Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 41 Alasan saja


__ADS_3

Samudra pun memperhatikan penampilannya sendiri. Dan sialnya entah kenapa junior Samudra malah bangun sedari tadi.


"Ka-kami tidak melakukan apa-apa, kami hanya-hanya sedang ... itu," ucap Samudra agak sedikit malu.


Ucapan Samudra yang gelagapan semakin menimbulkan kecurigaan, di mata mereka semua yang menatap penuh intimidasi.


Rasya yang tetap tak bergeming. Semakin kebingungan, keringat dingin pun keluar dari kedua telapak tangannya.


"Mana kartu pengenal kalian?" pinta pak RT pada Samudra dan Rasya.


Samudra berbalik ke kamar untuk mengambil dompetnya. Di kawal oleh scurity dan satu orang lagi. "Ini. Saya mau ambil kartu pengenal, bukannya mau kabur!" ucap Samudra yang tidak suka dengan orang-orang yang mengikuti dirinya.


Selain mengambil Kartu tanda pengenalnya, Samudra sekalian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur.


Lalu berbalik, kembali ke ruang tamu. Membawa sebuah kartu pengenal miliknya. Scurity dan yang lainnya mengikuti dari belakang.


Ketiganya kembali ke ruang tengah. Dan memberikan kartu Samudra ke pak RT.


"Mana kartu pengenal gadis itu?" tanya pak RT meminta kartu pengenal milik Rasya yang tidak juga memberikannya.


Semua menoleh ke arah Rasya yang langsung merespon dengan gelengan kepalanya. Sebab dia sama sekali tidak mempunyai kartu tanda pengenal yang di maksud itu. Sebab emang belum pernah membuatnya.


"Saya ... saya tidak mempunyai kartu pengenal," ucap Rasya sambil kembali menunduk dalam.


"Hem ... emang usia mu berapa tahun?" tanya pak RT yang bernama Sidar sambil menautkan keningnya.


"Usia ku, 19 tahun. Ku tau kok nama kampung ku, kampung xx." Tambah Rasya.


"Alamat lengkap Nona?" tanya scurity yang mempunyai nama Adam itu.


Lagi-lagi Rasya menggeleng. "Tidak tahu."

__ADS_1


"Gimana ini? tidak tau alamat segala? sudah gak punya KTP alamat pun tidak tahu." Pak RT menggeleng tidak habis pikir.


"Iya Pak RT aku tidak tahu alamat ku, tapi aku tau nama ibu, bapak ku!" seru Rasya lagi mendongak pada pak RT Sidar.


"Dengan alamatnya Nona ... bukan namanya saja," timpal pak RT kembali.


"Tidak tahu." Lagi-lagi jawaban Rasya tidak tahu. Sebab gak pernah mengingat nama alamat nya sendiri.


Semua yang ada di sana tepuk jidat. Gadis sebesar itu tidak tahu alamat sama sekali, bikin miris kok ada ya? orang yang tidak tahu alamatnya sendiri, sementara sudah dewasa bukan anak-anak lagi.


Tatapan pak RT beralih pada Samudra yang kini sudah berpakaian lengkap. "Sudah sekarang kalian ikut kami ke kantor polisi saja sebelum warga mengeroyok kalian."


"Ti-tidak, Kita bisa bicarakan saja di sini baik-baik, sebentar lagi asisten saya akan datang untuk menjelaskan." Tolak Samudra sambil menelpon Ubai, agar datang sekarang juga ke apartemen.


Kini kelima pria tersebut duduk di sofa saling berhadapan satu sama lain. Dengan raut wajah yang sulit di artikan.


Rasya yang hanya menunduk, perasaannya menjadi semakin kacau, dag-dig-dug, jantungnya seakan mau lompat dari tempatnya. Takut, khawatir. Was-was bercampur menjadi satu. Keringat dingin terus keluar dari kening dan telapak tangan yang bertaut di atas lutut.


Sementara Samudra berdiri kadang mondar-mandir, jelas hatinya menjadi gelisah, gusar menunggu Ubai yang belum muncul juga.


