
Di sela-sela makannya. Viona menatap ke arah Rasya yang bengong menatapi makannya.
"Sayang, kok bengong sih? bukannya makan! ayo makan? nanti sakit lho." Lirihnya Viona kepada Rasya.
Rasya menoleh dengan tatapan yang nanar, entah kenapa dia merasa sedih. padahal seharusnya dia bahagia sebab ini momen yang paling istimewa antara dia dan keluarganya selama ini.
"Paling ... dia nggak terbiasa makan enak, Tante," ketusnya Murni dengan mata yang mendelik sini pada Rasya.
"Iya, mungkin ketika sama-sama pria itu juga dia makan biasa-biasa saja, nggak pernah makan enak kali," timpalnya Vera.
"Kata siapa? setiap hari aku makan enak kok, aku masak sendiri pula semua yang ku masak bergizi semua. Sebab tuan muda ingin aku lebih gemuk dan tidak kurus seperti ketika aku baru keluar dari sini--" sejenak Rasya menjeda perkataannya.
"Lagian ... aku cuma sedih saja, biasanya dulu! kalau makan bersama kalian. Aku cuma kebagian nasinya saja atau paling-paling sambal, sekarang aku bisa makan apa yang ada di hadapanku, bisa makan bebas bersama kalian semua." Sambungnya Rasya dengan suara yang bergetar menahan tangisnya.
"Em ... jangan sedih dong sayang justru sekarang harus bersyukur, bisa makan enak. Berkumpul bersama." Viona merangkul bahu Rasya sembari mengusapnya.
"Padahal dulu aku juga yang masak, tapi kenapa aku sangat sulit untuk menikmatinya?" gumamnya Rasya.
Yang lain hanya bengong sambil makan dan cerita Rasya itu menurunkan mood selera makan mereka.
"Aku jadi nggak nafsu makan nih," Sukma beranjak meninggalkan makanannya.
"Iya aku juga males menghabiskan makan," Murni pun demikian meninggalkan makannya begitu saja.
Vera cemberut, dia mendenting kan sendok ke piringnya sambil beranjak. "Sama, aku juga. Bikin mood makan ku hilang."
Hanya Bu Karsih saja yang bertahan dan menghabiskan makannya, kan sayang banget bila makanan enak itu harus ditinggalkan begitu saja. Sayang kan mubazir.
Viona, Fatir dan Rasya menatap kepergian Murni, Vera dan Sukma, lalu mereka menghabiskan makannya sampai kandas.
"Sayang, ikut bunda ya? kita menginap di hotel saja suara Viona setelah meneguk minum mineral yang berada di tangannya.
"Ooh, iya. Tante," Rasya mengangguk lalu dia membereskan bekas makannya.
"Rasya sayang ... yang itu masih ada makanannya, nggak usah diberesin biar mereka habiskan kata?" ucap Viona pada Rasya.
"Atau ... mungkin Ibu Karsih mau menghabiskannya sayangkan bila mubazir," tambah Fatir sambil melirik pada Bu Karsih.
Bu Karsih hanya membalas dengan lirikan, sambil terus menikmati makannya.
Setelah itu Rasya ke kamar sebentar, untuk mengambil ponselnya dan kartu ATM yang Samudra pesankan jangan sampai hilang.
"Mau ke mana?" tanya Viona ketika melihat Rasya berjalan menuju kamarnya.
"Mau ke kamar dulu! ambil ponsel," jawabnya Rasya sambil menoleh, lalu segera membalikkan kembali tubuhnya dan melanjutkan langkahnya itu.
"Oke, Bu. Kami pamit ya? besok kami kembali lagi, oh iya. Ini uang ... buat besok membeli keperluan tahlilan." Viona memberikan sejumlah uang kepada Bu Karsih.
Tentu Bu Karsih segera menyambutnya dengan bahagia, dengan senang hati. "Terima kasih Jeng?" ucapnya sambil meraup uang tersebut ke dalam pangkuannya.
"Sama-sama, gunakan dengan baik uang itu," tambahnya Fatir.
Lalu kemudian, mereka keluar dari rumah tersebut. Memasuki mobil yang terparkir di halaman rumah Bu kasih.
"Jauh nggak sih? penginapannya Tante dan Om," tanya Rasya pada Viona.
"Lumayan, oh ya jangan panggil Tante lagi, mulai sekarang panggil saja Bunda. Kan lebih enak kedengarannya." Pinta Fiona sambil menatap lembut pada putrinya itu.
Rasya menunjukkan senyumnya yang manis pada Viona. "Iya Bunda."
