Gadis Satu Miliyar Ku

Gadis Satu Miliyar Ku
Bab 90 Tidak masuk akal


__ADS_3

"Emangnya kenapa kalau debus? menghibur seseorang untuk tersenyum itu lebih baik, ketimbang membuat dia menangis," ungkap Ubai sambil menyimpan sendok nya.


"Hi hi hi ... Tuan Ubai benar, membuat orang tersenyum itu adalah ibadah lho." Timpal Rasya.


"Ah, terserah kalian lah. Suka-suka kalian berdua saja," Samudra dengan nada dingin.


Selesai makan. Ubai dan Samudra kembali ke kantor, sebab tujuannya pulang juga cuma buat makan siang saja. Semenjak Rasya ada di apartemen Samudra, dia menjadi malas makan di luar dan lebih banyak di rumah. menikmati masakan dari Rasya.


Rasya membereskan bekas makannya barusan. Lalu ia mencucinya di wastafel sambil bernyanyi. "Lala lala Lala ...."


Namun secara tiba-tiba Samudra sudah berdiri di belakang Rasya.


"Lho, kok. Tuan balik lagi?" tanya Rasya terheran-heran menatap Rasya.


"Saya cuma mau bilang--" Samudra menggantungkan perkataan nya.


"Mau bilang apa? selidik Rasya semakin penasaran.


"Em ... jangan mau pergi sama Ubai, tanpa izin saya jelas?" pesan Samudra.


Detik kemudian Samudra membalikan badannya, membawa kembali langkahnya mendekati pintu.


Rasya cuma bengong melihat punggung Samudra yang berjalan begitu cepat. Kemudian dia melanjutkan lagi aktivitasnya yang tertunda.


"Cuman bilang itu doang?" Rasya menggelengkan kepalanya kasar.


"Habis ngapain?" tanya Ubai setelah Samudra kembali dari unitnya.


"Nggak, nggak ada pa-pa!" sahut Samudra sambil berjalan membawa langkahnya yang lebar menuju pintu lift.


"Aku tahu kau cemburu ya?" Ubai menatap punggung Samudra yang berjalan di depannya.


Samudra menoleh ke arah Ubai. "Siapa yang cemburu? nggak ada alasan, lagian cemburu sama siapa? pertanyaan mu aneh. Tidak masuk akal."


Samudra melangkahkan kakinya ke pintu lift yang sebentar tertutup. Di dalam, cuma berdua yaitu samudra dan Ubai.


"Kau cemburu kan? bila Rasya ku ajak jalan?" ucap Ubai dengan nada serius.


"Bukan cemburu cuman kebetulan emang sudah direncanakan kami mau ke tempat Pak RT itu saja akunya Samudra datar.

__ADS_1


"Yakin cuman itu aja? nggak ada perasaan lain?" selidik Ubai kembali.


"Apa sih maksud kamu?" pekik Samudra dengan nada tinggi.


"Ya ... nggak ada maksud sih. Cuman nanya doang." Balas Ubai dengan santai.


"Alah ... banyak ngomong." Samudra dingin.


"Aku cuman sarankan doang, jangan sampai satu saat nanti. menyesal." Ubai mengingatkan.


"Maksudnya gimana?" Samudra menatap heran.


"Ya ... seandainya punya rasa? ya tunjukan saja, nggak usah pura-pura apalagi gengsi gitu. Ha ha ha ..." Ubai tertawa lepas, suaranya memenuhi ruang lift Yang cuman kali satu per setengah meter tersebut.


"Sudahlah jangan sok tahu, aku nggak butuh ocehan mu itu. Yang penting sekarang ini kita bekerja dengan baik, kayaknya lusa kita harus ke cabang deh," suara Samudra rendah.


"Yang di mana saja?" selidik Ubai.


"Yang di Bandung sama Surabaya."


"Nginep?" tanya Ubai kembali.


"Kalau nginep, berarti ninggalin dia di apartemen dong?" Ubai menyeringai.


"Tidak apa, aman kok. Masa nggak berani sendiri di sana? bila perlu suruh di tinggal di mansion, atau suruh Mulan yang temenin di apartemen." Samudra sesaat menoleh.


"Deh ... perhatian juga nih." Ubai mesem-mesem.


Samudra tidak menjawab melainkan mengalihkan pandangannya ke pintu lift.


