
Rasya melihat kanan dan kiri yakin kok, kalau semalam tidur di sofa. "Kenapa sekarang berada di kamar? memakai selimut pula. Siapa yang memindahkan ku?" tanya Rasya dalam hati.
Pas melihat ke samping, ada sosok pria tampan yang berbaring sambil meluk guling mukanya menghadap ke posisi Rasya.
"Tuan?" gumamnya Rasya lalu menutup mulutnya dengan tangan.
Sejenak Rasya menatap wajah tampan Samudra yang sedang tertidur lelap.
"Tuan? bangun? sudah subuh nih!" Rasya membangunkan Samudra pelan.
Telinga Samudra merespon dengan gerakan. "Hem ... ngantuk, semalam sulit tidur." tanpa membuka kedua matanya.
Bibir Rasya tersenyum mendengarnya. Kemudian dia turun dari tempat tidurnya menapakkan kedua kaki di lantai, mengayunkan langkahnya ke kamar mandi.
Saat ini Rasya sudah mulai berkutat di dapur, untuk menyiapkan sarapan buat Samudra. Namun sebelumnya ia menyiapkan dulu pakaian Samudra buat ke kantor, kalau bersih-bersih nanti saja setelah memasak.
"Yah ... telurnya habis, ikan juga abis, sayuran menipis yang ada ayam sama tahu, tempe. Udang nggak ada cumi juga ludes, terus mau masak apa sekarang?" Rasya bertanya pada dirinya sendiri.
"Ha ... aku ada ide nih. Gimana kalau bikin nasi goreng ayam suwir, kira-kira tuan muda suka nggak ya? ah bodo amat! perasaan setiap yang aku masak selalu dia makan kok." Rasya berasa mendapat angin segar dengan idenya itu.
Kemudian Rasya merebus beberapa potong ayam, menyiapkan nasi serta sayuran yang ada. Seperti wortel, merendam tahu dan tempe.
Dengan cekatan Rasya mengerjakan itu semua dengan cepat.
"Cabe mana cabe ya? masih ada nggak ya cabe?" manik matanya mencari keberadaan cabe rawit atau cabe keriting dari dalam kulkas.
"Untung masih ada, kayaknya hari ini harus belanja deh!" gumamnya sambil memotong cabe untuk taburan nasi goreng suwir ayam ala Rasya.
"Masak apa pagi ini? tanya Samudra. Suaranya mengejutkan Rasya yang sedang asik mengorak narik masakannya.
Rasya berbalik melihat ke sumber suara, di mana Samudra berdiri dengan muka bantalnya.
"Anda baru bangun? belum mandi? jam berapa nih," Rasya malah balik bertanya.
"Ya ... namanya juga baru bangun tidur! ya belum mandi lah. Gimana sih?" kata Samudra menggeleng.
Kedua netra nya Samudra celingukan melihat yang sedang Rasya masak. "Lagi masak apa itu? kau belum menjawab pertanyaannya ku tadi?" ulang Samudra.
__ADS_1
"Ooh, aku ... sedang masak nasi goreng suwir ayam, karena yang ada cuman ayam. Tahu, tempe. Sayuran habis telor habis. Cumi abis! udang juga habis, kayaknya hari ini harus belanja deh!" ujar Rasya sambil kembali kembalikan tubuh menghadapi masakannya.
"Belanja sendiri lah, bisa sendiri kok," ucap Samudra sambil melengos ke dalam kamarnya.
Rasya melirik sambil menaikkan kedua bahunya. Lalu menghela napas panjang. Kemudian melanjutkan tugasnya untuk menggoreng tahu dan tempe.
"Halo ... selamat pagi Nona yang cantik?" spa Ubai dari arah belakang Rasya.
Rasya terkesiap lanjut menoleh arah yang menyapanya. Sambil tersenyum menyambut kedatangan Ubai.
"Baik. Eeh, Tuan Ubai selamat pagi juga ... pasti pagi-pagi ke sini belum sarapan kan? dan ingin sarapan di sini kan?" tanya Rasya sambil menunjuk ke arah Ubai sambil menunjukan senyumnya.
"Ooh, tentu dong ... aku kan sudah terbiasa sarapan di sini. Makanya setiap pagi-pagi aku datang untuk meminta sarapan! maklum belum punya istri, tidak seperti tuan muda yang ada dirimu di sini," sahutnya Ubai.