Viona merangkul bahu Rasya seraya berkata. "Kau itu anakku atau bukan, akan tetap menjadi anakku karena Bunda sayang sama kamu."
Fatir hanya melirik pada sang istri yang memeluk putrinya itu, dari belakang kemudi.
"Makasih, Bunda? sudah menyayangiku dan dari tanganmu aku merasakan kasih sayang seorang Ibu," suara Rasya pelan sembari meneteskan air matanya yang bening ke bahu sang bunda.
"Aah ... jangan sedih-sedih di sana dong, ayah kan nggak bisa ikutan!nggak bisa ikutan meluk," suara Fatir dari depan.
Kata-kata Fatir membuat Viona tersenyum getir, mendengar ucapan Fatir seperti itu.
"Mas ini mengganggu saja." Gumamnya Viona sambil melirik ke arah sang suami.
"Ooh, Rasya masih betah gak di apartemen?" tanya Viona sambil membelai rambut Rasya yang dekat telinganya.
"Aku betah, Tante eh Bunda, aku betah di sana. Biarpun kadang tuan muda jutek, sering marah. bikin sebel, tapi dia baik kok. Dia sering perhatian dan dia paling nggak mau kalau melihat aku kurus--"
"Ha ha ha ... mungkin dia pengen kamu gemuk, biar enak dipeluk," timpal Fatir dari depan.
Rasya melongok. "Ha?" Rasya mencerna maksud dari Fatir. "Gitu ya? biar enak dipeluk yah?"
"Ngomong-ngomong dia suka macam-macam sama kamu nggak, Nak?" tanya Fatir sambil menyetir.
__ADS_1
Rasya menoleh pada Fatir dan Viona yang tersenyum padanya. "Sering, apalagi kalau tidur dia sering memeluk, ah tidak-tidak itu tidak benar, aku bohong!" mulutnya yang keceplosan.
"Ngapain harus bilang-bilang? malu juga!" wajahnya Rasya berubah merah.
"He he he ... kenapa nggak mau cerita? cerita saja bukannya dia suamimu!" Viona mencolek pipinya Rasya.
Sejenak Viona dan Fatir berpikir, jangan-jangan Samudra sudah ....
"Apa dia pernah mencium mu?" selidik Fatir sambil tetap fokus melihat jalanan yang masih tampak ramai dengan pengandara motor.
"Ah ... ngapain sih? Om tanya-tanya yang gituan, aku kan jadi malu deh." Rasya tampak polos dan menyembunyikan wajahnya di balik bahu Viona.
Viona tersenyum merasa lucu melihat tingkah Rasya yang malu-malu. "Bukan, Om. Tapi ayah! Oya, pernah jatuh cinta?"
"Jatuh cinta? seperti apa tuh, Tante eh Bunda?" tanya Rasya yang kurang mengerti arti jatuh cinta seperti apa.
"Hah ... nggak tahu jatuh cinta kamu?" Viona menggeleng sambil tersenyum dan melirik pada suaminya yang di depan itu.
Rasya menggeleng. "Nggak tahu, jatuh cinta emang seperti apa?"
"Sayang jelaskan, gimana rasanya jatuh cinta, pada putri kita ini," kata Fatir pada sang istri, Viona.
Sebelum menjelaskan mengenai jatuh cinta, Viona kembali mengulas senyumnya yang begitu merekah. "jatuh cinta itu ... menyukai lawan jenis, biasanya begini nih ya? kamu suka nggak sama Samudra? sama Ubai atau pria lainnya gitu."
"Suka? ya ... suka, tapi biasa saja," Rasya lagi-lagi menggeleng.
"Ada rasa ketertarikan ingin memiliki, cemburu bila melihat atau mendengar dia dengan yang lain, ingin selalu bersama, dan bila ketemu dia, itu hati berbunga-bunga dan bahagia, kalau berjauhan ingat terus. Ingin bersama terus," sambungnya Viona.
Rasya menatap lekat pada sang bunda, yang diomongkannya memang kadang dia rasakan saat ini, semua dirasakan terhadap Samudra.
Entah kenapa semua yang dikatakan Viona kadang ada dalam dirinya, kemudian bibir Rasya tersenyum simpul.
"Hayo, ketahuan pernah merasakan itu kan ... akui saja, bunda tahu putri Bunda ini sedang jatuh cinta. Sama siapa bilang? bilang sama Bunda." Viona merangkul bahu Rasya.
Rasya hanya senyum simpul sambil menggelengkan kepalanya, tidak mengatakan apapun kepada Viona.
