
Kedatangan keluarga Samudra di sambut hangat oleh Fatir sekeluarga yang langsung turun setelah mendengar kedatangan sang besan dari Jakarta.
"Akhirnya yang ditunggu datang juga?" ucap Fatir menyambut kedatangan tamunya dengan hangat.
"Aduh ... mau jalan darat di Jakarta sibuk, lewat udara sedikit ada kendala. Akhirnya baru bisa sampai saat ini!" pak suyoto memeluk hangat Fatir.
"Di luar mau hujan, untuk Samudra sedikit ngebut membawa kami. Kilatan petir bikin ngeri." Bu Riska bergidik setelah pelukan dan cium pipi kanan dan kiri dengan Viona.
"Iya, untung sudah sampai ya?" balas Viona.
"Alaah ... mana mantu mama? makin cantik saja?" Bu Riska memeluk Rasya dengan sangat erat.
"Apa kabar Mama?" Rasya membalas pelukan bu Riska.
"Baik sayang," cuph! cuph! Bu Riska mencium pipi Rasya kanan-kiri.
"Aku gak di peluk?" Samudra merentangkan tangannya pada Rasya yang langsung di tepuk Rasya.
"Apa kabar Ibu Asri?" Bu Rasya menghampiri Bu Asri yang baru saya menjabat tangan dengan pak Suyoto.
"Baik, oh bilang sama putra mu itu. Kalau mau mesraan Sam istri itu tau tempat?" ucap Bu Asri dengan nada dingin.
Membuat yang lain kecuali Rasya dan Samudra saling pandang tidak mengerti dengan maksud Bu Asri. Kemudian menoleh pada Samudra dengan tatapan penuh tanda tanya.
Rasya yang merasa, menundukkan kepalanya dalam. Sementara Samudra melihat ke arah lain seolah tidak perduli.
Suasana mendadak menjadi tegang gara-gara ucapan Bu Asri barusan.
"Oh, kalian juga pasti belum makan? jadi kita makan saja dulu." ajak Fatir pada tamunya.
"Oke! kebetulan sekali, barusan mau mampir dulu tapi Sam ngebut jalannya." Ungkap pak Suyoto.
"Iya, tidak apa-apa mendingan makan di sini sama-sama, ayo Jeung?" Viona menyeret bu Riska.
"Ini gara-gara kamu, Oma jadi bicara seperti itu?" Rasya mendelik pada Samudra dengan suara pelan.
"Kenapa aku yang di salahkan? kau juga yang mau! makanya jangan suka mancing-mancing!" sahut Samudra.
"Siapa yang mancing-mancing? apa kau lihat aku memakai pancingan atau membawa umpan gitu? Herman deh?" Rasya menggelengkan kepalanya.
"Siapa Herman itu?" Samudra mengurutkan keningnya. Penasaran siapa orang yang bernama Herman itu?
"Heran! kau pasti belum makan bukan?" Rasya menatap ke arah Samudra.
Yang lain sudah berkumpul di meja makan. Sementara Rasya dan Samudra masih berdiri di tempat.
"Lho! kok kalian masih berdiri di sana sih? ayo makan?" Viona menoleh ke arah putri dan mantunya.
"Ayo?" Rasya menarik tangan Samudra ke meja makan.
__ADS_1
Kemudian mereka semua makan bersama. Kecuali Citra yang sudah selesai makannya.
"Oya, Sam? saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena kau sudah menyelamatkan istri saya?" ungkap Fatir yang di tujukan pada Samudra.
"Biasa saja, Om eh Ayah. Jangan di besar-besarkan!" balasnya Samudra di sela-sela makannya.
"Iya, kalau saja tidak ada Samudra. Saya tidak tahu nasib saya ini sekarang!" timpal Viona.
Bu Riska menatap penasaran. "Emang ada apa ini?"
Pak Suyoto juga tidak kalah penasarannya dengan sang istri, dia mengerutkan keningnya dan menatap ke arah Viona dan Fatir.
