Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 58 Dandan cantik


__ADS_3

Kedua tangan Ubai memeluk pinang Rasya sehingga dia tidak terjatuh ke lantai. Dan tangan Rasya pun meraih leher Ubai seketika. Sejenak mereka saling tatap menyelami dalam nya tatapan masing-masing.


Di dalam hati Ubai bergetar. Dadanya berdebar-debar tidak menentu.


Begitupun dengan Rasya, jantung berdegup sangat kencang seakan mau lompat dari tempatnya. Tangan Ubai masih saja betah di pinggang gadis itu.


Namun Rasya segera sadar dan melepas tangannya yang melingkar di leher Ubai, ia tarik dan melepas melepaskan tangan Ubai dari anggota tubuhnya.


"Ehem, ka-kau tidak kenapa-napa, kan?" tanya Ubai sambil berdehem untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


"Makasih, Tuan? kalau gak Tuan Ubai tangkap. Pasti tubuhnya sudah ambruk ke lantai," ucap Rasya sedikit malu-malu.


"Em ... sama-sama." Balas Ubai dengan masih terlihat gugup menyembunyikan perasaannya yang tidak karuan.


Rasya menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal. Jantungnya masih deg-deg-gan.


"Ehem, dimana ponselnya? aku mau lihat, bilang saja di mana? biar aku ambil sendiri." Ubai berdiri ingin melihat ponsel milik Rasya sambil menyebalkan yang saat ini dia rasakan.


"Oh itu, di bawah bantal. Kalau tidak salah sih," akunya Rasya seraya menunjuk ke kamarnya.


"Oke!" Ubai gegas membawa langkahnya ke kamar Rasya, lantas memasuki kamar tersebut yang tampak rapi dan wangi. Membuka bantal satu persatu hingga ia temui sebuah ponsel bagus di sana.


"Benarkah, Samudra membelikan ini pada Nona Rasya? ini barang yang cukup mahal nih, Hem. Perhatian juga ya si Bos pada gadis itu?" Monolog Ubai sambil memperhatikan ponsel di tangannya. Ia lihat sampai di bolak balik.


"Hebat dia, memberikan ini pada Rasya, ini bukan barang kw atau seken nih, masih gres." Ubai membawanya ke ruang tengah menemui lagi Rasya yang berada di sana.


"Kapan dia memberikan ini padamu?" tanya Ubai sambil mendudukkan dirinya ke sofa yang tidak jauh dari Rasya duduk.


Rasya menoleh pada Ubai. "Beberapa hari lalu, iya sudah beberapa hari yang lalu. Apa Tuan Ubai gak tahu?" Rasya balik bertanya.


"Tidak, aku tidak tahu. Makanya aku, bertanya." Ubai menggelengkan kepalanya.


"Oya, Tuan ramah, tuan jutek, eh tuan muda ... mau keluar sama kekasihnya dan nanti malam pun mau ke rumah pribadinya. Jadi gak pulang cepat." Kata Rasya sambil menatap ke arah pemuda yang tampan tersebut.


"Saya tahu itu. Bagaimana kalau nanti malam kita jalan-jalan, Nona bersama ku?" tawar Ubai sambil mendekati Rasya.

__ADS_1


"Mau, mau ... aku mau jalan-jalan sama anda, Tuan." Rasya antusias dan senang mendengar mau di ajak jalan-jalan sama Ubai.


"Oh, iya, lupa!" Rasya menepuk jidat nya. "Tadi pak RT datang membawa surat kutipan pernikahan."


"Terus anda simpan di mana?" tanya Ubai sambil memberikan ponsel milik Rasya.


"Di laci kamar tuan jutek." Lalu Rasya beranjak ngeloyor ke kamar Samudra untuk menyimpan pakaiannya yang sudah rapi itu.


Namun ketika baru dua tiga langkah, tangan Rasya Ubai raih.


Rasya kaget dan langsung melihat tangan Ubai tersebut. Lalu beralih pada wajah Ubai bergantian, sehingga Ubai langsung menjauhkan tangannya itu dari tangan Rasya.


"Em ... sorry. Sebaiknya anda makan dulu sebelum membereskan itu semua. Kita makan bersama." Ubai sedikit salah tingkah.


"Em, i-iya." Rasya mengangguk dan menyetujui tawaran Ubai untuk makan terlebih dahulu.


