
Beberapa saat Samudra menunggu, tetap saja Rasya tidak bergerak dan tidurnya begitu pulas.
Kedua netra Samudra bergerak turun tertuju pada buah segar yang masih terjaga kesuciannya. Dengan napas yang mulai memburu. Serta hasrat yang menggebu untuk menuju puncak tersebut. Perlahan namun pasti tangan Samudra bergerak menyentuh salah satunya.
Beberapa saat, tangan Samudra dengan sangat hati-hati bermain di sana dengan kedua mata yang terpejam menikmati buah tersebut meskipun dari luar saja. Dia tidak berani menyentuh kulitnya langsung, cukup dari luar gerbang saja. Namun sangat berasa empuknya.
Rasya mulai bergerak dan tangan Samudra langsung di tarik, Rasya berbalik menghadap ke arah Samudra, lantas memeluk pinggang Samudra sangat erat bahkan menyusupkan wajahnya di dada nya pria itu.
"Em ... Tuan ... jangan sakiti aku!" gumamnya Rasya dalam pelukan Samudra.
Samudra terkesiap dan berpikir apa Rasya menyadari atau cuma ngelindur? dan siapa yang dimaksud oleh Rasya, sebab di sini yang dia panggil tuan itu bukan cuma dirinya saja. Tetapi Ubai juga.
"Aduh, aku makin gak bisa nahan kalau kaya gini." Samudra memejamkan matanya kuat-kuat.
Samudra kembali membuka matanya. Niatnya sudah bulat kalau dia akan melakukannya, namun niat itu urung lagi setelah melintas bayangan Karin di pelupuk matanya.
Sehingga Samudra hanya menatap ke arah Rasya yang begitu dekat dengan dirinya itu, dengan pelan. Samudra membalas pelukan Rasya dan akhirnya mereka tidur sambil pelukan.
Di tengah nikmatnya Samudra tertidur. Tiba-tiba merasakan pergerakan dari Rasya yang terbangun, matanya melotot sambil menunjuk-nunjuk.
"Kerang ajar lho, dasar banci! beraninya sama perempuan. Wanita yang lemah kau permainkan ya? dasar banci." Suara Rasya menunjuk-nunjuk ke arah Samudra.
Kemudian memukul-mukul dada Samudra membabi buta dan kakinya pun mendorong tubuh Samudra hingga terpental ke lantai
Alangkah terkesiap nya Samudra, orang setengah mimpi. Samudra nyengir merasakan bokongnya yang sakit, ketika mau marah pada gadis itu.
Rasya malah kembali membaringkan tubuhnya ke atas bantal dan matanya pun langsung terpejam. Terlihat beberapa kali menguap.
"Dasar gadis bodoh, main tendang saja tubuh orang." Gerutu Samudra masih terduduk di lantai, mana cuma memakai handuk dan dalaman saja lagi.
Rasya membuka kembali matanya. Bangun dan menunjuk-nunjuk lagi. Samudra buru-buru bangun dan mendekati Rasya namun yang ada Rasya tidur lagi sampai ngorok.
"Gila nih orang!" Samudra mengepalkan tangan dan mengeratkan rahangnya. Merasa kesal dan marah.
Menatap ke arah Rasya yang kembali tidur lelap. Kemudian Samudra merangkak naik dan berbaring kembali di samping Rasya, dengan perlahan tangannya memeluk pinggang gadis itu yang sebelumnya menutupi tubuhnya dengan selimut.
Pagi-pagi, Rasya terbangun duluan. "Hem ... nikmat sekali tidur ku, berasa hangat banget ya Allah ... di kamar tuan muda lebih nyaman dari kamar ku," gumamnya sambil menggeliat nikmat.
Lalu membuka matanya lebar-lebar ketika melihat tangan kekar memeluk dirinya. "Ha? tangan?"
Melirik ke belakang. Pada orang yang masih tertidur lelap. "Aaaah ...." teriak Rasya sambil mendorong tubuh Samudra hingga lagi-lagi terjatuh.
Samudra benar-benar terkejut, sontak bangun dengan selimut yang menggulung tubuhnya itu. Sejenak terdiam mengumpulkan jiwanya yang baru tersadar.
"Aduh ... kau itu gila atau gimana sih? dari semalam terus menendang ku." Pekik Samudra.
Rasya yang juga masih belum tersadar penuh. Terdiam, bengong melihat ke arah Samudra.
"Tu-Tuan kapan pulang?" tanya Rasya lirih, ketika sudah tersadar penuh dan menyadari kalau Samudra ke luar kota.
