
Samudra dengan cepat mengambil kunci mobil dan berjalan penuh semangat, kalau dia akan menyusul Rasya ke Surabaya. Dia tidak akan pulang sebelum bisa membawa Rasya kembali ke Jakarta.
Kedua orang tua nya hanya menatap punggung Samudra yang berjalan mendekati mobilnya dengan doa. Semoga putranya nanti kembali dengan membawa sang istri.
Samudra memasuki mobilnya dan dengan cepat menghidupkan serta melajukan nya bak seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.
Kini Samudra benar-benar bertekad, kalau dia harus kembali dengan membawa Rasya ke Jakarta. Dia tidak akan membiarkan laki-laki manapun mendekati istrinya tersebut.
Samudra menatap dengan fokus jalanan yang tampak ramai dengan pengandara lainnya. Dimana kuda-kuda besi yang saling selip dan hilir mudik ingin menjadi yang paling terdepan untuk menuju tujuan.
Setelah sekitar 1 jam lebih Samudra dalam perjalanan menuju Surabaya, entah ada apa gerangan mobilnya nggak bisa melaju cepat yang ada hanya bisa merayap.
"Hah! sial. Macet lagi?" Samudra memukul kemudi karena mobil yang ditumpangi itu cuma bisa merayap pelan, di depan sepertinya terhalang macet dan entah ada apa sebabnya sehingga menjadikan kendaraan beriringan sulit untuk maju.
Sorot matanya yang tajam, terus menatap ke depan. Suara riuh dan ramai pun terdengar dari suara ambulance yang mulai berdatangan terdengar amat memilukan, walaupun tidak tahu kejadian apa atau ambulans tersebut membawa pasien seperti apa? yang jelas suaranya membikin miris.
Sesekali Samudra menoleh kanan dan kiri. Putar balik arah pun tidak bisa akibat padatnya kendaraan yang merayap, berada di belakang. Samping dan di depan.
"Ck!" Samudra berdecak kesal, wajahnya tampak gusar, mau marah gimana? sama siapa? mau mundur gak bisa, yang akhirnya Samudra pasrah terjebak dalam kemacetan,
"Huuh ... mau sampai kapan sih akan terjebak di sini?" keluh Samudra sambil melirik jam tangan yang melingkar di tanah nya itu.
Roda dua dan roda empat milik kepolisian pun melintasi. Tampak lalu lalang ke arah depan yang berada di sana! sepertinya ada kecelakaan yang sudah terjadi atau menimpa pengendara lain yang di berada di depan.
Dan terdengar obrolan orang yang lewat. Kalau di depan ada sebuah insiden yang menimpa sebuah sepeda motor yang berlawanan dengan sebuah tronton Sehingga terjadinya sebuah insiden tersebut.
"Ck. Alamat lama nih sampai ke rumah Om Fatir." Gumamnya Samudra sambil celingukan melihat ke arah kanan dan kiri.
Sudah hampir 30 menit mobil Samudra masih di tempat tidak bergerak, begitupun dengan ke kendaraan lainya. Namun lama-lama jalan berangsur lega dan yang dibelakang pun sudah mulai berisik dengan klaksonnya masing-masing. Sehingga mobil Samudra pun mulai merayap kembali.
Cuaca pun mulai kurang bersahabat. Langit tampak mendung, hitam pekat serta menyimpan kesedihan, menahan air yang ingin tumpah.
Dan suasana pun mulai sore, pertanda sang matahari akan berganti dengan malam. Samudra terus melajukan mobilnya dan sekarang sudah mulai bisa lebih cepat karena jalanan sudah mulai longgar.
Mobil Samudra melaju dengan sangat cepat meninggalkan empat tersebut yang beberapa waktu lalu dia terkurung di sana. Namun pada akhirnya Samudra bisa melewati juga dan tampak sisa-sisa kecelakaan yang terjadi beberapa waktu yang lalu tersebut masih tersisa.
...----...
