Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 125 Bos dan asisten


__ADS_3

''Saya tidak akan--"


"Tidak akan gimana? aku itu gak ada artinya bagi dirimu kan?" suara Rasya bergetar, dengan tatapan yang nanar pula.


"Rasya? kau tidak apa-apa kan di sana?" suara Viona dari balik pintu.


Rasya dan Samudra, keduanya menjadi panik. Menjadi serba salah tidak tau harus gimana?


"Gimana nih? kenapa harus panik itu kan Tante Viona!" ucap Rasya menatap ke arah Samudra.


"Tapi siapa tau di luar ada orang rumah atau orang tua ku!" balas Samudra mau lari ke kamar mandi. Namun ia pikir buat apa juga? toh dia dan Rasya, bos dan asisten, wajar bila bertemu di suatu tempat.


Rasya pun berjalan mendekati pintu dengan melihat ke arah Samudra yang berdiri di tempat. Sebelum membuka pintu, Rasya merapikan gaunnya dan mengusap pipi juga matanya.


"Rasya? sayang ... kamu lagi apa?" suara Viona kembali memekik dari balik pintu.


Cklek!


"Iya, Tante! aku baik-baik saja kok." Jawab Rasya seraya membukakan pintu.


Tampak di depan pintu berdiri, Fatir, Ubai dan Viona serta di belakangnya ada pak Suyoto dan istri. Langsung memasuki kamar tersebut.


"Kamu sedang apa di sini Sam?" tanya Bu Riska menatap curiga pada Samudra yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur.


Samudra menoleh pada Rasya seraya bergumam dengan tenangnya. "Aku menyuruhnya untuk membuatkan kopi, iya, kan Sya?"


"I-iya, bener seperti itu!" Rasya mengangguk.


"Ya, sudah. Tamu dan Karin menunggu mu." Pak Suyoto menunjuk ke arah pintu.


Samudra mengangguk. Lalu bersiap meninggalkan tempat tersebut.


Sejenak mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing.


"Bai, temenin gue?" pinta Samudra pada Ubai.


Tanpa bicara, Ubai pun mengikuti langkah Samudra keluar dari kamar tersebut dan Rasya yang mematung bersama yang lain.


Lalu Bu Riska dan pak Suyoto, satu persatu melangkahkan kedua kakinya untuk menyusul Samudra ke tempat acara tunangan.


"Om dan Tante. Ada yang ingin dibicarakan sama kamu, kita duduk sana," ajak Viona pada Rasya dan menuntunnya duduk di sofa masih di kamar itu.


Rasya merasa heran. Ada apa ya kira-kira? kok berasa dag-dig dug seperti ini," pikirnya Rasya.


Setelah mereka duduk bertiga, Fatir membuka pembicaraan.


"Sebenarnya, Om dan Tante, ingin bertemu dengan orang tuamu. Apakah sudah ingat alamatnya," ungkapnya Fatir menatap lekat pada gadis itu yang juga menatap heran ke arah Fatir dan Viona.

__ADS_1


Namun Rasya nggak inget alamat yang sesungguhnya, kalau sekedar kampung sih ... dia tahu, tapi alamat lengkap nya tidak ingat sama sekali.


"Kalau kampung sih aku tahu, Om. Tante. Tapi kalau alamat lengkap ... aku nggak ingat," jawabnya Rasya menggeleng.


"Sama sekali nggak ingat? coba di ingat-ingat? nanti sama Om dan tante antar ke sana, iya kan sayang?" lirihnya Fatir sambil melirik pada sang istri, Viona.


"Iya benar. Kami akan mengantarmu ke tempat orang tua kamu dan coba kau ingat-ingat, di mana alamat mu. Tante dan om penasaran ingin bertemu mereka," ungkap Viona sambil menggenggam tangan Rasya.


Rasya mengurutkan keningnya. Seraya berkata. "Beneran, Tante aku lupa alamatnya, cuma nama kampung saja yang aku ingat," kata Rasya. "Emang kenapa?"


Viona dan Fatir saling bertukar pandangan sesaat sebelum menjawab.


"Em ... nggak. Kami cuma ingin bertemu dengan orang tua mu saja sebagai silaturahmi." Ucapnya Fatir dengan hati-hati.


Rasya terdiam, menerka-nerka apa maksud dari Fatir dan Viona sebenarnya.


"Ya, sudah. Kita kumpul lagi yu ke bawah?" ajak Viona sambil beranjak dari duduknya, tangan meraih tas Soren.


"Ya, sudah. Kita turun kembali," Rasya pun beranjak mengikuti langkah Viona.


Begitupun dengan Fatir yang menyusul dari belakang. Sebab dia numpang ke toilet sebentar.


Samudra dan Karin sedang berbunga dan saat ini mereka sedang berada di kamar Samudra, tadi Karin minta ke kamar mandi.


Kebetulan acara sudah selesai dan para tamu pun sudah berangsur pulang.


"Sayang, aku bahagia banget hari ini." Karin memeluk leher Samudra yang membalas merangkul pinggangnya yang ramping itu.


"Em ... jangan ngomongin menikah dulu ya? kita baru tunangan lho," Karin mendekati wajah Samudra lalu mengecup bibir Samudra berkali-kali.


Namun yang di rasakan oleh Samudra sebuah kecupan yang biasa saja. Beda dengan bila dia menyentuh bibir Rasya yang menimbulkan sensasi yang sangat berbeda.