"Nggak pa-pa bilang saja? siapa yang telah membuat putri Bunda jatuh cinta? Ubai atau Samudra?" desak Viona kembali.
"Samudra, pemuda itu plin-plan nggak bisa menentukan sikap, kalau memang dia mengakui dirimu istrinya? kenapa melanjutkan pertunangan nya dengan Karin! seharusnya dia batalkan saja, dia sudah punya istri yang setiap hari mengurusnya." Fatir tampak kesal.
"Memang benar, Mas ... tapi siapa tahu hatinya memang merasakan sesuatu terhadap Rasya? sehingga sampai saat ini dia belum membuat keputusan, dan lebih meyakinkan dirinya untuk memilih salah satu," lirihnya Viona pada sang suami.
"Sampai kapan? setelah dia menikahi kekasihnya dan melakukan sesuatu juga pada Rasya? sehingga akhirnya siapa yang akan terluka? putri kita juga juga sayang!" ungkap Fatir sambil memarkirkan mobilnya di depan sebuah penginapan.
"Yang ini kamar bunda, karena cukup luas jadi kita tidur di sini saja," ucap Viona sambil menuntun tangan Rasya masuk ke kamar yang memang cukup luas dan tempat tidurnya pun ada dua.
Manik mata Rasya menyisir setiap sudut ruang tersebut, yang tampak mewah dan dia baru tahu kalau tidak jauh dari kampungnya. Ada sebuah penginapan yang bagus termasuk Villa kemarin ketika dia bersama Samudra menginap.
"Oya, kemarin kamu menginap di mana?" tanya Viona melirik ke arah Rasya yang sedang mengamati dalam kamar tersebut.
"Kemarin, aku menginap di sebuah Villa sama tuan muda, itu pun gara-gara aku pingsan di kuburan, dibawa ke Villa sama tuan muda. Sambil mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.
"Apa kalian satu kamar?" selidik Fatir yang sudah berada di tempat tidur pribadinya itu.
"Satu kamar saja, eh tidak! tuan Ubai tidak bersama kami kok, kami cuma berdua saja," sahutnya Rasya.
"Jadi kau hanya berdua saja dengan Samudra? di kamar yang sama?" Viona menatap lekat pada putrinya itu.
Rasya mengangguk pelan sambil berkata. "Iya."
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Viona sambil mendekati Rasya
"Apanya Tante? tidak terjadi apa-apa kok, setelah aku sadar! aku diperiksa sama dokter, makan, lanjut minum obat, terus istirahat kembali sampai pagi." Ujarnya Rasya.
Sebenarnya Viona ingin menanyakan sesuatu yang lebih pribadi. Prihal tentang apa pernah Rasya di sentuh oleh Samudra?Sementara Samudra sudah berjanji tidak akan pernah menyentuh Rasya sedikitpun.
"Ya, sudah. Kita istirahat yu? capek juga nih," ajak Viona yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
Rasya mengangguk menuruti ajakan Viona untuk berbaring di sampingnya.
Sementara Fatir yang tidur di sebelah, sudah berbaring dan meringkuk di balik selimutnya.
Namun baru saja Rasya mau menempelkan kepalanya di bantal, ponsel Rasya sudah berbunyi dan tentu saja yang menelpon adalah Samudra.
"Ngapain sih ... telepon-telepon? ganggu saja," gumamnya Rasya sambil menatap layar ponselnya itu. Dia tidak segera menerima telepon tersebut. Melainkan membiarkannya begitu saja.
"Lho, kenapa nggak diangkat?terima saja dulu teleponnya, kasihan! kali saja penting." Lirihnya Viona menatap Rasya yang membiarkan ponselnya berbunyi.
Rasya nyengir. "Biarkan saja, Tante! eh bunda," kemudian Rasya mencoba memejamkan kedua matanya.
Namun setelah dibiarkan, beberapa saat kemudian ponsel itu kembali berbunyi membuat keduanya merasa terganggu.
__ADS_1
"Tuh ... kan, telepon lagi! angkat saja dulu! siapa tahu penting," tutur Viona pada pada Rasya.
Rasya pun dengan malasnya bangun dan mengambil ponselnya.
"Sebentar aku terima dulu ya Bun?" Rasya turun dari tempat tidurnya berjalan ke arah balkon, niatnya mau terima telepon di sana biar tidak mengganggu orang lain.
