
Detik kemudian Samudra melajukan mobilnya dengan sangat cepat dan sesekali melirik ke arah sang istri yang tampak lemah juga keringat dingin bercucuran.
"Gimana, Mah. Langsung pulang atau makan dulu?" tanya Sam pada sang Bunda sambil tetap fokus melihat ke depan.
"Kalau menurut kamu pulang? ya pulang saja, kasihan istri kamu tuh biar dia istirahat di rumah saja," jawabnya bu Riska yang mencemaskan sang mantu.
"Oke! kita langsung ke mension saja ya mah?" kata Samudra lagi, netra nya melirik ke arah Rasya yang menjamin maniknya.
Sesaat kemudian, Samudra berbicara di earphone-nya. "Gue mau langsung pulang! istrinya sakit, terserah kau mau langsung ke kantor atau ke mension. Biar kita makan bersama di rumah saja."
Rupanya Samudra menelpon Ubai yang berada di belakang, membawa mobilnya sendiri.
Mobil terus melaju begitu cepat bahkan lebih cepat dari sebelumnya, Samudra ingin segera sampai di mansion agar istrinya istirahat dengan tenang.
"Kau baik-baik saja?" tanya Samudra pada Rasya yang langsung membuka matanya melihat ke arah Samudra.
"Aku baik-baik saja kok, nggak usah khawatir!" suaranya lirih.
Bu Riska menempelkan tangannya di kening Rasya dan pelipis yang terasa dingin. "Setibanya nanti di mansion langsung aja panggil dokter untuk memeriksakan Rasya ya Sam?"
"Iya, Mah sepertinya memang seperti itu," sahutnya Samudra dari belakang kemudi.
"Bukannya kalian mau makan dulu di restoran? makanlah? aku nggak apa-apa kok, dan aku juga lapar!" ucapnya Rasya sembari melirik ke arah belakang, yaitu ke arah Bu Riska.
"Tidak, kita makan di rumah saja biar sekalian kau bisa istirahat, kau sepertinya lemah, kecapean." Tambahnya Samudra sembari menyentuh tangan Rasya dan sekilas meremasnya.
"Sam bener, mendingan kita makan di rumah saja daripada di restoran.Tapi tubuhmu kurang sehat dan nanti di rumah ... sekalian kamu diperiksakan dokter," timpal bu Riska dengan lirih.
"Tapi aku baik-baik saja kok, Mah ..." Rasya kekeh kalau dirinya itu baik-baik saja.
"Shuttt ... jangan bicara lagi? kau istirahat saja, nanti sampai di rumah aku bangunkan," Samudra menempelkan telunjuknya di bibir Rasya.
"Iya benar, kau istirahat saja. Nanti bila tiba di mansion. Kami bangunkan dirimu untuk makan." Tambah Bu Riska kembali.
Sementara waktu suasana di mobil terasa hening, yang terdengar hanya berhias suara mesin saja dan Samudra juga bu Riska. Memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Selang beberapa puluh menit kemudian, mobil Samudra tiba juga di halaman mansion.
"Alhamdulillah sampai juga," gumamnya Bu Riska, lalu turun dan membukakan pintu buat Rasya. Namun sepertinya Rasya tertidur.
Samudra bergegas turun mengitari mobilnya dan menghampiri Rasya, dengan cepat Samudra menggendong tubuh Rasya yang mungil itu, dia tertidur dan memang tampak lemah wajahnya pun pucat.
Ubai, rupanya dia pun mengikuti mobil Samudra sampai ke mansion. Karena bagaimanapun dia merasa cemas ketika mendengar Rasya sakit.
"Nona kenapa? sakit apa dia?" tanya Ubai yang tidak jauh dari Samudra yang berjalan cepat dengan membawa Rasya.
"Entah, Bai. Mungkin dia masuk angin! katanya tadi kepalanya pusing dan mual-mual gitu," sahutnya bu Riska yang menjawab kan pertanyaan dari Ubai.
Karena Samudra sendiri tidak menjawab, dia lebih fokus berjalan membawa Rasya dengan terburu-buru menuju kamar pribadinya yang berada di lantai atas.
Ubai hanya mengikuti langkah Samudra dari belakang, dan siap bila nanti harus membukakan pintu kamar buat Samudra yang menggendong Rasya.
Sebelumnya Ubai memerintahkan Mulan agar membawakan air hangat untuk Rasya.
Setibanya di depan pintu kamar, Samudra berdiri dan Ubai langsung membukakan pintunya. Lantas Samudra langsung membaringkan Rasya di tempat tidur.
"Tolong panggilkan dokter untuk memeriksakan Rasya," ucap Samudra pada Ubai.
