Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 195 Pusing-pusing


__ADS_3

Lumayan, bau aroma tubuh Samudra setidaknya dapat mengurangi rasa mualnya yang sedang menyerang Rasya saat ini.


"Kau kenapa?" tanya Samudra melihat gelagat aneh dari sang istri.


Rasya hanya menyusup kan kepalanya dan menggeleng, tidak menjawab serta mengunci mulutnya dengan tangannya.


Selang beberapa waktu. Pesawat mendarat di landasan yang sudah di tentukan. Dan Rasya pun dapat bernafas lega, setelah mengambil tasnya dari kabin. Semua penumpang mendekati pintu yang sudah terbuka.


"Wah ... akhirnya aku bisa bernafas lega, dapat menghirup udara segar seperti ini." Gumamnya Rasya sambil berjalan, tangannya di tuntun Samudra.


"Buruan jalannya?" suara Samudra sambil menoleh ke arah Rasya.


"Aish ... kenapa harus cepat-cepat sih? aku gak bisa cepat-cepat! lutut ku terasa lemas," sahutnya Rasya sambil berhenti berjalan.


Auto, Samudra menghentikan langkahnya. "Ck, kenapa sih? Bai! kau yang urus barang-barang duluan!" Samudra memandangi kearah sang istri, lalu menoleh pada Ubai yang sudah berada di depan.


Ubai mengangguk, lalu lebih dulu meninggalkan tempat tersebut.


Sementara Samudra masih berdiri di dekat Rasya yang merasa lemas. Kemudian tanpa berkata-kata. Dia membungkuk dan menggendong tubuh Rasya ala bridal style.


Membuat tubuh Rasya melayang dan dengan refleks tangan Rasya melingkar di pundaknya Samudra. Manik matanya menatap wajah Samudra dengan bibir yang mengulas senyuman, hatinya berbunga-bunga diperlakukan manis seperti ini oleh sang suami.


"Jangan ge'er ya!" ucap Samudra sambil berjalan memasuki terminal bandar udara.


"Iih ... siapa juga yang ge'er? nggak kok!" Rasya mengulum senyumnya.


"Itu, senyum-senyum? apa namanya kalau bukan ge'er namanya?" Tambah Samudra lagi yang melihat dari sudut matanya itu.


"Siapa juga yang senyum-senyum? gak ada!" Rasya sembari mengeratkan rangkulan di pundaknya Samudra.


"Nggak mau ngaku lagi. Pura-pura mengelak padahal iya," Samudra menggelengkan kepalanya.


Saat ini Rasya dan Samudra sudah berada di area terminal bersama Ubai yang sehabis mengurus barang-barang, menunggu mobil jemputan yang belum juga datang.


"Kok lama ya jemputannya?" Rasya menoleh ke arah Samudra


"Iya, nih. Biasanya juga suka on tim," balasnya Samudra dengan wajahnya yang gusar ingin segera sampai rumah.


Rasya berdiri sambil menggerakkan kakinya untuk mengusir kejenuhan.


Sesekali Samudra menoleh ke arah jam tangan yang sudah menunjukan hampir pukul 14.wib.

__ADS_1


"Bai, mana mobilnya? kok terlambat gini sih? seharusnya on tim nih. Biasa nya juga sudah siap di tempat, gimana sih?" gerutu Samudra yang tampak gelisah tersebut.


"Sabar, Bos ... masih di perjalanan!" jawabnya Ubai sambil menoleh ke arah jam tangan.


Tidak lama kemudian, sang supir pun datang menjemput. Samudra langsung menggandeng tangan Rasya, berjalan menuju mobil jemputannya.


Bibir Rasya tersenyum dan memandangi wajah Samudra yang tampak datar tanpa ekspresi itu. Diikuti oleh Ubai dari belakang dan supir yang membawa kopernya milik Samudra.


Setibanya di mobil, Samudra membukakan pintu untuk sang istri terlebih dulu. Sementara dirinya belakangan, tiba-tiba rasa pun merasa mual kembali kepala pun terasa pusing dan berat.


Rasya langsung menyusupkan kepalanya di dada Samudra setelah dia duduk di sampingnya tersebut.


"Kau kenapa lagi?" tanya Samudra ketika melihat Rasya menutup mulutnya dan seakan menghirup aroma tubuh dirinya.


"Tidak, tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing saja," jawabnya Rasya sambil bersandar di bahu Samudra.


Dari depan. Ubai menoleh ke arah belakang dimana Samudra dan Rasya berada, wajah Rasya tampak sedikit pucat. Apa kau sakit, Nona?" tanyanya.


Rasya melihat ke arah Ubai seraya berkata. "Aku baik-baik saja kok, Tuan Ubai." Jawabnya karena memang kalau sudah menghirup aroma tubuh Samudra dia itu berasa lebih baik.


"Kita mau pulang ke mana sekarang? apartemen?" tanya Samudra kepada sang istri sembari mengusap kepalanya.


"Ke mana ya? ke apartemen aja lah? Sahutnya Rasya sambil mendongak.


"Hem!" Rasya mengangguk pelan.