^^^Rasya: "Ada apa sih? telepon malam-malam, ngantuk mau tidur juga."^^^
^^^Samudra: "Kenapa sih? lama amat angkat teleponnya lagi sibuk, apa?"^^^
^^^Rasya: "Iih ...kan sudah aku bilang ngapain telepon malam-malam? mau istirahat."^^^
^^^Samudra: "Iya, emang apa salahnya sih! di telepon dari tadi susah amat sih angkat telepon.^^^
^^^Rasya: "Aku tuh lagi di penginapan."^^^
^^^Samudra: "Di penginapan? sama siapa di sana?"^^^
^^^Rasya: "Aku lagi sama ayah dan bunda di sini!"^^^
^^^Samudra: "Siapa mereka? baru dengar kau punya ayah dan bunda? sewaan dari mana?"^^^
^^^Rasya:"Ck, itu ... tante sama Om Fatir."^^^
^^^Samudra: "Sejak kapan kau panggil ayah sama Bunda? ke Om Fatir dan Tante Viona?"^^^
Rasya: "Em ... Sejak hari ini! sudahlah, ceritanya lain kali saja, terlalu panjang nih, aku nggak enak nih."
^^^Samudra: "Emangnya. Ceritanya sepanjang apa sih?"^^^
^^^Rasya: "Ih ... ni orang, nggak bisa dibilangin apa?"^^^
^^^Samudra: "Mana aku mengerti kalau kamu nggak cerita?"^^^
Rasya berdecak kesal, merasa marah pada Samudra yang keras kepala.
^^^Rasya: "Mau dengar ceritanya?"^^^
^^^Samudra: "Maulah cerita ayo?"^^^
Rasya menghela nafas dengan sangat panjang sebelum bercerita.
^^^Rasya: "Ternyata ... aku bukan anaknya Bapak dan Ibu, sebenarnya mereka mengurus aku dari balita, di kasih seseorang yang menculik ku, dan orang tuaku yang sesungguhnya adalah om Fatir dan tante Fiona, tapi tes DNA masih diproses. Sebab baru tadi tesnya."^^^
^^^Samudra: "Apa! kau anaknya om Fatir dan tante Viona, yakin?"^^^
Terdengar Samudra terdengar terkesiap mendengar cerita Rasya, jika dirinya adalah putri dari Viona Fatir.
^^^Rasya: "Baru perkiraan sih ... sebab kan hasil tesnya belum keluar, tapi mereka yakin! kalau aku adalah putrinya."^^^
^^^Samudra: "Berarti kau bukan anak orang sembarangan ya!"^^^
^^^Rasya: "Sudah dulu ya? aku mau tidur, ngantuk!"^^^
^^^Samudra: "Sebentar?"^^^
^^^Rasya: "Apalagi ... sih?"^^^
^^^Samudra: "Apabila benar kau adalah putri dari om Fatir dan Tante Viona, apa kau masih mau menemaniku?"^^^
Suara Samudra terdengar bergetar dan cemas, entah cemas karena apa? Rasya pun tidak tahu sebabnya?
^^^Rasya: "Kenapa bilang seperti itu? kamu kan sebentar lagi akan menikah dengan kekasih mu! jadi nggak membutuhkan aku lagi nantinya."^^^
^^^Samudra: "Hei ... kamu itu masih istri ku! kau masih berkewajiban menemaniku!"^^^
Kini Samudra terdengar berubah menjadi marah, dan langsung mematikan sambungan telepon tersebut.
"Iiih ... aneh jadi orang, kok dia jadi marah sih?" lalu Rasya memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Sejenak Rasya memandangi langit dan kebetulan saat ini langit sedang bertabur bintang, rembulan pun bersinar terang.
"Ya Allah ... indah sekali malam ini, bintang-bintang bersinar. Sinar rembulan pun terang yang menemani semalam, bibir Rasya tersenyum dengan pandangan mata mengarah ke langit.
Merasa kagum akan keindahan yang tampak di matanya, kemudian Rasya memejamkan kedua manik matanya.
Membayangkan bilakah Samudra saat ini berada bersamanya. Pelukan tangan Samudra yang kekar, dan pelukannya membuat nyaman. Seketika Rasya membuka manik matanya kembali, seraya menggeleng ingin membuang yang ada di dalam pikirannya itu.
"Ngapain aku ingat dia? dia menyebalkan, ngapain telepon kalau mau marah-marah? aneh." Gumamnya Rasya sambil melangkahkan kedua kakinya kembali ke kamar, perlahan dia naik dan berbaring di samping Viona yang sudah tampak tidur lelap ....
.
.
__ADS_1
Aku suka mesem-mesem sendiri. Bila membaca komenan dari kalian reader ku semua, bahkan tidak sedikit aku pakai saran dari kalian, makasih🙏 tanpa kalian aku bukan siapa-siapa.