"Semalam!" ketus Samudra sambil berdiri menyingkirkan selimut dari tubuhnya.
Tampaklah tubuhnya Samudra yang tanpa pakaian itu, dan hanya menyisakan ****** ***** saja. Rasya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Namun masih sempat mengintip perut Samudra yang sixpeks dan bawahnya pusatnya.
Samudra tersenyum lihat Rasya yang menutup wajahnya dengan 10 jari, tapi masih menyisakan jarak sehingga masih bisa mengintip yang berada di depan matanya.
"Kau itu, kalau suka ya suka aja, lihat aja nggak usah ditutupi juga. Percuma." Suara Samudra dingin sambil membawa langkahnya ke kamar mandi.
"Siapa bilang suka, geli yang ada iiy ..." Rasya bergidik dengan masih menutup wajahnya.
Setelah itu Rasya membuka kedua tangannya. Dan menurunkan kedua kaki ke lantai mendekati lemari mengambil pakaian ganti buat Samudra. Lanjut mengayunkan langkahnya keluar dari kamar Samudra.
"Kamu ngobrol sama siapa Ras?" tanya Wulan merasa heran ketika melihat Rasya keluar dari kamar Samudra, terutama terdengar mengobrol dengan seseorang.
"Em ... itu sama tuan muda," sahut Rasya sambil memasuki kamar pribadinya.
"Tuan muda? kapan pulangnya dia?" tanya lagi Wulan sambil menyusul langkah Rasya.
"Entah, tahu-tahu aku bangun dia sudah ... ada di kamarnya." Jawab Rasya sambil sedikit hati-hati. Takut keceplosan, sebenarnya ... kalau Samudra tidur dengannya mungkin dari semalam.
"Terus? kenapa kamu nggak pindah kalau tuan muda pulang dari semalam?" Wulan mengeluarkan keningnya tidak habis pikir, kenapa Rasya satu kamar dengannya? sudah tahu kalau tuan mudanya pulang.
"Mana kutahu? aku nggak tahu kalau tuan muda pulang! tahu-tahu aku bangun sudah ada di kamarnya," jelas Rasya lalu dia membawa langkahnya ke kamar mandi.
"Oh ... gitu." Wulan membulatkan bibirnya, lalu dia mulai beraktivitas menyapu dan membersihkan di setiap ruangan kecuali kamar Samudra.
Setelah Rasya menunaikan kewajibannya, dia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Tuan muda. Dan pastinya buat Ubai juga.
"Kau masak banyak? emang siapa yang mau makan," tanya Wulan ketika mendekati Rasya yang sedang mengeksekusi bahan-bahan masakan.
"Buat kita lah, berempat," jawab Rasya tanpa menoleh.
"Berempat sama siapa? di sini kan cuma bertiga? aku kamu dan tuan muda bukan?" Wulan kembali bertanya dengan heran.
__ADS_1
"Sebentar lagi, tuan Ubai pasti datang untuk sarapan. Setelah itu berangkat ke kantor." Rasya menjelaskan.
"Emang suka begitu?" tanya Wulan kembali.
"Iya Mbak, emang seperti itu setiap hari juga," sambung Rasya sambil mengangguk.
Wulan pun mengangguk, mengerti. Lalu kemudian membantu Rasya untuk memasak dan meninggalkan tugasnya yang tinggal ngepel.
"Buatkan kopi pahit?" pinta Samudra yang baru datang ke tempat itu.
Wulan mengangguk dan bersiap membuatkan kopi buat Samudra, Sesaat kemudian kopi pesanan Samudra siap dan wulan menyajikannya di depan sang majikan. "Silakan, Tuan?"
"Hari ini kamu bisa pulang dan tidak perlu menemaninya lagi," jelas Samudra kepada Wulan.
"Iya, baik. Tuan!" responnya dari Wulan terbilang singkat.
"Emang kapan mau ke Surabaya? Eh ke Semarang nya?" tanya Rasya menoleh pada Samudra,
Samudra menyesap kopinya sesaat, setelah itu barulah menjawab. "Berapa hari lagi dan gak lama, paling dua hari saja. Setelah itu persiapan pertunangan ku." Jelas Samudra tanpa beban.
Rasya tidak bicara lagi selain melanjutkan tugasnya memasak.
"Gimana bro? setelah berapa malam yang gak bisa tidur?" tanya Ubai. Setelah Mendudukkan dirinya di kursi yang tidak jauh dari Samudra.
"Ya ... lumayan bisa tidur," Jawab Samudra sambil mengganggu.
"Baguslah! kurang tidur juga jadi penyakit," sambung Ubai. "Eeh ... selamat pagi Nona cantik?"
