Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 92 Bukankah


__ADS_3

"Anda kan tahu? kalau aku kurang kasih sayang dari keluargaku. Apa aku salah? bila aku ingin mendapatkan kesayangan itu dari keluarga lain?" nada bicara Rasya seperti menahan rasa sedih.


"Oke-oke, terserah kamu lah," ucap Samudra dengan nada datar.


Hening!


Tak ada yang bersuara lagi, selain kesunyian yang ada di antara mereka berdua.


Kini keduanya sudah memasuki mobil Jaguar milik Samudra, Rasya duduk di depan samping setir. Samudra mengitari mobil untuk mencapai tujuannya.


Setelah duduk di belakang setir, Samudra langsung bersiap menyalakan mesin mobilnya. Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Apa kamu ingin membeli sesuatu?" tanya Samudra tanpa menoleh pada Rasya yang tampak bengong melihat keluar jendela.


"Ha? mau beli apa?" Rasya malah menirukan ucapan Samudra.


"Malah balik bertanya? ya terserah mau beli apa?buah-buahan kah, kue kah. Kau kan cewek, pastinya lebih mengetahui apa yang baik buat buah tangan, bila bertamu pada seseorang." Kata Samudra.


"Apa ya? aku kan nggak pernah berkunjung ke mana-mana, apalagi membawa buah tangan. Jadi kurang mengerti." Rasya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal itu.


Samudra berdecak dan menggelengkan kepalanya. "Ya, Tuhan ... gitu aja nggak ngerti! buset deh."


Samudra menatap ke arah depan. "Lihat tuh, di depan ada toko buah-buahan. beli buah-buahan saja," ucap Samudra sambil menunjuk ke depan.


"Aish ... Tuan ... aku itu nggak pegang uang, Tuan Sam. Aku mau beli pakai apa? daun? daun pun aku gak punya!" Rasya membuka kedua telapak tangannya. Berucap dengan wajah polos.


Detik kemudian, Samudra merogoh sakunya untuk mengambil dompet, lalu memberikannya pada Rasya.


Rasya heran. "Buat apa dompet ini?"


Samudra yang sedang menyetir menoleh sekilas, lalu melihat kembali ke arah depan. "Kau membeli buah dari sana! dan ambil uangnya dari dompet ku. Apa kau tidak melihat tanganku sibuk nyetir?" jelas Samudra


"Ooh gitu, bilang dong dari tadi? he he he ... aku kan kurang ngerti." Rasya nyengir.


Setelah beberapa meter mobil Samudra merayap, berhenti tepat di depan toko buah-buahan. Rasya bengong.


"Turun?" perintah Samudra.


"Turun buat apa?" Rasya kebingungan.

__ADS_1


"Ck, turun dan membeli buah-buahan," pekik Samudra tertahan.


"He he he ..." Rasya mesem, lantas turun, meninggal tasnya dan membawa dompet Samudra.


Kira-kira sudah sekitar 5 langkah berjalan, Rasya kembali menghampiri Samudra. "Berapa kilo membelinya buahnya, Tuan?" tanya Rasya sambil membungkukkan tubuhnya.


Samudra menatap gadis itu sambil memutar bola matanya jengah.


"Beli saja 3 kilo, dibagi 3 macam. Gitu aja harus bertanya?" ketus Samudra datar.


"Tadi kan sudah aku bilang, aku kurang ngerti. Aku nggak pernah ke mana-mana! apalagi membawa buah tangan, masih banyak bertanya?" Rasya tak kalah menggerutu.


Kemudian Rasya kembali melangkah, menuju toko buah tersebut, lantas membeli apel, jeruk. Buah mangga, pir. Tetapi manik Rasya menemukan buah anggur hijau, sehingga dia membelinya juga.


Selesai membeli dan membayarnya. Kemudian Rasya kembali dengan menjinjing buah-buahan tersebut.


"Tuan, aku sudah membeli 5 macam buah. Tidak apa-apa kan? ini dompetnya aku kembalikan, aku cuman ... mengambil uang rp 200.000 aja," ucap Rasya sambil memberikan dompet tersebut.


"Simpan di situ?" titahnya Samudra sambil menunjuk ke tengah-tengah antara mereka berdua.


Rasya menyimpan dompet Samudra tepat di sampingnya. Lantas duduk bersandar ke belakang.


