
Setiap satu jam sekali Samudra menoleh ke arah jam dinding yang menunjukan setiap putarannya.
Malam ini sungguh terasa lama bagi Samudra, karena setiap waktunya dia selalu terjaga, kini Samudra bangun dan duduk. Pandangannya mengarah pada tempat tidur yang menempatinya tampak tidur nyenyak.
"Hah! gak bisa tidur, mereka enak-enakan bisa tidur nyenyak, sementara aku gak bisa tidur," gumamnya sangat pelan.
Samudra mengibaskan selimut dan beranjak dari duduknya. Berjalan menuju kamar mandi, karena perutnya terasa mulas sekali.
Tidak lama kemudian, Samudra kembali sambil mengusap perutnya. "Ha ... lega juga nih rasanya."
Sampai pagi menjelang netra Samudra tak dapat pejam. Waktu sudah menunjukan pukul 03.30 wib.
Rasya terbangun. Dan teringat pada suaminya yang tertidur di sofa. ''Suami ku!" gumamnya Rasya sambil pelan-pelan mengibaskan selimut, takut mengganggu yang lain.
Dengan mengendap-endap, Rasya berjalan sangat pelan mendekati sofa dimana suaminya berbaring.
Samudra yang mendengar pergerakan langkah Rasya langsung menoleh ke arah sang istri yang kini berdiri di dekatnya.
"Kau sudah bangun?" Rasya duduk di dekat Samudra yang juga bangun.
"Bangun apaan? aku gak bisa tidur semalaman." Balas Samudra sambil celingukan.
"Nggak bisa tidur? benarkah?" Rasya menatap tidak percaya.
"Kau ini, gak percaya benget sama suaminya? dirimu enak, bisa tidur nyenyak. Sementara aku gak bisa tidur." Lanjut Samudra.
"Suruh siapa gak bisa tidur?" sahut Rasya.
"Nggak ada yang nyuruh. Terus aku harus salahkan mata ku apa?" ketus Samudra.
"Ya sudah, salahkan saja mata mu!" Rasya mengusap rahangnya Samudra.
Kini keduanya saling bertukar pandangan dengan tatapan yang penuh makna yang tersirat.
"Ehem, Sya? kau sudah bangun? Sya? kau di mana?" panggil Bu Asri yang baru bangun dengan suara parau.
Suara Bu Asri mengganggu mesranya tatapan Rasya dan Samudra. Membuyarkan niat yang sudah tersurat.
"Ya, ampun ... begini saja masih gak ada kesempatan." Keluh Samudra sambil mendorong tubuh nya sendiri ke belakang, berbaring kembali.
Rasya mesem-mesem dan berdiri seraya berkata. "Iya Oma, aku sudah bangun."
Kemudian semuanya bangun dan keluar dari kamar tersebut. Dan tinggallah Rasya dan Samudra yang kini merasa lega, karena hanya mereka berdua yang ada di kamar tersebut. Samudra memeluk Rasya sangat erat sebagai ganti dari semalam.
Setelah sarapan pun Samudra memilih untuk tiduran di kamar, karena kepala terasa pusing atas bawah. Namun Rasya tidak bisa nemenin karena sudah mulai banyak tamu yang datang.
Saking sibuknya, sehingga Rasya bis temui Samudra siang hari di kamar tamu. Kamarnya sedang di dekor oleh pihak wedding.
"Kemana aja sih?" tanya Samudra dengan nada kesal.
__ADS_1
"Ini aku bawakan makanan dan minuman," Rasya menyimpan nampan berisi makanan dan minuman di depan Samudra yang tampak merajuk.
Samudra menatap ke arah nampan tersebut.
"Aku, nemenin bunda temui tamu, kerabat maksudnya, yang mulai berdatangan." Jawabnya Rasya.
"Aku tuh pusing, ngerti gak sih?" keluh Samudra seraya menarik tangan Rasya.
"Aku juga sering pusing kok, gak ngeluh!" jawabnya Rasya sambil mendekat pada Samudra.
"Ini bukan cuma pusing kepala, tapi satu lagi, pengen di manja nih ... masa gak mengerti sih?" Samudra merangkul pinggang sang istri.
"Ya ampun ... lusa lho, acara kita--"
"Emangnya kenapa?" Samudra memotong perkataan dari Rasya yang rasanya tidak nyambung.
"Em ..." mulut Rasya keburu dibungkam oleh mulut Samudra.
"Mmmm ... lep-lep--" Tangannya pun memukul-mukul dada Samudra.
Namun Samudra tidak perduli, dengan penolakan sang istri. Dia tetap menjalankan aksinya yang sudah dia inginkan dari kemarin malam.
Lama-lama Rasya pun menikmatinya sehingga dia terdiam dan mengalungkan tangan di pundak Samudra.
Tetapi ketika tengah menikmati saling sentuhan bibirnya. Tiba-tiba terdengar pintu terbuka dan langsung bersuara. "Sya, di tunggu makan siang juga, malah asik-asikkan bercinta."
