Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 127 Berduka


__ADS_3

Setibanya di apartemen, Rasya duduk-duduk bersama bersama Ubai. Menonton televisi sambil minum kopi juga mengobrol.


"Saya numpang ke toilet dulu ya, Nona?" kata Ubai sambil beranjak dari duduknya.


"Iya, Tuan Ubai," jawabnya Rasya singkat.


Kemudian Rasya memindahkan channel televisinya pada sebuah acara berita, yang memberitakan sebuah kecelakaan yang menimpa seseorang pria.


Seorang pria tua telah tersengat aliran listrik yang berada di rumahnya, sehingga saat itu juga si korban meregang nyawa sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.


Rasya langsung mengarahkan pandangannya ke layar televisi, dan menajamkan tatapannya pada keluarga yang ditinggalkan oleh sang korban, ternyata wanita yang menangis di samping jasad seseorang yang sudah meninggal kan tersebut. Rasya alangkah terkesiap nya dia. Wanita itu ternyata dia ibunya sendiri. IBu Karsih.


"Ibu? Bapak?" Rasya menjerit sangat histeris memanggil-manggil nama kedua orang tuanya.


Membuat Ubai terkaget-kaget dan melompat dari toilet, hampir Rasya yang menangis sejadi-jadinya.


"Nona kenapa ha? Nona ada apa, jawab?" tanya Ubai sambil memegangi kedua bahunya Rasya yang bergetar, terus menangis histeris menjerit-jerit memanggil kedua orang tuanya.


Rasya tidak menjawab, melainkan menunjuk pada layar televisi yang masih menayangkan berita, tentang meninggalnya seorang bapak-bapak yaitu pak Muhidin.


Ubai pun langsung menoleh ke layar televisi dan sempat melihat lokasi dan gambar keluarga yang sedang menangisi seseorang yang sudah terbujur kaku.


"Itu ... bukannya itu ... keluargamu Nana?" tanya Ubai menatap ke arah Rasya yang semakin histeris.


Tetapi kepala Rasya menyempatkan untuk mengangguk pelan.


"Aku pengen pulang? anterin aku pulang, Tuan Ubai aku mohon? antar kan aku pulang! kau pasti ingat bukan? di mana toko kue itu berada, antar saja aku ke sana." Suara Rasya nyaris kurang jelas yang di barengi terisak-isak.


"I-iya. Nona, aku antar kau ke sana." Ubai langsung menyambar ponselnya mengajak Rasya untuk berdiri dan membawa ponsel Rasya yang tergeletak di samping gadis itu.


"Sekalian saja itu paper bag pakaian mu bawa, buat ganti! eh nggak usah di sana juga pasti banyak baju, beli yang baru." Ubai ikutan panik, kemudian berjalan sambil menuntun tangan Rasya keluar dari kamar tersebut.


Rasya yang shock hanya membawa ponsel saja tanpa mengingat tas di dalam kamar, apalagi uang, yang dia ingat hanyalah bagaimana cara nya agar dia bisa pulang menemui keluarganya yang sedang berduka.


"Sabar, yang sabar ya Nona. bukankah maut. Rezeki, jodoh itu Allah yang mengatur. Mungkin sudah jalannya bapak anda meninggal dengan cara seperti itu." Ubai merangkul bahu Rasya sambil berjalan.

__ADS_1


Rasya terus menangis biarpun wajahnya terus-terusan di lap, tetap aja basah tetap aja banjir lagi dan banjir lagi oleh air mata yang tak henti mengalir. Siapapun anaknya pasti akan bersedih, akan menangis mendengar orang tuanya meninggal apalagi dengan jalan seperti itu, meninggal karena tersengat aliran listrik.


Ubai bersiap untuk mengemudikan mobilnya itu setelah Rasya duduk di samping dirinya.


Rasya tampak kacau, dengan kejadian tersebut pikirannya dan pandangannya pun kosong, tak tentu arah apa yang dia lihat saat ini.


Ubai sambil mengemudi, sesekali melihat ke arah Rasya yang terus mengusap air matanya yang terus mengalir di pipi.


"Yang tenang, Nona? yang sabar!jangan terus-terusan menangis nggak baik, kasihan yang meninggal," ucapnya Ubai dengan lirih.


"Ba-bapak, meninggal ketika aku nggak ada di sana, bahkan dia nggak sakit dulu. Mana aku nggak sempat menemuinya, aku belum sempat minta maaf padanya. Apalagi membahagiakan mereka! hik-hik-hik," suara Rasya terbata-bata.


"Aku belum sempat membalas kebaikan mereka! aku nggak bisa membuat mereka bahagia, walaupun mereka jahat padaku. tapi mereka bapak ku, mereka orang tuaku," ungkap Rasya sambil terisak-isak.


"Iya, aku tahu. Aku mengerti Nona, " Ubai menganggukkan kepalanya. "Aku tahu itu," sebentar Ubai menggenggam tangan Rasya, lalu ia lepaskan, kembali memegangi kemudi.


