Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 196 Membutuhkan mu


__ADS_3

Samudra keluar dari ruangannya itu, untuk memastikan ada apakah di luar? ternyata ada karyawannya yang sedang beradu mulut.


"Ada apa nih?" tanya Samudra sambil menatap tajam ke arah mereka yang yang sedang beradu mulut tersebut.


"Doa yang nyolot Bos. Dan membuat saya marah--"


"Dia yang mengganggu saya yang sedang bekerja, siapa yang tidak sakit hati coba?" kata seorang karyawan Samudra menyela perkataan temannya.


"Tapi kau juga yang mulai!" kata orang tersebut.


"Sudah-sudah. Kalian bukan anak kecil yang harus bertengkar karena hal sepele. Sudah bunar?" sergah Samudra.


Kemudian mereka bubar dan duduk di tempatnya masing-masing, melanjutkan pekerjaannya kembali.


Samudra kembali ke ruangannya. Lantas duduk di kursi tempatnya semula. Melirik ke arah jam yang sudah menunjukan pukul empat sore.


Kemudian Samudra kembali beranjak dan menyambar ponsel nya yang berada di meja. Dia berniat untuk pulang ke apartemen, dia berjalan dengan langkah yang lebar meninggalkan ruang kerja tersebut.


"Kau mau pulang sekarang?" tanya Ubai ketika bertemu dengan Samudra di koridor kantor.


"Iya, saya mau pulang. Kau mau lembur atau mau pulang? kebetulan saya malas nyetir nih!" Samudra menaik turunkan alisnya.


"Ceritanya minta di supir ya? baiklah. Siapa tahu istri mu masak. Sudah lama saya tidak makan masakan dari istrimu itu." Kata Ubai sambil berjalan mengikuti langkahnya Samudra.


"Dasar peminta makan lho." Samudra menggelengkan kepalanya sambil terus berjalan.


"Wajar lah, kan saya gak ada yang masak di rumah. Lagian Nona kan pandai masak, kau juga suka bukan!" ucap Ubai sambil mesem.


"Ya, oke-oke. ni kunci." Samudra melempar kunci pada Ubai yang langsung di sambutnya.


Samudra memasuki mobilnya setelah Ubai berada di dalam. Tepatnya belakang kemudi.


"Saya berencana kalau nanti urusan pernikahan selesai. Saya ingin membuka usaha di kota Sukabumi, dan tentunya kita harus mencari lokasinya yang sekiranya tepat." Ucap Samudra sambil melepas pandangannya keluar jendela.


Ubai menoleh sesaat. "Serius? ada rencana seperti itu?" selidik Ubai yang seakan meragukan perkataan dari Samudra.


"Yakin lah! saya ini membuka lowongan kerja bagi orang-orang yang belum pengalaman, kalau semua perusahaan hanya menerima yang berpengalaman saja. Terus pengalaman mereka itu aka di dapat dari mana? jelas harus ada awal sebelum akhir," ujar Samudra dengan pola pikir yang berbeda.

__ADS_1


Ubai menganggukkan kepalanya. "Tapi itu akan sulit bila perusaahan hanya menerima karyawan yang belum pengalaman. Tentunya perusaahan butuh hali juga untuk menggeleng yang belum pengalaman!"


"Nah itu gampang, kita tinggal merekrut sebagian pegawai ahli yang tentunya sabar agar bisa membimbing karyawan baru." Sambung Samudra.


"Ide bagus. Semoga cepat terlaksana lah." Harap Ubai.


"Dan saya tugaskan itu kepada mu, Bai." Samudra menoleh pada Ubai yang kini fokus nyetir itu.


"Baik, saya akan mulai mencari lokasinya. Kalau menurut saya ... mendingan mencari gedung yang sudah jadi, agar tidak harus bangun dari awal. Lagian kita harus memanfaatkan tempat yang ada." Tambah Ubai kembali.


"Iya, benar. Daripada banyak gedung yang terbengkalai, ide bagus tuh." Samudra mengangguk setuju dengan rekomendasi dari Ubai.


Tidak terasa di perjalanan, tahu-tahu sudah sampai saja di parkiran apartemen dan Samudra segera turun, berjalan menuju lift yang akan menghubungkan dengan unitnya tersebut.


"Sayang?" panggil Samudra sambil celingukan mencari Rasya, istrinya.


Aku di sini!" sahut Rasya yang muncul dari balik meja.


"Sedang apa kau di situ?" tanya Samudra sambil membuka jasnya.


"Itu, ada yang jatuh. Kau sudah pulang?" Rasya balik bertanya, manik matanya melihat Ubai juga ada di sana.


