Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 96 Dasar kebo


__ADS_3

Rasya bengong, akhirnya dia menonton televisi dengan tatapan kosong. Dalam pikirannya terbayang gimana nasib rumah tangganya nanti? walaupun dia belum mengerti gimana itu berumah tangga, tapi setidaknya dia tahu.


"Ya Allah ... kok nasibku begini ya? Apa iya aku nantinya dimadu? tapi ... ngapain sih aku mikirin itu? yang penting aku di sini hidup enak dan aku dikelilingi orang-orang yang menyayangiku." Gumamnya Rasya sambil memisahkan acara televisi.


Tangan Rasya bergerak mengarah ke arah sebuah gelas yang masih tersisa airnya.


"Aku merasa punya keluarga baru, om Fatir dan Tante viona. serta keluarga lainnya yang sangat menyayangiku! biarpun mereka mau balik ke kotanya lagi setidaknya aku bisa berkunjung ke tempat Pak RT dan Paman Adam istrinya juga baik sekali."


Rasya menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin memikirkan lebih jauh tentang kehidupannya nanti. Bagi dia kehidupan sekarang ini lebih baik dari sebelumnya. Dibanding ketika dia masih bersama keluarganya di kampung.


"Masa bodoh lah, dia mau nikah. Mau kawin? yang penting dia masih baik sama aku, menerima aku tinggal di sini dan mencukupi kebutuhanku. Dan tuan Ubai juga baik kok sama aku," ucapnya Rasya.


"Aku nggak akan peduli, Tuan Samudra menikahi kekasihnya. Emangnya ada apa denganku? aku kan cuma istri siri dan terpaksa karena digerebek! he he he ... lucu juga, padahal kami nggak melakukan apa-apa. Kok bisa sih di grebek?


lagi-lagi Rasya menggelengkan kepalanya kasar.


Waktu terus berputar, tidak terasa kantuk pun menyerang netra nya sehingga tidak terasa Rasya menyender tertidur di sofa. Sekitar pukul 11.30 malam Samudra pulang, berjalan memasuki unitnya dengan langkah tampak capek.


Dengan kancing kemeja yang terbuka, hingga mengekspos dada Samudra. Berjalan gontai mendekati sofa dan netra nya mendapati Rasya yang Ketiduran di sofa panjang, tepat di depan televisi.


Sejenak Samudra menatap lekat kearah Rasya sambil berdiri.


"Ini anak, kok tidur di sofa sih?" gumamnya Samudra sambil melihat jam dinding, tangannya meraih remote menekan on of mematikan siaran televisi.


Lalu kedua netra Samudra kembali menatap intens ke arah Rasya, yang duduk bersandar ke belakang dan matanya terpejam.


"Hi? bangun?" suara bariton itu mencoba membangunkan Rasya. Namun tak ada pergerakan dari gadis itu sedikitpun. Dibangunin juga bukannya bangun malah terdengar ngorok.


Samudra menggelengkan kepalanya. Satu langkah mendekati dan mengambil bantal sofa yang berada dalam pelukannya, kemudian Samudra membungkuk. Bersiap untuk menggendong tubuh Rasya dari sofa, untuk dipindahkannya ke kamar.


Namun sebelum mengangkat nya, terhirup aroma parfum dari tubuh Rasya. Memenuhi rongga hidungnya yang mancung sehingga beberapa kali mendengus.

__ADS_1


"Hem ... baunya?" dalam hat Samudra manik matanya tak lepas dari wajah itu.


Mulainya ragu-ragu, namun pada akhirnya dia mengangkat juga tubuh Rasya di bawanya ke kamarnya.


Selama tubuh Rasya melayang dalam gendongan. Tetap saja Rasya tidak bergerak apalagi bangun dari tidurnya yang begitu begitu pulas.


"Dasar kebo! tidurnya nyenyak banget." Gumamnya Samudra.


Tetapi tetap, biarpun Samudra menggerutu. Tidak mampu membangunkan tidurnya Rasya.


Setibanya di kamar Rasya. Dibaringkan dengan pelan di atas tempat tidur miliknya, tidak lupa Samudra menarik selimutnya untuk menutupi tubuh gadis tersebut sampai menutupi dada.


"Selamat tidur? gadis satu milyar ku!" Samudra berdiri tidak jauh dari Rasya yang terbaring.


