Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 30 Menjadi fitnah


__ADS_3

Suara cacing dalam perutnya berdemo. "Aduh ... lapar, ada makanan gak ya di dapur?"


Gadis itu turun menapakkan kakinya di lantai, berjalan mendekati daun pintu.


"Tadi aku berada di mobil, sekarang di kamar? kenapa mereka gak membangunkan ku sih? biar jalan sendiri gitu!" monolog Rasya sambil berjalan.


Rasya terus berjalan menuju dapur, namun manik matanya mendapati Ubai berbaring di sofa. Berselimut jas. "Tuan Ubai kok tidur di sofa."


Lalu bibir Rasya tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman, melihat pria tersebut. "Sudah ganteng! baik lagi. Lembut dan perhatian," gumamnya Rasya pelan.


Kemudian kakinya Rasya kembali melangkah menuju dapur, mencari makanan di meja atau di lemari pendingin. Kebetulan di meja makan ada makanan walau sudah dingin tapi lumayanlah untuk mengganjal rasa lapar, apalagi makanannya enak-enak buat ukuran Rasya.


Ada ayam goreng. Pecel lele dan tumis kangkung, Rasya langsung memasukan makanan tersebut ke mulut, yang sebelumnya membaca doa wakau terburu-buru saking laparnya dia.


"Emm ... yami-yami ... enaknya! pasti ini makanan tuan-tuan nih. Bodo ah, paling mereka sudah makan tadi." Gumamnya lagi.


"Aww ..." Rasya memegang kedua pipinya yang terasa sakit. Tubuhnya pun sebenarnya berasa capek dan remuk. Jalan pun berasa nyeri.


Namun tidak dapat menghentikan. Rasa laparnya itu, lalu melanjutkan makannya sampai tidak tersisa lagi, yang tersisa cuma bekasnya saja.


"Eu ... eu," beberapa kali Rasya bersendawa. Sesaat kemudian Rasya berdiri membereskan bekas makannya, sampah-sampah ia buang ke tempatnya.


Piring-piring kotor bekas yang lainpun ia cuci sampai di meja bersih, di wastafel kosong tidak ada cucian lagi walau satu pun.


"Bersih, kan? tidak ada cucian! tidak ada kotoran sedikitpun." Rasya bermonolog sendiri, pandangannya mengitari dapur yang tampak bersih itu.


Setelah itu barulah Rasya kembali ke kamarnya. Namun sebelum tidur kembali, dia mengganti pakaian pengantin nya dengan pakaian yang lain. Barulah membaringkan lagi tubuhnya.


Keesokan harinya, pagi-pagi Ubai dan Samudra sudah bangun dan Ubai sudah memanggil dokter, untuk datang memeriksa Rasya yang terdapat banyak luka memar di tubuhnya.


"Kalian ini kenapa lagi? apa kalian menyiksa gadis ini ha?" pertanyaan yang lirih namun cukup menyinggung yang mendengarnya.


"Mana ada saya menyiksanya dok? jangan asal bicara, itu bisa menjadi fitnah." Elak Samudra dengan nada kesal menatap tajam ke arah dokter yang memeriksa Rasya.


"Iya, nih dok. Jangan salah sangka dulu lah, dia itu habis di sekap sama orang jahat dan kami berdua yang menyelamatkan nya dan dibawa lagi ke sini." Ubai menjelaskan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Ini resep yang harus ditebus. Obat dalam dan obat luarnya, agar cepat sembuh. Kasihan itu pipinya biru-biru. Di tangan-tangan nya juga membiru, coba kemarin langsung di kompres atau di obati? mungkin tidak akan separah ini kelihatannya," ujar dokter panjang lebar. Sepanjang jalan kenangan, ha ha ha.


"Dia nih yang larang, padahal saya akan langsung membawanya ke klinik dok." Ubai melirik Samudra dan menyalahkannya.


"Eh, jangan salahkan saya. Dia tidur mana bisa diperiksa langsung, tuk sampai ke sini saja harus digendong." Samudra mengelak dan tidak mau di salahkan.


Melihat kedua pemuda itu berdebat, membuat Rasya merasa bersalah lalu meminta maaf. "Aku yang seharusnya meminta maaf. Sebab aku yang salah." Rasya menunduk dalam.


"Nah, dia dok yang salah." Samudra menunjuk Rasya dengan ekor matanya.


"Ya sudah. Saya pulang dulu," pamit dokter seraya membereskan peralatannya.


Ubai pun mengantar dokter keluar, sekalian mau membeli obat buat Rasya agar cepat hilang lukanya.