Ubai mengangguk, lalu keluar dari kamar tersebut. Di sana ada bu Riska yang menatap cemas pada sang mantunya itu.
__ADS_1
Samudra membuka beberapa kancing kemejanya sehingga mengekspos dada bidang yang sedikit berbulu halus, duduk di samping Rasya dengan hati yang gusar.
Tangan Samudra menggenggam tangan Rasya dengan sangat erat. "Sayang jangan sakit dong? bukannya kau mau sekolah?" batin Samudra sambil menatap ke arah wajah Rasya yang tertidur itu dengan wajah pucat.
"Mama mau ke kamar dulu ya, Sam? nanti, Mama ke sini lagi. Mama pengen mandi dulu!" Bu Riska beranjak dari tempatnya.
Samudra menoleh pada sang bunda. "Oke."
Bu Riska keluar dari kamar Rasya dan putranya tersebut. Dengan hati yang gundah gulana khawatir dengan mantunya tersebut.
Samudra mencium tangan Rasya dengan mesra seraya berkata. "Sehat dong sayang? aku rindu bawel mu itu."
Terdengar derap langkah mendekati tempat tersebut. "Ini minuman hangatnya berikan pada, Nona!" Ubai menyerahkan gelas air pada Samudra agar memberi Rasya minum air hangat.
Samudra menoleh lalu mengambil gelas tersebut, ia minumkan kepada Rasya yang langsung terbangun dari tidurnya.
"Sebentar lagi dokter nya akan datang," kata Ubai sambil melihat ke arah Samudra dan Rasya.
"Gimana kau masih pusing dan mual?" tanya Samudra pada sang istri.
"Masih, aku masih pusing!" lalu Rasya bangun dan dengan cepat turun dari tempat tidur. Berlari ke kamar mandi dan terdengar dia muntah-muntah di sana.
Samudra pun cepat-cepat menyusulnya Rasya ke kamar mandi dan ubay hanya bisa bengong melihatnya.
"Kau kenapa sih?" tanya Samudra sambil memijat pundak Rasya yang membungkuk ke toilet, membuang semua isi perutnya hingga menyisakan rasa pahit di mulut.
"Oo, oo ... oo. Oo ..." Rasya terus membuang isi perutnya sampai habis.
Samudra memberikan tisu pada dasar yang langsung dipakai malam mulutnya.
"Sini ke bantu?" Samudra pembantu Rasya untuk berdiri lalu langsung menggendong dan membawanya ke tempat tidur kembali.
"Ih ... aku laper?" keluhnya Rasya sambil melihat ke arah Samudra dan Ubai.
Ubai langsung garcep meminta asisten menyiapkan buat makan siang untuk Rasya.
"Kau itu sakit atau lapar sih?" ketusnya Samudra.
"Apa kau tidak melihat aku muntah banyak? tentunya perut ku kosong dan membutuhkan asupan untuk menggantinya," lirihnya Rasya.
"Iya-iya ... aku tahu," balasnya Samudra sambil mengusap pucuk kepalanya itu.
Ubai datang bersama Mulan ke kamarnya Samudra, membawakan makanan buat Rasya beserta buah-buahan yang masih segar.
"Silakan dimakan? makan siang nya Non." Mulan begitu ramah.
Rasya pun langsung menyantap makan siangnya, namun tetap saja di mulutnya. Rasanya tetap tidak seenak biasanya, karena lidahnya terasa pahit sehingga hanya berapa sendok saja yang dia makan.
Samudra pun mengambil piring Rasya dan hendak menyuapinya, namun Rasya menolaknya.
"Aku sudah kenyang, aku nggak mau makan lagi!" lalu Rasya mencicipi buah-buahan yang ada di piring, itu pun hanya habis dua potong saja karena merasa tidak enak.
"Biasanya kau suka makan banyak? kenapa sekarang malah sedikit?" tanya Samudra heran.
"Sudah kubilang, aku sudah kenyang. Dan 4asanya kurang nafsu makan deh," sahutnya Rasya sambil mengedarkan pandangan kepada Ubai dan Mulan yang masih berdiri di sana.
"Kalau mau makan sesuatu? bilang saja! nanti saya masakan buat Nona," suara Mulan yang ditujukan kepada Rasya.
"Aku tidak mau apa-apa, sepertinya makan mangga rujak pedas enak kali ya? siang menjelang sore begini?" Rasya tampak seolah mengumpulkan air liurnya di mulut, membayangkan makan mangga muda bersama sambalnya yang pedas.
__ADS_1
"Kalau begitu ... nanti aku carikan ya? soalnya di dapur gak ada stok," ucapnya Mulan.
"Makasih banyak, Mulan? kamu itu baik deh," gumamnya Rasya sambil menunjukkan senyum tipisnya pada Mulan.
