
Alangkah kagetnya Rasya, ketika di belakangnya berdiri mahluk yang bermuka seram dan menakut-nakuti nya.
"Ha ... umhh!" suaranya mengaung.
"Aww ..." dengan refleks tangannya Rasya mengambil sodet dan memukulkan benda itu dengan membabi buta. "Pergi? pergi? Sam ... tolong?"
Namun tangan itu dengan membuka mukanya yang menyeramkan tersebut sambil tertawa. "Ha ha ha ... ini aku! ini aku."
Rasya menjauhkan sodet nya dengan manik mata yang melotot ke arah Samudra, shock dengan kejadian barusan. Dadanya naik turun dan nafas pun tidak beraturan, lutut gemetaran lantas putih ke lantai.
"Sayang-sayang?" Samudra kaget melihat tubuh Rasya yang luruh ke lantai, duduk bersimpuh.
"Kau jahat! kau hampir buat aku jantungan." Gumamnya Rasya, kini tatapannya kosong dan suaranya bergetar.
Samudra dengan cepat mengangkat tubuh Rasya dan uangnya kata sofa. "Aku cuma bercanda! sayang cuma bercanda."
Memberikan minum pada Rasya Segelas air putih. Dia menyesal sudah membuat Rasya menjadi tampak shock seperti ini.
Lek-lek, lek. Air yang diminum Rasya hingga terdengar ke telinga Samudra dan sampai tandas air nya, Samudra menyimpan gelasnya di atas meja. Lalu menatap ke arah sang istri yang masih tampak shock tersebut.
"Kamu gila ya? bikin aku spot jantung, kalau aku mati gimana? apa kau mau jadi duda? mau mencari mantan kekasih mu lagi?" suara Rasya memekik setelah rasa shock nya sedikit berkurang.
"Lho, kok kamu ngomong gitu? apa hubungannya dengan mantan kekasihku?" Samudra heran dengan perkataan Rasya yang seperti itu.
"Iya, karena bila aku mati. Kau mau mencari kekasih mu lagi kan?" Rasya menatap tajam karena Samudra.
"Oke-oke, aku minta maaf! oke? maaf ya maaf? aku itu cuma bercanda bukan serius!" akunya Samudra sambil menyatukan kedua tangannya.
"Bercanda-bercanda, kalau aku punya penyakit jantung gimana? langsung mati! aneh, senang kan?" Rasya membuang mukanya kelainan arah, hatinya teramat kesal.
"Lagian ngapain nunggu kamu mati? kau nggak mati pun, kalau aku mau? cari mantan kekasih gue cari saja! orang-orang suruhan ku banyak, mereka pasti bisa menemukan dia. Nggak perlu menunggu kau mati? tinggal antar kamu ke Surabaya. Beres!" ucapnya Samudra sambil membuang mukanya ke samping.
"Ooh, gitu? silakan cari kekasih mu sana? aku gak perduli!" Rasya melipatkan tangan di dada.
Lama ... suasana, begitu hening mereka berdua jadi diam-diaman padahal perutnya Rasya sudah keroncongan minta jatah makan.
Samudra yang mendengar suara yang bersumber dari perutnya Rasya, langsung mengambil ponsel dari kamarnya dan memesan makanan lewat GO food.
Kemudian Samudra duduk kembali di tempat semula, yang tidak jauh dari Rasya duduk. "Kenapa jadi marah begini? cemburu apa?"
"Nggak," jawab Rasya dengan singkat.
"Terus kenapa jadi marah-marah begitu?" Samudra mendekat dan merangkul bahunya sang istri yang bikin gemes itu.
"Jangan dekat-dekat ahk, males!" Rasya menggoyangkan bahunya agar Samudra tidak menyentuh nya.
"Napa sih? cuma bercanda sayang ... ngerti gak sih?" Samudra kekeh dan semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Rasya yang terus bergeser hingga mentok ke pinggiran sofa.
"Aku marah sama kamu?" Rasya tidak mau menoleh.
__ADS_1
"Jangan marah dong sayang ..." tangan Samudra mengarah memegang pipi Rasya dan mengarahkan pada dirinya.
"Jantung ku berdegup kencang begini, nah ... kau harus tanggung jawab." Rasya memegangi dada yang detak nya masih belum normal.
Tangan Samudra menyentuh dada Rasya lalu mengusapnya lembut, makanya jangan marah-marah sama suami."
"Gara-gara kamu! lapar, mau makan. Gak ada makanan," rajuk Rasya sambil mengusap perutnya yang keroncongan.
"Sebentar lagi datang makanannya, aku sudah pesan tunggu saja." Gumamnya Samudra sambil terus mengusap dada Rasya yang kini mulai menyandarkan kepalanya di bahu Samudra.
"Benarkah kau akan mencari kekasihmu itu?" Rasya mengangkat kepalanya dari bahu Samudra.
"Kau ini kenapa sih bahas itu lagi?" ketus Samudra.
"Kan kau sendiri yang tadi bilang, mau nyari dia dan akan kembalikan aku ke orang tua ku!" Rasya memajukan bibir bawahnya.
"Itu cuma perumpamaan saja. Habis kau bilang mati-mati segala?" Ketus Samudra kembali.