"Tadi ... siang telah terjadi sesuatu." Viona bercerita tentang kejadian tadi siang dari awal sampai akhir.
"Astagfirullah ... tapi Alhamdulillah ya jeng gak kenapa-napa!" ucap Bu Riska.
"Iya, alhamdulillah!" Viona mengangguk.
"Harus di eksekusi tuh orangnya. Lapor saja biar di cari orangnya? takutnya dia bikin ulah lagi tuh!" ungkap pak Suyoto.
"Bener, Pah harus laporkan biar gak bikin ulah lagi orangnya." Bu Riska menyetujui ucapan sang suami.
"Biar kita tidak melaporkan, pasti akan ada orang yang melaporkan selain kita, karena setiap perbuatan pasti akan ada balasannya!" ucap Fatir dengan nada tenang.
"Saya geram sebenarnya sama orang itu, kalau sampai terjatuh orangnya saat itu juga. Ingin saya wejek-wejek orang itu sampai bonyok," ucap Bu Asri dengan ekspresi sangat geram.
"Ya sudah, Bu ... toh aku pun tidak apa-apa," lirihnya Viona.
"Berarti aku harus mengucapkan ijab kabul lagi?" Samudra menatap ke arah orang tua dan mertuanya.
"Benar. Kau kalian harus ijab kabul kembali. Biar lebih afdol dan apa susahnya sih ijab kabul lagi?" Fatir menatap tajam pada Samudra.
Samudra mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak masalah bila harus begitu lagi."
Semua telah sepakat, kalau acara akan di adakan dua Minggu lagi. Dan besok mau ke percetakan untuk mencetak undangan nya.
Dan besok sore. Samudra akan kembali ke Jakarta dengan alasan pekerjaan, mau tidak mau Rasya harus ikut kerena suaminya berada di sana.
"Sebenarnya ... saya kurang setuju kalau Rasya sekarang ini sebelum peresmian. Tetapi mengingat akan kewajiban dan apa boleh buat saya ijinkan putri saya ikut ke Jakarta," ungkap Fatir tampak berat.
"Sam Bunda titip Rasya ya?" Viona menatap lekat ke arah Samudra.
"Iya, Bunda. Saya akan menjaganya!" Samudra menganggukkan kepala tanda menyanggupi, kalau dia mampu untuk menjaga Rasya.
"Jangan khawatir, Jeng. Saya dan suami juga akan turut menjaga Rasya, kami berdua tentunya akan menganggap Rasya sebagai putri kami sendiri." Timpal bu Riska meyakinkan Viona dan Fatir.
"Yah ... kalau kau ikut sama suamimu itu, Rasya tidak ketemu lagi sama, Om dong?" Bu Asri menatap ke arah cucunya itu, Rasya.
"Oma. Aku pasti kembali Oma ... karena resepsinya di sini juga kita pasti bertemu lagi, Oma." Lirihnya Rasya pada sang oma.
__ADS_1
"Dan kamu Sam, ingat? jaga etika?jangan mau? di situ kamu lakukan! karena kalian itu manusia yang harus punya etika kesopanan, karena kalian bukan binatang." Bu Asri mengulang-ulang jari telunjuknya kepada Samudra sebagai peringatan.
"Siap, Oma ... lagian tadi saya melakukan itu di balkon yang jelas-jelas berada di area kamar pribadi saya, jadi wajar dong kalau saya berduaan sama istri saya di sana, oma saja yang tidak permisi masuk ke kamar orang tanpa salam tanpa apa? terus siapa yang tidak punya etika, Oma?" Samudra mengungkapkan isi hatinya.
"Iya juga ya? itu kan kamar kalian berdua, di balkon kemar pribadi kalian? kenapa saya masuk tanpa permisi ya? jadi saya juga yang salah ya?" Bu Asri menggaruk tengkuknya. "Pokoknya yang jelas ... kalian tidak boleh melakukan di sembarang tempat terbuka?" tegas nenek-nenek itu.
