
Saking senengnya, tanpa sadar dan refleks. Rasya mencium memeluk bahu dan mencium singkat pipi Samudra. Lalu bergegas keluar dari mobil.
Samudra kaget sangat, lantas mematung sambil mengusap pipinya yang masih terasa menempel sejuknya bibir Rasya, netra nya melihat kepergian Rasya dari mobil dan berlari masuk ke gedung tersebut.
"Gila tuh cewek. Gak nyadar banget kali, cium orang!" gumamnya Samudra, dan setelah puas tak bergeming. Samudra melajukan mobilnya kembali menuju kantor dengan kecepatan sangat tinggi.
...---...
Di suatu tempat yang begitu hening dan pengunjung yang menikmati sajian musik, yaitu di sebuah cafe ada seorang wanita modis tengah duduk manis menghadapi gelas minumnya.
Matanya celingukan mencari seseorang yang dia tunggu. Muncullah seorang pria. Yang masih terbilang muda, berpakaian formal menghampiri dan sedikit cepaka-cepiki dengan Karin.
"Sorry, bila lama menunggu? maklumlah macet. Silakan duduk?" pria itu menyilakan Karin duduk kembali.
"Em, lumayan sih. Makasih?" Karin mendidikan kembali bokongnya di tempat semula.
Pria itu bernama Haris seorang pemilik pH yang ternama di Negeri ini. H entertainment. Dia mengadakan kerjasama dengan Karin sebagai model brand sebuah kecantikan.
"Panggil saja saya Haris, biar lebih akrab gitu," ucap Haris seraya memperhatikan ke arah Karin, penampilannya sangat menggoda dengan penampilan nya yang selalu seksi.
Dan melekat di badannya pun semua berkelas. Serta tampak mewah di badan gadis itu.
"Oh, oke. Haris, kapan kita akan menandatangani kerja sama kita?" tanya Karin, dia sudah tidak sabar untuk segera melangkah ke jenjang karier yang lebih tinggi lagi, sebab di pH Haris. Bukan cuma dijanjikan main iklan saja tapi juga film yang di produksinya.
"Sabar, itu pasti. Saya ini kamu bukan cuma membintangi beberapa iklan nantinya. Tetapi film juga jadi ... kamu harus bersiap-siap untuk itu," ungkapnya.
"Oh, saya mau. Mau banget! saya bersedia." Karin menyambut bahagia tawaran itu.
"Gimana kalau kamu ikut saya? untuk membikin janji," Haris berdiri yang sebelumnya meneguk minumnya.
"Baiklah, saya mau telepon asisten saya dulu!" Karin menelpon asistennya yang bernama Reina.
Setelah itu mereka berjalan keluar dari cafe tersebut sesudah membayar minuman yang sudah mereka pesan.
Mereka berjalan menuju mobil mewah yang terparkir cantik tidak jauh dari cafe tersebut.
"Saya tertarik dengan dirimu. Saya yakin kalau dirimu akan menjadi artis besar, semua yang ada pada dirimu itu sangat menunjang." Haris melirik ke arah Karin yang terus tersenyum merekah.
"Anda bisa saja." Karin dengan malu-malu.
"Panggil saja Haris! biar tambah akrab gitu." Haris menyentuh tangan Karin dan sedikit mengelusnya.
Karin menjadi risih, tetapi dia harus bisa menghadapi demi tujuannya menjadi orang terkenal dan sukses.
__ADS_1
Supir nya sesekali melihat sang majikan dari kaca spion, Dalam hati. "Mulai."
Mobil mewah tersebut terus meluncur ke sebuah hotel bintang lima. Dan asisten Karin pun sudah berada di sana.
Kini mereka sudah berada di kamar hotel dengan beberapa orang yang berada di sana dan menyiapkan surat kontrak pekerjaan untuk Karin.
Setelah tandatangan selesai. Mereka bubar dan yang ada tinggal Karin dan Haris berduaan.
"Kalau begitu saya mau pulang dulu? terima kasih atas kerja samanya?" Karin mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh Haris.
Haris tersenyum, sambil menatap penuh napsu. Mencondongkan wajahnya ke samping kepala Karin. "Kau sangat cantik?"
Karin tersipu malu, dan berbunga-bunga hatinya mendengar rayuan dari Haris. Pria tampan itu cukup pandai mengambil hati perempuan.
"Baiklah. Saya antar ya? takut ada yang ganggu! lagian kamu kan gak bawa kendaraan." Meraih tangan Karin keluar dari kamar hotel.
Keduanya berjalan beriringan dengan tangan Haris menggenggam mesra tangan Karin. Setelah berada di dalam mobil milik Haris.
"Giman kalau kita makan malam dulu ya? masukan cantik?" tawar Haris sambil melirik Karin.
"Em ... boleh." Karin mengangguk setuju.
"Pak, mampir ke restoran?" perintah Haris pada supirnya yang langsung membalas dengan anggukan.