Semenjak tiba di rumahnya, Rasya langsung pergi ke kamar. Membawa hati yang gelisah memikirkan samudra yang entah gimana dan dimana? akankah dia menyusulnya?
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Suara pintu di ketuk dari luar dan terdengar. "Mbak? ada mas Azam tuh di bawah!" suara Citra dari balik pintu tersebut.
"Bilang saja, kalau Mbak mau mandi dulu!" pekik Rasya dari tempat tidur.
"Ooh. Baiklah kalau begitu." Citra terdengar berjalan menjauh dari tempat tersebut.
Namun Rasya bukannya ke kamar mandi, melainkan masih duduk-duduk dengan memeluk guling. Mengambil ponselnya yang memang selalu sepi tanpa panggilan atau notif lainnya.
__ADS_1
"Ya Allah ... ayo bangkit? aku gak boleh seperti ini! yakinlah bila dia akan datang untuk menjemput mu?" monolog Rasya dalam hati sambil mengusap wajahnya kasar.
Kemudian, Rasya bangkit dan mengayunkan langkahnya untuk ke kamar mandi dengan niat mau membersihkan diri.
"Wah ... seger ... nya," gumamnya Rasya sambil memutar badan di bawah air shower yang tampak mengepul hangat tersebut.
Setelah itu dia buru-buru keluar mengenakan handuk dan mencari pakaian malam seperti piyama dengan motif bunga mawar.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
''Mbak, di tunggu makan sama bunda dan ayah?" pekik kembali Citra yang di suruh Viona memanggil Rasya untuk makan malam.
Rasya menoleh ke arah pintu. "I-iya, sebentar, Mbak turun ya?"
"Jangan lama-lama ya, Mbak? di tunggu lho!" suara Citra kembali.
"Iya, sebentar? baru selesai mandi nih!" tambah Rasya yang sedang menyisir rambutnya itu.
Terdengar suara derap langkah Citra yang menjauh dan Rasya pun segera merapikan dirinya untuk turun, tidak lupa mengikat rambutnya di kunci kuda.
Dreeett ....
Dreeett ....
Tadinya dia mau abaikan dan langsung mau meninggalkan kamar tersebut. Tetapi hati penasaran juga siapa yang chat dia?
"Siapa ya?" gumamnya Rasya seraya menghampiri gawai yang berada di atas nakas.
"Tuan muda?" suara Rasya pelan.
Samudra: "Aku sudah berada di luar!"
"Tuan, sudah berada di luar mana?"
Samudra: "Rumah mu lah, masa di luar kuburan!"
Tanpa membalas lagi, Samudra bergegas keluar dari kamarnya. Dengan langkah yang terburu-buru dia menuruni anak tangga.
Di bawah sudah ada berkumpul di meja makan. Ya itu ayah, bunda. Oma, Citra dan Azam. Berada di meja makan.
Semua mata melihat ke arah Rasya yang terburu-buru turun dari tangga. Langsung menuju pintu tanpa menoleh ke arah semuanya yang sudah berada di meja makan tersebut.
"Sayang, Vivian mau kemana, Nak?" sapa Viona menatap punggung Rasya.
Rasya menyempatkan menoleh pada sang bunda. "Keluar, Bun. Tuan muda ada di luar!"
Viona melihat ke arah sang suami yang juga melihat ke arah dirinya.
Rasya kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya yang sesaat terhenti.
__ADS_1
"Jangan? jangan keluar?" pinta sang ayah. Membuat langkah Rasya terhenti seketika.
Tubuh Rasya berbalik menghadap ke arah semuanya. "Ke-napa?"
"Kau tidak boleh keluar atau menemuinya!" jelas Fatir sembari menghampiri Rasya yang mendadak merasa lemas.
"Ayah, dia suami ku! kenapa aku tidak boleh menemuinya? bukankah ini yang Ayah mau, dia datang menyusul kita ke sini?" Rasya mencecar sang ayah dengan segala pertanyaan.