"Iya, Oma iya. Kami akan lebih hati-hati lagi," suara Rasya yang melerai antara Oma dan suaminya supaya tidak berkepanjangan.
Viona dan Fatir, Pak Suyoto dan istri memandangi ke arah Bu Asri, Samudra juga ka arah Rasya. Mereka tidak mengerti dengan apa yang mereka omongkan.
Karena waktu sudah larut malam, akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat di kamarnya masing-masing.
"Sudah malam, sebaiknya kalian istirahatlah dan saya juga capek dan kalian istirahat di kamar yang biasa, saya sudah suruh orang untuk membersihkan nya tempat tidur tersebut." Ujar Fatir kepada pak Suyoto beserta istri.
"Oke, kebetulan kami sudah lelah juga, kita istirahat yu, Mah?" pak Suyoto berdiri dan mengajak sang istri untuk segera beristirahat.
Pak Suyoto dan Bu Riska pun beranjak duluan ke kamar yang sudah disediakan oleh tuan rumah.
Bu Asri, Viona dan juga Fatir. Mereka pun beranjak dari duduknya, meninggalkan Samudra dan Rasya yang masih duduk di sana.
Namun setelah beberapa langkah, Viona berbalik dan melihat ke arah Rasya. "Sayang ... istirahat? sudah malam, suami mu ajak istirahat."
"Biarin saja. Bunda! kalau mau istirahat, ya istirahat saja! ngapain aku ajak-ajak? dia kan bukan anak kecil dan bisa jalan sendiri, juga tahu ke kamarnya gimana?" ucap Rasya seraya melirik ke arah Samudra dengan lirikan sok sinis.
Kedua netra Samudra terbelalak ke arah Rasya, yang bilang seperti itu. "Emangnya siapa juga yang mau diajak-ajak? aku bisa pergi sendiri."
Viona menarik bibirnya menunjukan sebuah senyuman yang manis menatap ke arah rahasia dan samudra.
"Ya sudah, Bunda duluan ya?" Viona melanjutkan kembali langkahnya untuk menyusul sang suami ke lantai atas.
Rasya berbaring di sofa panjang sambil memeluk bantal sofa. Dengan manik mata tertuju pada layar televisi.
"Huh ..." Samudra mengembuskan nafasnya yang panjang. Kemudian berdiri dan dengan cepat mengangkat tubuh Rasya bak memanggul karung beras.
Membuat Rasya terkesiap, mau berteriak namun keburu sadar nanti bikin orang terganggu. Jadi hanya memukul-mukul punggung Samudra saja, sementara sang empu tidak perduli. Dia hanay fokus berjalan cepat menaiki anak tangga.
Beberapa asisten yang melihat kelakuan Samudra dan Rasya hanya tertawa kecil dibuatnya.
"Iih. Mbak kaya anak kecil deh." Suara Citra dari depan pintu kamarnya.
Samudra hanya membalas dengan senyuman, lantas memasuki kamar pribadi mereka. Setelah baru saja berada di dalam kamar. Rasya di turunkan di atas tempat tidur.
Rasya merapikan rambutnya dengan jari jemari. "Kau ini, aku bisa jalan sendiri. Malu kan di lihat orang lain juga Citra."
"Aish ... sudahlah. Kau itu sudah ku bantu ke sini tanpa harus capek-capek jalan juga. Masih ngedumel." Samudra memeluk Rasya dari samping.
"Siapa juga yang minta? aku gak minta di gendong kok." Rasya memajukan bibir bawahnya ke depan, bikin Samudra merasa gemas ....
.
__ADS_1
.
Mana nih lake komen dan vote nya? dan semoga kabar kalian semua reader ku sehat-sehat dan jauh dari segala marabahaya. Dan mohon doa nya juga untuk aku agar sehat. Dan semangat selalu🙏