
Fatir tersenyum dalam Hati, dia merasa punya ide yang insya Allah ide itu bagus untuk membuktikan. Seberapa seriusnya Samudra yang ingin mempertahankan Rasya.
"Saya tidak setuju! saya tetap ingin kalian berpisah dan saat ini juga. Rasya akan saya ajak pulang ke Surabaya," tegasnya Fatir sambil mengedarkan pandangan kepada Samudra dan yang lainnya.
Perkataan Fatir barusan, membuat mereka yang berada di sana kaget. Karena mereka berharap bahwa Fatir akan menyetujui kelanjutan rumah tangga Rasya dan Samudra, serta dalam waktu dekat Pak Suyoto sudah berencana akan mengadakan resepsi pernikahan Samudra dan Rasya.
Namun apa yang barusan terdengar dari mulutnya Fatir, Fatir tidak menyetujuinya kelanjutan rumah tangga Sam dan Rasya. Bahkan Fatir akan membawa Rasya ke Surabaya kembali.
"Apa-apaan ini? kenapa kau tidak setuju dengan niat putra saya? yang sudah berniat baik, dia ingin melanjutkan pernikahannya dengan Rasya. Dan saya sudah memikirkan resepsinya nanti! kenapa kau malah ingin memisahkan mereka berdua?" Pak Suyoto menatap heran ke arah Fatir.
"Kenapa tidak menyetujuinya? bukannya lebih baik mereka itu perbaiki diri? meneruskan pernikahan mereka berdua?" Bu Riska pun menatap heran kepada Fatir.
"Karena ... saya ingin menikahkan putri saya dengan seorang pria yang benar-benar tepat! bukan saya bilang Sam tidak tepat? tidak! tapi saya ingin yang lebih tepat untuk putri saya dan Rasya akan sekolah di sana!" lanjutnya Fatir sambil mengedarkan kepada pak Suyoto beserta istri.
"Mas? kenapa begitu? bukankah meneruskan itu yang lebih baik! dilanjutkan pernikahannya? apalagi mereka berdua sudah--" Viona tidak melanjutkan perkataannya lagi. Tatapannya nanar ke arah sang suami yang terlihat datar.
"Saya tidak suka dibantah? saya ingin Sekarang juga kita pulang dan ajak Rasya bersama kembali." Tegasnya Fatir pada sang istri, Viona.
Viona tak habis pikir, dia heran dengan sikap sang suami yang mendadak keras kepala dan membuat keputusan tanpa diperbincangkan atau persetujuannya darinya lebih dulu.
Bahkan seharusnya Fatir menyetujui bahwa pernikahan Rasya dan Samudra akan dilanjutkan, melihat keadaan mereka yang memang sudah resmi tersebut.
Pak Suyoto itu tidak tahu harus berkata apa lagi? di sisi lain dia yakin kalau Fatir akan menyetujuinya, mungkin hanya butuh waktu saja. Begitu pikir pak Suyoto.
"Ayah, Bunda? aku mohon! biarkan aku di jakarta bersama suamiku. Dan aku nggak akan melupakan kalian berdua, karena bagaimanapun kalian berada orang tuaku! cuma aku mohon biarkan aku bersama suamiku, Ayah. Bunda," dengan wajah yang sendu, Rasya memohon kepada orang tuanya kalau dia ingin bersama Samudra! bersama suaminya.
__ADS_1
"Tidak bisa, kau harus pulang dengan kami sekarang juga. Dengarkan kata Ayah," ucapnya Fatir dengan jelas.
Rasya tidak bisa membantah lagi kemauan Fatir sebagai ayahnya itu.
"Om, berikan saya kesempatan untuk perbaiki diri, biarkanlah Rasya bersama saya? saya akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untuknya!" kini Samudra yang setengah memohon kepada Fatir.
"Tidak! keputusan saya sudah bulat. Kalau Rasya akan saya bawa pulang kembali ke Surabaya untuk melanjutkan hidupnya di sana, mencari kebahagiaan nya di sana. Bersama kami ataupun pria yang akan menjadi suaminya nanti, saya tunggu kamu di sana untuk menyelesaikan ini, lepaskan Rasya segera." Fatir begitu tegas sambil berdiri bersiap untuk pulang.
"Fatir-Fatir ... tidak perlu egois ... ini untuk kebahagiaan putrimu juga! putra dan putri kita kesampingkan ego kita demi kebahagiaan mereka," ucap pak Suyoto yang diarahkan kepada Fatir.