"Kan kau yang mulai, menakuti ku! dan--"
Tingtong ....
Tingtong ....
Tingtong ....
Suara bell menghentikan kalimat dari Rasya dan langsung keduanya menoleh ke arah sumber suara.
"Eleh!" Rasya mendelik, tapi tak ayal beranjak juga menghampiri pintu lantas membukanya.
Benar saja, kalau yang datang itu gojek yang mengantarkan makanan.
"Berapa, Mas?" tanya Rasya sambil menerima paket makanan tersebut.
"Semuanya 359rb, Neng." jawabnya gojek tersebut.
"Apa 359rb, segini?" Rasya kaget makanan untuk sekali makan saja harganya nyampe 359rb.
"Mendingan masak sendiri saja lebih hemat." Kata Rasya sembari mengamati makanan tersebut.
"Iya, segitu. Termasuk dengan ongkosnya, Neng." gojek itu mengangguk.
"Ooh sebentar ya? mau minta dulu pada suami uang nya! bentar ya, Mas?" Rasya buru-buru masuk menghampiri Samudra.
"Uang nya? aku gak ada uang kess!" Rasya menengadahkan tangannya pada Samudra.
Samudra menatap telapak tangan Rasya yang meminta uang. "Tunggu sebentar!" Samudra berdiri lalu berjalan ke kamarnya.
Tidak lama kemudian Samudra kembali dengan membawa dompetnya dan langsung memberikan kepada Rasya. "Ini bayar."
__ADS_1
Rasya malah bengong melihat dompet yang Sam berikan padanya. "Aku minta uang, bukan minta dompet!"
"Sayang ... kau tinggal ngambil dari dompet kan? uang nya." Samudra menggeleng.
Lalu Rasya membawa dompet Samudra keluar, kasihan gojek sedari tadi menunggu.
"Mas, ini uang nya. 400rb, sudah! ambil saja lebihnya makasih ya, Mas?" Rasya menutup pintunya setelah memberikan uang ongkos pada gojek tersebut.
"Di kasih berapa?" tanya Samudra menatap ke arah Rasya yang berjalan menghampirinya.
"Barusan aku kasih 400.000! nggak pa-pa kan? kasihan kalau nggak ada kembaliannya. Boleh ya? boleh?" Rasya langsung memainkan matanya kepada Samudra.
"Ooh, nggak apa-apa, ya udah kita makan dulu. Bukannya kau sudah lapar?" Samudra membuka makanan tersebut.
Begitupun dengan Rasya yang duduk di lantai menghadapi makanannya di meja, tidak jauh dari Samudra yang duduk di sofa.
"Wahh ... sambal cumi, aku suka!" lalapan juga, sambal goreng juga. Dan ... ayam bakarnya juga!" Rasya heboh ketika melihat hidangan makan malamnya itu.
Lantas keduanya menikmati makan malamnya dengan sangat lahap, sesekali saling menyuapi satu sama lain. Penuh perhatian dan kasih sayang.
"Setelah makan ... kita paking barang-barang ya! besok kita akan berangkat ke luar kota!" ucap Samudra sambil menatap ke arah Rasya.
"Ooh, iya. Aku lupa membereskan pakaian mu! untung kau ingatkan," Rasya berasa di ingatkan dengan tugasnya untuk menyiapkan pakaian Samudra.
"Bukan cuma pakaianku saja, tapi juga pakaianmu! kita akan pergi sama-sama. Sebab aku di sana diperkirakan selama 3 atau 4 hari gitu," tambahnya Samudra sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Apa? kau akan mengajakku?" Rasya kaget, dia tidak menyangka kalau Samudra akan mengajaknya ke luar kota.
"Iya, emang kenapa?" tanya balik Samudra sembari menatap lekat.
"Bersama mu? tidak salah? mau mengajakku!" Rasya kembali menatap seakan tidak percaya.
"Emangnya, kenapa? kalau aku mengajak mu? takut ku buang? atau ku jual?" tanya ulang Samudra sambil menatap tajam ka arah Rasya.
"Bu-bukan begitu, tapi kenapa nggak bilang sebelumnya? aku kan kaget!" balasnya Rasya sambil mengunyah kembali.
"Sekarang kan aku bilang, setelah ini kita paking sama-sama. Nanti jam 03.00 pagi Ubai akan menjemput kita. Jadi kita harus tidur lebih cepat dan bangun lebih awal." Jelas Samudra kembali.
"Jam 03.00 pagi? jam segitu kan kita lagi enak-enaknya tidur! masa berangkat jam 03.00 pagi?" Rasya menatap heran.
"Ya, terserah pihak bandara! mau berangkat jam berapa juga. Hak mereka dong. lagian Ubai menjemput kita jam 03.00 itu penerbangan jam 06.00 teng! agar lebih santai saja cek-in nya.
"Ooh gitu? ya udah cepetan makannya?" ucapnya Rasya sambil melanjutkan makanannya.
Selesai makan. Samudra dan Rasya masuk kamar, menyiapkan pakaian yang harus di bawa. Nggak banyak-banyak sih cuma beberapa potong saja. Pakaian Samudra dan Rasya di satu koper kan saja biar simpel ....
.
.
__ADS_1
Tolong cepat kasih tau bila ada typo🙏