"Masalahnya, ini menyangkut dengan dosa. Kalian tidak bisa hidup berdua tanpa ikatan--"


"Tapi kami tidak melakukan apapun Pak RT, dan dia ini asisten rumah di sini." Akunya Samudra memotong pembicaraan pak Sidar.


"Kau masih mau mengelak dengan bukti yang sudah ada di depan mata?" timpal Adam yang menatap tajam pada Samudra.


"Saya bisa buktikan kalau kami tidak melakukan apapun. Dan saya akan buktikan hasil rekaman cctv nya."


"Apa anda mempunyai rekaman cctv?" tanya pak RT dengan sedikit tenang.


"Tapi tetap saja pak RT. Jatuh nya salah, sekalipun kalian tidak melakukan yang signifikan. Tetapi kalian tetap tinggal berdua kan di sini? biarpun ada mas yang satu lagi. Kan paling selewat-selewat saja, gak tinggal juga." Timpal Adam.

__ADS_1


Pak RT mengangguk, mengerti dan setuju. "Itu benar, Mas Adam. Mereka memang salah juga."


Samudra menyalakan ponsel untuk memutar rekaman cctv untuk melihat yang dia lakukan beberapa waktu lalu bersama Rasya di kamar.


Namun entah kenapa rekaman itu macet, gak bisa memutar kejadian yang tadi di kamar.


Samudra tampak kesal. "Ah sial, kenapa macet cih? intinya saya dan gadis itu cuma pijitan, gak lebih."


"Ooh, pijitan toh ... pijitan plus-plus ya? sehingga mengundang gairah dan barang mu bangun. Mungkin kalau kami gak datang tepat waktu! itu akan berlanjut lebih dan berakhir di gua kecil gadis itu." Kata ketiga pria itu bergantian.


Ucapan mereka bertiga, semakin memojokkan Samudra dan Rasya.


"Itu, benar. A-aku cuma memijat Tuan muda kok, gak lebih. Kami tidak macam-macam seperti yang kalian pikirkan." Pada akhirnya Rasya berkata juga membela diri.


"Apapun yang kalian katakan, tidak akan pernah merubah. Kalau kalian sudah hidup bersama, tanpa ikatan apapun dan itu menyalahi aturan agama maupun bermasyarakat," ujar pak RT dengan jelas.


Samudra berjalan mendekati Rasya. "Kalian bisa saja tidak percayai saya, Tapi kalian bisa percaya sama gadis ini yang polos, dan tidak akan berbohong." Samudra mengangkat dagu Rasya, memegangnya mensejajarkan dengan wajah Samudra sendiri.


"Tuh, kan? dia sudah terbiasa pegang memegang. Dan merak juga sudah tidak canggung untung saling menyentuh." Timpal Adam menunjuk ke arah Samudra dan Rasya.


Samudra langsung menjauhkan tangannya dari dagu Rasya yang kini melihat ke arah nya.


"Itu benar, coba lihat bahasa tubuhnya yang sudah terbiasa dengan sentuhan satu sama lainnya." Tambah warga lainnya.


"Pokonya. Saya akan berbuat sesuatu untuk mengesahkan kalian berdua." Kata pak RT Sidar.


"Maksudnya? kami hanya sebatas asisten dan majikan." Bela Samudra kembali.


"Alah ... alasan saja supaya anda tidak mau terikat, kan? ngaku saja. Sudah seringkali, kan? anda melakukan mesum dengan gadis ini ngaku saja. Nggak mungkin kalau kalian tidak melakukan apa-apa, mustahil. Secara kalian masih muda, nafsunya sedang naik-naiknya." Hardik seorang pria tersebut.


Samudra yang semakin tersulut emosinya, menatap tajam pada pria tua itu. Lalu mendekat lantas mencengkram kerah pria yang barusan bicara.

__ADS_1


"Sembarangan kau bicara, kau ini siapa ha? saya masih punya etika atau kalau iya pun apa hak mu ha? brengsek kau!" dengan amarah yang menggebu-gebu, Samudra memukul dada pria tersebut.


Sehingga pria itu terhuyung ke depan, Samudra sudah mengulang kan kembali kepalan tangannya. Namun Adam dan yang lainnya mencegah dan menarik tubuh Samudra agar menjauh ....


__ADS_2