Membuat Samudra dan Rasya melonjak dari posisi semula. Kaget dan merasa kesal juga, sedang asyik-asyiknya menaikan mood eh ... di ganggu Bu Asri.
"O-oma. I-iya Oma. Aku akan turun dan aku menjemput suami ku dulu," ucap Rasya gelagapan.
Bu Asri menatap keduanya yang tampak pucat dan mungkin malu karena sudah kepergok olehnya.
"Kalian itu gak tahu waktu apa? sebentar lagi kalian ini akan diresmikan. Tahanlah dulu, orang itu sebelum menikah di pingit dulu, ini masih mending berduaan terus! kalian berduaan Mulu." Suara Bu Asri dengan nada nyelekit.
Samudra menatap tajam wanita yang sudah tidak muda lagi itu dengan tatapan sedikit kesal. "Oma, kami sudah menikah! apa salahnya kalau kami berduaan? lagian--"
Bu Asri langsung memotong perkataan Samudra "Bok, istirahatlah dulu. Nanti juga banyak waktu untuk berduaan toh!"
"Em ... Oma, kita turun yu? kita makan siang? aku dah lapar nih!" Rasya beranjak dari duduknya, namun mual kembali menyerang.
"Oo ... oo ..." Rasya menangkup mulutnya dan buru-buru mendekati Samudra yang kebetulan sudah berdiri.
Rasya menyusupkan wajahnya di dada Samudra dengan tangan memegangi baju depan Samudra.
Bu Asri heran sekaligus cemas, melihat cucunya seperti itu. "Kau kenapa?"
Rasya menggelengkan kepalanya, dan Samudra pun hanya terdiam.
"Apa kau hamil, Vi?" tanya kembali Bu Asri menatap curiga pada cucu nya itu.
__ADS_1
Rasya dan Samudra kini saling pandanga dengan sangat lekat.
"Apa benar?" gumamnya Samudra menatap lekat pada Rasya.
Dan Rasya pun hanya lagi-lagi menggeleng. "Aku tidak tahu!"
"Saya yakin, kalau kau itu hamil. Sya, saya akan punya cicit. Ya Allah ... Alhamdulillah masih memberi ku umur sehingga sampai cucu ku memberi ku cicit!" Bu asri langsung bersujud syukur.
"Lho, kan belum pasti kau hamil! tapi Oma sudah girang begitu?" Samudra merasa heran dengan pemandangan ini.
Sementara Rasya bengong, antara percaya dan tidak kalau dirinya itu tengah hamil. Apa benar dirinya sedang berbadan dua?
Bu Asri buru-baru keluar dari kamar tersebut dengan niat mau menemui Viona. Untuk memberi saran agar Rasya segera diperiksa kan. Siapa tau kalau Rasya benar-benar hamil.
"Vi, Viona? mama ada berita bagus nih!" pekik Bu Asri dari dekat tangga.
Viona yang sedang bersama Bu Afiah yang sedang mengobrol dengan mendekor. Langsung menoleh pada sumber suara dimana Bu Asri berada.
"Ada apa, Mah?" Viona bergegas menghampiri sang bunda.
Semua orang berada di dalam rumah, termasuk yang sedang dekor menoleh pada Bu Asri yang tampak bahagia.
"Itu- itu ... sebaiknya kau periksakan Rasya ke dokter kandungan, Mama melihat ada gelagat-gelagat kalau Rasya sedang hamil." Bu Asri dengan nada bahagia. "Saya mau punya cicit."
"Beneran besan? Rasya ada tanda hamil?" bu Afiah melihat ke arah Bu Asri yang langsung merespon dengan anggukan.
Viona melihat ke arah Rasya yang baru saja keluar dari pintu kamar bersama Samudra. "Benar sayang, kalau hamil?" tanya Viona.
Sementara Rasya menoleh pada Samudra yang memang tidak tahu apa-apa.
"Jangan tanya dia! mendingan langsung periksa saja." Kata Bu Asri.
Viona menghampiri Rasya. "Sayang, apa kau sudah telat, Nak?"
"Iya, Bunda. Aku sudah telat sih." Jawabnya Rasya sembari mengangguk.
"Oke, kita periksakan ya? sekarang kita makan dulu, nanti setelah itu. Kita ke dokter kandungan Sam?" Viona melirik ke arah Rasya dan Samudra bergantian.
"Ya Bunda!" Samudra menyetujui perkataan Viona.
"Kau jangan capek-capek ya? Kau juga gak boleh menyuruh istri mu macam-macam, dan satu lagi! jangan keseringan hubungan, nanti mengganggu pada kehamilannya Rasya, hamil muda itu rentan," kata Bu Asri menatap ke arah Samudra juga.
"Baik, Oma," balas Samudra.
Walaupun belum pasti. Namun yang tau berita ini sangat bahagia menyambut kehamilan Rasya ....
.
.
__ADS_1
Mohon dukungan nya? agar author semangat berkarya🙏