
Beberapa saat kemudian, Rasya menggerakkan tubuhnya sembari mendorong pintu mobil dengan niat mau turun seperti yang Samudra perintahkan.
Samudra panik, ketika melihat Rasya mau turun dari mobilnya. "Kau mau ke mana?" tanya samudra.
"Bukankah Anda menyuruh ku turun?" suara Rasya bergetar menahan tangis, hatinya terasa sakit.
"Jangan! tidak-tidak. Tidak perlu kau lakukan itu," cegah Samudra langsung menarik pintu mobilnya ia tutup kembali.
"Lho, bukannya kau menyuruhku untuk turun?" Rasya terheran-heran.
"Tidak perlu, kita pulang sekarang?" ucap Samudra sambil menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukan mobilnya itu.
"Kenapa kau tidak membiarkan ku turun? bukankah itu yang anda mau? supaya aku turun dan sekalian bila perlu aku menginap di tempat paman Sidar." Cecar Rasya sambil sedikit merubah posisinya agak menghadap pada Samudra.
Samudra tidak menjawab lagi. Dia terus fokus ke depan mengajukan mobilnya dengan cepat, meninggalkan tempat tersebut.
Rasya pun merubah lagi posisi duduknya menghadap jendela, lantas terdiam malas untuk berkata-kata kembali sambil melihat keluar jendela, air matanya pun menetes membasahi kedua pipinya yang dia usap dengan kasar.
Samudra hanya melirik tanpa berkata ataupun menenangkannya.
Di sepanjang perjalanan tak ada yang mengeluarkan suaranya, kecuali suara mobil yang terdengar begitu halus.
Dan setibanya di apartemen, samudra buru-buru turun dan membukakan pintu buat Rasya.
Brugh! pintu mobil Samudra tutup, setelah Rasya keluar dan bergegas memasuki lift.
Ketika di dalam lift, tangan Samudra memegang tangan Rasya yang seketika Rasya tepis begitu saja. Wajahnya yang sendu serta pipinya ada bekas air mata yang mengering.
"Dasar tidak punya perasaan," batin Rasya bergejolak dalam hati.
Rasya memalingkan wajahnya dari pandangan Samudra yang menatap heran.
"Cuma gara-gara perkataan ku tadi dia marah, cengeng. Gitu aja nangis." Gumamnya Samudra dalam hati.
Ketika pintu lift terbuka, Rasya langsung melintasinya dan lebih dulu berjalan, dari Samudra. Bahkan setengah berlari menuju unit yang selama ini dia tinggali.
Dengan mudahnya Rasya membuka pintu unit tersebut dan langsung memasuki kamarnya. Cklek! terdengar pintu dikunci dari dalam.
Samudra yang mengikuti Rasya dari belakang terbengong-bengong. Melihat sikap yang belum pernah seperti itu.
__ADS_1
Namun bukannya membujuk yang merajuk, Samudra malah dengan santainya duduk di sofa depan televisi.
Tangannya meraih remote, menyalakan televisi di pandangi dengan tatapan kosong, mengacak rambutnya tampak frustasi. "Gue ngomong apa sih tadi? sampai-sampai dia marah seperti itu?"
Sekilas melihat ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. "Apa dia lagi pms apa? Tapi perasaan dia sudah solat kok," gumamnya kembali Samudra.
"Arrrrgh ..." lagi-lagi Samudra mengacak rambutnya.
Kemudian beranjak dari duduknya menghampiri pintu kamar Rasya yang tertutup tersebut. Samudra berdiri dangan tangan melipat di dada berniat mengetuk namun ragu.
Rasya yang sedari pulang masuk kamar, dia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dia menangis tersedu sambil memeluk guling yang basah dengan air mata yang terasa hangat. Entah apa yang dirasa sehingga dia menangis seperti ini.
Yang jelas, dadanya terasa sesak dan bagai tertusuk duri sembilu. "Hik-hik-hik," suara tangisnya terdengar pilu, Lantas teringat pada keluarganya di kampung, bagaimanapun Rasya sayang pada mereka semua.
"Uuuh ... buat apa aku menangis sih?" Rasya bangun dan mendudukkan dirinya dengan tegak. Mengusap wajahnya dangan telapak tangan.
