Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 135 Memeras tenaganya


__ADS_3

Fatir merangkul bahunya sang istri seraya berkata. "Sabar sayang ... yang penting putri kita sekarang sudah ditemukan!"


"Iya, Mas itu benar." Viona menoleh dan menatap wajah sang suami dengan lekat.


"Kalian silakan membawa Rasya dari sini, tapi bayar dulu materi yang pernah saya keluarkan untuk mengurus dia dari balita sampai sekarang ini," jelasnya Bu Karsih sambil menatap tajam ke arah Viona dan Fathir.


"Oo! itu sih sangat gampang, Bu. Tetapi bukankah dari awal kau sudah mendapat imbalan? sehingga kau bisa membeli rumah ini?" Viona dengan tegas menjawab perkataan dari Bu Karsih.


"I-iya, tapi itu tidak seberapa biaya dengan hidup dia yang sudah belasan tahun tinggal bersama saya." Bela buu Karsih.


"Sebutkan saja nominalnya dan saya minta rinciannya? karena pada kenyataannya Rasya tidak kau sekolah kan, hanya tamatan tingkat SD saja, kan? dan kesehariannya pun kalian hanya memeras tenaganya saja! tanpa memperhatikan perutnya keperluannya!" tegasnya suara Fatir.


"Tapi segitu juga dia beruntung masih hidup sampai detik ini bahkan bisa bertemu dengan kalian, coba kalau dulu saya nggak merawatnya apa dia masih bisa hidup? atau bisa bertemu dengan kalian berdua! itu nggak mungkin?" sergah Bu Karsih sambil menggerakkan tangannya.


"Iya, makanya silakan bikin rincian. Bilang nominalnya! nanti saya bayar berapapun itu, cuma bila saya mengajukan banding atas perlakuan kalian pada Rasya selama ini, yang seolah memperbudak gadis itu kalian bisa apa? karena tentu anda yang kalah," gertak Fatir sambil menunjuk pada Bu Karsih.


"Kalian yang melakukan Rasya kurang layak di keluarga ini, memang sih saya dan suami saya juga berterima kasih! karena Anda sudah merawat anak kami, tapi kami sangat menyayangkan apa yang kalian lakukan kepada Rasya selama ini." Viona mengusap wajahnya kasar.


"Ooh iya, berapa bulan yang lalu kau sudah menjual Rasya kepada laki-laki tua itu satu milyar dan itu kalian makan tanpa mempedulikan Rasya. Sekarang saya tanya, apa putri-putri anda. Putra anda sudah memberikan uang sebesar itu?" tanya Fatir pada bu Karsih yang kini terdiam.


"Belum bukan? mereka belum memberikan uang sebesar itu kan buat Anda?" tanya Viona menyambung perkataan dari suaminya.


Sementara Rasya yang kau perlakukan kurang baik, kurang manusiawi, sudah memberikan uang lebih dari itu dan sekarang kau masih minta imbalan dari kami? pengembalian atas jasa-jasa anda kepada putri saya?" ujar Fatir dengan tegasnya.


Bu Karsih terdiam seribu kata, tidak bisa menjawab karena memang yang mereka katakan adalah benar, putri dan putranya belum pernah memberikan uang sebanyak itu bahkan yang ada cuman menyusahkan buat pusing dia. Sementara Rasya yang diperlakukan tidak adil telah memberikan uang sebanyak itu bahkan lebih dari itu.


"Tanpa anda sadari Rasya sudah menyambung hidup anda, dan sudah menolong kesusahan anda. Dan dia sudah menjadi tumpuan hidup kalian, tapi kenapa kehadirannya hanya menimbulkan cacian dan hinaan dari kalian seolah anak itu benar-benar tidak berguna di mata kalian?" sambung Viona dengan nada yang menggebu.


"Heh cukup ya? kalian nggak perlu terus menyudutkan Ibu saya, bagaimanapun dia seorang ibu yang berjasa mengurus anakmu itu. Seandainya dia memberikan banyak uang kepada kami? itu wajar! karena tanpa tangan kami gimana nasib anak anda? atau apa mungkin kalian bisa menemukannya?" ujar Murni sambil bertolak pinggang.


"Saya bersyukur dan saya berterima kasih kepada Ibu anda, karena telah mengurus anak saya. Tapi bukan begitu caranya seolah-olah kalian ingin memeras saya." Kini ucapan Viona dengan nada tinggi.