"Nona, apa kau masak buat makan malam? aku sudah lama tidak makan masakan mu, kangen juga." Sapa Ubai.


"Mau masak nih, Tuan Ubai. Lama ya? kita tidak berkumpul di apartemen ini lagi." ucap Rasya sambil tersenyum.


"Bagus lah, aku mau numpang makan di sini. Boleh?" Ubai duduk di sofa depan televisi.


"Iya, nanti aku masak banyak. Buat kalian berdua," ucap Rasya sambil menyiapkan sayuran buat masak.


Beberapa saat kemudian, setelah meneguk segelas air putih. Samudra langsung pergi ke kamar pribadi. Di ikuti oleh Rasya dari belakang.


"Kau mau mandi dulu apa? aku mau siapkan pakaian untuk mu!" tanya Rasya sambil menutup pintu.


"Aku mau mandi dulu lah, Oya besok kita akan berangkat ke Surabaya. Apa kau senang akan bertemu dengan keluarga mu?" Samudra balik bertanya.


"Tentu. Tadi ada paman Adam dan paman Sidar ke sini. Dia menanyakan kapan aku berangkat ke Surabaya nya? dan aku gak tau kau mau berangkat kapan?" jawabnya Rasya sambil membuka kancing kemeja Samudra.

__ADS_1


"Ya bilang saja, kalau kita mau besok. Telepon saja paman Adam nya," timpal Samudra yang kini merangkul pinggang nya Rasya.


Di tatapnya dengan lekat wajah sang istri yang memalangkan tangan di dada Samudra. Dengan tatapan sangat intens dan ada hasrat yang beberapa hari ini tidak ia luapkan.


"Nanti aku telepon paman Adam tuk katakan itu, ya sudah. Kau mau mandi kan?" Rasya sedikit mendorong dada Samudra.


Namun Samudra malah mengeratkan pelukannya dan mendekatkan wajahnya agar dekat satu sama lain. Tatapan mata pun bertemu terkunci di satu titik.


Samudra memiringkan wajahnya lalu mengecup bibir Rasya yang menghangatkan dan menggairahkan itu. Dil***t nya dengan sangat lembut, dinikmati dengan sepenuh jiwa sehingga kedua pasang mata pun terpejam.


"Mmmm. Sudah? aku mau siapkan baju mu dulu?" gumamnya Rasya sambil mendorong wajah Samudra yang terus nyosor.


Tapi dasarnya Samudra yang tidak cepat puas dengan yang apa dia dapat. Dia menyerang kembali wajah Rasya dan menghujaninya dengan kecupan kecil.


"Sebentar sayang! kenapa sih? kita menikmati sore yang indah ini!" suara Samudra bergetar.


Perasaan membuncah, gelisah. Gak enak pada Ubai yang berada di luar. "Aku mau masak juga!"


"Iya sebentar sayang ... sebentar?" ucap Samudra kembali sambil mendudukan Rasya di tepi tempat tidur. Dengan masih dalam pelukannya, dan menghujani wajah dan leher nya Rasya dengan kecupan.


Nafas Samudra semakin memburu, pelukannya semakin kuat dan berkeinginan untuk melakukan lebih dari ini. Sudah dua hari tidak melakukan senam ranjang sebab Samudra merasa kasihan pada Rasya yang tampak lelah dan kurang fit tersebut.


Memang sepulangnya dari Banjarmasin, Rasya terlihat kurang semangat dan tampak kurang fit. Mau diperiksa dokter, menolak terus dengan alasan malas minum obat. Bau.


Dengan pelan dan hati-hati, Samudra mendorong bahu Rasya agar berbaring serta kaki ditekuk ke atas. Tatapan Samudra kian lapar melihat posisi Rasya demikian.


"Sebentar saja sayang! aku membutuhkan mu saat ini? aku sangat merindukan mu." Suara Samudra terdengar bergetar.


Sekitar 30 puluh menit mereka melakukan senam sore di atas tempat tidur. Saling membantu dan melengkapi satu sama lain.


Dada berdebar dag-dig-dug tak karuan kantuk berdegup sangat kencang. Nafas keduanya saling bersahutan dan tatapan mata yang dipenuhi dengan kabut tuk saling melengkapi dan rasa memiliki sama lainnya.


Rasya buru-buru bangun meraih pakaiannya dan langsung memasuki ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Samudra menatap sipit ke arah sang istri yang berlalu dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Nafasnya yang masih belum normal, menatap langit-langit serta bibirnya mengulas senyuman merasa sedikit puas karena sudah meluapkan hasrat jiwa lelakinya. Senyum di bibirnya tidak pernah sedikitpun pudar ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2