Rasa menoleh dengan waktu senyuman di bibir. "Selamat pagi juga, Tuan Ubai, Tuan rumah!"
"Apa kabar beberapa hari ini, Nona?" tanya kembali Ubai yang di tujukan pada Rasya.
"Alhamdulillah. Tuan Ubai ... gimana sebaliknya?" tanya balik Rasya dengan ramahnya.
"Ooh, tentu aku baik, Nona. Seperti yang kau lihat saat ini!" Ubai membalas sambil menarik piring sarapannya.
Rasya tersenyum sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.
"Wulan, apa kabar? betah di sini?" Ubai melirik ke arah Wulan yang kini duduk bersiap makan.
"Baik, Tuan Ubai." Balas Wulan.
Rasya duduk di dekat Samudra dan mengambil sendok untuknya. Samudra sudah mulai menyantap sarapannya, nasi goreng ayam kecap.
Semuanya menikmati sarapan dengan lahapnya. Menyantap sajian yang berada di meja.
Manik mata Rasya bergerak melihat sekitar, takut mereka melihat atau curiga. Terutama dengan Wulan.
Rasya melirik ke arah Samudra sembari berusaha melepaskan tangan Samudra dari jemarinya. Tiba-tiba menusukan kukunya tangan Samudra sehingga dia terlihat meringis dan menarik tangannya itu.
Rasya tersenyum puas. "Puas. Emang enak?" batin Rasya sambil meletakkan tangannya di meja.
"Kenapa Bos?" tanya Ubai pada Samudra.
"Ooh, ini. Di gigit semut kayanya." Jawab Samudra sambil mengibaskan tangannya tersebut.
"Semut nya cantik nggak?" Ubai kembali bertanya sambil tersenyum dan mengunyah.
"Nggak, biasa aja!" Jelas Samudra sambil memasukan sendok ke mulutnya.
"Tuan Ubai, yang cantik nan seksi itu cuma kekasihnya, yang lain mah lewat. Apalagi sekedar semut? jelas banget jeleknya." Celetuk Rasya sambil menikmati makannya.
Ubai menggeleng mendengar ucapan Rasya barusan. Samudra menatap tajam pada Rasya dan merasa gemas.
Sedangkan Wulan ikut tersenyum tipis antara mengerti dan tidak.
Selesai makan, Samudra dan Ubai berangkat ke kantor. Rasya beres-beres bekas makan nya, meja pun ia lap biar bersih.
Wulan, setelah ngepel, lanjut mandi. Setelah itu dia pamit pada Rasya dan Rasya memberikan uang buat ongkos ke mension katanya.
"Mbak, makasih ya? sudah nemenin aku?" Rasya tersenyum ramah.
"Iya, sama-sama. Lain kali kita bertemu lagi, mungkin lusa aku di suruh ke sini lagi! bukankah tuan muda mau ke luar kota kembali?" Wulan memegang tangan Rasya.
"Iya, mbak. Ini buat bayar taksi!" Riska memberikan sejumlah uang pada Wulan.
"Jangan deh, kita sama-sama bekerja kok, kamu simpan saja." tolak Wulan. Dia pikir sama-sama mencari duit dan sama-sama menjadi asisten juga.
"Nggak pa-pa Mbak, ambil saja! aku ikhlas kok." Rasya terus meminta Wulan untuk mengambilnya.
"Baiklah, kalau kau ikhlas. Kau baik sekali Ras?" puji Wulan lalu memeluk Rasya.
"Iya, aku ikhlas kok." Rasya mengangguk pakan.
__ADS_1
Detik kemudian Wulan pulang ke Mension dan sebelumnya mengambil uang tersebut. "Makasih ya?"
"Sama-sama." Sahut Rasya lalu mengantar Wulan ke depan pintu. Lalu melambaikan tangannya pada Wulan.
Rasya kembali masuk, setelah Wulan pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Sendiri lagi deh," gumamnya Rasya sebelum menutup pintu.
Ketika mau duduk di sofa. Ponselnya terdengar berbunyi. "Siapa sih yang nelpon?" tanya Rasya dalam hati. Lantas segera memasuki kamar untuk mengambil ponsel miliknya.
"Tuan muda," seraya mengangkat sambungan telepon dari tuan jutek tersebut.