"Tanpa diminta pun sama kalian, kami pasti memberikan timbal balik cuma ... kami tidak suka seolah-olah Rasya benar-benar telah menjadi beban buat kalian, padahal kalian sudah mendapatkan uang yang banyak dari dia, sadar itu?" ungkap Fatir sambil menatap tajam ke arah Murni dan Bu Karsih.


Sukma beranjak dari duduknya, terlihat dia mau bicara karena mulutnya sudah menganga. Namun tangan Fatir melayang di udara seolah memberi tanda agar Sukma tidak usah ngomong.


"Saya bisa mengajak Rasya saat ini juga, pergi dari sini kalau saja kami tidak punya hati, karena bagaimanapun kalian sedang berduka, begitupun dengan Rasya yang kehilangan bapa yang dia anggap sebagai bapa kandungnya itu," sambungnya Fatir.


"Silakan kalian bawa anak sialan itu sekarang juga, agar kalian tidak memperlihatkan hidung kalian lagi di sini! saya muak melihat kalian semua," kata Murni sambil menunjuk ke arah pintu.


"Iya benar, buat apa kalian datang, terus datang. Saya muak melihatnya apalagi dengan sikap kalian yang punya terima kasih itu, malah terus menyudutkan Ibu saya," timpalnya Vera.


Viona menoleh pada sang suami. "Mungkin mereka benar Mas kita ajak pulang saja Rasya sekarang juga, emang dia pikir kita mau apa ketemu orang-orang yang seperti dia yang nggak punya sopan santun."


Fatir terdiam sambil mengerutkan keningnya seolah sedang berpikir keras untuk membuat sebuah keputusan yang terbaik.


"Saya muak, saya benci! tadi kedua pria ganteng itu yang mengancam-ngancam kami dan sekarang kalianlah yang semakin menyudutkan kami, kalian bilang kami nggak punya kesopanan pikir dong ... kalian punya kesopanan nggak? di saat kami sedang berduka kalian membuat kacau, membuat masalah di rumah ini," hardik Murni.


"Jangan mentang-mentang kalian orang kaya ya? yang memperlakukan kami dengan seenaknya, memang kami membutuhkan uang, tapi nggak harus mengemis-ngemis sama kalian Cuih ... najis!" Vera membuang ludah di depan tamunya itu.


Mendengar di ruang tengah ribut-ribut, Rasya yang sedang tertidur lelap terbangun dan bergegas keluar dari kamarnya itu, lantas melihat Fiona dan Fatir sedang berkumpul dengan keluarga Bu Karsih.


"Tante? Om Fatir kenapa kalian ada di sini?" tanya Rasya dengan suara yang parau serta tangan menggosok kedua matanya.


Viona menoleh dan langsung beranjak dari duduknya menghampiri Rasya yang berdiri di depan pintu kamar.


"Rasya ... putrinya Bunda?" Viona memeluk tubuh Rasya yang jelas-jelas kebingungan dengan perkataan yang menyebut putrinya Bunda.


"Akhirnya putri, Tante. Ketemu juga dan kamulah putri Tante, Vivian anak kecil yang hilang," tangisnya Viona yang sekaligus bahagia, walaupun tes DNA itu belum dilakukan, namun mereka begitu yakin kalau Rasya adalah Vivian yang hilang.


"Maksud, Tante apa?" Rasya yang belum terkumpul jiwanya tambah kebingungan tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


Viona memudarkan rangkulannya lalu membingkai wajah Rasya yang masih tampak muka bantalnya itu. "Sayang kamu adalah putri Tante, kamu adalah Vivian yang hilang."

__ADS_1


Viona kembali merangkul tubuh Rasya yang malah semakin bengong dibuatnya.


"Putri yang hilang! Vivian?" Rasya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh dia masih butuh waktu untuk mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Fatir pun menghampiri kepada istri dan putrinya itu. "Rasya, kami yakin kalau kamu adalah putri kami yang hilang, kami sangat bersyukur ternyata putri kami adalah dirimu seorang yang cantik, baik hati dan sopan santun."


Rasya mengedarkan pandangan kepada bu Karsih dan kakak-kakaknya yang berwajah sangat tidak bersahabat.