Dadanya Rasya menjadi berdebar tak menentu. Dag-dig-dug tak karuan, sikap mereka menjadi kikuk sementara waktu. Lalu Rasya berbalik menghampiri meja makan.


"Waw ... cumi, udang. Aku suka sekali ini!" Rasya melihat ke arah Ubai dengan sumringah.


"Kau suka ya? syukurlah kalau kau suka! tadi ku kira kau tidak suka, Nona." Balas Ubai merasa senang kalau Rasya menyukai yang dia belikan.


"Oya, kau tahu? kalau tuan muda alergi udang. Jadi jangan coba-coba kau berikan dia udang sekalipun campurannya secuil." Ubai wanti-wanti agar Rasya tidak memberi Samudra udang basah.


"Tapi, tuan bolehkan aku membeli itu semua kok." Rasya terheran-heran.


"Ya kalau kau membeli, kan bukan berarti dia yang makan juga! dia perbolehkan anda membeli untuk anda saja Nona," ungkap Ubai sambil menyuapkan makannya.


"Oo!" Rasya membulatkan mulutnya.


Lalu mulai mencicipi makanan yang Ubai bawakan. "Em ... nyami-nyami ... enak sekali. Nanti aku akan buat seperti ini ah, resepnya mau aku cari di handphone ku."


Ubai tersenyum. Pasti banyak manfaatnya Samudra membelikan Rasya handphone. "Iya, cari saja di ponsel mu, apapun yang kamu cari pasti ada."


"Iya, Tuan." Balas Rasya sambil melanjutkan menyantap makannya sampai tandas. Lalu ia bengong, mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa, Nona?" tanya Ubai penasaran melihat Rasya menjadi bengong.


Rasya menoleh ke arah Ubai. "Oh, ti-tidak." Menggeleng.


Selesai makan siang, Ubai beranjak. "Aku pergi ke kantor lagi dan nanti sore kau bersiap saja Nona, aku jemput nanti."


"Em ... baiklah." Rasya mengangguk sampai dua kali.


Ubai mengayunkan langkahnya yang lebar menuju pintu. "Jangan lupa ya? Nona. Nanti sore ku jemput!"


"Iya,Tuan ... aku ingat kok," sahutnya Rasya kembali sambil membereskan bekas makannya.


"Dandan yang cantik ya?" kata Ubai lagi sambil membuka pintunya.


"Emang mau ke mana sih harus cantik segala? cuman mau jalan-jalan kan?" Rasya heran.


Namun Ubai keburu hilang dari pandangan. Dan tidak keburu menjawab pertanyaan dari Rasya.


"Iddih ... tuan Ubai main hilang begitu saja." Gumamnya Rasya sambil beres-beres.


Detik kemudian setelah membersihkan meja dari sampah. Rasya membawa langkahnya ke wastafel. Mencuci tangan Sampai bersih. Lalu melanjutkan tugasnya membereskan pakaian Samudra ke lemarinya.


... ---...


Mobil Jaguar Samudra terparkir manis di depan sebuah universitas, dimana Karin kuliah atau mengenyam pendidikannya di sana.


Samudra turun dan menunggu, berdiri dan bersandar ke mobil. Mengedarkan pandangan ke arah dalam gerbang. Di sana ada seorang gadis tinggi semampai dan body gold berjalan dengan cepat menghampiri ke arah Samudra.


"Sayang, lama sekali sih?" keluh Karin lalu mencium pipi Samudra kanan dan kiri.


"Macet sayang, maklumlah. Yu, mau jalan sekarang?" Samudra menegakkan tubuhnya dan berjalan mengitari mobil hendak membukakan pintu untuk sang kekasih.


"Kau tidak ngantor?" tanya Karin sebelum memasuki mobil tersebut.


"Tidak, semalam--"

__ADS_1


"Semalam apa?" Karin menatap heran pada kekasihnya itu, mengurungkan niatnya untuk masuk.


"Eh, maksud ku semalam ... kurang tidur dan bangunnya kesiangan, lagian, walaupun aku ngantor tetap saja, kan aku harus mengantarmu!" elak Samudra, untung gak kecemplosan bilang kalau semalam habis di grebeg pak RT dan warga sehingga pernikahannya dengan Rasya terjadi begitu saja ....


__ADS_2