"Oke, antarkan kita ke apartemen saja," kata Samudra kepada uban dan supirnya.


Dan ubay pun mengalihkan penglihatannya ke arah sang sopir yang langsung memberi anggukan.


Selanjutnya mobil yang Ditumpangi Samudra, Rasya dan Ubai melaju dengan cepat dengan tujuan ke arah apartemen nya Samudra.


Selang berapa puluh menit kemudian, akhirnya mobil memasuki area apartemen yang menjadi tujuan.


Samudra, Rasya dan ubay. Turun dari mobil tersebut berjalan memasuki lift tapi Ubai hanya mengantarkan sampai pintu lift saja, lalu dia menyerahkan koper Samudra ke pemiliknya.


"Saya pergi dulu? selamat beristirahat? oh ya Nona, banyak-banyak istirahat?sepertinya tubuhmu kurang fit. Bila perlu cek ke dokter!" Ubai mengalihkan pandangannya dari samudra ke arah Rasya.


"Jangan sok perhatian, dia istriku! aku lebih tahu apa yang terbaik buat dia," ucapnya Samudra sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.


Ubai menunjukkan senyumnya pada Samudra, lalu kembali mengarahkan pandangan ke arah Rasya. "Kau benar-benar oke?" tanya Ubai kembali.

__ADS_1


"Oh, oke. Aku baik-baik saja," balasnya Rasya sembari mengangguk.


Ubai berpamitan untuk pulang. "Oke, kalian istirahatlah dulu? soal kerjaan besok saja kita bicarakan di kantor."


"Oke," Samudra dan Rasya masuk ke dalam lift yang kebetulan cuma mereka berdua saja yang memasuki lift tersebut.


"Yakin kau baik-baik saja?" kini giliran Samudra yang tampak mencemaskan sang istri.


"Aduh ... kenapa sih? aku ini baik-baik saja! cuman ... pusing-pusing dikit, ya maklum lah aku mabul perjalanan gitu. Dari zaman dulu, aku nggak pernah ke mana-mana selain di rumah, pasar-toko-rumah. Rumah-pasar-toko! gitu saja setiap hari, wajarlah kalau aku itu mabuk perjalanan," ungkap Rasya meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu! ya sudah. Nanti sampainya di unit kau istirahat saja!" Samudra sambil merangkul bahu Rasya di ajaknya keluar dari lift setelah pintunya terbuka.


Mereka berdua berjalan di koridor apartemen menuju unitnya, langkahnya Rasya begitu gontai dan Samudra dengan langkah lebarnya membawa koper yang berisi pakaian dia dan sang istri.


Sesampainya di unit, Rasya langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, tubuhnya terasa lelah banget. Lemas, rasanya tak bersemangat sekali.


Samudra hanya melihat tingkah? sang istri yang tampak lesu dan tidak bergairah tersebut. Dia sendiri berjalan mendekati kamar mandi sambil membuka pakaiannya dengan niat mau mandi terlebih dahulu.


Setelah membersihkan diri, Samudra menghampiri Rasya yang telah berbaring dengan masih menggunakan baju yang tadi. "Kenapa nggak ganti baju dulu sayang? bau keringat lho! mandi dulu biar wangi."


Samudra mengecup keningnya Rasya dengan sangat lembut,


"Em ... males ah, nanti saja. Sekarang aku cuma pengen tidur! kepala pusing," jawabnya Rasya tanpa membuka kedua mata yang terpejam. Tangannya malah meraih guling untuk dia peluk.


Tangan Samudra mengelus pipi Rasya yang halus tersebut. "Hi ... mandi dulu, ganti baju dulu! baru tidur, istirahat?"


"Nggak mau! Aku pengen tidur dulu ya? boleh ya?" kini tangan Samudra yang Rasya tarik ke dalam pelukannya itu.


"Ya sudah, kalau mau mu begitu! Aku mau pesan makanan. Lapar nih." Samudra meraih ponselnya yang berada di atas nakas.


...---...


Keesokan harinya. Samudra sudah berada di kantor. Dan hari ini adalah hari terakhir dia masuk kerja, sebelum resepsi pernikahannya di Surabaya yang tinggal beberapa hari lagi itu.


Dan saat ini Samudra pun tengah mengadakan rapat yang serentak.


"Saya rasa ... kalian dapat membangun kerja sama yang baik dan tingkatkan lagi kemampuan kalian di bidangnya masing-masing, dan saya rasa meeting kita sekarang ini cukup dulu sampai di sini!" Samudra beranjak dari duduknya.


Dan obrolan dilanjut oleh Ubai sebagai penutupan. Samudra kembali ke ruangannya, setelah berada di kursi kebesarannya. Dia menarik dasi yang terasa terlalu kuat dan membuat pengap pernapasan.


Namun ketika Samudra tengah merileks kan pikirannya sambil duduk menggoyangkan kursi yang sedang dia duduki itu. Terdengar suara riuh dari luar ruangannya begitu kencang terdengar di telinga, membuat Samudra melonjak bangun dan mendekati pintu ....

__ADS_1


.


.


__ADS_2