"Sudahlah, Mas ... Mas itu tidak tau apa-apa! sekarang saya pamit dan akan membawa menantu, Mas. Bersama kami kembali, dan suruh putra mu untuk menyusul kami ke Surabaya? untuk memberi sebuah keputusan." Begitulah ungkapan hati Fatir yang terakhir.
Kemudian dia berjalan yang disusul oleh Viona bersama Rasya yang melangkah dengan tampak malas, dan wajahnya menoleh ke arah belakang yaitu melihat ke arah Samudra.
Samudra pun beranjak dan membawa langkah lebarnya untuk menyusul mereka bertiga.
Fatir mengembuskan nafas dengan kasar. "Sudahlah? kau tidak perlu banyak bicara lagi di sini, percuma. Saya tunggu kamu di Surabaya! saya tunggu kau melepaskan putri saya!" tatapan Fatir yang begitu tajam ke arah Samudra.
Fatir terus berjalan mengajak anak istrinya masuk ke dalam mobil lalu dengan tidak membuang-buang waktu, dia langsung saja menyalakan mesin mobilnya dan berlalu begitu saja dari kediaman Samudra tersebut.
"Bunda apa tidak ada harapan lagi buat aku bersama dia! tolong izinkan aku bersamanya, jangan pisahkan kami ya? Rasya mohon Ayah." Rasya terus memohon.
"Sudahlah Vivian, masih banyak pria yang lebih baik dari Samudra," ucapnya Fatir dari balik kemudi.
"Tapi di luar sana juga, masih banyak wanita yang lebih baik dari aku, Yah. Wanita yang lebih cantik, pendidikannya tinggi, yang lebih sempurna yang lebih tepat untuk laki-laki di luaran sana. Jadi mana ada pria yang mau pada wanita seperti aku? apalagi sekarang aku sudah tidak virgin lagi, Yah!" ucap Rasya keceplosan.
__ADS_1
"Sabar-sabar, sayang sabar ya? sabar!" ucapnya Viona sembari merangkul kedua bahunya Rasya.
"Bunda, gimana kalau aku nanti hamil? sebentar aku diceraikan oleh Samudra, anak aku pasti akan mencari bapaknya," Rasya menjadi menangis di pelukan sang Bunda.
Fatir tetap asyik menyetir di belakangnya, yang jelas dia hanya ingin yang terbaik untuk putrinya itu, dia yakin kalau Samudra akan menyusul ke Surabaya. Fatir menyunggingkan senyumnya ke depan. Dia sangat yakin kalau rencananya itu akan berhasil.
"Arrrggh ..." teriak Samudra berdiri di teras. Dia bingung harus berbuat apa? agar dirinya benar-benar bisa memiliki dan membawa Rasya kembali bersamanya.
"Kalau sudah seperti ini kita harus gimana Sam? kamu harus berusaha agar kamu bisa membawa istrimu itu ke Jakarta lagi, menjadi istrimu seutuhnya Sam." Kata sang ayah pada Samudra penuh dukungan.
"Benar Sam, kamu harus bisa membuat Rasya kembali. Jadikan dia ratu di rumahmu atau di hatimu! Mama akan mendukungmu, Sam bawa kembali mantu Mama. Ke sini, buktikan bila kau sangat membutuhkan nya," timpal Bu Riska yang berdiri dekat jendela.
Samudra sejenak terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu. Sementara dia tidak akan pernah melepaskan Rasya apalagi untuk laki-laki lain.
"Aku harus cari cara agar Rasya aku ajak kembali ke Jakarta. Apapun caranya? aku harus bisa membawanya kali ini." Tekad Samudra tentang Rasya.
"Susul lah mereka ke Surabaya, Sam. Tunjukan keseriusan mu itu. Jangan pernah kau lepaskan istrimu itu? kalau tidak? kau akan menyesal selamanya," peringatan dari sang ayah.
"Benar, Sam ... jangan pernah, kau jangan pernah melepaskan dia! Jangan sampai Rasya jatuh ke dalam pelukan pria lain, Mama sebagai mertuanya nggak rela itu terjadi." Bu Riska menggelengkan kepalanya tanda setuju dengan omongan sang suami.
Samudra bergegas masuk ke dalam kamarnya, entah mau apa sehingga langkahnya yang lebar itu menuju kamar pribadinya ....
.
.
__ADS_1
Aduh ... gara-gara tidak bisa rasa kantuk yang menyerang ku, di bab ini terlalu banyak typo yang lewat🙏