"Sebenarnya ... kami hari ini mau mengajak kamu ke rumah sakit untuk tes DNA." Sambungnya Fatir sambil mengusap kepalanya Rasya.


"Tes DNA ... apa itu?" tanya Rasya penasaran.


"Sebuah tes yang membuktikan kalau seseorang itu sedarah dengan orang tuanya," Viona lirih sembari membuka rangkulannya dari tubuh Rasya.


"Oo! terus kenapa kalian ribut-ribut ada masalah apa?" tanya kembali Rasya.


"Kami tidak ribut, cuma debat sedikit," jawabnya Viona.


"Kalian pergilah sekarang juga? tinggalkan tempat ini, kami sudah tidak sudi dan muak melihat kalian semuanya," usir Murni dengan nada kasar.


"Kakak kenapa bilang seperti itu? kenapa kau mengusirku, apa salahku?" Rasya menatap dan tidak mengerti.


"He, Rasya jangan berlaga oon lu. Bukankah mereka itu orang tua mu, sudah pergi dari sini? nggak usah balik lagi ke sini, kau tahu kan kalau aku itu benci sama kamu sejak dulu juga," tambahnya Vera dengan nada pedas.


"Aku tidak mengerti! tadi kalian sudah bersikap baik padaku kenapa sekarang jahat kembali Rasya menatap lekat ke arah kakaknya.


"Sudahlah enggak usah berlaga polos, kau pergi saja dari sini? usir kembali Murni.


"Murni, Vera kalian jangan begitu! bagaimanapun Rasya itu bagian dari keluarga ini, dan kalian harus tahu kalau dia itu bisa menjadi ladang uang buat kita," suara Bu Karsih pelan, seakan berbisik kepada putri-putrinya itu.


Vera dan murni saling pandang setelah mendengar perkataan dari sang Bunda. Mencerna maksud dan tujuan dari ibunya itu.


"Kalian jangan sembarangan mengusir dia, kalau dia pergi siapa yang akan memberikan uang kepada kita?" bisik kembali sang Bunda dengan pekikan yang tertahan dan sorot mata yang bergerak ke arah Rasya dan Fiona, suaranya sangat pelan.


"Kata ibu benar Kak, kalau si Rasya tinggal di sini, sekaligus kita bisa bertemu dengan dua pria ganteng itu. Dan kalau bisa kita ambil hati dua pria ganteng tersebut Kak, aku suka sama Ubai Kak," bisik nya Vera.


"Ya ... sudah, aku mandi dulu ya?" Rasya membalikan tubuhnya dengan niat mau masuk kamar kembali.


"Rasya, setelah mandi. Kita ke rumah sakit ya? ikut Tante sama Om," ajaknya Viona kepada Rasya.


Rasya menatap keduanya lalu dia mengangguk. "Iya, Tante. Om,"


Rasya kembali masuk ke dalam kamarnya, tidak lama kemudian dia keluar dengan membawa handuk dan menuju kamar mandi.


Setelah beberapa saat kemudian Rasya pun siapa, Viona dan Fatir mengajak Rasya untuk pergi ke rumah sakit dan menjalankan tes DNA.


"Kenapa harus tes DNA sih tante?" tanya Rasya setelah duduk di dalam mobil Fatir.


"Untuk membuktikan kepada hukum dan negara kalau kita memang anak dan orang tua, intinya untuk membuktikan jika darah yang mengalir di tubuhmu itu adalah darah daging kami." Jawab Viona.


"Bagaimana, kalau seandainya aku bukan lah 0utri Anda yang hilang itu?" selidik Rasya seraya menatap ke arah Viona.


"Kami yakin, kalau kamu itu putri kami," jawabnya Fatir.


"Dan ... sekalipun kamu bukan putri ku, tapi kamu akan tetap menyayangi kamu serta menjadi anak ku. Namun kami sangat yakin kalau sebenarnya kau itu putri kami." Sambungnya Viona.


"Tapi insya Allah, kami yakin seyakin-yakinnya kalau dirimu adalah putri kami yang hilang dan kami sangat bahagia kalau memang terbukti," timpalnya Fatir sambil melirik karena Rasya yang duduk di belakang bersama sang istri.


Setibanya di rumah sakit, Viona dan Fatir langsung menemui dokter yang sebelumnya sudah mereka hubungi. Dan bersedia untuk membantu mereka.