"Aku gak boleh cengeng. Apalagi menangisi sesuatu yang tidak penting! percuma!" Rasya terus mengusap pipinya yang terus saja keluar buliran air yang menetes dari sudut manik matanya.
"Tapi kan aku sedih! hik-hik-hik, dada ku terasa sesak. Rasanya tak ada ruang untuk bernapas hik-hik-hik." Gumamnya Rasya sembari terus mengusap wajahnya.
Cklek!
"Tu-Tuan, ngapain datang ke sini? aku sudah kunci pintunya, kenapa anda bisa masuk?" Rasya terheran-heran sambil memeluk guling.
Samudra terus berjalan mendekati tempat tidur, lalu mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur dekat Rasya.
"Tuan keluar? aku gak mau bicara dengan mu!" ucap Rasya sambil memalingkan muka.
"Terserah aku dong! kalau aku mau duduk di sini?" jawabnya Samudra.
"Keluar? anda keluar dari sini? aku lagi pengan sendiri." Titah Rasya seraya mendorong bahu Samudra agar beranjak dan meninggalkan tempat tersebut.
Namun tubuh Samudra terlalu kuat untuk Rasya dorong. "Keluar ih? aku pengan sendiri."
Namun Samudra tidak bergeming, dan berkata. "Aku cuma ingin di sini, memastikan bahwa dirimu tidak menangis lagi."
"Keluar ih, aku gak mau melihat mu? keluar ..." pekik Rasya.
"Nggak mau, saya mau di sini lihatin kamu!" kekeh Samudra sambil mesem-mesem.
__ADS_1
"Iih, ya sudah, aku yang keluar dari sini?" Rasya hendak turun, namun terdengar di luar hujan begitu deras bagai air tumpah dari wadahnya.
Duarrrrrrh ....
Suara petir yang menggelegar mengagetkan Rasya sehingga dengan cepat memeluk tubuh Samudra. Menyusupkan wajahnya di dada Samudra sembari bergumam. "Aku takut!"
Serrrr ....
Darah Samudra mengalir deras ke sekujur tubuh yang menghangat menerima pelukan dari Rasya, setelah sekian lama Samudra menghindari kontak pisik dengan gadis itu, akhirnya bersentuhan lagi lebih dari sekedar pegang tangan.
Bagian tertentu milik Rasya membentur dada Samudra. Jantung Samudra berdegup sangat kencang, dada terus berdebar tidak karuan. Perlahan tangan Samudra menyentuh punggung Rasya yang memeluknya sangat erat.
Pada akhirnya Samudra merasakan lagi pelukan Rasya yang menghangatkan. "Sam kau itu sudah berusaha menghindari kontak pisik apalagi seperti ini." Batin Samudra bergejolak.
Setelah Rasya tersadar, dia buru-buru melepaskan rangkulannya dari Samudra. "Maaf?"
Rasya menunduk malu. Dia merasa malu pada Samudra yang dia suruh keluar dari kamar. Tetapi ketika ada petir, dia peluk sebab merasa takut.
Rasya menutup kedua telinganya, saat ada suara petir namun terdengar pelan. Tidak sekuat tadi.
Kedua tangan Samudra bergerak mengarah ke arah pipi Rasya yang masih menyisakan bekas menangis. Sorot matanya Samudra begitu lembut, jauh beda dari biasanya.
"Kau kenapa menangis?" tanya Samudra sambil mengusap kedua pipi Rasya degan kedua ibu jarinya.
Rasya terheran-heran menerima perlakuan dari Samudra yang lebih lembut, dan tatapan yang begitu dalam. "A-aku!"
"Seharusnya kau tidak menangisi ku, aku kan belum mati!" Suara Samudra pelan.
Bikin Rasya semakin dibuat heran dengan ucapannya. "Iih ... apa hubungannya? gak nyambung deh," batin Rasya sambil membalas tatapan dari Samudra yang semakin lama semakin mengandung arti.
Namun tak dapat Rasya artikan semua itu. Dengan tiba-tiba Rasya melonjak dari tempatnya, melompat turun dari tempat tidur.
"Tu-Tuan, aku pengen pipis." Rasya berlari ke kamar mandi.
Setelah di sana dia berdiri bersandar di pintu. Dadanya yang naik turun begitu cepat dan Rasya berusaha untuk menetralkan nya, dag-dig-dug bagaikan beduk yang di tabuh ....
.
.
__ADS_1