"Ayah bilang, jangan kau temui dia. Biar ayah yang menemuinya." Fatir langsung menarik handle pintu lantas keluar dan di susul sang istri.
Rasya hanya bisa bengong dan terduduk lesu di sofa yang ada di ruang tamu tersebut. Dadanya terasa sesak sehingga untuk bernafas saja berasa sempit.
"Buat apa kau datang kemari?" Fatir menatap tajam ke arah Samudra yang berada di teras.
Kedua netra Samudra celingukan mencari Rasya, sebab yang ada dalam pikirannya yang pertama kali keluar itu adalah Rasya.
Namun ternyata tidak sesuai dengan ekspektasinya. Yang keluar bukanlah Rasya, melainkan kedua orang tuanya yang datang dengan tetapan kurang bersahabat.
"Rasya mana, Om. Tante?" tanya samudra dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Buat apa kamu datang? yang saya tanyakan Itu buat apa kamu datang kemari?" tegasnya Fatir dengan tatapan tajam melihat intens ke arah pemuda tersebut.
"Saya kemari, tentunya untuk menjemput Rasya, Om. Bukan itu yang, Om. Mau saya datang kemari untuk menyusul kalian ke sini dan menjemput Rasya ke Jakarta kembali," jawab Samudra dengan ada serius.
"Kau itu ingin menjemput Rasya agar ikut ke Jakarta, buat apa? kau hanya menjadikan dia asisten? atau istri?" tanya Fatir dengan nada tegas.
"Dia itu istri saya, saya membawanya itu hak saya! walaupun, Om. Orang tuanya, Om tidak ada hak untuk memisahkan kami berdua. Sebagaimana Om memperistri tante, yang bertanggung jawab penuh pada tante. Begitu pun saya!" seru Samudra sambil terus menatap kearah pintu, berharap Rasya keluar.
"Saya tidak akan izinkan kau membawanya, dan yang saya inginkan adalah ... kamu melepaskan Rasya karena saya akan menjodohkannya dengan laki-laki lain." Fatir malah berucap demikian membuat viona terkaget-kaget.
Samudra menggeleng. "Tidak bisa! saya tidak mau dan tidak akan pernah melepaskan Rasya."
"Raya tidak akan pernah mengijinkan Rasya ikut dengan kamu. Dan tidak saya ijinkan kamu bertemu putri saya!" ujar Fatir tanpa terlihat ragu.
"Om, tidak bisa seperti itu dong. Seharusnya, Om. Menghargai saya yang bela-belain masuk ke sini dan itu yang Om mau kan?"
"Apa? saya harus menghargai kamu? apa kamu menghargai saya? sebagai orang tua Rasya yang sudah mewanti-wanti kamu agar tidak melakukan hal yang macam-macam, sebelum waktunya apa kau dengar itu, tidak bukan? kau malah mengambil sesuatu yang berharga dari putri saya. Sebelum kau meyakini atau meresmikan pernikahan kalian itu?" Ujar kembali Fatir mengungkit kejadian itu.
"Saya, Om itu sudah terlanjur dan saya akan melanjutkan pernikahan ini. Kecuali kalau saya hanya untuk senang-senang dan ada niat untuk permainkan dia?" Akunya Samudra membela diri.
"Pokonya. Kau pergi? dan jangan kembali lagi. Rasya tidak akan saya ijinkan untuk bertemu dengan mu." Fatir mengibaskan tangannya dan menyuruh Samudra untuk pergi.
"Mas?" Viona memegang tangan Fatir.
Fatir mengayunkan langkahnya kembali ke dalam dan menarik tangan sang istri dari tempat tersebut.
Dengan mulut menganga, Samudra tertegun dan menatap kepergian Fatir dan istrinya itu. Sungguh ia tidak menyangka kalau dia akan diperlakukan seperti ini, yang dia kira tinggal datang dan disambut dengan hangat! ....
.
.
Apa kabar reader ku semua? semoga kabar baik ya?
__ADS_1