"Sama-sama, Nona." Mulan memanggil Nona pada Rasya karena ada Sam dan Ubai. Tapi bila cuma berdua saja tidak ada panggilan seperti itu, kerena mereka lebih seperti sahabat bila hanya berdua saja.
Lalu kemudian, Mulan mengundur diri beberapa langkah. Setelah beberapa langkah lalu berbalik meninggalkan kamar tersebut.
Ubai yang sibuk dengan ponselnya, berjalan keluar lagi dari kamar tersebut. Untuk menjemput dokter yang sudah sampai dan berapa saat kemudian Ubai kembali bersama dokter yang akan memeriksa Rasya.
"Silakan dok, periksa istri saya?" ucap Samudra menyilakan dokter agar duduk di tempatnya.
Dokter yang sudah tahu ceritanya, kini tidak heran dengan kedekatan Samudra dan Rasya ataupun dengan sebutan istri.
"Baiklah ... emang apa yang menjadi keluhanmu saat ini, Nona?" tanya dokter itu yang emang biasa memeriksa Rasya ketika di departemen.
"Kepalaku pusing dan mual-mual, tubuhku pun lemas, lutut terasa bergetar." Jawabnya Rasya dengan suara yang lirih.
"Baik, saya periksakan dulu ya?" ucap dokter tersebut. Lalu pertama-tama memeriksa denyut nadinya Rasya kemudian jantung yang memang berdetaknya tidak seperti pada umumnya. Ini lebih cepat.
Samudra dan Ubai duduk di sofa, sementara Rasya diperiksa oleh dokter keluarga Samudra.
"Ooh iya, kau belum makan bukan? jadi makan aja di bawah? tidak usah mengkhawatirkan istri ku, sepertinya dia tidak sakit parah kok, Jadi kau makan saja duluan!" Samudra menunjuk ke arah pintu kamar, menyuruh Ubai untuk segera makan.
"Tidak apa-apa, gampang nanti saja kau sendiri juga belum makan. Jadi nanti saja bareng-bareng," balasnya Ubai sembari melihatkan arah Rasya.
Dari ambang pintu, terlihat bu Riska menghampiri. "Gimana Rasya sakit apa dok? apa yang menjadi penyebabnya dokter?"
"Untuk sementara ini, Nona Rasya saya nyatakan masuk angin biasa dan kelelahan saja. Tapi bila berapa hari ini dia masih tidak ada perubahan kondisinya, masih pusing dan mual. Coba periksakan ke dokter ahli kandungan!" saran dokter tersebut.
"Jadi belum bisa memastikan kalau mantu saya ini hamil dok?" sambung Bu Riska pada dokter dan Rasya sendiri hanya menoleh bengong.
"Hamil?" gumamnya Rasya sembari mengelus perutnya. "Apa iya aku hamil? tapi kata bunda juga kehamilan itu butuh proses, tidak langsung begitu saja. Ahk bingung."
Samudra juga bengong mendengar mamanya menyebut-nyebut kata hamil, apa iya Rasya hamil? sementara mereka melakukannya baru sekitar satu Minggu lalu. Pikirnya Samudra sambil menelan Saliva nya yang terasa nyangkut di tenggorokan.
"Ini resep yang harus di tebus, semoga, Nona Rasya segera sembuh!" dokter beranjak setelah membawakan peralatannya.
Bu Riska mengambil resepnya yang diberikan, hatinya harap-harap cemas bilakah Rasya hamil. Bagaimana pun dia ingin sekali dan berharap kalau Rasya segera hamil putranya Samudra, rasanya sudah tidak sabar ingin menggendong Samudra junior.
"Pasti lucu, menggemaskan," gumamnya Bu Riska.
"Apa yang lucu dan menggemaskan, Mah?" tanya Samudra menatap tajam ke arah sang bunda yang tampak melamun.
"Ooh, nggak ... nggak pa-pa," bu Riska menggeleng sambil tersenyum.
"Terima kasih dokter?" Ubai mengantar dokter keluar. Sebelumnya Ubai mengambil resep dari Bu Riska agar dia dapat menebus obatnya sekalian.
Samudra menghampiri Rasya, lalu duduk di samping Rasya yang tampak gelisah, keringat dingin pun masih terlihat dari pelipisnya. Kemudian menggenggam tangannya sangat erat sesekali di ciumnya mesra.
Kini Rasya menjadi entah apa yang di rasakan, perasaannya sungguh campur aduk dan harap-harap cemas. Apa benar dia hamil? kan campur nya juga baru satu Minggu ....
.
.
.
Komen dari kalian semua reader ku, menjadi penyemangat aku untuk selalu menulis🙏
__ADS_1