Detik kemudian Samudra mengayunkan langkahnya, meninggalkan Rasya lalu keluar dari kamar tersebut.


Samudra memasuki kamar pribadinya dan langsung ke kamar mandi, sembari melepas yang melekat di tubuhnya. Dengan niat ingin membersihkan diri dan buang air kecil.


"Dasar ... bukannya menyiapkan pakaian ku lebih dulu, untuk ganti!" gerutu Samudra kesal.


Akhirnya Samudra mengambil sendiri dari lemari, sebuah celana pendek dan kaos oblong. Setelah memakainya dia berdiri di dekat cermin sembari mengusap rambutnya yang basah.


"Biasanya juga bajuku buat ganti, sudah tersedia di tempat tidur! kok sekarang nggak sih? gimana nanti kalau dia nggak ada? siapa yang akan menyiapkan semua keperluanku? bila Karin pun tidak ada!" monolog Samudra.


Tangan Samudra mengambil body lotion dan parfum yang ia semprotkan ke seluruh tubuhnya.


"Aku butuh dia di sini!" lagi-lagi Samudra bermonolog, sambil menatap wajahnya dari pantulan cermin itu.


Samudra menghela nafas panjang lalu dihembuskan dengan kasar.


Bibirnya Samudra mengukir sebuah senyuman, teringat sang kekasih yang baru saja berkencan dan bikin janji kalau besok akan membuat sesi foto buat undangan.

__ADS_1


"Huam ... Tidur ah, ngantuk juga." Samudra memutar tubuhnya.


Lantas Samudra membawa langkah lebarnya mendekati tempat tidur, lalu membaringkan tubuhnya. Menatap langit-langit dengan pikiran yang melayang-layang, tangannya meraih guling dan dipeluknya sangat erat.


"Aduh ... ini mata ngantuk! tapi tak bisa pejam juga. Heran." Samudra gedebag-gedebug.


Sudah hampir 2 jam Samudra berbaring dan mencoba memejamkan kedua matanya, namun tetap saja tak lena. Bolak-balik kanan, kiri tetap saja tidak dapat membawanya tidur.


Pada akhirnya Samudra kembali bangun dan berjalan mondar-mandir bak setrikaan. Samudra melipat kedua tangannya di dada sembari berpikir mau ke kamarnya Rasya, namun ragu dan merasa malu.


Namun ada sebuah dorongan, yang menyuruhnya untuk melangkah mengayunkan kaki keluar dari kamar tersebut. Serta membawa langkahnya ke depan kamar gimana Rasya berada.


"Em ... masuk nggak? masuk nggak?" menghitung dengan jarinya. Berdiri depan daun pintu tersebut.


Perlahan namun pasti, langkah Samudra mendekati tempat tidur Rasya yang belum lama ini dia datang, dan membaringkan orang yang saat ini masih juga terlelap.


"Ya ampun ... sedari tadi posisinya masih seperti itu? nggak ada pergerakan sama sekali, benar-benar tidurnya nyenyak banget nih orang!" lirih Samudra sambil menatap ke arah Rasya yang tampak begitu pulas.


Setelah menggantikan lampunya, Samudra naik merangkak ke atas tempat tidur, berbaring di samping Rasya yang tidak mengetahui keberadaan dirinya di situ.


"Heh, gadis 1 miliar ku. Tidur mu nyenyak banget sih? mabuk obat apa? sehingga nggak bergerak sama sekali dari tadi," lagi-lagi Samudra tidak habis pikir, lalu menggeleng.


Kini tubuh Samudra miring, menghadap ke arah Rasya agar bisa menatap wajahnya dengan puas. Sampai lama-kelamaan kedua netra nya merasa lelah, lalu terpejam dan akhirnya tertidur sangat lelap.


Menjelang subuh, tubuh Rasya barulah ada pergerakan. Tangannya menggeliat nikmat "Hem ... nikmat sekali tidurku."


Namun Rasya merasa heran setelah mengingat-ingat. Kalau semalam dia ingat betul tertidur di depan televisi. "Tapi kenapa sekarang ada di kamar?" suara parau Rasya pelan sambil memegang kepalanya sembari memutar memorinya ....


.


.

__ADS_1


Mohon dukungannya ni🙏


__ADS_2