"Apa belanjaan di rumah masih cukup?" tanya Samudra yang menanyakan keperluan dapur.


"Oke, kalau begitu. Besok atau lusa kalau mau belanja, bilang saja padaku!" ucapnya Samudra tanpa menoleh.


"Iya, baik, Tuan." Rasya mengangguk pelan.


Tidak lama kemudian, karena memang tidak jauh. Mobil Samudra pun sudah berhenti di depan rumah Pak security, yaitu Adam dan di teras, sudah ada om Fatir dan Tante Viona beserta istri adam dan Sidar yang menunggu kedatangan Rasya dan Samudra.


Mereka langsung menyambut kedatangan Rasya dengan ramah dan penuh raut wajah yang bahagia.


"Tuh, kan ... mereka akhirnya datang juga," sambut Viona pada istri adik-adik nya.


Rasya di ajaknya Viona masuk ke dalam rumah. "Apa kabar sayang?" sapa Viona sambil menggandeng tangannya Rasya.


"Sehat Om?" Samudra mengulurkan tangan pada Fatir.


"Baik, Sam. Tumben kau yang mengantarnya? ke mana Ubai?" tanya Fatir pada Samudra.

__ADS_1


"Em ... dia, dia masih sibuk dengan kerjaan," jawabnya Samudra.


"Oo! masuk yu?" Fatir menepuk pundak Samudra di ajaknya masuk, menyusul langkah-langkah para bidadari yang sudah berada di dalam rumah yang sederhana tersebut.


"Waah ... penampilanmu saat ini begitu cantik deh, bikin Bibi iri." Katanya Wiwik sambil tersenyum pada Rasya.


"Iya benar, aku juga iri nih. penampilan mu selalu tampak cantik dan menarik," tambahnya istri Sidar sambil mengusap pipinya Rasya.


"Ah Bibi bisa aja, sama aja kok aku gini-gini juga," akunya Rasya.


"Siapa dulu dong ... ini kan putrinya Mbak Viona, jadi cantik dong kayak mbak viona?" tutur Viona dengan wajah yang tampak sumringah dan sorot mata yang bersinar.


"Aduh ... aku jadi malu nih, aku ke sini bukan untuk dipuji-puji lho." Kata Rasya dengan tersipu malu,


"Ini Rasya bawakan buah-buahan untuk kalian semua," Samudra menyerahkan berapa kantong buah-buahan, dia simpan di meja dekat mereka duduk.


""Lho, kok. Kalian repot-repot sih, kami nggak minta lho," ucapnya bibi Wiwi.


"Nggak repot kok, kebetulan kan di depan ada toko buah. Jadinya mampir sebentar." Lanjut Samudra.


"Iya, tadi Tuan menyuruhku untuk membelinya, aku kan nggak ngerti. Aku nggak pernah kemana-mana apalagi membawa buah tangan, jadi kalau nggak di suruh, Tuan. Aku nggak membawa apa-apa he he he ..." Rasya menunjukan giginya yang berbaris putih.


Semuanya tersenyum mendengar kepolosan Rasya.


"Tuan. Makasih ya?" Rasya menatap pada Samudra.


"Buat apa?" tanya Samudra.


"Iya, karena sudah mengingatkanku, tata cara bertamu ke rumah orang!" suara Rasya pelan.


"Sudahlah." Samudra singkat.


Kemudian mereka mengobrol begitu semangat. Mereka tampak akrab seperti keluarga yang sesungguhnya.


"Ooh, iya Pak RT dan paman Adam nya ke mana? Samudra mengalihkan pandangan kepada Fatir.


"Mereka masih bertugas dengan tugas masing-masing, gimana? jadikan kerjasama kita di acara tunangan mu nanti?" tanya Fatir pada Samudra.


"Oh, iya jadi. Jadi kok." jawabnya Samudra pelan, kedua netra nya bergerak melihat sekitar.

__ADS_1


Wiwi dan istri Sidar menoleh. "Siapa yang mau tunangan? bukannya kalian berdua sudah menikah?" keduanya menatap tajam pada Samudra dan Rasya pergantian.


Samudra dan Rasya saling bertukar pandangan, mulut Rasya menganga tidak tahu harus berkata apa? apalagi dengan Samudra ....


__ADS_2