Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 103 Mendapatkan


__ADS_3

Selepas mengambilkan koper Samudra buru-buru mengenakan pakaiannya. Dengan hati yang terus berdebar, perasaan yang kacau balau.


Rasa ngilu, kepala pusing. Jantung yang seolah ingin melompat dari tempatnya seakan terus menyiksa diri dan perasaan disaat ini.


Sepersekian waktu kemudian, Samudra duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi Rasya yang sedang mengemas pakaiannya ke koper.


"Yang rapi!" pinta Samudra.


"Ini juga rapi kok?" gumamnya Rasya sambil melirik dan menarik resleting kopernya.


Samudra berpindah duduknya ke sofa dimana Rasya duduk.


"Apa kau pernah bercinta?" tanya Samudra langsung to the point.


Rasya bengong, mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"


"Em ... ma-maksud ku apa kau pernah pacaran?" ralat Samudra dengan suara yang bergetar.


"Pacaran ... nggak pernah!" Rasya menggeleng.


"Sama sekali?" Samudra penasaran menatap lekat pada gadis yang tidak jauh darinya itu.


"Iya, sama sekali. Lagian gak ada kok yang deketin aku!" akunya Rasya sambil menunduk malu.


"Jadi kau belum pernah merasakan bercinta, Maksud ku bercumbu atau ciuman gitu?" tanya Samudra semakin serius.


"Hi hi hi ... nggak lah. Pegangan tangan juga sebelumnya gak pernah." Rasya mengukir senyumnya.


Samudra terdiam sejenak. Tatapan nya kian sayu terhadap Rasya, rasanya dia sudah tidak kuat lagi menahan hasratnya yang sudah mencapai ke ubun-ubun.


"Tuan kenapa? sakit?" selidik Rasya ketika Samudra memijat pangkal hidung dan keningnya.


Samudra hanya menggeleng sambil memijat pelipisnya itu.


Rasya menggeser posisi tubuhnya, mendekati Samudra. Khawatir kalau Samudra kenapa-napa. Tangannya menyentuh pelipis dan bawah pipi, apakah panas atau gimana?

__ADS_1


"Tapi, Tuan baik-baik saja kok, kenapa? pusing?" Rasya menatap cemas.


Kedua netra mata Samudra menatap dalam ke arah Rasya, perlahan tangannya menyentuh pipi Rasya, ibu jari Samudra mengelus dengan lembut.


Tatapan Samudra kian lekat dan tertuju pada bibir Rasya yang ranum dan belum tersentuh siapapun itu. Tangan Samudra bergerak ke tengkuk dan mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis itu.


"Tu-Tuan mau apa?" Rasya tidak mengerti pada Samudra dan membalas tatapan dari pria itu dengan dada yang terus berdebar.


"Boleh kan aku memintanya? sesuatu yang belum pernah kau berikan pada siapapun!" suara Samudra bergetar menahan gejolak yang hampir menguasai dirinya.


Rasya menggeleng. "Ma-maksud, Tu-Tuan apa? aku kurang mengerti." Suara Rasya malah terbata-bata. Dengan terus membalas tatapan Samudra yang aneh itu.


Rasya tidak bisa berbuat apa-apa sebab tengkuknya terkunci olah tangan Samudra yang kuat tersebut. Tangannya memegangi lengan Samudra yang mengunci tengkuknya.


"Tu-Tuan mau apa sih? aku jadi taku!" gumamnya Rasya pelan dan sedikit bergetar.


"Aku inginkan dirimu!" tanpa memberi waktu lagi. Samudra mendekatkan wajahnya membungkam mulut Rasya dengan bibirnya, langsung menyapu dan ******* dengan lembut.


Tentu Rasya terkesiap, kaget bukan main menerima perlakuan dari samudra itu. Apalagi ini benar-benar pengalaman pertama baginya, mata Rasya melotot namun tidak bisa apa-apa.


Tangan Samudra meraih tangan Rasya dan menguncinya. Dia terus menikmati manisnya benda kenyal itu yang berwarna ranum natural, dan nikmatnya melebihi yang pernah Samudra dapatkan dari kekasihnya, Karin.


Rasya merasa pengap kehabisan oksigen.


Sejenak Samudra melepaskan dan memberi kesempatan untuk Rasya dan dirinya menghirup udara yang sebanyak-banyaknya dari sekitaran.


Rasya merasa lega, dia pikir dia akan terlepas dari Samudra. Namun pada kenyataannya, Samudra kembali membungkam mulutnya dan semakin memperdalam sentuhannya. Menyusuri rongga mulut Rasya.