Ketika menyentuh Rasya itu, Samudra mendapatkan sesuatu yang berbeda, yang lebih menggairahkan seluruh anggota tubuhnya. Ketimbang dengan Karin.


"Mmmmm ..." gumamnya Karin.


Karin lebih oper ketimbang Samudra yang cuma menerima. Dia terus mendaratkan kecupannya di bibir Samudra dengan bu-as. Liar, seperti menginginkan yang lebih dari itu, menempelkan tubuhnya pada bagian tubuh Samudra yang menonjol.


Semakin lama, kecupan Karin semakin kemana-mana, dan kini tangannya turun membuka kancing kemeja Samudra yang masih menggunakan setelan jas nya.


"Aku inginkan kamu sayang, cintaku." Bisik Karin di telinga Samudra.


"Eh ... kita turun yu? kumpul sama mereka!" ajak Samudra dengan suara yang ikutan aneh, namun sebagai laki-laki, dia masih bisa mengontrol nafsunya itu.


"Nggak mau!" Karin menggeleng dengan nada manja, jarinya yang lentik terus membuka kancing bagian dada Samudra.


"Sayang, gimana kalau kita melakukannya sekarang? aku sudar siapkan pengaman untuk kita berdua, sebelum aku pergi." Bisik Karin kembali.

__ADS_1


"Pergi kemana?" Samudra menatap heran ke arah sang kekasih.


"Ya ... siapa tahu aku jadi kuliah di luar Negeri, kan kita akan berjauhan sayang." Cuph! lagi-lagi Karin mengecup pipi Samudra.


"Oh, itu kita sudah menikah sayang," Samudra memudarkan rangkulannya dari pinggang Karin.


Kemudian dia mundur duduk di sofa dengan bersandar ke bahu sofa.


Karin pun mengikuti dan duduk malah di atas pahanya Samudra, lalu meraih kepalanya dan menyatukan kembali bibir mereka.


Blak!


Pintu terbuka, Rasya yang lupa mengetuk pintu langsung memutar badar. Dengan jantung yang berdegup sangat kencang melihat kejadian di sofa, dan dadanya mendadak terasa sesak.


Dia datang membawakan dua gelas minuman jus buat Samudra dan Karin. "Maaf? aku gak sengaja."


Samudra dan Karin sontak kaget ketika pintu terbuka di saat asik bercumbu. Terutama Karin yang merasa sangat terganggu dengan kehadiran Rasya di tempat tersebut.


Walau terkesiap, namun dalam hati Samudra tersenyum. Kerena ada bagusnya Rasya datang tepat waktu. Siapa tahu kalau tidak ada yang datang! akan terjadi sesuatu yang Karin dan dirinya lakukan di luar kontrol.


"Dasar gadis kampung! tidak tahu diri. Kurang ajar, masuk seenaknya saja ke kamar orang. Apa kau tidak tahu kalau di kamar ini ada orang ha? gak sopan tahu dengan cara mu masuk tanpa permisi tersebut." Karin berucap sambil beranjak dari pangkuan Samudra.


"I-iya, aku tahu. Aku salah dan karena itu aku meminta maaf?" suara Rasya lirih dan bergetar.


"Ha? maaf? maaf kau bilang! sayang, sebaiknya pecat saja orang ini, sebelum dia mengganggu kebahagiaan kita berdua," ucap Karin sambil melirik ke arah Samudra dan Rasya bergantian, dengan nada yang semakin tinggi.


Samudra menghampiri dan meraih nampan yang berisi dua gelas besar minuman, Rasya masih di posisi semula menghadap pintu memunggungi penghuni kamar. Samudra kini gak berani membentak gadis itu. "Sudah. Pergilah."


Tanpa mengangkat kepalanya. Rasya mengangguk, kemudian mengayunkan langkahnya.


"Tunggu?" Karin mengambil gelas dari Samudra lalu ia teguk sedikit. Mendekati Rasya yang hentikan langkahnya.


"Ternyata kau itu ... satu-satunya asisten yang di dandani bak putri raja di sini. Hebat-hebat." Karin bertepuk tangan setelah menyerahkan gelas pada Samudra.


"Seistimewa apa sih? dirimu di sini ha? gadis kampung," suara Karin penuh penekanan.


Manik mata Rasya mulai berkaca-kaca. Sakit rasanya hati saat ini, dihina di caci di depan sosok suami yang seharusnya membela atau lebih tepatnya memberi perlindungan.


Samudra menatapi punggung Rasya yang tetap memunggungi. "Pergilah?"


"Sayang. Sudahlah, gak perlu mencari keributan?" Samudra melirik ke arah sang kekasih.


"Siapa yang cari ribut sayang? dia yang sudah mengganggu kita. atau jangan-jangan kau membelanya karena ada sesuatu ya?" tuduh Karin penuh curiga terhadap Samudra.


"Ti-tidak, sayang ... itu tidak benar! dia cuma ... asisten ku saja. Tidak lebih, Percayalah. Hanya kamu yang aku cintai, Sayang?" Samudra mengelak sambil melirik ke arah Rasya yang kini sudah memutar melihat ke arah dirinya.


Dan setelah mendengar jawaban dari Samudra yang terdengar lebih menyakitkan, menambahkan rasa sakit di dada, Rasya buru-buru keluar dari kamar tersebut serta setengah berlari dari kenyataan bawah dirinya bukan seseorang berarti bagi Samudra ....

__ADS_1


.


.


__ADS_2