Keduanya keluar setelah pintu lift terbuka dan berjalan mendekati mobil mewah tersebut.


"Ya, aku sih ngikut aja gimana baiknya," tambah Ubai sambil menganggukkan kepalanya.


Keduanya memasuki mobil mewah tersebut, seperti biasa. Ubai yang memegang setirnya.


Rasya yang ditinggalkan Samudra dan Ubai di apartemen. Karena nggak ada kerjaan dia berbaring di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya, tidak sengaja dia browsing tentang rumah tangga. Hingga keasyikan untuk melanjutkan.


"Apa sih ini? menarik juga untuk dibaca! kali aja aku bisa bertambah ilmu dengan banyak membaca dari browsing ini," gumamnya Rasya pelan.

__ADS_1


Kemudian, dia pun banyak membaca. Gimana kehidupan dalam berumah tangga, juga hak dan kewajiban suami dan istri di dalamnya.


Sejenak Rasya bengong mengingat bahwa dia dan Sam sudah menikah, mau diapakan rumah tangganya dan mau dibawa ke mana? itu yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Ternyata begitu ya dalam rumah tangga?" kepala Rasya mengangguk-ngangguk dan mulai mengerti.


Rasya mulai berpikir dan mencari-cari, kewajiban apa aja yang harus dilakukan oleh seorang istri terhadap suaminya, dan kewajiban apa yang harus diberikan oleh suami pada istrinya.


Rasya menghela nafas panjang. "Huuuh .... ternyata bukan cuman begini doang ya jadi suami dan istri itu? bukan cuma melayaninya soal makan dan minum. Baju, bersih-bersih rumah. Tetapi ada banyak lagi di balik itu semua, seperti di antaranya di atas ranjang."


Rasya bergidik, tidak berani membayangkan aktivitas apa yang dilakukan pasangan suami istri itu di ranjang. Namun tangannya yang kepo terus mengetik dan mencari.


"Ya Tuhan ... gini toh yang dilakukan suami istri yang sesungguhnya?" Rasya menggeleng dengan tatapan fokus ke layar ponsel di mana ada banyak gambar adegan-adegan mesra, pasangan yang sedang melakukan hubungan intim, lalu buru-buru Rasya menutup browsingan nya tersebut.


Membuat jantungnya berdegup sangat kencang dan darahnya mengalir sangat deras.


Kini Rasya bengong sesekali menggaruk tengkuk yang tidak gatal itu. "Gimana ya? jadi bingung!"


Rasya berkali-kali menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan, ada rasa yang aneh dan getaran yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Setelah melihat gambar adegan tersebut. Mendadak Rasya merasa panas, gerah dan pengen mandi.


"Aduh ... apa sih yang sedang merasuki ku? sehingga tubuhku mendadak seperti ini? apa karena melihat yang barusan kali ya?" Rasya bertanya pada dirinya sendiri.


Rasya memeluk guling dengan sangat erat, matanya terpejam bayangan gambar itu menghantui hati dan pikirannya.


"Berarti, tuan muda juga sering melakukan itu sama kekasihnya? pelukan, ciuman dan ... ah ... gak mungkin! nggak mungkin kalau tuan Sam melakukan lebih dari itu," monolog Rasya sambil menggoyang-goyangkan ponsel miliknya itu.


"Tetapi ... kenapa gak mungkin? mungkin saja lah. Kalau dia laki-laki normal, buktinya tidur aja dia sering mepet-mepet sama aku, jadi mungkin aja dong kalau mereka sudah pernah melakukannya?" Monolog Rasya kembali. Menduga-duga tentang samudra dan kekasihnya Karin.


Sekitar pukul emat sore, Samudra pulang sendirian dan meminta Rasya menyiapkan air hangat untuknya berendam.


"Siapkan air buatku berendam?" pinta Samudra sambil membuka jas nya.


Lalau berjalan menuju pintu kamarnya, Rasya mengikuti dari belakang sambil menenteng jasnya. Tanpa berkata apapun Rasya memasuki kamar mandi untuk meyiapkan air di bathub.


Samudra melihat sikap Rasya yang agak pendiam itu. Kemudian ia melucuti pakaiannya itu.


"Jadi gak? ke rumah pak RT nya?" tanya Samudra ketika melihat Rasya keluar dari kamar mandi ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2