Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 83 Bawakan eskrim


__ADS_3

Samudra mencoba mencerna maksud dari Rasya yang kurang jelas itu.


"Tadi siang saja kau membiarkan ku di hina di caci oleh kekasih mu itu, padahal kau tahu aku tidak bersalah." Kini giliran suara Rasya yang meninggi namun sambil menangis.


Samudra tidak menjawab. Memorinya berputar mengingat kejadian tadi siang. Dimana Rasya, Karin siram pakai air jus. Samudra menghela napas dalam-dalam. "Saya minta maaf?"


"Hik hik hik." Rasya mengusap pipinya yang basah itu dengan kasar.


"Sudah, jangan menangis. Besok aku bawakan eskrim, nya gak?" tawar Samudra persis membujuk anak kecil.


"Serius?" Rasya menoleh pada Samudra.


"Serius. Aku akan bawakan yang besar, kau sukanya rasa apa? aku pesankan saja. Biar besok di antar ke sini." Menatap wajah Rasya yang mulai sumringah.


"Em ... aku suka rasa ... pisang dan durian." Jawab Rasya sambil mengusap pipinya dengan tisu.


"Baiklah. Aku pesankan besok, asal kau jangan menangis lagi. Dan ...."


"Dan, apa?" tanya Rasya penasaran.


Samudra menggeleng. "Ah nggak. Sekarang pijit punggungku." Dia memunggungi tubuh Rasya, minta di pijit.


Sejenak Rasya menatap punggung Samudra yang bersih itu. Punggung yang tadi ia peluk.


"Ayo, dong ... Sya? badan ku pada sakit nih?" pinta Samudra lagi.


Kemudian Rasya bergerak. Turun untuk mengambil body lotion untuk balur nya, ada minyak, tapi adanya di kamar Samudra dan dia malas untuk ke sana, takut ada petir lagi.


Namun tangan Rasya, ditangkap Samudra. Membuat tubuh Rasya berputar dan tumbang menindih tubuh Samudra dan daging tak bertulang milik Rasya menindih wajah Samudra.


Rasya buru-buru bangun namun entah kenapa? tubuhnya malah terjatuh lagi dan kali ini bibirnya menyentuh pipi Samudra.


Sambil merasa senam jantung, Samudra malah terdiam, terkesima dengan kejadian-kejadian barusan. Lalu bersentuhan dengan Karin sih sudah tidak aneh lagi. Namun dengan Rasya sensasinya sungguh berbeda.


Sementara waktu keduanya bersitatap. Dengan tubuh Rasya yang menindih tubuh Samudra sehingga Rasya merasakan ada sesuatu yang melonjak dan bergerak di bawah sana.

__ADS_1


Apalagi Samudra sebagai pemiliknya, merasakan sesuatu yang meronta.


"Tu-Tuan, apa itu yang bergerak di bawah sana?" dengan Tanpa ragu, Rasya pertanyakan itu.


Samudra kelimpungan untuk menjawab. "I-itu ... itu." Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Kemudian keduanya buru-buru bangun, dan samudra membantu Rasya tuk bangun duluan.


Rasya berdiri dengan tegak di depan Samudra. "Ngapain sih tanganku di tarik-tarik? mau ambil body lotion tau?" Rasya merapikan pakaiannya.


Samudra tidak menjawab. Dia justru menelungkup kan tubuhnya, sekalian menyembunyikan rasa malu dan tentunya sesuatu yang bangun dari pingsan nya itu.


"Sial! kenapa mesti bangun sih? bikin malu saja. Tahu gak belum waktunya, tempat mu bukan yang ini." Batin Samudra merasa kesal juga, juniornya gak bisa di ajak kompromi.


Rasya menatap gerakan Samudra, tubuh tinggi itu berbaring telungkup. Lalu detik kemudian Rasya mengambil body lotion untuk membalur punggung Samudra yang katanya mau di pijat.


"Huam ... ngantuk." Beberapa kali Rasya menguap. Manik matanya begitu terasa sepet. Kedua tangannya memijat punggung, tangan dan kaki Samudra dengan sangat lembut.


Samudra yang di pijat, keenakan dengan pijitan Rasya yang lembut. Pokoknya suka aja, ia memejamkan kedua matanya yang berbantalkan kedua tangan.