Tinggallah Sam dan Rasya di sana. Sam menatap ke arah Rasya yang mengibaskan selimutnya. Tampak lah betisnya yang bersih mulus, Samudra segera menggerakkan matanya melihat pergerakan Rasya.


"Mau ke mana?" tanya Samudra dingin.


Rasya menoleh. "Masih ada waktu kan? untuk membuatkan mu sarapan?"


"Iya. Sebelum bekerja kalian harus sarapan dulu, biar gak sakit." Rasya menatap sekilas lalu menunduk.


Sam melirik ke arah jam dinding. "Di lemari pendingin masih ada kue buatan mu, kalau masih layak makan, tolong hangatkan dan buatkan aku susu hangat dan roti juga, kalau masak sudah tidak ada waktu lagi."


Tanpa bicara, Rasya berjalan ke dapur mendekati lemari pendingin, walau tangannya terasa sakit namun Rasya merasa kasihan pada kedua pemuda itu yang sudah menolongnya. Apalagi dia memang harus bekerja melayani Samudra sebagai majikan.


Rasya mencicipi kue yang Sam minta dihangatkan, setelah yakin masih bisa dikonsumsi. Rasya hangatkan sebentar. Membuatkan susu hangat dua gelas dan roti selai dua porsi juga. Tentunya buat Samudra dan Ubai.


Ubai datang dengan menenteng kantong kecil, berisi obat buat Rasya. Melihat Samudra sedang sarapan di tempatnya dan Rasya yang sedang menyajikan kue di piring, merasa heran dan khawatir dengan kondisinya Rasya yang tangannya saja biru-biru.


"Loh, kok. Bos suruh dia bekerja dulu sih? dia itu sakit, apa tidak melihat kondisinya yang seperti itu?" Ubai langsung ngejudge Samudra.


Jelas Samudra tidak terima. "Siapa yang menyuruh dia? dia sendiri yang menawarkan diri untuk membuat sarapan buat ku! gak ada yang nyuruh kok, tanya sendiri orangnya."


Ubai melihat Samudra dan Rasya bergantian. Lalu melihat sarapan yang satu lagi yang mungkin dipersiapkan untuk dirinya.

__ADS_1


"Benar, Tuan ramah. Aku sendiri yang ingin membuatkan sarapan buat kalian. Sebaiknya anda sarapan dulu." Menunjuk sepiring roti dan segelas susu dengan jarinya.


"Kau mau sarapan gak? kita harus berangkat, sudah siang nih." Samudra menghabiskan minumannya.


Ubai duduk dan menarik piring roti nya. Terus meneguk susu yang masih terasa hangat melewati tenggorokannya itu, Ubai menikmati roti sampai habis.


Samudra mengambil kantong obat yang terdiri obat luar dan dalam. "Ini obatnya. Kau bisa membaca kan? baca sendri cara pakainya."


Rasya mengambil kantong yang Samidra berikan dan Rasya dua kali memberi anggukan. Kedua netra nya menatap obat-obatan tersebut dengan sangat intens.


"Kau harus sarapan, Nona." Ubai menatap ke arah Rasya.


"Kau jangan lupa makan ya? oya, jangan menerima tamu siapapun." Pesan Samudra sambil memakai jas nya.


"I-iya, Tuan." Rasya mengangguk. Kemudian membuat roti untuknya sendiri.


"Ingat, jangan menerima tamu tanpa seijin saya." Pinta Samudra di sela-sela mulutnya yang sedang memakan kue.


"Dengarkan pesan, tuan muda. Nona. Jangan sampai tamu itu justru akan membahayakan mu." Timpal Ubai sambil mengusap mulutnya dengan tisu.


"Baik, Tuan. Aku tidak akan menerima tamu siapa pun, kecuali Tuan yang membawanya," ungkap Rasya.


"Bagus. Bila kau masih sakit gak usah banyak bergerak dulu," kata Ubai, penuh perhatian.


Samudra menatap Ubai tanpa ekspresi, lalu bersiap untuk pergi ke kantor pusat. Di susul oleh Ubai yang terburu-buru menghabiskan minumannya.


"Ingat ya, Nona? pesan kami?" pesan Ubai kembali sambil menutup pintu unit tersebut.


"Baik, akan aku ingat selalu!" pekik Rasya sembari menatap pintu yang tertutup itu.


Selesai makan roti, Rasya lanjut meminum obat dan salepnya ia oleskan dengan merata pada tempat-tempat yang terdapat luka memar dengan pelan ....


.


.

__ADS_1


Assalamu'alaikum ... apa kabar semua reader ku?


__ADS_2