"Bapak? bapak kenapa secepat itu meninggalkan kami." Rintih Rasya.


Ubai menghela nafas panjang dengan sekilas melirik.


Semakin lama tangis Rasya pun berhenti, mungkin dia marasa capek sehingga dia ketiduran dengan kepala ke belakang jok.


"Kasihan banget kau, Nona. Saat ini hatimu sedang di masa-masa sulit, suamimu yang seharusnya melindungi dan menjagamu! membuatmu bahagia, tapi memilih bahagia bersama kekasihnya. Ditambah lagi sekarang kau kehilangan ayahmu," monolog Ubai sambil melirik ke arah Rasya yang tertidur tersebut.


Lagi-lagi Ubai melepaskan nafasnya yang terasa begitu berat. kemudian dia menghirup kembali udara sebanyak-banyaknya.


Setelah perjalanan 1 jam Ubai pun memilih menghentikan mobilnya. Menepi di pinggir jalan yang ia yakini tempatnya cukup aman untuk beristirahat, suasana pun yang gelap gulita tanpa adanya sang rembulan ataupun bintang yang menghias di langit, seakan ikut berduka dengan yang Rasya alami. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 23.30.


"Huuh ... perjalanan masih jauh, mungkin di sini tempat yang tepat untuk istirahat. Sampai pagi menjelang sekali gumamnya Ubai.


Sebelum memejamkan kedua matanya, dia mematikan AC mobil yang menyala agar mengurangi rasa dingin. Mana gak ada bawa selimut, lantas Ubai membuka jasnya yang dia pakai untuk menutupi tubuh Rasya agar tidak kedinginan.


"Met istirahat, Nona. Tidurlah yang lelap yang nyenyak, agar sedikit mengurangi rasa sedih mu." Tatapan Ubai begitu dalam kepada gadis yang sedang berduka itu.


Ubai memutuskan untuk beristirahat di dalam mobil tersebut sebelum melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


...---...


Langkah Samudra yang lebar, membawanya lebih cepat tiba di apartemen miliknya, yang tampak sepi namun lampu terang menyala.


Tatapannya tertuju pada meja yang terdapat dua cangkir kopi, dan masih tersisa setengahnya namun tak ada satu bayangan orang pun di sana.


"Sya? kamu di mana?" panggil Samudra sambil mengedarkan pandangan ke arah kamar Rasya.


Namun tak ada sahutan sedikitpun, Tidak ada suara batuk sekalipun sehingga membuat Samudra membawa langkahnya ke kamar Rasya Samudra mengedarkan pandangan ke arah dapur yang kosong.


Tetapi di kamar Rasya pun kosong, Samudra lantas membuka pintu kamar mandi tetap saja kosong tak ada penghuninya.


"Sya? kamu di mana?" Samudra lalu keluar dari kamar Rasya menuju kamarnya sendiri.


Dia pikir mungkin Rasya berada di kamarnya sedang beres-beres atau apalah. Namun nihil di sana pun tidak ada Rasya yang dia cari, kamar mandi pun tak lupa jadi sasaran pencarian Samudra balkon juga ia buka, hasilnya tidak ada siapa pun.


Samudra terheran-heran. "Kemana dia? nggak mungkin dia ke mana-mana tanpa minta izin dulu pada diriku! kalau sekedar pulang itu wajar jika gak bilang pun, lagian mungkin dia sedang ngambek gara-gara tadi sama Karin."


Tangan Samudra mengacak rambutnya frustasi, dalam hati bertanya-tanya di mana sekarang? di mana dia? kenapa dia nggak bilang kalau mau pergi dari apartemen?


"Sial, kemana gadis situ?" kemudian Samudra mengambil ponsel dari sakunya dengan niat menelpon Ubai untuk menanyakan keberadaan Rasya, namun apa daya Ubai tak dapat dihubungi.


"Sial-sial-sial-sial ... brengsek banget, kurang ajar! dia pada ke mana sih?" Samudra menjatuhkan dirinya duduk di sofa sambil terus berpikir.


"Apa mungkin Rasya sama tante dan Om Fatir, menginap di tempat pak RT atau Paman Adam! pikirnya? ah ... nggak mungkin gue datangi sekarang juga, ini sudah dini hari! sudahlah besok Subuh saja gue datangi ke rumahnya." Monolog Samudra.


Tapi dengan rasa penasaran yang lebih, Samudra mencoba untuk menelepon nomor Rasya, namun hasilnya tetap sama nomornya tidak dapat dihubungi seperti ponselnya Ubai.


Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah hubungi beberapa saat lagi.


Beberapa kali Samudra memanggil nomor Ubai dan Rasya pergantian, jawabannya tetap sama ....


.


.

__ADS_1


Dari semalam mau up, tapi rasa kantuk tak dapat aku lawan, padahal masih pukul 22 kurang.


__ADS_2