"Hem!" hanya itu yang keluar dari mulut Samudra yang tidak merubah posisinya.


Jarum jam terus berputar, membawanya ke suasana yang meninggalkan sebuah malam dan menjemput pagi yang cerah, menyambut suasana yang dimana para manusia pada bangun unjuk menjemput rejekinya masing-masing.


Samudra terbangun setelah merasakan pergerakan dari tubuh yang ada di sebelahnya. Ketika membuka matanya, Samudra mengitari ruangan sekitar. Memejamkan matanya sekejap lalu kembali memicing ke sebelah, dimana Rasya meringkuk memeluk guling.


Bibir Samudra mesem-mesem menatap wajah gadis itu. Matanya bergerak melihat intens ke seluruh tubuh Rasya, senyum Samudra kian mengembang mengingat kejadian semalam. Wajah Samudra mendekati wajah Rasya yang tampak masih pulas itu.


Detik kemudian, Samudra menarik wajahnya dari dekat Rasya. Lalu menggerakkan jari telunjuknya menusuk pipinya Rasya.


"Hi ... bangun? sudah siang nih, aku telat ngantor nih. Belum mandi dan sarapan." Suara parau Samudra menusuk telinga Rasya yang masih tertidur.


"Hem ..." Rasya menggeliat nikmat. Bibir tertarik ke samping melengkung indah dengan mata masih tertutup.


Melihat itu, Samudra pun semakin mengembangkan senyumannya. Duduk bertumpu pada satu siku menghadap Rasya yang masih malas bangun, mata pun masih terpejam. Hanya bibirnya yang mengembang.

__ADS_1


Samudra kembali bersuara. "Sya, bangun? saya kesiangan nih. Buruan, bangun ...."


Rasya mencoba membuka kedua kelopaknya yang teramat sulit untuk dia buka. "Hem ... masih ngantuk berat nih, mataku tak bisa dibuka."


"Bangun," suara parau itu terdengar lagi. "Saya kesiangan nih, belum mandi! belum sarapan juga. Bangun?"


Samudra sengaja ngisengin Rasya, padahal masih pukul lima juga kurang.


"Ha? gimana nih, Tuan ... mataku sulit di buka, ngantuk berat nih." Suara parau Rasya sambil menggeleng. Kedua netra nya teramat ngantuk.


"Mchhhh." Lalu Samudra mendekat meniup kedua kelopak mata Rasya perlahan.


Perlahan manik mata Rasya terbuka setelah dengan lembut Samudra meniupnya.


"Tuan? apa Tuan semalam tidur di sini juga?" tanya Rasya sambil memicingkan kedua matanya ke arah tubuh yang masih utuh berpakaian itu.


"Kenapa? curiga?" tanya Samudra dengan suara bariton nya.


"Nggak sih," sahut Rasya sambil kembali memejamkan kedua manik matanya.


Samudra menatap gadis itu begitu dalam. Dan tangannya bergerak mengarah ke pipi Rasya hendak mengelusnya, namun niat itu dia urung dengan terbukanya manik mata indah Rasya.


Rasya bangun sambil menggeliat nikmat. "Ya Allah ... aku masih bisa diberi kesempatan untuk bisa menikmati di pagi yang cerah ini." Lalu mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah.


Rasya turun, menapakkan kedua kakinya di lantai. Yang dia lakukan terlebih dahulu adalah membuka gorden. Biar nanti matahari bersinar langsung masuk ke dalam sinarnya.


Rasya memutar badan dan melihat Samudra masih dengan posisi yang sama seperti tadi. "Lho, kok anda masih di situ sih? bukannya ke kamar anda. Katanya kesiangan?"


"Belum di siapkan air buat mandinya!" jawabnya Samudra.


"Air hangat kan di shower ada. Aneh deh." Rasya masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudu.


Sesaat kemudian, Samudra pun beranjak, namun duduk kembali di tepi tempat tidur. Sesaat menginat kekasihnya yang hari ini meminta di temani pemotretan, sementara hari ini dia banyak kesibukan yang harus dia kerjakan.


"Cewek, maunya di turutin Mulu, gak tau apa kalau cowoknya sibuk bekerja? Aneh ya sama cewek yang maunya menang sendiri." Gumamnya Samudra ....

__ADS_1


__ADS_2