Kemudian Rasya, Viona juga Fatir mengikuti proses demi proses untuk mendapatkan hasil yang akurat.


"Saya mohon bantuan dari dokter, agar proses ini dipercepat." Pinta Fatir pada dokter yang duduk di hadapan mereka.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Akan kamu bantu dan semoga hasilnya seperti yang diinginkan oleh kalian semua ya?" Jawab dokter tersebut.


"Terima kasih dok? Aamiin ya Allah. Semoga saja! memang itu yang kami harapkan," Fatir mengangguk dengan wajah yang sumringah.


"Saya sangat berharap kalau putri kami ini memang benar-benar darah daging kami." Lanjut Viona sambil menatap lekat ke arah Rasya.


Wanita berkerudung tersebut tampak sangat menantikan kalau Rasya adalah putrinya yang asli.


"Tante! emang berapa lama untuk mendapat hasil tes nya?" selidik Rasya pada Viona.


"Bisa lama dan bisa juga paling cepat sekitar 48 jam kemudian." Jawabnya dokter.


"Oo! gitu?" Rasya membulatkan bibirnya.


Setelah selesai, mereka pun pulang dengan berjuta harapan. Namun di perjalanan mobil Fatir berhenti di depan sebuah restoran. Untuk menunaikan salat Maghrib.


Dan selepas salat. Mereka berjalan menuju restoran yang tidak jauh dari mesjid tersebut untuk makan malam.


"Om, Tante? kita gak ikut tahlilan?" ucap Rasya yang melihat suasana sudah malam itu.


"Ooh, iya Mas. Kita pulang saja ke tempat Bu karsih, kan mau ikutan tahlilan." Pinta Viona pada sang suami.


"Ha! iya-iya, kita balik ke mobil." Fatir pun mengangguk dan langsung menuju mobilnya.


Dengan tidak butuh waktu yang lama, mobil Fatir sudah berada di depan rumah Bu karsih yang tampak ramai dengan yang ikut pengajian.


Rasya, Viona dan Fatir pun bergegas masuk dan ikutan, bergabung dengan yang lain mengikuti tahlilan bersama.


"Ini anak baru datang, kelayapan dari mana, Nona?" sapa Murni.


"Maaf, Kak. Aku terlambat?" Rasya mengangguk dalam kepada kakaknya itu.


Bu karsih pun tampak di sana bersama ibu-ibu lainnya. Di tempat tersebut riuh, ramai dengan suara yang pengajian mendoakan pak Muhidin.


Rasya pun dengan Paseh mengikuti bacaan tersebut. Membuat Viona tersenyum bangga melihat dan mendengar putri sulungnya itu pandai mengaji.


Begitupun dengan Fatir yang tertegun mendengar bacaan Rasya yang menggelinding bagai ban yang licin, mulus maju tanpa halangan.


Setelah beberapa saat kemudian acara tahlilan pun selesai, para tamu berangsur pulang membawa bingkisan yang sudah disediakan.


Ketika suasana rumah sudah sepi yang tersisa cuma keluarga saja. Rasya membereskan tikar dan piring sajian makanan dan gelas-gelas aqua yang berserakan. Di bantu oleh Murni, Sukma dan Vera.


Kemudian datang paketan buat makan malam bersama, yang Fatir pesan dari gopood.


"Sayang, kita makan malam dulu deh." Suara Viona yang di tujukan pada Rasya yang sedang menyapu.


"Iya, Tante! sebentar," sahutnya Rasya.


"Yang lain juga juga makan dulu, pasti belum makan ya?" Viona mengedarkan pandangan pada yang lainnya.


"Bu, kita makan bersama?" ajak Fatir sembari menunjuk ke arah makanan yang sudah Viona tata di meja.


Bu Karsih mengangguk sambil menghampiri dan duduk menghadapi banyak makanan di meja. "Hem ... enak-enak kayanya."


Rasya dan yang lainnya pun menghampiri lalu makan bersama. Namun ketika sedang makan, Rasya teringat pada Samudra yang sudah berada di Jakarta meninggalkannya.


Manik matanya yang indah bergerak melihat ke sekitar, ini kali pertama makan berdampingan dengan Bu karsih dan anak-anaknya yang lain. Duduk dengan damai, Rasya menatap mereka dengan tatapan nanar ....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2