Samudra begitu menikmati itu, napasnya yang memburu terdengar tidak beraturan menyapu kulit wajah Rasya. Dan tangannya mulai jalan-jalan ke buah yang masih segar dari sentuhan tangan-tangan jahat, samudra meremasnya kasar.


Membuat Rasya semakin merasa pengap, dan merasa jijik dengan perlakuan Samudra kali ini. Dengan sekuat tenaga Rasya mendorong dada Samudra sampai menjauh dan dirinya terlepas, langsung berdiri.


"Anda apa-apa'an, Tuan? anda sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Bukankah Anda tidak akan menyentuh ku? anda tidak pernah tertarik padaku bukan? kenapa sekarang anda melakukan ini? kenapa?" pekiknya Rasya.


Sambil menunjuk-nunjuk ke arah Samudra. Suaranya bergetar dan kedua manik matanya nanar menahan tangis yang mungkin sebentar lagi akan membludak.

__ADS_1


Samudra tertegun dan menatap kecewa pada Rasya, kecewa Karena merasa belum tuntas. Hasratnya baru di mulai dan segera Rasya sudahi begitu saja.


Rasya menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Bergegas membawa langkahnya dengan cepat keluar dari kamar Samudra menuju kamar pribadinya.


Perasannya yang kacau dan dada yang terus berdebar sangat kencang. Kecewa dengan yang sudah terjadi.


"Aarrrrgh! kenapa aku gak menolaknya? kamu bodoh! sangat bodoh. Mengikuti kemauannya yang jelas-jelas dia itu tidak tertarik padaku! kau bodoh!" Rasya merutuki dirinya sendiri.


Rasya menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, beberapa kali mengusap kasar bibirnya agar dapat menghilangkan jejak dari Samudra. Dia berlari ke kamar mandi untuk membasuh muka dan mulutnya sampai-sampai ia gosok pake sikat dan sabun.


"Kenapa masih terasa sih? hilang dong, hilangkan jejaknya dari bibirku." Gumam Rasya sambil terus membasuh bibirnya dan sesekali melihat pantulan wajahnya dari cermin.


Sementara Samudra di kamarnya masih terdiam tak bergeming setelah kepergian Rasya dari kamarnya, bahkan pintu pun masih terbuka begitu saja. Ada rasa bersalah dan juga merasa puas, hasratnya sedikit terobati walau cuma dapat menyentuh bibirnya dan sedikit menyentuh salah satu buah yang masih segar itu.


Berjalan mendekati tempat tidur dan merebahkan tubuhnya atas kasur yang empuk itu. Bibirnya tertarik ke samping membentuk senyuman yang merekah. Membayangkan kejadian barusan, akhirnya dia bisa mendapatkan juga benda tipis itu dan tentunya dialah yang pertama menyentuhnya.


"Kau telah menodai kesucian bibir ku, yang masih belum tersentuh siapapun!" geramnya Rasya, lalu ia termenung mengingat kalau bukan cuma itu saja yang tersentuh oleh Samudra.


Tetapi salah satu buah miliknya. Sejenak Rasya melihatnya. "Kali aja lecet? Seperti mbak Cicih yang katanya, dadanya lecet setelah di sentuh suaminya, tapi ... ini masih utuh kok. Nggak lecet sekalipun."


Rasya bermonolog sendiri, namun di sudut matanya sesekali mengalir air bening menghiasi.


Yang Rasya sesali. Kenapa harus seperti ini. Sementara Samudra sendiri berkoar-koar tidak akan menyentuh dan tidak tertarik sedikitpun pada dirinya yang bukan tipe Samudra.


Rasya menyalakan shower. Dan menurunkan tubuhnya duduk memeluk kedua lutut di bawah kucuran air shower yang hangat itu. Ini pengalaman pertama baginya yang bikin dia benar-benar marah, shock dan tidak percaya. Dia menangis tersedu, tidak jelas apa yang dia tangisi yang sesungguhnya.


Pagi-pagi Rasya sudah berkutat di dapur. Menyiapkan sarapan untuk di pagi ini. Matanya tampak sembab dan wajahnya tidak sumringah seperti biasanya.


Samudra bangun agak kesiangan, tanpa dibangunkan oleh Rasya melirik ke samping. Tidak ada pakaian ganti. Samudra mengusap wajahnya kasar lantas pergi ke kamar mandi bathub belum terisi air untuknya mandi.


Membuat Samudra tertegun sejenak sambil melihat ke arah pintu yang masih terbuka dari semalam. Kemudian dia kembali dan keluar kamar ....


.


Mana nih dukungannya?

__ADS_1


__ADS_2