudut bibirnya.


"Makanya harus tahu! mending kalau kita bertiga, berdua. Kalau dihadapan banyak orang gimana? nggak sopan dan malu!" tambahnya Samudra.


"Sudah! lanjutkan makannya?" Ubai menengahi.


Kemudian mereka menyelesaikan makan siangnya, sebelum pergi. Rasya membersihkan meja dan mencuci perabotan terlebih dahulu, biar perginya tenang. pikirnya Rasya.


"Sudah belum, Nona?" tanya Ubai yang berdiri tidak jauh dari Rasya berdiri dekat wastafel.


"Ooh iya, dikit lagi kok," sahutnya Rasya sambil buru-buru menyelesaikan pekerjaannya itu.


"Aku pergi duluan?" suara Samudra sambil berjalan menuju pintu.


Sejenak Rasya melihat punggung Samudra, yang begitu semangat untuk bertemu sang kekasih.


"Selamat bersenang-senang Bos?" kata Ubai sambil memandangi langkah Samudra.


"Apanya yang senang-senang? orang mau sibuk kok!" balas Samudra. "Ooh iya. Nanti uang belanja aku transfer ke rekening mu, biarkan dia mau belanja apa saja maunya." Sambung Samudra sambil melintasi pintu.


Rasya menggerakan manik matanya pada Ubai. "Aku dah siap!"


Lalu mereka berdua meninggalkan unit Samudra. Keduanya berjalan berbarengan menuju mobil Ubai yang terparkir di parkiran.


"Anda duduk di depan saja, Nona." Ubai membukakan pintu depan.


Rasya mengangguk sambil memasukinya, lantas duduk manis di samping kemudi. Ubai mengitari mobilnya setelah menutupkan pintu sebelah Rasya.


Dengan tidak membuang waktu, Ubai langsung menyalakan mesin mobil dan melajukan dengan cepat meninggalkan gedung tersebut ....


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan hadiah lainya ya🙏 makasih?


__ADS_2