...---...
"Habiskan-habiskan saja, baguslah kalau kalian suka!" Ubai merasa senang semua rekannya suka dengan kue buatan Rasya.
"Iya enak nih, rekomendasikan dong biar kalau butuh bisa pesan." Kata seorang wanita yang sedang asik makan kue tersebut.
"Eeh ... saya aka--" Ubai menggantungkan perkataannya karena di potong oleh Samudra yang baru keluar dari toilet.
"Kagak-kagak, itu buatan keluarga dan tidak diperjual belikan," ucap Samudra dengan nada datar.
"Enak saja, kau ini mau bikin dia jualan?" ucap Samudra pelan dan menyenggol lengan Ubai.
"Tapi kan bagus, Bos. Jadi dia punya kegiatan yang menghasilkan uang." Ubai tak kalah pelan.
"Nggak-nggak, kau pikir mengurus rumah bukan kegiatan? kalau dia sibuk bikin kue! otomatis gak ada waktu untuk mengurus gue. Mengurus rumah, terus apa bedanya dengan di kampung dia yang menjadikannya capek dan makan pun susah?" ujar Samudra pelan dan matanya mendelik pada Ubai.
"Iya juga sih, bener-bener. Kau perhatian juga Bos? he he he ..." Ubai mengangguk.
"Gimana Tuan? saya perlu buat acara nih?" tanya wanita tadi.
__ADS_1
"Iya, enak nih." Timpal yang lain.
"Em, gak jadi. Itu keluarga tercinta si Bos yang bikinkan. Khusus." Ralat Ubai.
"Ya ... padahal kita suka ini. Tadinya kita mau pesan ya kapan-kapan gitu?" timpal wanita tadi dan beberapa orang lainnya.
Setelah yang meeting bubar. Tinggallah Ubai dan Samudra di di ruang meeting tersebut.
"Bos, kenapa kau senyum-senyum begitu? terus kenapa juga sedari tadi, dalam meeting pun kau mengusap pipi Mulu. Kenapa? gatal-gatal lagi? diminum lagi obatnya." Kata Ubai yang sedari tadi memperhatikan tungkah Bosnya itu.
"Ha? tidak. Aku gak kenapa-napa, baguslah meeting nya berjalan lancar. Oya nanti sepulang dari sini kita mampir ke butik dulu!" ucap Samudra sambil menyuapkan kue ke mulutnya.
"Butik? buat apa masa mau makan malam di rumah saja mau ganti baju?" tanya Ubai menatap heran.
"Bukan buat saya! tapi gadis itu, kau bilang aja dia? gak mungkin kan dia memakai pakaian yang ada, jelek-jelek." Samudra berdiri dan menggeser kursinya.
"Ha? gak salah mau ajak Nona Rasya? bukankah kau bilang gak mau ngajak?" Ubai mesem.
"Kan kau sediri yang bilang kalau dia di ajak, mau nginep pun gak khawatir--"
"Emang kau khawatir juga sama dia?" selidik Ubai memotong kalimat dari Samudra.
"Aku, yang khawatir, bukan saya. Dari pada kau nungguin dia di apartemen, y mendingan ku bawa lah! nyari-nyari di gerebek orang lagi. Masa satu istri dua suami ha ha ha ...."
"Iya juga sih, emang kekasih mu gak di ajak?" selidik Ubai tumben banget kalau Karin gak di ajak.
"Dia ada urusan, mau teken kontrak kayanya, sudahlah masa bodo yang penting dia bahagia." Kata Samudra sambil berjalan menuju ruangan kerjanya.
"Oh, kenapa gak sama Nona saja ke butiknya. Biar bisa mencoba bajunya sekalian?" saran Ubai.
Samudra hentikan langkahnya lalu menoleh. "Oya. Kalau papa mama tanya Rasya itu siapa? jawab saja kekasih mu dan menjadi asisten ku." Pesan Samudra tampak serius.
"Kenapa gak bilang saja kalau dia istri mu, sekalian nikahkan lagi. Resepsi gitu!" ungkap Ubai dengan nada bercanda.
"Kau gila ha? mau di taro dimana nih muka. Lagi pula orang tua ku belum tentu bisa terima dia, ah kau ada-ada saja. Saya sebentar lagi mau menikah dengan Karin. Asal aja kau bicara." Jelas Samudra lalu mengayunkan kembali langkahnya.
"Ya, siapa tahu aja mereka menyayangi Nona Rasya, kan bisa aja--"
"Gue yang gak bisa! gue cinta Karin gak ada yang menggantikan posisi Karin di hati gue." Blak! pintu Samudra banting membuat Ubai dan yang berada dekat dengan Rungan itu kaget.
Ubai terheran-heran menatap daun pintu sementara Samudra sudah berada di dalam ....
.
__ADS_1
.
Mohon dukungan nya ya? like komen dan vote nya terima kasih🙏