^^^Rasya: "Halo ada apa sih?"^^^
^^^Samudra: "Di kamarku, buka koper dan semuanya pakaian kotor alias cucian, dan di sana ada dua kotak yang isinya parfum itu untukmu."^^^
^^^Rasya: "Buatku? serius?"^^^
^^^Samudra: "Bukan! ya iyalah buat kamu, jangan lupa cuci semuanya. Dan jangan lupa pula isinya digantikan dengan yang lain, biar lusa kamu nggak usah mengemas lagi.^^^
^^^Rasya: "Baiklah Tuan jutek. Eh Tuan muda, dan Makasih ya? parfumnya?"^^^
Tut ... tut ... tut ... telepon pun terputus begitu saja.
"Iddih ... cuma itu aja?" kemudian Rasya langsung melangkahkan kakinya ke kamar Samudra.
Lalu Rasya membuka koper Samudra, ia keluarkan semuanya seperti yang disuruh kan.
"Segini banyak cucian semuanya? dasar emang di sana nggak bisa nyuci apa?" lagi-lagi kepala Rasya menggeleng.
Kantong yang berisi dua kotak parfum dan satu persatu Rasya buka, dia mencium wanginya. "Hem ...wangi sekali," kayaknya mahal banget Ini minyak wangi.
"Ya, ampun ... wanginya sampai menyeruak begini. Padahal aku samprotkan cuma sedikit lho, cuman-cuma secuil." Rasya bermonolog sendiri.
Rasya membawa semua cucian ke dekat mesin cuci, memasukkannya satu persatu sambil mengecek kantong celananya, kali saja ada yang nyelip uang atau barang apa gitu?
Ketika sedang asyik menjemur pakaian, ponsel Rasya milik Rasya kembali berbunyi.
"Aduh mau apa lagi? kenapa sih ngomongnya gak langsung sekalian aja tadi?" gerutu Rasya setelah tahu siapa yang menelepon.
^^^Rasya: "Iya, ada apa lagi? aku lagi menjemur pakaian yang segini banyak, kotor semua Emang di sana nggak sempat nyuci apa satu aja."^^^
^^^Samudra: "Nggak usah, nggak usah ngedumel! kerjain saja, itu kan tugasmu, lagian hari ini nggak usah masak."^^^
^^^Rasya: "Kenapa!? kenapa emang? sekalipun anda nggak makan di rumah, dan tuan Ubai juga, tapi aku juga butuh makanan, lapar."^^^
^^^Samudra: "Mak-maksud ku!"^^^
^^^Rasya: "Aku juga kan harus makan, kalau aku nggak masak? aku mau makan apa?"^^^
^^^Samudra: "Nanti jam 11.00 kamu siap-siap! nanti Ubai jemput kamu di sana, biar kita makan di luar saja."^^^
^^^Rasya: "Makan di luar? di depan pintu maksudnya?"^^^
^^^Samudra: "Ck, bukan di depan pintu, bodoh ... tapi makan di restoran. Makanya kamu siap-siap dulu, nanti Ubai yang jemput ke sana."^^^
^^^Rasya: "Beneran? asli mau mengajak aku?"^^^
^^^Samudra: "Nggak. Bohong! ya beneran lah. Sudah jangan banyak ngomong, kerjakan saja perintah dariku! dandan yang benar, jangan bikin malu orang."^^^
Rasya menghela nafas dengan panjang. "Hem ... baiklah."
Sambungan telepon kembali terputus. "Tumben mau mengajak ku makan siang?" Rasya heran namun tidak mau ambil pusing.
Rasya kembali melanjutkan aktifitasnya. Sebelum nanti siap-siap buat makan siang.
Setelah itu Rasya berendam di dalam bathub. Tidak lupa dengan aroma terapinya. Kemudian Rasya membersihkan darinya lantas mengenakan kimono nya.
Rasya berjalan sambil mendekati lemari, lalu mengambil pakaian yang bagus panjang, sopan namun tetap modis sebab itu pilihan tuan mudanya. Samudera.
"Nona, apa kau sudah siap?" tiba-tiba Ubai sudah berada di dalam unit tersebut. Berdiri di depan pintu kamar Rasya.
Rasya terkesiap, mendengar suara Ubai yang tau-tau sudah berada di sana. Untungnya, Rasya sudah berpakaian rapi.
"Tuan Ubai ini, Persis bagai siluman deh. Tidak pernah tahu masuknya aku?" Rasya menggeleng. Sambil menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya.
"Kau tampak cantik sekali, Nona!" puji Ubai kembali.
Rasya menunjukan senyumnya. "Maaf, Tuan? aku gak punya uang receh. Hi hi hi ...."
"Uang, yang berwarna merah pun tidak apa-apa, Nona." Ubai sejenak mendudukkan bokongnya di sofa ....
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukung nya dalam bentuk apapun🙏