"Ooh iya. Emang di apartemen tidak ada asisten ya?" tanya Rasya, rasanya nggak mungkin kalau Ubai nggak memiliki asisten.
"Ya ... di apartemen nggak lah, kalau ada asisten di apartemen. Nanti aku digerebek lagi. Seperti tuan muda hahaha." Ubai tertawa lepas. Sehingga suaranya Ubai terdengar oleh Samudra dari kamarnya itu.
"Akh, Tuan Ubai bisa saja." Rasya berucap sambil menuangkan nasi goreng ke dalam tiga piring, yaitu untuk Samudra Ubai dan dirinya. Menyimpan di meja beserta yang lainnya.
Samudra yang baru selesai mandi dan menyiapkan diri, mendengar suara Ubai di luar. Membuat kepalanya menoleh ke arah pintu.
"Ups, sejak kapan gue menganggap punya istri? istrinya ku cuma satu. Nanti, itu Karin." Gumamnya lagi sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah mengenakan celana panjang, kemeja dan kaos kaki. Rambut pun sudah rapi, badan Sudah wangi. Tinggal mengenakan dasi dan jas juga sepatu.
"Sya? Sya sini?" pekik Samudra dari kamar.
"Nah, Nona Tuan muda mu sudah mulai bersuara keras, samperin sana? nanti dia marah!" kata Ubai pada Rasya yang sedang menata masakan di meja.
Rasya menoleh ke arah Ubai. "Baiklah, aku samperin dulu ya?" membawa langkahnya ke kamar Samudra.
"Gadis bagasi? gadis satu miliyarku, cepetan?" teriak Samudra kembali.
Rasya yang sudah berdiri di belakangnya, seraya berkata. "Iya ada apa, Tuan? pagi-pagi main teriak saja, gak sakit tenggorokan apa?"
"Pakaikan dasi ku? sepatuku juga? ketusnya Samudra menunjuk dasi di atas tempat tidur. Dan sepatu di lantai.
__ADS_1
"Nggak bisa sendiri apa? aku baru selesai masak." Protes Rasya sekilas menatap ke arah Samudra lalu menunduk.
"Kamu membantah aku ha?" Samudra menatap tajam ke arah gadis yang mengenakan kaos pendek dan rok di bawah lutut tersebut.
"Bu-bukan begitu tuan. Kalau bisa sendiri, ya ... kerjakan sendiri. Jangan apa-apa aku apa-apa aku?" gerutu Rasya, namun tak ayal dia mendekati Samudra. Mengambil dasi untuk dipasangkan di lehernya.
"Apa gunanya ada dirimu? kalau aku lakukan sendiri?" gumamnya pelan.
"Menunduk?" pinta Rasya pada Samudra.
Samudra pun menunduk agar Rasya dengan mudah memasangkan dasi nya, setelah terpasang dengan rapi. Rasya mengambilkan jas lalu ia kenakan pada tubuh Samudra.
"Sudah!" ucapnya Rasya.
"Sudah apanya? sepatu belum!" ketusnya lagi Samudra.
"Aish ... masa sepatu aja harus aku juga yang pasangkan sih? orang mentang-mentang anda itu Tuan ku!" gerutu Rasya lagi.
Samudra menarik senyumnya dan sengaja ia disembunyikan dari Rasya.
Namun meskipun menggerutu, Rasya tetap kerjakan, dia berjongkok memasangkan sepatu Samudra.
Bibirnya Samudra terus menyungging merasa senang jika bisa mengerjai Rasya.
"Sudah. Apalagi?" tantang Rasya sambil berdiri.
Samudra yang menatap tajam ke arah dirinya, mengenakan jam tangan di kanan kanannya.Ubai
"Ya sudah, aku mau sarapan! seru Samudra memutar badannya keluar dari kamar tersebut.
Disusul oleh Rasya sekalian membawa pakaian kotor milik Samudra.
"Hem ... wangi sekali masakannya." Kata Samudra setelah berada di dekat meja makan. Mendengus mencium nasi goreng yang Rasya buatkan untuknya.
Sementara Ubai, sudah duluan menikmati sepiring nasi goreng tersebut, terlihat dari isinya yang tinggal setengahnya lagi itu.
"Kok kamu duluan makan si?" tanya Samudra pada Ubai dengan tatapan tajam melihat ke piringnya ....
__ADS_1
.
Jangan lupa like komen dan vote juga bintangnya ya🙏